Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Penyesalan yang Terlambat


__ADS_3

Bukan hanya para dokter yang sudah siap menunggu kedatangan Alden, tidak lama setelah Alden dibawa ke ruang UGD, Daddy Wira didampingi Reno dan Om Juan tiba di rumah sakit.


“Kamu nggak apa-apa, Belle ?” tanya Daddy Wira saat melihat putri angkatnya itu sedang terisak di depan ruang UGD seorang diri.


“Tidak apa-apa, Dad. Maafkan Belle yang menyebabkan Alden jadi begini,”ujar Annabelle di tengah-tengah isak tangisnya sambil memegang jemari Daddy Wira.


Annabelle tidak berani menghambur ke dalam pelukan Daddy Wira karena kemeja dan celana jeansnya penuh dengan bercak darah Alden.


“Bukan salahmu, Belle. Semua ini memang sudah direncanakan oleh Sarah, hanya dia tidak menduga kalau Alden yang akan menjadi korbannya.”


“Sarah ?”


“Iya, temanmu dan Raka sedang mengurus masalh ini di kantor polisi, jadi jangan menyalahkan diri sendiri,” ujar Daddy Wira sambil menepuk-nepuk bahu Annabelle yang membuat gadis itu meringis.


“Belle, kamu pasti terluka juga. Biar dokter memeriksamu juga,” Daddy Wira mengerutkan dahi sambil memberi isyarat pada Reno untuk membawa Annabelle masuk ke ruang UGD.


Annabelle memang sempat merasakan perih di lutut dan lengan kanannya.


Sementara Annabelle di bawah ke ruang UGD, Daddy Wira langsung menghubungi Papa Rano, emberi kabar soal kejadian yang menimpa Annabelle tanpa memberitahu kondisi Alden dan memintanya datang ke rumah sakit membawakan baju ganti untuk Annabelle.


Tidak lama dua orang dokter keluar dan menemui Daddy Wira menyampaikan kondisi Alden dan tindakan yang harus segera mereka lakukan.


“Lakukan apapun yang terbaik untuk putra saya,” perintah Daddy Wira.


Annabelle yang baru saja berganti pakaian rumah sakit melihat tubuh Alden yang sudah terpasang berbagai alat bantu langsung mendekat dengan langkah sedikit pincang.


“Bagaimana keadaannya Dokter ?”


“Akan segera dioperasi karena ada pendarahan di otak dan dua rusuknya retak.”


“Tapi Alden masih bisa sadar kembali kan, Dok ?”


“Semua tergantung kehendak Tuhan, Nona,” Dokter itu hanya tersenyum dan memerintahkan timnya untuk segera mendorong tubuh Alden menuju kamar operasi.


“Doakan saja yang terbaik untuk Tuan Alden,” Dokter itu menyentuh bahu Annabelle untuk menenangkan.


Ternyata lutut dan betis sebelah kanan Annabelle sedikit luka dan memar begitu juga dengan lengan bagian atasnya yang menopang pada aspal. Mata kakinya pun terkilir.


Rasanya tidak sabar menunggu dirinya diobati dan setelah selesai, Annabelle tidak diijinkan berjalan sendiri tetapi menggunakan kursi roda.


Akhirnya Annabelle mengalah dan dibantu oleh seorang perawat, ia memaksa naik ke lantai 2 dimana kamar operasi berada.


Air matanya kembali mengalir saat melihat sudah ada Mommy Lanny yang menangis dalam pelukan Daddy Wira.


“Maafkan Belle, Mom. Maaf,” ujar Annabelle di sela isak tangisnya dan wajah penuh penyesalan.


“Sayang, semua ini bukan salahmu, bukan keinginanmu membuat Alden begini. Wanita jahat itu yang tidak bisa menerima kalian bahagia,” Mommy Lanny mengusap air mata Annabelle yang terus mengalir sambil sesekali mengelus pipi gadis itu.

