
MONOLOG KARUIZAWA KEI
Pada akhirnya, bahkan setelah aku memasuki sekolah ini. Tidak ada yang berubah. Tidak, mungkin itu karena aku tidak berniat mengubah apapun sejak awal. Menjadi lebih baik atau lebih buruk, itu sama seperti saat itu. Alasannya sangat sederhana. Aku lebih mengerti diriku sendiri daripada orang lain. Baik itu kelebihan dan
kelemahanku, aku mengetahui itu semua.
Aku tidak mengenal anak laki-laki dan tidak ada anak perempuan yang sepertiku. Meskipun aku mengerti dengan jelas bahwa aku tidak berpikir untuk berubah. Tapi itu tidak masalah. Karena aku sudah lama berhenti merasa bahwa itu menyakitkan. Karena aku sendiri menginginkan ini.
Ketika aku keluar dari kamar mandi yang berada di kamar murid, aku melihat diriku di cermin sementara tetesan air mengalir di kulitku. Berapa banyak, berapa kali, aku ingin menghancurkan cermin ini menjadi beberapa bagian? Setiap kali aku melihat luka masa lalu di dalamnya, aku teringat akan masa lalu yang
mengerikan. Tiba-tiba merasa pusing dan mual, aku segera meletakkan tanganku di wastafel dan muntah di sana.
Kenapa? Kenapa aku melihat dengan mata seperti itu? Kenapa? Kenapa aku harus menderita seperti ini? Kenapa? kenapa? kenapa? Aku mengulangi pertanyaan yang sama kepada diriku sendiri berulangulang kali. Kata-kata itu tidak lagi membawa makna apapun. Masa lalu tidak akan berubah. Aku tidak bisa mengubah siapa pun atau apapun di masa lalu.
Tuhan sangat kejam padaku. Kepribadianku hancur oleh mimpi buruk saat itu, aku juga kehilangan masa muda, teman dan diriku sendiri. Aku harus memperbaiki kesalahan itu sekarang. Tidak peduli berapa banyak mereka membenciku, masih lebih baik daripada menderita lagi. Itu benar. Aku tidak memerlukan 'masa muda'. Aku tidak butuh 'teman'. Yang paling penting adalah aku melindungi diriku sendiri. Aku akan melakukan apapun aku harus memastikannya. Aku... adalah benalu. Makhluk lemah yang tidak mampu
bertahan sendirian.
CHAPTER 1 HARI YANG TENANG, TIBA-TIBA...
Tiga hari telah berlalu sejak ujian di pulau tak berpenghuni. Di kapal pesiar mewah yang disediakan oleh sekolah kami, tidak ada catatan yang terjadi dan munculah ketenangan. Bagi murid yang masih pemula di masa muda mereka, harus menjalani hidup di pulau seperti itu, sebagian besar pasti akan kehilangan akal sehat mereka.
Di hari terakhir, kami anak laki-laki kurang lebih seperti binatang buas dan hewan karnivora yang aktif. Saat kami melihat perempuan-perempuan yang membuang-buang waktu mereka, kami anak laki-laki bersama-sama mulai mengharapkan pengalaman yang ditakdirkan bersama para gadis. Ini merupakan kapal pesiar mewah dimana kau bisa kehilangan dirimu sendiri di dalam dunia mimpi dan melupakan segala hal yang buruk. Bahkan jika seseorang jatuh cinta di sini, itu sama sekali tidak aneh.
Selain itu, aku pernah mendengar beberapa cerita tentang para siswa yang saling berkencan dalam pelayaran ini dan pasangan baru dilahirkan setiap harinya. Sayangnya, pertemuan seperti itu tidak mungkin terjadi padaku dan aku terus menghabiskan waktu sendirian dalam kesendirian. Situasiku sama seperti sebelum ujian di pulau tak berpenghuni. Tidak.
Mungkin lingkungan sekitarku memang sudah berubah? Meski bertentangan dengan kemauanku, aku masih terpaksa mengubah jalur yang sebenarnya setelah memasuki sekolah ini. Awalnya, aku memilih masuk di sekolah ini untuk alasan yang sangat spesifik. "Kontak dengan luar dilarang hingga kelulusan". Aturan sekolah itu adalah alasan kenapa aku masuk. Saat ini, "orang-orang tertentu" mencoba menghubungiku dari luar.
