
"Hmm, bagaimana dengan Pallet? Aku sering pergi ke Pallet, jadi dia mungkin akan
mendengar kita membicarakannya."
Pallet mungkin merupakan kafe paling populer pertama atau kedua di kampus.
Pastinya, aku sering mendengar tentang Pallet kapan pun Kushida dan teman-
temannya pergi sepulang sekolah.
Jika aku sering mendengarnya, Horikita juga tanpa disadari akan tau hal itu.
"Menurutmu, apakah ini akan berhasil jika kalian berdua masuk ke Pallet, memedan,
lalu 'tiba-tiba' menabrak ku?"
"Tidak ... aku pikir itu agak terlalu sederhana Bagaimana jika temanmu juga
membantu?"
Yang keduan, Horikita memperhatikan Kushida, dia mungkin akan segera pulang.
Jika memungkinkan, akan lebih baik menciptakan situasi dimana sulit untuk
disadari Kukatakan pada Kushida ide yang baru kupikirkan.
"Oh ~ itu pasti terdengar seperti itu akan berhasil! Ayanokouji-kun, kau pintar!"
Kushida mendengarkanku dengan mata berkilau sambil menganggukkan kepalanya
dan berkata "Un, un".
"Aku tidak berpikir itu ada kaitannya dengan kecerdasanku... Bagaimanapun, itulah
rencananya."
"Ok, aku berharap banyak padamu, Ayanokouji-kun!"
Tidak, aku terganggu oleh harapanmu.
"Jika Kushida mengundang Horikita, dia mungkin akan menolakmu, jadi haruskah
aku mengundangnya?"
"Baiklah, aku pikir Horikita-san mempercayaimu."
“Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Hmm, yah, bukankah memang seperti itu? Paling tidak, dia mempercayaimu lebih
dari orang lain di kelas ini." Itu tidak berarti bahwa aku adalah orang yang paling tepat untuk tugas itu...
"Itu karena aku bertemu dengannya secara kebetulan."
Aku menemuinya di bus secara kebetulan, dan aku duduk di sampingnya secara kebetulan.
Jika salah satu dari itu tidak terjadi, aku mungkin tidak akan berbicara dengan
Horikita sama sekali.
"Bukankah kau bertemu setiap orang baru secara kebetulan? Kemudian mereka
menjadi temanmu, sahabat terbaikmu... dan terkadang kekasih dan keluargamu."
"…Aku mengerti."
Aku rasa itu salah satu cara untuk melihatnya. Berbicara dengan Kushida juga merupakan hasil dari kebetulan.
Dengan kata lain, Kushida dan aku mungkin bisa menjalin hubungan lama.
Pulang sekolah. Semua siswa pergi bersenang-senang setelah menjalani kehidupan
sekolah saat mereka membicarakan kemana mereka harus pergi.
Aku menatap Kushida dan memberi isyarat bahwa aku sudah memulai rencananya.
Horikita, sasarannya, telah memulai rutinitasnya yang biasa untuk bersiap pulang.
"Hei, Horikita, apakah kau senggang sekarang?"
"Aku tidak punya waktu luang, aku harus kembali ke asrama dan bersiap
menghadapi hari esok."
Bersiap untuk besok, Aku cukup yakin dia hanya memiliki sekolah untuk mempersiapkan diri ...
"Tapi aku ingin kau pergi ke suatu tempat bersamaku."
"… Apa yang sedang kau coba lakukan?"
"Apa menurutmu aku mengundangmu dengan tujuan tertentu?"
"Jika kau mengundang tiba-tiba, wajar jika aku meragukanmu. Namun, jika ada
sesuatu yang konkret yang perlu kau bicarakan, aku tidak keberatan mendengarkannya."
Tentu saja, tidak ada hal seperti itu.
"Kau tahu ada sebuah kafe di kampus? Ada terlalu banyak perempuan, jadi aku tidak
memiliki keberanian untuk masuk sendiri, rasanya seperti anak laki-laki yang
dikecualikan."
"Pastinya proporsi anak perempuan tinggi, tapi tidak bisakah anak laki-laki juga
masuk?"
"Ya, tapi tidak ada anak laki-laki yang masuk sendirian, mereka selalu pergi dengan
gadis lain, hanya anak laki-laki yang pergi ke kafe."