__ADS_1


“Kalau tadi kami berjalan bersama…”


“Tidak ada gunanya berandai-andai, Sayang. Doakan saja semoga semuanya berjalan dengan baik.


“Kamu juga harus menjaga kesehatanmu, Belle. Hasil pemeriksaan dokter, mata kaki kanan, lutut dan lenganmu cedera dan sebaiknya tidak digunakan untuk aktivitas berat selama beberapa hari. Daddy akan minta disiapkan satu kamar untukmu.”


“Tidak usah, Dad, biar Belle dirawat di rumah saja.”


“Kalau kamu dirawat di rumah, susah bagimu untuk menjenguk Alden. Kamu mau berhari-hari tidak melihat Alden ?” ujar Mommy Lanny sambil tersenyum penuh arti.


Mommy Lanny hafal betul akan kebiasaan putri angkatnya ini yang tidak ingin merepotkan siapapun apalagi sampai membuat Daddy Wira harus membiayai perawatannya di rumah sakit.


Tapi di sisi lain, kehadiran Annabelle di dekat Alden akan membawa pengaruh baik untuk putranya itu.


“Belle ikut saja kalau begitu. Belle nggak mau jauh dari Alden,” akhirnya Annabelle mengalah setelah mempertimbangkan ucapan Mommy Lanny.


*****


Sementara di kantor polisi Sisi menatap Sarah yang menunduk dengan wajah penuh emosi hingga sedari tadi Raka harus membujuk kekasihnya untuk menahan diri.


Tidak lama setelah kejadian penabrakan, Sarah yang ditahan di ruang keamanan kampus dibawa oleh pihak kepolisian yang datang bersama Raka.


Asisten Alden itu menjemput kekasihnya yang menjadi daksi sekaligus mengambil mobil Alden dengan kunci cadangan.


Mobil sewaan yang dipakai Sarah untuk menabrak Alden pun ditahan sebagai bukti.


“Sedang menjalani operasi. Annabelle juga perlu dirawat beberapa hari. Mata kakinya terkilir dan beberapa bagian tubuhnya memar. Om Wira minta supaya Annabelle dirawat di rumah sakit dulu.”


“Apa luka Pak Alden parah ?”


“Belum tahu, Sayang. Semoga semuanya baik-baik saja dan kejadian ini bisa menyatukan cinta Annabelle dan Alden.”


“Iya aku benar-benar berharap begitu. Mereka gantian aja keras kepalanya,” ujar Sisi dengan wajah kesal.


Raka tertawa pelan dan mengusap kepala Sisi yang akhirnya bersandar di bahu Raka. Kejadian di depan kampus itu benar-benar membuat Sisi shock karena dengan mata kepalanya ia melihat bagaimana tubuh Alden melayang dan terlempar hingga jatuh ke aspal.


“Bagaimana kondisi Alden dan Annabelle ?”


Raka dan Sisi langsung mendongak dan mendapati Reyhan berdiri di depan mereka.


“Jangan bilang Pak Reyhan kemari sebagai penasehat hukum wanita iblis itu,” suara Sisi langsung emosi.


“Sayang,” Raka mengusap bahu Sisi untuk menenangkan. “Aku yang menghubungi Pak Reyhan dan memberitahu kejadian ini.”


“Bagaimana keadaan Alden dan Annabelle ?” Reyhan mengulang pertanyaannya tanpa mempedulikan tatapan Sisi yang tidak suka dengan kehadirannya.


Raka pun menceritakan seperti apa yang sudah disampaikannya pada Sisi.

__ADS_1


“Boleh aku diinfo kamar rawat mereka ?” pinta Reyhan dengan wajah memohon yang diangguki oleh Raka.


“Aku akan menemui Sarah dulu, bukan sebagai penasehat hukumnya tapi sebagai teman,” Reyhan menjelaskan panjang lebar saat melihat raut wajah Sisi. Lagi-lagi Raka hanya mengangguk.


Reyhan meneruskan langkah menuju ruang dimana Sarah sedang ditahan sementara setelah polisi selesai membuat berita acara kejadian.