Chabashira-sensei lah yang memberitahuku tentang ini. Selanjutnya, dia memerasku untuk membantunya membawa kelas ke Kelas A dengan mengancam akan mengeluarkanku dengan paksa jika aku tidak
mematuhinya. Itu akan menjadi cerita bodoh di satu sisi, tapi karena tidak memiliki kekuatan untuk menolak, aku terpaksa mengikutinya. Aku tidak memiliki cara untuk memastikan kebenaran dari ucapannya, jadi aku memutuskan untuk bermain aman dengan menganggapnya benar.
Tapi aku tidak akan diperas olehnya selamanya. Untuk saat ini, aku akan mengumpulkan informasi yang diperlukan dan tergantung pada keadaan, aku harus melakukan langkah pertama. Iblis manis berbisik ke bagian belakang kepalaku.
"taklukan mereka sebelum mereka menaklukanmu". Hanya itu yang harus aku lakukan. Tapi pikiran keras semacam itu hanya sesaat, aku segera kembali ke cara berpikirku yang biasanya pasif.
‘Seandainya saja aku memiliki kekuatan untuk memukul poros bumi dari keseimbangan’ pikirku. Jika aku bisa melakukan itu, tidak perlu khawatir akan hal sepele seperti ini. Mengatakan itu, aku melamun tentang hidup di dunia Dragon Ball. Para siswa pada awalnya merasa tidak nyaman setelah ujian berakhir dengan memikirkan sesuatu yang lebih akan datang. Tapi tidak ada yang terjadi.
__ADS_1
Pelayarannya tenang, damai dan menyenangkan. Hampir seolah seperti liburan musim panas telah menimpa kami. Wajar saja, para siswa beralih ke suasana meriah. Selama perjalanan dua minggu ini sepertinya minggu yang terakhir tidak lain hanyalah liburan yang mewah dan berkelanjutan bagi para siswa.
Para siswa sangat santai sejak ujian di pulau itu baru saja berakhir. Dan itu bukan hal yang buruk. Fakta bahwa siswa mampu tetap tenang selama ujian itu sendiri adalah alasan kenapa kami bisa mendapatkan hasil yang baik.
"Hmm? Kau berada di kamarmu sepanjang hari?". Teman sesama murid laki-lakiku, Hirata Yousuke
adalah orang yang memanggilku.
"Tidak ada alasan bagiku untuk pergi keluar, lagipula aku tidak punya seseorang untuk aku habiskan
waktu dengannya"
"Itu tidak benar, Sudou dan Horikita masih ada," Memang, Sudou dan Horikita adalah orang-orang yang secara teknis bisa aku kategorikan sebagai "teman". Tapi hanya karena kau tergolong sebagai
"teman"
masih sebuah tingkatan dan jika kau berada di bawah tingkatan itu, perlakuan antar teman akan tetap berbeda. Terkadang saat orang jalanjalan, mereka hanya akan mengajakmu pergi dari 10 acara. Aku
adalah orang yang seperti itu yang ada hanya untuk diundang sekali dalam 10 acara.
"Aku pikir Ayanokouji-kun akan bisa membuat lebih banyak teman jika kau sedikit lebih aktif"
beruntung dan bahagia seperti Hirata, dia tidak akan pernah mengerti penderitaan penyendiri sepertiku.
"Cara berbicara Ayanokouji-kun sudah bagus, kau hanya butuh pemicu untuk mengobrol" dia terus memberitahu. Aku tidak membutuhkan kebaikan kejam seperti itu. Aku tidak membutuhkan kata-kata
dari gadis-gadis seperti
"Eeh... kau terlihat seperti kau bisa menjadi populer". Karena jika aku membalasnya dengan "Menjauhlah dariku" mereka hanya akan mengatakan "Itu sedikit merepotkan". Itu karena aku tidak bisa mendapatkan teman atau memiliki pacar sehingga terpaksa menghabiskan waktu sendirian seperti ini. Hirata kemudian mengatakan kepadaku,
"Aku berencana pergi bersama Karuizawa-san pada jam 12.30 untuk makan siang bersama. Maukah kau ikut bersama kami, aku yakin akan menyenangkan jika kau bersama kami"
"Apa hanya Karuizawa?" aku bertanya kepadanya.
"Tidak juga, ada 3 perempuan lain yang akan bersama kami. Apa kau tidak menyukainya?"
