
Sazae-san sindrom.
Aku ingin tahu, apa kau pernah mendengar kata itu sebelumnya?
Jika aku harus menjelaskannya dengan sederhana, Keputusasaan karena harus menghadapi hari Senin yang terjadi setelah melihat Sazae-san yang dimulai pada malam di hari Minggu.
Dengan darah yang sama, pada saat hari terakhir liburan musim panas mendekat, banyak murid juga menghadapi keputusasaan yang sama.
Mereka memilikirkan sesuatu seperti 'seandainya liburan itu bisa lebih lama' atau 'seandainya saja aku bisa bermain sedikit lagi' Tapi aku tidak berpikir seperti itu.
Di dalam kehidupan, waktu yang kau dapatkan untuk bermain sesukamu sebagian besar dibatasi untuk kehidupan sebagai seorang murid.
Dengan asumsi usia minimum pensiun adalah 60 dan 1 8 adalah usia ketika seseorang memasuki dunia masyarakat, tahun-tahun yang dibutuhkan untuk bekerja akan sampai kepada 42 tahun. Itu adalah waktu yang jauh lebih lama dibandingkan dengan 1 2 tahun yang dibutuhkan untuk menuju dari SD ke lulusan SMA.
Setelah itu berlalu, orang-orang kemudian akan terikat oleh masyarakat dan kehilangan kebebasannya. Dalam beberapa kasus, seseorang terus terikat oleh pekerjaan mereka bahkan setelah melewati masa pensiun mereka. Tentu saja, secara alami ada orang-orang yang lahir terbebas dari batasan ini.
Beberapa orang terlahir dari orang tua yang kaya dan terkadang beberapa orang berhasil sebagai pengusaha. Cara pintas untuk hidup seperti itu juga ada, tapi kemungkinan kejadiannya akan lebih seperti peluang untuk memenangkan sebuah undian dan orang-orang harus memahaminya.
Akibatnya, selama lebih dari setengah usia kehidupan mereka, kebanyakan orang harus mengorbankan diri mereka atas nama kontribusi masyarakat.
Melihat dari sudut pandang orang-orang di masyarakat, menjadi murid itu sendiri seperti sedang menikmati liburan musim panas untuk mereka. Namun, ada banyak murid yang menjadi dewasa tanpa menghargai fakta tersebut.
Dan begitu mereka mencapai usia 30 atau 40 tahun, mereka melihat kembali kepada masa itu dan memikirkan hal-hal seperti 'Aku sangat bersenang-senang saat itu'. Cerita ini adalah cerita tentang murid yang bimbang maju dan mundur di antara masa kanakkanak dan dewasa. Sebuah cerita, cerita yang kecil.
Chapter 1 IBUKI MIO MENGEJUTKAN BANYAK ORANG DENGAN SIKAP NORMALNYA
Ujian khusus.
Hal pertama yang terlintas di dalam pikiran saat mendengar kata tersebut umumnya adalah menuliskan jawaban ujian atau tes sederhana yang berhubungan dengan olahraga atau sesuatu yang berkaitan dengannya. Namun, di sekolah yang aku masuki, SMA Kōdo Ikusei, ujian khusus bukanlah hal yang sederhana seperti itu.
Ujian khusus dimana kelas menyerang kelas yang lain di sebuah pulau tak berpenghuni atau permainan yang menuntut kemampuan berpikir dengan si pembohong yang menyerang si pembohong di kapal pesiar. Ujian semacam itu yang melampaui logika terus berlanjut satu demi satu selama liburan musim panas.
Untuk tahun pertama sepertiku, waktu istirahat yang singkat, termasuk hari ini, hanya sampai ke nomor 7 (Satu minggu). Setelah waktu tersebut habis, semester kedua akan dilanjutkan.
Dan omong-omong, caraku menghabiskan liburan itu cukup sederhana. Aku hanya menghabiskan hari demi hari tanpa menelpon siapa pun atau berbicara kepada siapapun. Dengan kata lain, menyendiri.
"Aku juga tidak keberatan"
Aku sudah puas hanya dengan kebebasanku, aku tidak menginginkan adanya kebahagiaan yang lebih. Bukan berarti aku menginginkan teman milikku sendiri. Tapi baru-baru ini, aku mulai memikirkan hal seperti itu.
