
"Jangan khawatir. Tempat diskusi sudah berubah. Mereka menunggu kita di Pallet."
"Oh, jadi uh. Maafkan aku, apa aku bisa pergi ke klub sebentar? Aku baru ingat kalau seniorku memintaku hadir. Kurasa itu akan berakhir dalam dua puluh atau tiga puluh menit."
"Aku tidak keberatan. Datang dan temui aku secepatnya setelah kau selesai.”
Sudo tersenyum, meraih ranselnya dan bergegas keluar dari kelas.
Saat dia terlambat datang ke diskusi, Horikita mengambil tasnya. Aku memutuskan pergi juga.
"Kalau begitu aku pulang. Semoga beruntung dengan semuanya."
"Tunggu sebentar. Kau juga ikut. Sebagai perantara antara Hirata-kun dan Karuizawa-san, kau sangat dibutuhkan. Aku tidak terlalu terbiasa dengan mereka sekarang."
"... Tentu saja akan seperti itu. Meskipun kau bilang kau tidak terbiasa, aku pikir kau bisa mengontrol kelas dengan lancar sampai batas tertentu. Selain itu, ujian akhir adalah dasar dari kuis yang akan datang ini. Kau juga sudah menangani kelompok belajar ujian tengah semester tanpa bantuanku. "
Faktanya, dia menangani seluruh situasi itu atas kemauannya sendiri. Kuis ini hanya satu langkah berbeda dari itu.
"Jika kau hanya melihat poin itu, ya seperti itulah. Tapi jika Kushida ada di sana, itu cerita yang berbeda. Ini pengecualian. Dan aku punya sesuatu untukku beritahu padamu terlebih dahulu. Apa aku boleh setidaknya
memintamu berpartisipasi dalam diskusi hari ini? Atau, apa kau tidak tertarik dengan apa yang dia rencanakan? "
Pernyataan itu sangat licik. Kejujuran adalah cara terbaik untuk menjawab sesuatu seperti ini.
"Bohong kalau aku bilang tidak tertarik."
Dia memperlakukan semua orang di kelas sama, jadi kenapa dia sangat membenci Horikita?
Bagiku, itu sesuatu yang sangat membingungkan. Aku sedikit tertarik
dengan situasi ini.
"Jika kau menerimanya dan menghadiri diskusi hari ini, aku akan memberitahumu." Horikita menegaskan. Dia sepertinya punya alasan untuk mengungkitnya saat ini.
"Sejujurnya, aku tidak ingin membuat masalah tentang masa lalunya, tapi kupikir aku harus memberitahumu terlebih dahulu, jadi biarkan aku memberitahu. Karena aku pikir hasilnya akan berguna untukku."
"Kupikir kau tidak akan memberitahuku tentang Kushida."
"Atas dasar kau berpikir seperti itu?"
"Kau belum mengatakan apapun tentang Kushida sejauh ini, kan? Mungkin lebih baik menganggap kalau aku tidak bisa membayangkanmu terlibat dalam hubungan yang kurang baik. Kapan kau bermusuhan dengan Kushida?"
Aku mempertajam mata untuk memastikan ekspresi Horikita. Dia lebih kaku dari yang kukira.
"Aku tidak bisa memberitahumu di sini. Apa kau mengerti?"
Meskipun tidak ada yang memperhatikan pembicaraan kami, ada banyak mata dan telinga di kelas.
"... Aku mengerti. Aaku akan menemanimu."
Aku menantikan cerita yang layak dari upaya ini.
Setelah kami keluar dari koridor dan melewati kerumunan, Horikita berbisik:
“Dari mana kau ingin aku memulainya?”
"Dari awal. Karena yang kutahu, kalian berdua tidak punya hubungan yang baik satu sama lain."
Dan sisi gelap Kushida, aku ingin tahu lebih banyak tentang itu. Tapi, aku sengaja tidak menyebutkan hal ini karena aku tidak tahu apa yang Horikita tahu atau rencanakan untuk dikatakan.