Horikita mencoba mengingat informasi tentang Pallet saat dia merenungkannya.
"Itu benar, tidak biasa kalau Ayanokouji-kun punya pendapat yang masuk akal."
"Tapi aku masih tertarik dengan tempat itu, jadi aku pikir aku akan mengajakmu
untuk ikut dengan ku."
"Tentu, karena... Kau tidak punya orang lain untuk diundang, bukan?"
"Itu cara yang kasar untuk mengatakannya, tapi ya."
"Dan kalau aku menolak?"
"Kalau begitu, itu tidak ada pilihan lain selain menyerah, aku tidak bisa memaksamu
untuk menyerahkan waktu pribadimu, lagipula."
"...Aku mengerti, apa yang kau katakan terlihat masuk akal, aku tidak bisa
menghabiskan terlalu banyak waktu, tidak masalah?"
"Ya, aku tidak akan lama berada di sana."
Aku menambahkan "mungkin" dalam pikiranku. Jika dia tahu bahwa Kushida terlibat, Horikita mungkin akan mencela ku.
Karena aku bisa berbicara dengan Kushida dan bisa mengajak Horikita, aku mulai
__ADS_1
berpikir bahwa aku mungkin bisa berteman dengan Horikita sendirian.
Lagi pula, entah itu klub atau kafe, Horikita ikut denganku, meski selalu mengeluh.
Sungguh sebuah keajaiban mengingat aku sulit berteman.
Setelah pergi bersama, akhirnya kami sampai di cafe, Pallet, di lantai satu gedung
sekolah. Anak perempuan mulai berkumpul satu demi satu untuk bersenang-senang
sepulang sekolah.
"Terlihat sangat ramai."
"Apa ini pertama kalinya kau di sini sepulang sekolah juga? Oh, benar, kau selalu
sendiri."
"Apakah itu dimaksudkan untuk menjadi sarkasme (Majas untuk menyindir)?
Kekanak-kanakan."
Itu hanya lelucon, tapi seperti biasa, Horikita secara verbal menghina ku.
Setelah memesan, kami minum minuman kami. Aku memesan pancake.
"Kau suka makanan manis?"
"Aku hanya ingin makan pancake."
Aku tidak terlalu suka atau tidak menyukai mereka, tapi aku hanya membuat alasan yang masuk akal.
"Tidak ada kursi ..."
"Kurasa kita harus menunggu sebentar. Oh, lupakan, ada tempat duduk di sana."
Setelah melihat dua gadis bangkit dari tempat duduk mereka, aku segera mengamankan meja.
Aku membiarkan Horikita melewati sisi yang jauh dari meja. Dengan meletakkan tasku di tanah, aku duduk dan memandang sekeliling dengan santai.
"Hei, aku baru sadar, jika seseorang melihat kita dari kejauhan, kita akan terlihat
seperti pasangan ... tidak."
Wajah Horikita tak berekspresi dan dingin seperti biasanya. Merasa gugup dengan
lingkungan yang ramai, perutku mulai terasa sakit.
Aku mendengar kedua gadis di sebelah kami berkata "Ayo pergi" sambil memegangi
minuman di tangan mereka.
Dan segera setelah itu, orang lain langsung duduk. Itu adalah Kushida.
"Ah, Horikita-san, kebetulan sekali! Ayanokouji-kun juga!"
"... ya."
Berpura-pura bahwa kita bertemu secara kebetulan, Kushida menyambut kami.
Horikita menatap Kushida dengan mata menyipit, lalu berpaling padaku. Tentu saja,
ini adalah sesuatu yang telah kami rencanakan sebelumnya.
Kami memesan dua meja dengan empat teman Kushida, dan saat Horikita dan aku sampai di Pallet, aku memberi isyarat agar mereka memberi tempat untuk kami berdua. Setelah beberapa saat, dua lainnya akan pergi sehingga Kushida bisa datang. Akibatnya, pertemuan kami tampak seperti sebuah kebetulan.
"Apa Ayanokouji-kun dan Horikita-san datang bersama?"
"Ngomong-ngomong, ya, apa kau datang sendiri?"
"Ya, hari ini aku -"
"O-oi, kita baru sampai di sini."
"Kau tidak membutuhkan ku karena Kushida-san ada di sini, kan?"