Semakin banyak koneksi yang aku lakukan dengan orang-orang, semakin banyak orang-orang yang bisa aku ajak bersenang-senang. Tapi itu sendiri adalah sebuah probelatika. Jika salah satu temanku mengajakku keluar, ada kemungkinan aku akan sangat senang dengan itu. Tapi meski dalam kesendirian, ada hal yang masih bisa aku lakukan.
Sebenarnya aku sedang melakukan salah satu dari hal itu sekarang, menggunakan ponselku untuk mengakses sisa poinku. Aku melihat di layar bahwa saat ini aku memiliki 1 06.21 9 poin. Dari mereka, aku mentransfer 1 00.000 poin ke salah satu teman sekelasku, Sudou Ken. Dan tak lama kemudian, orang yang menerima transferan itu, Sudou, menelponku.
"Yo, Ayanokouji, apa yang kau lakukan sekarang?" dia bertanya.
"Tidak ada yang spesial. Aku hanya ingin tahu apa yang harus aku makan ketika makan malam"
"Aku mengerti. Aku makan beberapa Sasami sekarang. Rasanya sederhana dan akan sangat mudah merasa bosan, tapi untuk itu, aku bisa sedikit mengakalinya. Aku bisa memanggangnya atau merebusnya... Tapi, apa-apaan itu? Itu tidak penting. Yang ingin aku tanyakan adalah tentang peramal”
__ADS_1
Peramal? yah, itu sebuah kata yang tidak bisa aku tebak dari apa yang akan Sudou katakan. Normalya, Sudou yang berpikir di dalam hitam dan putih, lebih menyukai hal-hal yang sederhana seperti Sasami yang baru saja dia makan. Aku tidak pernah menduga Sudou bisa membicarakan hal-hal yang abstrak seperti peramal.
"Intinya, Sepertinya ada peramal yang benar-benar akurat di sini, di Keyaki Mall yang hanya ada di liburan musim panas, sepertinya itu sedang nge-tren di antara senior, bahkan di klubku, semua orang membicarakan peramal tersebut. Begitu aku mendapatkan 'poin tambahan', aku juga merasa seperti ingin bermain di sana. Itulah sebabnya kita akan pergi bersama-sama. Tentu saja aku yang akan mentraktirmu”
Itu adalah undangan untuk bersenang-senang bersama dengan teman sekelasku, Sudou. Berbicara tentang Keyaki Mall, sepertinya itu adalah fasilitas yang sering digunakan oleh murid. Karena murid diwajibkan untuk tinggal di sekolah, maka perlu disiapkan fasilitas yang dibutuhkan bagi murid.
Tapi sesuatu seperti itu tidak beragam dan terbatas, tidak seperti di dunia luar. Misalnya, tidak ada konser idol, tidak ada taman hiburan dan tidak ada kebun binatang. Karena daerahnya terbatas, fasilitasnya tentu saja juga terbatas.
Sederhananya, ini murupakan dunia kecil dan Sekolah termasuk yang seperti itu, kapan pun sesuatu yang baru muncul, itu selalu terjadi tren di kalangan murid, tapi aku tidak pernah menduga bahwa peramal yang akan menjadi tren. Itu hal yang tidak terduga. Tapi meski begitu, aku membalas dengan nada yang positif.
Karena tidak ada yang pernah mengajakku untuk bersenang-senang bersama mereka sebelumnya, aku merasa sangat bahagia sampai-sampai aku tidak bisa menghentikan perasaan ini dan dengan cepat menanyakannya kembali.
"Kapan kau akan pergi?"
"Besok pagi, sepertinya di jam 10, tapi jika kau tidak pergi ke sana lebih cepat sepertinya kau akan terjebak di dalam antrian, kita harus sampai di sana jam 9:30" Sepertinya, Sudou sudah memiliki jadwal yang dia rencanakan di kepalanya, itu artinya, ini akan menghemat waktu kami.
"Aku tidak keberatan, tapi bagaimana dengan klubmu?" Aku bertanya kepadanya.
"Ya, turnamen yang aku ceritakan beberapa waktu yang lalu sudah berakhir saat ini, jadi tidak masalah. Kami berlatih setiap hari sampai kami tumbang, kau tahu. jika mereka tidak membiarkan kami beristirahat sesekali, tubuh kami tidak akan bertahan” Sudou berada di turnamen bola basket hari ini. Meskipun diam-diam dia sudah berlatih sendirian setiap hari, aku khawatir dengan hasil turnamen dan hal yang lainnya.