"Biarkan aku memberitahumu dulu, aku tidak tahu banyak tentang Kushida Kikyō. Di mana pertama kali kau dan Kushida-san bertemu?"
Dia mungkin ingin memastikan. Biarkan aku membalas dengan serius:
"Di bus."
"Itu benar. Sama sepertimu, pertama kali aku melihat Kushida-san juga di bus saat hari penerimaan."
Aku ingat sekarang. Ada seorang wanita tua yang harus berdiri karena tidak ada kursi yang kosong. Kushida mengulurkan tangan ke wanita tua itu dan mencoba membuat penumpang lain menyerah. Itu adalah
perbuatan baik dalam dirinya sendiri, kebaikan yang tidak akan dicela oleh siapa pun. Tapi sayangnya, aku ingat tidak ada yang memutuskan untuk menyerahkan tempat duduk mereka sampai Kushida melakukan sedikit usaha untuk meyakinkan seseorang agar menyerah. Aku juga tidak punya niat memberikan tempat dudukku, jadi keseluruhan situasi memiliki kesan yang abadi untukku.
"Itulah kenapa dia mulai membenci... tapi, menurut kejadian itu, tidak diragukan lagi jika Kōenji, yang menolak menyerahkan kursinya setelah debatan langsung, akan menjadi target yang jauh lebih baik untuk dibenci
daripada seseorang yang hanya menonton. Tidak masuk akal jika dia ikut membenciku jika itulah alasannya. ”
Aku tidak bermaksud mengatakan kalau Kushida menyukaiku, tapi dia hanya menunjukkan permusuhan yang sangat kuat terhadap Horikita.
"Aku tidak mengenal Kushida-san saat itu. Tidak, aku tidak ingat persis."
"Apa itu berarti kau dan Kushida sebenarnya sudah berinteraksi sebelum kalian bertemu di bus?"
"Dia dan aku berasal dari SMP yang sama. Sekolah itu ada di provinsi yang berbeda, dan ini adalah SMA yang sangat istimewa. Dia mungkin tidak pernah menyangka akan ada orang-orang dari tempat yang sama dengannya."
"Aku mengerti."
Ketika aku mendengar ini, itu sudah memecahkan misteri besar. Sebelum aku bertemu mereka, ikatan antara Horikita dan Kushida sudah dimulai.
Dalam hal ini, aku paham kalau aku tidak bisa mengerti sebelum mendengar ini.
__ADS_1
"Aku memikirkan ini setelah kami membuat kelompok belajar di semester pertama. SMP ku adalah sekolah besar dengan lebih dari seribu murid, dan aku tidak ingat pernah berada di kelas yang sama dengan Kushida-san."
Aku sama sekali tidak terkejut mengetahui bahwa Horikita juga seperti ini di masa SMPnya Dia seharusnya tidak punya teman, menghabiskan setiap hari dengan tenang dan memanjakan dirinya sendiri di sekolahnya.
"Murid seperti apa Kushida waktu SMP?"
Kami tidak langsung ke Pallet. Karena kami menilai bahwa pembicaraan itu mungkin memakan waktu lama, kami berjalan keliling sekolah sebentar. Semakin jauh dari kafe, semakin sedikit orang di daerah tersebut.
"Siapa yang tahu. Seperti yang baru saja kukatakan, dia dan aku tidak pernah berinteraksi satu sama lain. Tapi, aku bisa mengatakan kalau dia sama populernya seperti di sini, kurang lebih. Dulu, dia menjadi pusat perhatian dari kelasnya di semua jenis kegiatan saat itu, dia orang yang terkenal, yang baik kepada semua orang dan selalu meninggalkan kesan yang baik. Aku tidak berpikir kalau dia pernah mencalonkan diri sebagai dewan murid, dia pasti diajak bergabung"
Jika dia memang memegang suatu jabatan, Horikita mungkin ingat kalau mereka pernah sekelas. Memang, Kushida yang kukenal tidak pernah memegang jabatan sama sekali.
