
“Katakan dimana Annabelle berada ?”
Reno yang mendapat laporan soal kepulangan Sisi langsung datang ke rumah Sisi untuk menemui gadis itu.
Keduanya sedang duduk berhadapan di ruang tamu sederhana yang ada di rumah itu, bersama dengan mama dan adik Sisi serta seorang anak buah Juan yang bertugas mengawasi rumah Sisi.
“Saya benar-benar tidak tahu kemana kami dibawa karena sepanjang perjalanan mata kami ditutup kain hitam lalu ditempatkan di dalam satu kamar. Dan satu hal yang Annabelle minta sebelum mereka mengantar saya pulang, tolong berikan 1 hari lagi untuk Annabelle. Berikan kesempatan pada Annabelle untuk menyelesaikannya dan ia berjanji kalau saya tidak menerima kabar apapun setelah satu hari itu berlalu, siapapun boleh mencarinya dengan segala cara.”
“Tapi siapa yang membawa kalian pergi ?”
“Saya sungguh-sungguh tidak tahu siapa boss mereka. Semuanya berpakaian dan berkacamata hitam, berbadan besar dan bicara hanya seperlunya saja. Satu hal yang perlu bapak ketahui kalau kami diperlakukan dengan sangat baik di sana, bukan hanya diberi makanan yang sangat layak, kami pun diberi pakaian ganti dan ditempatkan di kamar yang menyerupai kamar hotel,” Sisi mencoba bersikap tenang dan mengalihkan fokus pertanyaan Reno pada hal-hal yang lebih luas karena rasanya sulit harus berpura-pura tidak tahu soal penculiknya.
“Tidak adakah suatu ciri khusus dari kamar yang kalian tempati itu, bagaimana keadaan sekeliling rumahnya atau ada bau khas tertentu yang tercium olehmu saat berada di rumah itu,” Reno masih mencecar Sisi dengan pertanyaan yang membuat gadis itu bertambah pusing.
Sisi terdiam dan memilin ujun kaosnya dengan wajah tertunduk.
“Sebetulnya saya malu menceritakan ini, tapi memang kenyataannya kalau saya ketakutan setengah mati. Saya lebih banyak menangis hingga tidak memperhatikan keadaan di sekeliling saya. Berbeda dengan Annabelle yang masih bisa bersikap tenang dan berpikir jernih.
Saya sampai lupa menanyakan Annabelle apa saja yang ditemukannya di tempat kami dikurung. Saya hanya fokus pada ketakutan saya sendiri.”
“Lalu kenapa kamu bisa dibebaskan dan Annabelle tetap ditahan ?”
“Sejak awal Annabelle-lah yang mereka cari dan saya hanya umpan untuk membuat Annabelle menyerahkan dirinya pada mereka.”
“Kalau begitu kamu tahu siapa mereka ?” pertanyaan Reno dengan maksud yang sama membuat Sisi menghela nafas, menutupi debaran jantungnya karena harus berpura-pura.
“Saya tidak tahu siapa yang ditemui Annabelle saat dia dibawa keluar, hanya saja sebelum saya dibawa pergi untuk dipulangkan ke rumah, Annabelle berpesan supaya semua orang yang ditugaskan mencarinya entah dari Tuan Wira, Nyonya Lanny atau Pak Juan, supaya bersabar dan memberinya waktu tambahan 1 hari. Tolong penuhi permintaan Belle, Pak. Dia sudah mewanti-wanti saya, jangan sampai nyawa Annabelle sendiri malah terancam karena tidak bisa mendapatkan waktu tambahan 1 hari itu.”
Sisi menangkup tangannya di depan wajahnya, memohon pada Reno supaya mendengarkan ucapannya.
“Apa yang membuatmu yakin kalau Annabelle akan tetap aman kalau kita memberinya tambahan waktu 1 hari ?”
__ADS_1
“Diri saya sendiri, Pak. Mereka tidak akan membebaskan saya tanpa melukai saya sedikit pun kalau mereka tidak percaya dengan ucapan Annabelle. Saya benar-benar mohon, Pak. Kalau sampai Belle melanggar, bukan hanya nyawanya yang terancam, tapi saya dan keluarga saya serta keluarga Annabelle.”
Reno pun menghela nafas dan beranjak keluar rumah. Ia langsung menghubungi Juan dan meminta pendapat orang kepercayaan Tuan Wira itu.
Juan tidak bisa mengambil keputusan sendiri karena semuanya menyangkut soal keselamatan nyawa Annabelle, apalagi saat ini Juan tidak berada di lokasi untuk mendengar langsung dan mempelajari situasi di lapangan,
Setelah mendiskusikannya dengan Tuan Wira dan Raka akhirnya diputuskan untuk memenuhi permintaan Annabelle.
Semua anak buah Juan dan Reno dilarang bergerak sampai esok harinya. Alden sendiri sudah berada di bandara, menunggu pesawat berangkat ke Jakarta.
“Pastikan kalau rumah keduanya tetap berada di bawah pengawasan kalian,” perintah Tuan Wira. “Dan untuk sementara, minta Rano untuk tetap di rumah, menjaga anak dan istrinya.”
Juan pun meneruskan instruksi tersebut pada Reno yang siap menjalankan semuanya di Jakarta.
