
Hirata memiliki kemampuan untuk membedakan tindakan dan perilaku orang-orang di sekitarnya dan tidak pernah mengabaikan hal tersebut. Mau bagaimana lagi jika dia memperhatikan perbedaan di dalam diriku.
"Aku sudah mengatakannya dengan jujur, ini hanya adalah berkat saran dari Horikita, aku menceritakan kepada Horikita tentang kelompokku dan aku mematuhi perintah yang diberikannya kepadaku, itu saja. Kejadian di pulau itu juga sama. Horikita membuat keputusan yang benar dan membimbing Kelas D meraih kemenangan sehingga kelas mendapatkan banyak poin sebagai akibatnya. Dengan kata lain ada keuntungan dalam melakukan ini untukku juga. Dia sangat buruk dalam komunikasi seperti yang kau tahu, jadi aku hanya menyampaikan apa yang kau katakan kepadanya dan menerima perintah darinya”
Aku menghabiskan banyak waktu dengan Horikita dan Hirata yang mengenalku dengan baik pasti tidak akan meragukan kata-kata yang aku katakan.
"Kalau itu Horikita-san, pasti dia menilai jika menyelamatkan Karuizawasan akan membawa kelas sebuah keuntungan,"
"Itu benar"
"Tapi kupikir kau masih luar biasa, Ayanokouji-kun. Kau berbeda dengan Ike-kun atau Yamauchi-kun"
"Aku lebih rendah dari mereka berdua"
"Bahkan jika kau hanya mengikuti perintah Horikita-san, tetap saja kau yang sedang berbicara denganku saat ini. Tidak seperti pembicaraan yang hanya mencakup rincian tatanannya. Untuk menyesuaikan dengan arus pembicaraan dibutuhkan logika yang jelas. Bukan sesuatu yang bisa kau pikirkan dalam semalam saja”
"......" Hirata terlihat lebih baik dari perkiraanku. Meskipun juga keinginannya untuk menyelamatkan dia, ia masih mampu mempertahankan kemampuan normalnya yang tinggi.
"Itu yang kau katakan tapi, alasan kenapa aku menerima permintaan Karuizawa-san untuk menjadi pacarnya adalah untuk membantunya 'melindungi dirinya sendiri' Itulah yang dia inginkan. Dia ingin aku menyelamatkannya. Mungkin sulit bagimu untuk percaya, tapi sepanjang tahun SD dan SMP, selama 9 tahun penuh, dia menerima jumlah yang mengerikan dari intimidasi”
"Aku tidak meragukanmu, tapi ini adalah cerita yang sebenarnya, bukan?" Sepertinya hiperventilasi Karuizawa saat itu dipicu oleh masa lalunya. Karena aku sendiri yang melihatnya, aku tidak bisa membantu tapi percaya pada truma masa lalunya.
"Tentu saja aku baru bertemu dengan Karuizawa-san setelah dia masuk sekolah ini, tapi aku mengerti, aku tahu tampilan, bau dan kehadiran seseorang yang menjadi korban bullying. Itu sebabnya aku setuju untuk pacaran dengannya. Posisinya sebagai pacarku, Karuizawa-san akan mampu lolos dari masa mudanya yang diintimidasi. Aku pikir saat ini, sikap yang dia miliki bukanlah Karuizawa-san yang sebenarnya. Dia sangat berusaha bersikap keras, bukan? "
Aku pikir normalnya dia tidak bisa mengendalikan perasaannya dengan baik. Korban bullying biasanya memiliki kepribadian seperti bunga sakura. Patuh dan lemah. Juga di sisi lain, seseorang dengan kepribadian yang kuat seperti Karuizawa juga cenderung diintimidasi. Singkatnya, kepribadian Karuizawa saat ini adalah palsu. Karena itulah dia membutuhkan seseorang seperti Hirata atau Machida di punggungnya. Seseorang yang bisa memerintah lingkungan untuknya. Dengan bertindak seperti itu, dia bisa mendapatkan kembali pengaruhnya.