“Reyhan !” wajah Sarah langsung berbinar saat melihat mantan kekasihnya itu datang.


“Terima kasih sudah datang untukku dan menjadi pengacaraku,” lanjut Sarah dengan senyum mengembang.


“Aku datang bukan sebagai pengacaramu tapi sebagai teman yang akan memutuskan hubungan dengamu selamanya.”


“Reyhan,” Sarah menatapnya dengan wajah kecewa.


”Sekarang aku mengerti kenapa mama berharap lepas dari keturunan Amora. Karena entah mamamu, adikmu bahkan dirimu sendiri hanyalah orang-orang yang susah menerima kenyataan saat keinginan mereka tidak terwujud. Kalian bertiga seperti kutukan bagi keluargaku.”


“Aku tidak sama dengan mama dan adikku karena aku sanggup mencintaimu setulus hatiku,” bantah Sarah setengah berteriak.


“Kalau kamu berbeda, tidak akan terlintas dalam benakmu untuk melenyapkan Annabelle. Sudah aku katakan lebih dari sekali kalau penyebab utama rasa kecewaku adalah kehilangan calon anak kita. Wanita-wanita yang kuajak tidur hanya tropi yang membuatku ingin setara denganmu.”


“Aku tidak pernah melakukan pada laki-laki lain selain Tuan Peter dan dirimu !”


“Kalau kamu benar-benar mencintaiku, tentu kamu akan bersabar menunggu hatiku bisa melupakan kejadianmu dengan Papa. Sudah aku katakan kalau Alden dan Annabelle justru mendukungku untuk kembali padamu, bukan membuangmu dari kehidupanku. Tapi sifat pendendammu ternyata terlalu besar. Dan aku berterima kasih karena tidak perlu membuang waktu dan tenaga untuk memikirkan kemungkinan kembali denganmu.”


“Rey…” lirih Sarah.


“Alden dan Annabelle benar kalau aku memang mencintaimu dan sulit menghapus bayanganmu dalam hidupku, sayangnya cintamu tidak sebesar yang aku punya. Cintamu hanya sebatas mulut saja karena jiwa dan pikiranmu hanya dipenuhi rasa benci dan dendam. Dan sekarang aku pastikan kalau namamu benar-benar akan aku hapus dari ingatanku. Terima kasih atas 5 tahun yang sudah kita lewati bersama dan semoga hukum akan memberikan keadilan untukmu.”


Reyhan beranjak dari kursinya sambil tersenyum tipis.


“Rey.”


Panggilan Sarah membuat Reyhan urung membuka pintu ruangan.


”Bisakah kamu membuka kesempatan sekali lagi untukku ?” lirih Sarah di sela isak tangisnya.


“Sudah terlambat, Sarah. Sangat terlambat. Mungkin kalau tidak ada kejadian hari ini, kita bisa memulai semuanya dalam lembaran baru.”


Reyhan langsung membuka pintu dan mengabaikan panggilan Sarah yang masih memohon supaya ia tetap tinggal.


Reyhan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannnya perlahan sambil tersenyum getir.


Setidaknya kebimbangannya beberapa hari ini akhirnya terjawab. Kembali pada Sarah bukanlah pilihan yang terbaik. Berhenti mencari pelampiasan dengan wanita-wanita bayaran juga bukan solusi membuat hatinya lebih tenang.


Reyhan terus melangkah menuju pintu keluar kantor polisi dengan perasaan sedikit lega. Dia bertekad untuk menata ulang hidupnya, memperbaiki hubungannya dengan sang papa dan memberikan kebahagiaan untuk mamanya yang hampir putus asa untuk melanjutkan hidup.


Senyum mengembangndi wajah Reyhan saat tangannya menyalakan mesih mobil. Kehilangan Sarah pasti menciptakan kesedihan tersendiri tapi itu semua bukanlah alasan untuk berhenti tetapi belajar untuk lebih hati-hati ke depannya.

__ADS_1


__ADS_2