“Kalau sampai Annabelle atau siapapun menghubungimu berkaitan dengan masalah ini, jangan ragu-ragu untuk menghubungiku di nomor ini,” Reno menyerahkan kartu namanya.
“Sampai semuanya jelas, tolong tetaplah tinggal di rumah, hindari aktivitas di luar sendiri-sendiri. Di depan akan ada orang-orang suruhan Tuan Wira menjaga kalian dan tetap akan aman selama kalian tidak terpisah-pisah. Untuk keperluan makan dan sehari-hari, aku akan minta anak buahku mengirimkan kalian makanan.”
“Akan lebih baik begitu karena lebih mudah mengawasinya dan mengurangi resiko salah satu dari kalian diculik untuk jaminan.”
Sisi menatap mamanya yang langsung mengangguk tanda setuju dengan permintaan Reno.
“Saya sedang magang, Om. Saya sudah bolos 2 hari, kalau sampai ditambah lagi, saya takut akan dikeluarkan dari perusahan dan saya harus menunda kelulusan saya.”
“Berikan nama perusahaan tempatmu magang, aku akan menyuruh orang mengurus masalah ini. Kalau memang mereka tidak mau menerima kondisi yang kamu alami saat ini, aku yakin Tuan Wira akan mengaturnya untukmu. Bagi kami semua, saat ini yang terpenting adalah keselamatan jiwa Annabelle.”
Reno pun memberi isyarat pada anak buah Juan untuk bangun dari kursinya dan mengikuti Reno keluar.
“Ingat, jangan lupa melaporkan kalau sampai ada sesuatu tentang Annabelle. Tuan Wira tidak akan membiarkan kalian hidup tenang kalau sampai terjadi apapun pada Annabelle karena kalian berusaha menyembunyikan sesuatu.”
Sisi hanya bisa mengangguk pelan, tidak berani tegas karena hatinya sedang berperang melawan kebohongan yang sedang diperankannya saat ini.
__ADS_1
Sisi tahu kalau semua tindakan Reno adalah demi keselamatan Annabelle, tapi Sisi percaya kalau saat ini hanya Annabelle-lah yang mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Dan ia percaya dengan ucapan Annabelle tentang Reyhan.
Saat bersitatap dengan pria itu, Sisi menangkap makna ucapan Annabelle, pria itu menculik mereka bukan untuk maksud jahat tapi hanya sebatas ingin mendapatkan diska lepas milik Sarah.
***
Sementara di ruang tunggu Bandara Otto Lilienthal, Berlin, Alden terlihat gelisah.
Raka sudah memberinya kabar soal Sisi yang sudah kembali ke rumahnya tanpa Annabelle. Keberadaan gadis itu belum terlacak ada dimana karena memang tidak seperti waktu menghadapi Sarah Belle, Alden tidak menaruh alat pelacak apapun untuk Annabelle.
“Elo yakin kalau Sisi tidak bohong soal pengakuannya yang tidak tahu soal kemana mereka dibawa dan siapa yang menyuruh orang-orang itu menculik Sisi dan Annabelle ?” tanya Alden dengan nada emosi.
“Reno sudah memastikan beberapa kali kalau Sisi tidak tahu karena mereka menutup matanya dengan kain hitam. Dia tidak memperhatikan keadaan sekellilingnya karena sudah terlalu panik bahkan hampir tidak berhenti menangis karena ketakutan.”
“Lalu bagaimana Annabelle sendiri ? Apa gadis itu tidak menceritakan bagaimana kondisi Annabelle selama mereka bersama ?”
“Sisi bilang kondisi Annabelle baik-baik saja, tidak menunjukkan kecemasan atau ketakutan, Annabelle juga tidak sampai menangis, bahkan selalu menguatkan dan menghibur Sisi.”
“Lalu apa tindakan selanjutnya ?”
“Anak buah Om Juan dan Reno masih menelusuri segala kemungkinannya, Al. Keluarga Sisi dan Annabelle masih dalam pengawasan dan dijaga dengan ketat bahkan mereka tidak diijinkan meninggalkan rumah sampai semuanya jelas.”
“Tidak ada yang elo tutup-tutupin kan, Ka ?” tanya Alden dengan nada curiga.
“Nggak ada, Al.” Raka yang terbiasa bersikap mendua demi kebaikan para bossnya tidak mempan ditekan oleh Alden.
Tuan Wira yang memberi perintah untuk merahasiakan dari Alden soal permintaan Annabelle yang meminta waktu tambahan 24 jam lagi.
Tidak ada gunanya juga kalau Alden tahu saat ini karena hanya akan menambah kepanikannya dan kekesalan putranya itu karena tidak bisa berbuat apa-apa.
Biarkan hati Alden gelisah karena memikirkan kira-kira dimana keberadaan Annabelle tanpa harus ditambah drama permintaan Annabelle.
“Kok gue punya firasat kalau elo menyembunyikan sesutu sama gue,” sindir Alden dengan nada yang sedikit ketus.
Raka tertawa pelan dan bersyukur kalau pembicaraan mereka hanya lewat sambungan telepon dan bukan bertatapan lansung karena sudah bisa dipastikan akan sulit bagi Raka untuk berbohong.
__ADS_1
Alden menghela nafas sebelum berjalan masuk ke dalam pesawat karena panggilan untuk penumpang kelas bisnis sudah menggema