"Kurang lebih aku bisa mengerti sekarang. Tapi tunggu dulu, apa untungnya jika kau melakukan ini?" Tanyaku kepada Hirata.
Ini bisa menjadi ungkapan yang umum, tapi cinta adalah bagian dari remaja bagi murid. Hirata sangat populer di kalangan anak perempuan. Kemudian dengan berpura-pura berpacaran dengan Karuizawa, dia akan menyerah kepada cinta sejati.
"Keuntungannya? Karuizawa-san akan menjalani kehidupan SMA-nya tanpa diintimidasi. Itu saja" Dia hanya mengatakan hal tersebut. Ini bukan sebuah kemunafikan atau cinta dan juga bukan untuk dirinya sendiri.
"Apa kau tidak percaya kepadaku? Jika itu satu-satunya alasanku?"
"Bukam berarti aku tidak mempercayaimu, tapi ada makna yang lebih dalam di balik itu, bukan?" Aku bertanya padanya sebagai balasannya.
Hirata tidak akan ragu jika itu untuk menyelamatkan teman, tapi dia juga mengenal Manabe dan yang lainnya sebagai teman. Cara dia peduli dengan orang lain hampir bisa digambarkan sebagai sebuah penyakit.
Karena dia menceritakan banyak hal tentang hal ini, tidak diragukan lagi jika Hirata juga merasa perlu memberitahuku tentang hal ini. Dia membeli beberapa minuman kalengan dari mesin penjual otomatis dan melemparkannya padaku. Aku menerimanya dengan rasa syukur.
"Sampai tahun keduaku di SMP, jika aku harus jujur mengatakan bahwa aku adalah orang biasa yang tidak banyak menonjol"
"Hirata ... aku benar-benar tidak bisa membayangkan hal itu" Kepribadian itu terlalu jauh berbeda dengan laki-laki yang selalu menunjukkan kepemimpinan yang prima.
"Aku tidak terlalu menonjol dan aku juga tidak terlihat, temanku juga seperti itu, aku benar-benar normal, aku punya teman yang aku jalani dengan sangat baik sejak aku masih kecil bernama Sugimura-kun. Selama enam tahun di SD kami bersama di kelas yang sama dan karena kami adalah tetangga kami juga selalu pergi ke dan dari sekolah" kata Hirata dengan suara penuh nostalgia dan Hirata mengingat masa lalunya.
__ADS_1
"Ketika kami masuk di SMP, untuk pertama kalinya, kami dipisahkan menjadi kelas yang berbeda, namun meski begitu, pada awalnya kami masih pergi ke sekolah dan kembali ke rumah bersama-sama. Tetapi, hari-hari yang kami lakukan mulai jarang secara perlahan dan aku mulai bermain bersama anak laki-laki dari kelas baruku, ini cerita biasa yang bisa kau dengar dari mana saja"lanjutnya. Memang normal jika di lingkungan yang baru, seseorang pasti akan membuat teman yang baru. Tidak ada yang aneh di dalam hal itu sendiri.
"Tapi, kau lihat... meski aku sibuk bermain dengan teman-temanku. Di belakang, Sugimura-kun benar-benar diintimidasi” Hirata terus berkata sambil mencengkeram sekaleng jusnya. Bahkan orang luar pun tahu apa yang terjadi.
"Sugimura-kun sering mengirimi ku permintaan pertolongan berkali-kali, berkali-kali juga dia muncul dengan wajah yang terluka dan bekas luka di sekujur tubuhnya, tapi aku malah memprioritaskan bermain dengan teman baruku dan tidak pernah menganggapnya serius. Sugimura-kun yang awalnya memiliki kepribadian yang keras kepala, selalu cepat untuk berkelahi jadi aku tidak pernah memikirkan situasinya secara mendalam. Tetapi ketika kami berdua menjadi murid kelas 2, kami dipertemukan kembali. Dan sejak saat itu, Sugimura-kun sudah menjadi sakit hati. Gambaran yang ceria sudah tidak ada lagi dan bekas yang ditinggalkan oleh pukulan dan tendanganlah yang tersisa. Dia bahkan tidak diizinkan masuk ke toilet dan terpaksa ngompol di tengah kelas. Hal semacam itu sudah menjadi rutinitas... "
"Jadi kau melihatnya dan..."