Mungkin, seperti yang dikatakan Horikita, kepribadian sempurna yang ditunjukkan Kushida di SMP sama seperti di SMA.
Keduanya sepertinya mengambil jalan yang sama, tetapi sebenarnya tidak. Aku tidak bisa memecahkan misteri kenapa Kushida begitu benci dengan Horikita. Jawaban mungkin masih tersembunyi di balik pembicaraan selanjutnya.
"Menurutku dia tidak membencimu karena dia tidak bisa menjadi temanmu."
Bukan hanya pertanyaan apakah dia mampu membuat seratus teman atau tidak. Bahkan jika itu Kushida, tidak ada yang mampu berteman dengan seluruh murid di sekolah.
"Yah, kuncinya ada pada apa yang akan aku katakan selanjutnya. Tapi kau harus ingat, ini hanya rumor. Kebenaran pastinya sendiri hanya Kushida-san saja yang tahu."
Horikita langsung ke intinya dan mulai berbicara serius.
"Sesuatu terjadi saat kelulusan semakin mendekat menjelang akhir Februari di mana kelas menjadi kacau."
"bukan flu, kan?"
"Rumor itu langsung sampai padaku. kabarnya, ada seorang gadis yang menyebabkan kekacauan di kelas, dan kelas itu tidak pernah kembali ke kondisi semula sampai aku lulus."
"Aku tidak perlu bertanya siapa gadis itu, kan?"
"Dia adalah Kushida-san. Tapi aku tidak tahu bagaimana detailnya sampai kelas itu menyentuh titik kehancuran. Aku khawatir sekolah juga menyembunyikan berita itu. Jika kebenarannya dipublikasi, kualitas sekolah akan menurun. Dan, kemungkinan akan berdampak pada proses pendidikan dan sistem staf. Meski begitu, sekolah tetap tidak bisa memadamkan api. Rumor mulai menyebar di kalangan murid berdasarkan
semua jenis dugaan."
"Apa kau ingat sesuatu, walaupun itu hanya rumor?" Aku ingin tahu seperti apa situasi itu. Horikita berbicara seolah mengingat masa lalu.
"Begitu insiden itu beredar, beberapa murid dari kelasku membicarakannya. Mereka bilang kelas lain benar-benar hancur, papan
tulis dan mejanya ditutupi coretan-coretan tuduhan."
T/N: Coretan berbentuk seni cat pilox. Tuduhan bisa juga mengandung cacian.
"Mencoret-coret tulisan tuduhan ... Apa mungkin Kushida sedang diganggu?"
Singkatnya, ada banyak rumor yang beredar.
"Tapi aku langsung berhenti mendengar rumor itu. Jadi, tidak mungkin membicarakannya lagi. Ada kelas yang dibubarkan, tapi semuanya diperlakukan seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi."
Pasti ada semacam tekanan dari luar.
"Bagaimanapun juga, jika informasinya terbatas, kau tidak akan tahu kalau memang Kushida lah yang menjadi penyebab kekecauan kelas. Aku ragu pada saat itu kau sangat tertarik dengan sesuatu seperti ini."
"Benar. Saat itu aku hanya fokus pada ujian masuk sekolah ini. Aku percaya diri dengan kemampuan akademisku yang dibutuhkan untuk ujian, jadi aku tidak terlalu memperhatikan apa yang terjadi. ”
Seperti yang kuduga. Bahkan jika peringkat sekolahnya turun, dia masih cukup percaya diri dengan kemampuan masuknya.