"Tidak, kau bukan masalah, Kushida dan aku hanya teman sekelas."
"Kau dan aku juga hanya 'teman sekelas'. Selain itu ..."
Dia menatapku dan Kushida dengan tatapan dingin.
"Aku tidak suka ini ! Apa yang kau rencanakan?" Sepertinya dia melihat rencana kami.
"T-tidak, itu kebetulan saja!"
Jika memungkinkan, aku tidak ingin hasil ini terjadi.
Tindakan yang benar adalah mengangkat bahu kecil dan berkata, "Apa maksudmu?"
"Ketika kami duduk, kedua gadis di depan kami berasal dari kelas D. Dan kemudian, keduanya di sebelah kami juga berasal dari kelas D. Apakah itu hanya sebuah kebetulan?"
"Wow, kau memperhatikannya. Aku sama sekali tidak menyadarinya."
"Kemudian, kami langsung ke sini segera setelah sepulang sekolah. Tidak peduli
seberapa cepat gadis-gadis lain bergegas ke sini, mereka mungkin sudah berada di sini paling tidak 1, 2 menit paling lama. Masih terlalu dini untuk kembali. Apakah
aku salah? "
Horikita adalah orang yang jauh lebih teliti daripada yang aku duga.
Dia tidak hanya mengingat wajah teman sekelasnya, dia mengerti apa yang terjadi
hampir seketika.
"Um ..."
Merasa bingung, Kushida menatapku minta tolong.
Horikita melihat dia menatapku. Pertunjukannya sudah habis.
"Maaf Horikita, kami mengatur ini."
"Aku pikir begitu, situasinya membuat aku berpikir ada yang mencurigakan."
"Horikita-san, tolong jadilah temanku!"
Tidak lagi berusaha menyembunyikan apapun, Kushida langsung bertanya padanya.
"Aku sudah sering mengatakannya, tapi tinggalkan aku sendiri, aku tidak berniat
repot-repot ke kelas, apa itu masalah?"
"... Selalu menghabiskan waktu sendiri akan menghasilkan kehidupan sekolah yang
sepi dan menyedihkan, aku ingin bergaul dengan semua orang di kelas."
"Aku tidak mencoba untuk menolak keinginanmu, namun salah jika melibatkan
orang lain melawan keinginan mereka. Aku tidak merasa sedih karena sendirian."
"T-tapi ..."
"Juga, demi argumentasi, apakah menurutmu aku akan senang jika kau memaksa ku
untuk menyesuaikan diri dengan mu? Menurutmu, ada pertemanan atau
kepercayaan apa pun yang berasal dari hubungan paksa?"
__ADS_1
Kata Horikita tidak salah. Bukannya dia tidak mau berteman, tapi dia merasa
mereka tidak perlu. Kushida berpikir satu arah, tapi Horikita berpikiran lain.
"Kali ini, salahku karena tidak memberi tahu mu dengan jelas, jadi aku tidak akan
menyalahkan mu, namun jika kau mencoba lagi, aku tidak akan memaafkan mu lain
kali."
Dia meraih latte cafe yang tak tersentuh dan berdiri.
"Aku ingin bersama Horikita-san dengan cara apapun. Ketika pertama kali
melihatmu, rasanya itu tidak seperti pertemuan pertama. Aku pikir Horikita-san
juga merasakan hal yang sama."
"Ini buang-buang waktu saja, membuatku merasa tidak nyaman."
Horikita menyela sambil mengangkat suaranya. Kushida tanpa sengaja menelan ludah.
Meskipun aku setuju untuk membantu Kushida, aku tidak berniat mencampuri
urusan. Namun--
"Bukannya aku tidak bisa mengerti cara berpikir Horikita. Aku juga mempertanyakan apakah teman diperlukan pada banyak kesempatan seperti sekarang atau tidak?"
"Kau berkata seperti itu? Kau sudah menginginkan teman sejak hari pertama
sekolah."
"Aku tidak menyangkal hal itu, namun aku adalah tipe orang yang sama denganmu.
Paling tidak sampai aku lulus sekolah menengah, aku tidak akan pernah bisa
berteman sampai aku memasuki sekolah ini. Aku tidak pernah mengenal orang lain.