Jika aku harus mengakui kebenaran, aku sudah lama ingin sedikit bicara dengan Karuizawa untuk sementara waktu. Tapi...tidak perlu terburuburu. Selain dengan perempaun-perempuan lain yang ikut bersama kami, akan sulit untuk memulai pembicaraan dengannya dan aku pasti tidak akan memiliki napsu untuk makan siang.
__ADS_1
"Aku harus melewatinya saja, kurasa aku tidak akan pernah berteman dengan kelompok Karuizawa,"
Dengan selesainya semester pertama kami, hubungan antara teman sekelas sudah diatur dalam batu. Tidak mungkin aku bisa membangun hubungan baru dengan orang lain pada saat ini. Aku sudah bisa membayangkan ketidaksukaan Karuizawa terhadapku. Hirata duduk di dekatku, setelah menyadari bahwa aku tidak ingin memulai hubungan baru dengan orang lain.
"Aku bisa mengerti kenapa kau menjadi enggan, tapi aku ingin kau bergantung kepadaku" Hirata akhirnya memberitahuku. Hirata pun siap membantu kapanpun dan dimanapun dengan wajah yang menyenangkan
itu. Untungnya aku menolak tawarannya dengan menggelengkan kepala.
"Hanya 10 menit sebelum makan siang, aku pikir kau harus meninggalkanku sekarang"
"Tidak perlu terburu-buru, selain itu aku merasa nyaman bersamamu seperti ini sekarang" Hirata cepat menjawab.
Sekilas kau mungkin berpikir bahwa aku hanya berusaha terdengar kuat atau membuat alasan, tapi sebenarnya aku cukup puas dengan situasiku saat ini. Tentu saja, ketika aku pertama kali datang ke sini, aku berpikir bahwa aku bisa menghasilkan 100 teman dan masuk dengan tekad seperti itu.
Tetapi semangat itu cepat mereda. Meski aku bisa berteman dengan 3 Idiot, Horikita, Kushida dan Sakura. Lebih dari itu, kehidupan sekolah sosialku tidak terlalu buruk, aku bisa yakin dengan hal itu. Tapi pria bernama Hirata tidak bisa meninggalkan teman sekelas berkubang dalam kesepian seperti ini. Dia mengatakan kepadaku,
"Lalu bagaimana kalau kita makan siang bersama. kita berdua saja, bisakah kau bahagia dengan itu?"
dia melanjutkan untuk bertanya kepadaku Hanya kami berdua sekarang, dengan Hirata menatapku tajam. Sepertinya dia akan terus mendesakku sampai akhir.
"Aku baik-baik saja dengan itu, tapi kau perlu mempertimbangkan perasaan Karuizawa"
"Baiklah, aku bisa makan dengan Karuizawa-san kapan pun aku mau, tapi denganmu Ayanokouji-kun, aku
punya sedikit kesempatan untuk makan bersama" jawab Hirata.
Seseorang seperti Hirata tidak bisa memperhatikan kenyataan bahwa pada dasarnya dia meminta orang lain untuk makan siang. Dengan cepat aku berpikir mungkin dia tersirat "seperti itu". Meski popularitasnya tidak wajar, Hirata selalu bisa mempertahankan rasionalitasnya sebagai laki-laki.
"Aku tidak ingin Karuizawa membenciku nanti" kataku padanya dalam usaha untuk menolak tawarannya
dengan sopan. Sepertinya akan bekerja dengan menarik hati nurani Hirata. "Tidak masalah, Karuizawa-san bukan tipe yang marah padamu karena sesuatu seperti itu"
Tidak tidak. Karuizawa pasti tipe perempuan yang sama seperti yang ada dipikiranku. Bahkan jika dia berpura-pura diam di depan Hirata, dia pasti tipe yang dominan saat berhadapan dengan gadis-gadis lain. Mungkin dia belum mengungkapkan sisi asli dirinya kepada Hirata? aku pikir. Dia hampir terlihat seperti seorang guru yang baik yang dengan senang hati membantu siswa yang bermasalah.
"Kurasa aku akan membatalkan makan siang dengan Karuizawa-san setelah semua ini" Dengan cepat dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Karuizawa. Aku mencoba menghentikannya tapi Hirata menggunakan tangannya untuk menutupi mataku dan menghentikanku.
"Apa kau memiliki sesuatu yang ingin kau makan?" dia bertanya padaku. Aku terpaksa mendengarkan
__ADS_1
Hirata membatalkan kencan makan siang bersama Karuizawa.
Bersambunng..