Suatu peristiwa, yang diduga disebabkan oleh Kushida, telah menyebabkan kekacauan kelas. Aku yakin itu masalah serius yang akan berdampak pada pendidikan atau sistem staf. Aku tidak bisa membayangkan Kushida yang aku kenal sekarang melakukan sesuatu seperti ini. Jika rumor itu detail, masih bisa dimengerti kalau dia tidak bisa menghindari siapa pun yang tahu kebenarannya. Jika ini beredar, aku tidak ragu bila posisi Kushida saat ini di sekolah akan segera berakhir.
"Jika kita memikirkannya: insiden yang disebabkan Kushida ini, kita tidak tahu secara pasti apa yang terjadi. Tapi Kushida sendiri tidak tahu kalau kau sebenarnya tidak tahu secara detail apa yang terjadi. Dia pasti berpikir kau yang berasal dari SMP yang sama, pasti tahu detailnya sampai batas tertentu. Apa itu benar? ”
"Sebenarnya, dia tidak sepenuhnya salah karena aku tahu dia bertanggung jawab atas insiden itu."
Dia menghela nafas. Aku mulai melihat dalam kondisi apa Horikita sekarang.
Singkatnya, kesalahpahaman dan permusuhan satu sisi Kushida lah yang
menjadi penyebab semua ini. Bagi Kushida, menjaga masa lalunya tetap menjadi rahasia adalah hal yang cukup penting baginya sehingga dia bersedia melakukan semua upaya ini untuk menyembunyikan itu sepenuhnya.
Bahkan jika Horikita mengatakan dia tidak tahu tentang kejadian itu, Kushida tidak akan percaya padanya. Bagi Kushida, berapa banyak yang Horikita tahu mungkin tidaklah penting. Fakta bahwa kami berbicara tentang ini sejak awal adalah bukti bahwa Horikita tahu tentang masa lalunya. Ini sangat rumit.
"aku tidak mengerti."
"Apa kau mengacu pada isi dari insiden itu?"
"Yah, itu semua masih misteri, dan itu bahkan tidak terdengar menyenangkan. Apa kau pikir itu logis saat kelas yang tidak punya masalah tiba-tiba hancur?"Horikita menggelengkan kepalanya.
“Kushida adalah pemicunya, yang berarti dia mungkin adalah penyebab hancurnya kelas itu sendiri. Seberapa seriusnya kelakuan murid sampai-sampai menyebabkan itu semua?"
Jika itu hanya masalah bullying, masih tidak akan bisa menyebabkan kejadian sebesar itu. Jika itu masalahnya, paling-paling hanya mampu mengeluarkan satu atau dua orang dari kelas.
"Aku juga berpikir seperti itu. Sejujurnya, aku
tidak bisa membayangkan apa yang dilakukannya sampai-sampai menyebabkan sesuatu seperti itu."
Bahkan jika aku ingin Kelas D hancur saat in juga, tidak akan semudah itu.
"Senjata yang kuat mampu menghancurkan kelas."
__ADS_1
"Ya..."
Senjata-senjata yang dimaksud di sini bukan murni secara fisik dalam maknanya, tetapi juga mencakup berbagai metode.
"Jika kau ingin menghancurkan kelas, taktik apa yang akan kau gunakan?" Horikita bertanya.
"Aku minta maaf menjawab pertanyaanmu dengan pertanyaan lain, tapi aku merasa ini akan membawa kita ke kesimpulan lebih cepat. Apa kau tahu senjata apa terkuat di dunia? Coba kita batasi pertanyaannnya
berdasarkan apa yang bisa dimanipulasi oleh Kushida. Pikirkan tentang itu.”
"Rasanya aku sudah bilang sebelumnya. Munurutku 'kekerasan' adalah senjata yang paling kuat yang dimiliki seseorang. Sejujurnya, 'kekerasan' memiliki intensitas yang unik. Tidak peduli seberapa pintar seorang sarjana atau bahkan seorang politisi sekalipun, pada akhirnya, mereka akan menghadapi kekerasan yang hebat. Selama kondisi memungkinkan, bukan tidak mungkin menghancurkan kelas, karena itu hanya masalah mengirim semua orang ke rumah sakit. "
Meskipun berbahaya, contoh Horikita tidak salah. Kelas akhirnya akan hancur.