"Ya, aku pikir kau juga mengerti, tapi aku tidak melakukan apapun, aku tidak bisa melakukan apapun. Aku terlalu takut jika aku akan menjadi target yang baru. Aku takut hidupku yang menyenangkan kemudian akan hancur... dan untuk Sugimura-kun yang selalu bersama denganku, aku terus berpura-pura tidak melihatnya. Aku percaya suatu hari para pengganggu akan merasa bosan kepadanya. Suatu hari Sugimura-kun akan berhenti datang ke sekolah dan bullying akan berhenti atau orang lain akan datang dan menyelamatkannya. Aku terus memikirkan hal-hal yang meyakini diri sendiri seperti itu”
"Dan Sugimura itu... apa yang akhirnya terjadi kepadanya?"
"Bahkan sekarang ingatan di hari itu sudah terbakar di kepalaku. Setelah berlatih sepak bola di pagi hari, aku kembali ke kelasku dan di sana, aku melihat Sugimura-kun dan memutuskan untuk menunggu sambil mengikuti. Jujur saja, pada saat itu, aku merasa tidak nyaman. Meskipun dia adalah teman yang pernah bermain denganku sejak kecil, pada saat dia hamper merasa seperti orang asing bagiku, aku tidak bisa berhenti berpikir kejam seperti aku akan diintimidasi bersamanya. Mungkin Sugimura-kun juga melihat hatiku yang busuk, namun dia tidak mengatakan apapun. Tapi seperti meminta bantuan... hari itu di tengah kelas, dia melompat keluar jendela "kata Hirata padaku.
"Lompat keluar? Apa dia sudah mati?"
"Sepertinya dia diaknosa mati otak, namun sampai sekarang pun, orang tuanya masih menunggu pemulihan Sugimura-kun dan percaya kepadanya. Tapi apakah dia masih hidup atau mati sekarang, aku tidak tahu. Kejadian hari itu masih bagitu nyata. Jadi, aku masih bertanya-tanya apakah itu hanya sebuah mimpi atau halusinasi, itu luar biasa, karena saat Sugimura-kun melompat, aku menjadi sadar. Dengan menghargai diri sendiri, aku mendorong temanku yang berharga kepada kematiannya" Dan begitulah laki-laki bernama Hirata Yousuke lahir.
"Aku tidak berpikir ini akan memberikan keselamatan untuk Sugimura-kun, tapi, paling tidak, aku ingin berubah dan untuk melakukannya, aku pikir satu-satunya cara adalah menyelamatkan orang lain seperti dia" lanjut Hirata.
"Bukan berarti aku tidak mengerti bagaimana perasaanmu, tapi dunia tidak sesederhana itu. Bahkan saat ini, seseorang di suatu tempat semakin diintimidasi dan seperti Sugimura yang kau bicarakan, mereka mencoba untuk menyelamatkan kehidupan mereka sendiri. Kau tidak bisa menghentikan orang-orang itu, bukan? " Kataku pada Hirata.
"Tentu saja aku mengerti itu, aku bukan pahlawan keadilan. Tapi aku ingin menyelamatkan orang-orang di depanku. Aku harus menyelamatkan mereka. Itulah tanggung jawabku yang menanggung dosa"
"Lalu bagaimana kau akan memutuskan masalah ini? kau ingin menyelamatkan Karuizawa dan Manabe, tapi itu adalah tugas yang tidak mungkin,"
"Aku tidak pernah menduga akan tiba saatnya aku akan menceritakan kisah ini kepada orang lain. Tidak ada orang yang tahu tentang hal ini, itu adalah bagian kenapa aku memilih sekolah ini" lanjutnya. Kemudian setelah menghabiskan jusnya, dia melemparkannya ke tempat sampah.
"Bisakah aku mempercayakan ini kepada Horikita-san?"