Alamat kontak, aku juga tidak pernah bermain dengan siapa pun sepulang sekolah,
aku benar-benar sendirian. "
Kushida terkejut saat aku mengucapkan kata-kata itu.
"Kurasa karena itulah aku mulai banyak berbicara denganmu."
"Ini hal baru, namun jika kita memiliki sesuatu yang sama, semua yang terjadi
setelah ini berbeda, kau tidak berteman bahkan jika kau menginginkan teman, aku
tidak berteman karena tidak perlu. Mengatakan bahwa kita sama adalah salah,
apakah aku salah? "
"... Mungkin, tapi mengatakan pada Kushida bahwa dia merasa tidak nyaman itu
terlalu jauh, apa kau benar-benar tidak masalah dengan itu? Mengatakan bahwa kau
tidak akan bergaul dengan seseorang sekarang berarti kau akan sendirian selama 3
tahun ke depan. Kesepian di masa depan. "
"AKu baik-baik saja karena akan menjadi tahun ke-9 berturut-turut. Ah, jika kau
memasukkan jaman taman kanak-kanak, itu akan lebih lama lagi."
Apa dia dengan santai menjatuhkan sesuatu yang berat? Apa dia selalu tinggal
sendirian karena dia sudah sendiri selama dia bisa mengingatnya?
"Bisakah aku pulang sekarang?”
Horikita mendesah dalam dan menatap lurus ke mata Kushida.
"Kushida-san, jika kau tidak akan yakin, aku tidak akan mengatakan apapun.
Berjanjilah, karena kau tidak bodoh, kau tahu apa yang aku katakan, bukan?"
Horikita meninggalkan toko itu dengan
"Baiklah". Dia meninggalkanku dan Kushida
di belakang di kafe yang sibuk.
"Itu adalah kegagalan, aku mencoba membantu tapi tidak ada gunanya, dia terlalu
terbiasa menyendiri."
Kushida yang tidak bisa berkata apa-apa, duduk dengan bunyi gedebuk. Namun, dia
langsung pulih dengan wajahnya yang biasa tersenyum.
"Tidak, terima kasih Ayanokouji-kun, aku tidak bisa berteman dengan dia, tapi... aku
harus belajar sesuatu yang penting, aku puas dengan itu. Maaf, Horikita-san
mungkin membencimu karena kau membantuku."
"Jangan khawatir, aku juga ingin Horikita tahu tentang manfaat memiliki teman."Karena kami memegang empat kursi di antara kami berdua, aku pindah ke meja Kushida.
"Meski begitu, aku terkejut, ketika kau mengatakan bahwa kau tidak memiliki
teman, apakah itu benar, sepertinya tidak seperti itu? Kenapa kau sendiri?"
"Hmm, ya, benar, Sudou, Ike dan temanku adalah teman pertama yang aku buat, aku
tidak tahu apakah itu salah ku atau hanya karena lingkungan tempat aku
dibesarkan."
"Apa kau senang akhirnya kau bisa berteman? Apa ini menyenangkan?"
"Ya, kadang menjengkelkan, tapi juga sangat menyenangkan."
Mata Kushida berkilau saat dia menganggukkan kepala sambil berkata "Un, un"
"Horikita memiliki pemikiran dan tujuan di dalam pikirannya. Tidak ada yang bisa
kita lakukan untuk mewujudkannya."
"Apa begitu? Apa memang tidak mungkin untuk dia berteman?"
"Kenapa kau merasa begitu putus asa? Bukankah kau sudah punya banyak teman?
Tidak ada alasan untuk terobsesi dengan Horikita."
Meskipun dia tidak bisa bergaul dengan semua orang di kelas, bukan berarti dia harus berusaha berteman dengan Horikita.
"Aku ingin berteman dengan semua orang ... Bukan hanya kelas D, tapi juga semua
kelas lainnya. Namun, jika aku tidak bisa bergaul dengan satu gadis di kelas, maka
aku sudah gagal ..."
"Pikirkan saja Horikita sebagai orang istimewa, lalu tunggu sampai kebetulan yang
sebenarnya terjadi."
Bukan sesuatu yang terpaksa, tapi kebetulan yang nyata. Bila itu terjadi, jadilah pertemanan mungkin bisa dilakukan.
__ADS_1
^^^~ End of Vol 1 Chapter 4 ~^^^