"Ya, aku tidak membantah kalau kekerasan adalah salah satu senjata terkuat. tapi, tidak mungkin Kushida bisa membuat semuanya menjadi orang yang putus asa dengan menggunakan kekerasan. Itu akan menjadi
hal yang sangat luar biasa.”
Jika Kushida datang ke sekolah dan berkeliling ke mana-mana sambil membawa gergaji senso, sekolah tidak akan tinggal diam. Itu pasti akan menyebabkan banyak drama dan kontroversi di TV.
"Bagaimana jika ada hal lain yang tidak kalah hebat dengan tindak kekerasan atau malah lebih hebat dari itu?"
“Apa kau memikirkan sesuatu? Bagaimana cara dia menghancurkan kelas?
“Kalau dipikirkan, jika terserah padaku bagaimana caraku melakukannya, mungkin....”
"Tunggu sebentar." Horikita menyelaku, dia berpikir sekali lagi dan berkata:
"Aku mau bilang 'kekuasaan', tapi itu sulit diterapkan di kehidupan sekolah..."
Meskipun dia memikirkan jawabannya, dia sepertinya tidak percaya diri.
“Kekuasaan adalah sesuatu yang sangat hebat jika bisa dilakukan, kecuali dalam kasus ini. Bahkan presiden di sekolah ini
tidak bisa melakukannya. Tidak ada cara menghancurkan kelas dengan menggunakan kekuasaan."
“Lalu apa? Alat yang bisa dimanipulasi dan digunakan seseorang sebagai senjata untuk menghancurkan seluruh kelas. ”
“Ini tidak terbatas pada Kushida saja, senjata yang bisa dimanipulasi oleh siapa pun? Jawabannya adalah 'kebohongan'. Manusia adalah pendusta, siapa pun bisa melakukan manipulasi dengan kebohongan. Tapi tergantung pada waktu dan tempatnya, kebohongan bahkan memiliki kekuatan untuk
melahap kekerasan. ”
Statistik jelas menunjukkan bahwa seseorang akan melakukan kebohongan dua atau tiga kali sehari. Sepintas kelihatannya mustahil, tapi definisi kebohongan itu luas. "Aku hanya lelah", "Aku kedinginan", "Aku tidak mengecek email" dan "Tidak masalah". Semua jenis kata mengandung kebohongan.
"Kebohongan ... ya, mungkin benar." Kebohongan itu kuat. Kebohongan bahkan bisa membunuh seseorang.
“Baiklah, kalau begitu, aku akan mempercepat ini. Sebagai contoh, dengan asumsi bahwa kau menggunakan senjata terkuatmu: 'kekerasan' dan 'kebohongan', apa kau bisa menghancurkan Kelas D? Coba pikirkan. ”
Horikita bertanya
“Aku tidak akan mengatakan kalau itu sama sekali tidak mungkin, tapi aku tidak bisa mengatakannya dengan pasti. Coba bayangkan, bahkan jika kau harus mengandalkan kekerasan saat bertarung, ada beberapa orang yang aku rasa akan sulit dikalahkan. Sejujurnya, aku tidak bisa membayangkan kalau aku bisa mengalahkan Sudō atau Kōenji dalam pertarungan jujur
dengan tangan kosongku. Di atas itu, ada orang-orang seperti kau yang kekuatannya tidak pasti. Bahkan jika senjata sudah dipersiapkan sebelumnya, atau aku berusaha menyerang diam-diam, jika yang lain menggunakan strategi sendiri, itu cerita yang berbeda. Sangat mustahil memastikannya. ”
Horikita sepertinya menganggap ini lebih serius daripada yang aku pikirkan, dan dia berjuang untuk mencari tahu cara terbaik yang bisa dia lakukan.