"Jika kau bisa berjanji untuk tidak membocorkannya, aku yakin Horikita akan melakukan sesuatu mengenai hal ini"
"Kalau begitu aku akan memilih untuk percaya kepada kalian berdua, karena itu juga harapanku" Hirata memberitahuku.
Sepertinya saat ini Hirata tidak akan ikut ke dalam masalah Karuizawa dan kemungkinan besar mulai sekarang, kapan pun Hirata dalam masalah, dia mungkin akan bergantung kepadaku. Tapi itu juga berarti bahwa aku sudah berhasil mengamankan kerja sama dengan Hirata. Itu akan menjadi kekuatan besar yang aku dapatkan dari sisiku. Wajar jika dia mendapat upahnya sendiri juga.
"Hirata, karena kau memiliki jaringan sosial yang besar, aku ingin meminta bantuanmu, maukah kau mendengarkanku?" Dan dengan kalimat itu, aku menyerahkan Hirata selembar kertas. Dan setelah membacanya, Hirata menerima permintaanku tanpa membuat wajah yang tidak nyaman.
"Dan juga Ayanokouji-kun, sejak ujian dimulai, masih ada satu hal yang aku sembunyikan darimu. Aku tahu siapa ‘target’ terakhir di antara murid Kelas D ..." katanya.
***
Pada hari selang ujian, aku memilih untuk melakukan tindakan tertentu, tetapi tiba-tiba aku dipanggil oleh Sakura dan oleh karena itu aku malah memutuskan untuk mendengarkannya.
"Sepertinya ujian kelompok Sapi sudah berakhir," kataku.
__ADS_1
"Yeah..." Aku memeriksa pesan di ponselku yang dikirim ke Sakura juga ke semua murid yang lainnya oleh sekolah. Itu tertulis,
"Ujian untuk kelompok (Sapi) telah berakhir. Anggota kelompok (Sapi) tidak lagi diminta untuk mengikuti ujian. Pastikan untuk tidak mengganggu murid lainnya" Itu adalah jenis pesan yang sama yang dikirim setelah ujian kelompok (Monyet) berakhir. Sakura menatapku dengan tetapan khawatir.
"Apa aku... melakukan kesalahan?"
"Bukan, bukan itu, itu berarti seseorang dari kelompok (Sapi) sudah melaporkan ‘target’ ke sekolah" Terlepas dari kasus yang terjadi berkat penangkapan Kouenji, mungkin pengkhianatan menjadi semakin biasa di dalam ujian ini. Entah itu 'pengkhianatan yang pasti' atau 'pengkhianatan karena terburu-buru'.
"Omong-omong, Sakura. Apa kau adalah ‘target’ di kelompokmu atau apa itu adalah orang lain?" Saat aku bertanya kepadanya, Sakura menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk menyangkal hal tersebut.
"T-tidak, aku bukan ‘target’ tapi aku tidak yakin dengan Sudo-kun dan yang lainnya..." Bagi Sakura yang sudah menjadi bagian dari kelompok (Sapi) hanya dalam dua hari, sepertinya dia tidak tahu apa yang harus dilakukan di dalam situasi seperti ini.
"Jangan terlalu dipikirkan, aku bahkan masih belum tahu ‘target' dari kelompokku”
"Baiklah ... terima kasih Ayanokouji-kun, aku senang kau memberitahuku hal itu"
"Bagaimana dengan situasi Kelas A? Dari rumor yang beredar sepertinya mereka tidak berpartisipasi di dalam diskusi"
"Itu ... yeah, sama seperti yang orang lain katakan, mereka sama sekali tidak berbicara"
Sepertinya Katsuragi benar-benar menjalankan strateginya ke semua kelompok. Itu berarti kelompok yang menyebabkan kejadian ini mungkin adalah Kelas C. Tetapi di dalam masalah ini, sebuah pertanyaan akan muncul; Ryuuen sudah mengabaikan peraturan yang ditetapkan oleh sekolah, tetapi karena sekolah tidak mengumumkan secara aktif rincian dari ujian, tidak mungkin untuk memastikan apakah aku benar atau tidak pada saat ini. Itulah kenapa sulit untuk mengetahui aturan di balik ujian ini.