“Kesimpulan itu benar. Kekerasan bisa digunakan oleh siapa saja, tapi kondisinya cukup rumit. ”
“Setelah mengatakan itu, aku juga tidak akan bisa mengendalikannya sepenuhnya walaupun aku harus berbohong. Selain itu, ada banyak murid di kelas yang menganggap lebih baik menjadi pembohong daripada menjadi kasar, jadi tidak ada jalan lain. Gaya bertarung itu juga bukan gayaku. ”
Horikita mencoba beberapa pemikiran, tetapi sepertinya tidak mampu memberikan jawaban.
“Jika kita membatasi situasinya dengan menggunakan salah satu taktik, aku tidak berpikir Kushida mampu melakukan kekerasan. Dengan kata lain, akan masuk akal jika dia menggunakan kebohongan untuk menghancurkan kelas.” Kataku
"Ya…"
"Tapi, apa dia bisa melakukan itu?"
“Aku tidak tahu. Kemungkinannya tidak mustahil, tapi itu pasti tidak mungkin untukku.” Tidak sulit mojokan satu orang. Tapi jika itu seluruh kelas, itu cerita yang berbeda.
“Apa Kushida bisa memanipulasi kekerasan atau kebohongan yang bahkan tidak bisa kita bayangkan? Atau-" Aku terpotong. Apakah Kushida memiliki senjata kuat yang bukan miliknya juga?
Aku tidak tahu senjata apa yang Kushida gunakan, tapi dia punya peluang tinggi untuk menghancurkan kelas kami. Jika Kushida juga adalah korban dari hancurnya kelas, dia tidak akan bermusuhan dengan Horikita.
“Kushida-san mengatakan kepadaku kalau dia akan mengusir orang-orang yang tahu tentang masa lalunya tidak peduli bagaimana. Jika perlu, dia bersedia membentuk aliansi dengan murid seperti Katsuragi-kun, Sakayanagi-san, atau Ichinose-san untuk mendesakku ke situasi yang merugikan. Faktanya, dia sudah bergandengan tangan dengan Ryūen-kun untuk mencoba menjebakku. Selama aku berada di sekolah ini, bahkan jika Kelas D berada dalam situasi yang buruk, dia tidak akan melunakkan serangannya padaku.”
“Ini sangat sulit. Itu artinya dia sudah membuat keputusan untuk menghancurkan kelas demi menyembunyikan masa lalunya. ”
"Tidak ada yang meragukan tentang itu." Karena dia sudah membuat pernyataan untuk Horikita, akan menjadi yang terbaik menganggap serius ancamannya.
Setelah membuat pernyataan perang terhadap Horikita, Kushida diminta mengambil bagian dalam diskusi dengan Horikita dan Hirata. Secara publik, sepertinya dia ingin membantu dengan pengaruh yang dia miliki di kelas, tapi di belakang layar dia terlibat dalam tindakan permusuhan... Artinya, kemungkinan dia menjadi mata-mata cukup tinggi. Namun, bahkan jika ada kemungkinan memata-matai, kita tidak bisa begitu saja menolak Kushida.
Kushida sudah membuat banyak kepercayaan di Kelas D, jadi jika dia tiba-tiba diperlakukan seperti orang luar, itu bisa memancing rasa ketidakpercayaan dari orang-orang di sekitarnya kepada kami.
"Biarkan aku memastikan satu hal, Horikita. Apa yang akan kau lakukan tentang Kushida?"
"Apa yang akan aku lakukan? Aku hanya punya beberapa pilihan yang bisa dipilih sejak awal. Aku bisa memaksa Kushida dan bilang 'Aku tidak tahu detail masa lalumu,' atau aku bisa bilang 'Aku tidak akan pernah membicarakan masa lalumu kepada siapa pun,' dan berharap dia menerimanya. ”
sambung
__ADS_1