Jika aku salah menebak, aku akan berakhir dengan penghancuran diri sendiri dan menerima kerugian besar tersebut. Selain kelompok (Sapi), fakta bahwa kelompok lain belum menyelesaikan ujian mereka berarti bahwa; bahkan Ryuuen pun masih belum mengetahui jawabannya. Setelah ujian yang misterius seperti ini selesai, tidak heran jika banyak murid merasa tersesat.
"Jika ada sesuatu yang lain, jangan ragu untuk meminta saranku kapan saja"
"Terima kasih, Ayanokouji-kun, sampai jumpa"
Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Sakura yang pergi sambil mengayunkan tangan kecilnya dengan cepat dari satu sisi ke sisi yang lain, sekarang aku menuju ke ruang paling bawah. Lalu aku turun ke tingkat yang lebih rendah dari kapal di mana seseorang umumnya tidak akan pergi ke sana.
Meskipun daerah tersebut dilarang untuk murid, namun tetap tidak terkunci agar para kru bisa mengaksesnya. Daerah dimana ruang kendali berada, meski mudah diakses, itu sama sekali bukanlah tempat yang populer bagi orang-orang untuk didatangi.
Jika seseorang berteriak dengan suara yang keras, gema akan terbentuk, karena tempat ini sebenarnya secara otomatis tidak akan ada orang-orang yang datang ke tempat seperti itu. Hanya ada dua pintu masuk dan keluar ke tempat ini termasuk yang umum. Yang lainnya adalah pintu yang mengarah ke tangga darurat yang bahkan kru tidak menggunakannya.
Dari debu yang berkumpul di pintu tersebut, aku mengatakan mereka sangat banyak. Itu berarti aku bisa memantau situasi hanya dengan mengawasi satu jalan yang sering digunakan. Selanjutnya, lebih mudah bagiku karena sepertinya ponsel tidak mendapatkan jaringanya di sini. Terkadang ada jaringan muncul di sini, tetapi kebanyakan akan menjadi sangat sulit untuk mengirim pesan atau chattingan dari sini apalagi membuat sebuah panggilan.
"Semua bagian sudah ada di tempat ini" gumamku.
Yang tersisa hanyalah menjalankan rencana selangkah demi selangkah sehingga aku memutuskan untuk tidak akan membuat sebuah kesalahan. Pertama, aku harus menghubungi Hirata, lalu memintanya memanggil Karuizawa ke tempat ini. Untuk memastikan ada cukup waktu untuk segalanya, aku harus menghubungi Karuizawa setidaknya satu jam lebih cepat. Untuk itu, aku naik kembali ke lantai atas untuk melakukan panggilan.
Aku yakin dia akan berhati-hati setelah kejadian pembicaraan tadi malam, tetapi jika Hirata memanggilnya lagi untuk berbicara sendirian dengan Karuizawa, dia pasti akan menanggapinya. Dia bilang dia akan putus dengan Hirata, tetapi jika dia benar-benar putus dengannya, dialah satu-satunya orang yang akan menderita di situ. Selama Manabe dan kelompoknya mengincar dia, bagi Karuizawa, keberadaan Hirata itu sangatlah penting baginya agar bisa melanjutkan kehidupannya di sekolah.
"Aku sudah meminta Karuizawa-san untuk berada di sana jam 4. Aku akan mengirimkan alamat Manabe-san kepadamu sekarang" Aku menerima pesan dari Hirata.
Seperti yang diharapkan, dia mendengarkan permintaanku dengan sangat baik dan sudah berhasil memanggilnya ke sini. Sebagai bonus, Hirata bahkan tahu alamat kontak Manabe dari kelas lain. Jika tidak, aku harus menanggung risiko dengan meminta bantuan kepada Kushida sehingga hal ini menghemat masalahku.
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa membantumu lebih dari ini. Tolong jangan membuat Karuizawa-san sedih” Hirata menambahkan hal itu sebagai sebuah catatan di bawah pesan.
Sambung...