"Apa kau memiliki 'masalah'?" Aku memastikan untuk menekankan kata 'masalah' sehingga Sudou bisa mengerti maksudnya dengan cepat.
"Ya, itu cukup sulit. Direktur dan pelatih, semuanya ada di sana, level pengawasannya bahkan tidak bisa dibandingkan dengan hari-hari di SMP. Kami bahkan tidak diperbolehkan chattingan dengan murid dari sekolah lain kecuali berbicara secara langsung selama pertandingan. Dibatasi dengan hanya pergi sejauh ke toilet saat kami istirahat. Kupikir ini mustahil” Meskipun kegiatan klub secara teknis berada di luar sekolah, sepertinya sekolah tersebut masih melakukan pengawasan yang luar biasa.
"Tapi biar bagaimanapun, Aku sudah berhasil entah bagaimana, aku berhasil melewatinya dengan tekat" katanya.
"Aku mengerti, bagaimana dengan Yamauchi?"
Bahkan kehidupan sekolah Sudou pun sudah berkembang, sehingga dia tidak akan melakukan sesuatu yang berbau busuk. Tapi untuk berjaga-jaga, aku harus segera bertemu dengan Yamauchi untuk memastikan bahwa data sudah terhapus, hanya untuk berada di posisi yang aman.
"Omong-omong, apa kau berhasil bermain di dalam pertandingan yang penting ini?"
"Ya, dan di antara angkatan yang baru, hanya aku yang bisa bermain, aku bahkan mendapat pujian spesial untuk itu, tapi aku kalah di dalam pertandingan jadi tidak banyak yang bisa dibanggakan"
Aku tidak tahu banyak tentang ini, tetapi bisa debut di dalam sebuah pertandingan sebagai tahun pertama itu sendiri adalah hal yang membanggakan. Dan dari kata-kata Sudou, aku merasakan lebih banyak kesabaran daripada perasaan frustrasi.
Sebaliknya, dia harus terus mendapatkan hasil di klub bola basket. Dia mungkin berlatih dengan keras untuk turnamen ini. Apalagi karena tahun pertama sibuk bersekolah demi ujian khusus, jadi untuk menebusnya, dia pasti sudah berlatih lebih keras dari murid yang lainnya.
"Jadi apa yang akan kau lakukan? Kau akan pergi atau tidak?" Sudou bertanya padaku
"Tidak ada yang aku rencanakan, jadi aku pikir aku akan pergi" Setelah aku setuju untuk ikut, Sudou mengubah pembicaraan dan berbicara kepadaku,
"Pastikan untuk mengajak Suzune juga, benar-benar mengajaknya. mengerti?"
"...Aku mengerti" Sepertinya Sudou tidak pernah ingin memintaku pergi menemui peramal tapi lebih ingin pergi bersama Horikita. Dia pasti merasa; bahkan jika dia mengundangnya, kemungkinan dia akan menerima penghinaan, karena itu dia menjadi bergantung kepadaku.
"Asal kau tahu saja... Aku rasa dia tidak tertarik dengan peramal" kataku padanya.
"Meski begitu, pastikan untuk mengajaknya. Inilah satu-satunya keahlian spesial yang kau miliki, bukan?" Keahlian apa? Aku ingin dia berhenti menggunakanku sebagai mesin undangan untuk Horikita.
"Aku akan coba bertanya kepadanya, tapi jangan berharap terlalu banyak"
__ADS_1
"Mencoba itu masih belum cukup"
"Belum cukup?....." Aku merasa bahwa kata-kata Sudou sedikit mengandung kemarahan. Dia berencana pergi esok hari dengan asumsi bahwa Horikita pasti ada di sana.
"Kau harus benar-benar melakukannya. Jika kau tidak mengajak Horikita, tidak ada artinya semua ini"
"Bahkan jika kau mengatakan itu, aku juga tidak tahu rencana untuk besok. Dan masih belum pasti apakah dia tertarik dengan peramal atau tidak. Bisakah mengajaknya pergi untuk berbelanja atau menonton film?"
"Jangan khawatir, setiap perempuan menyukai peramal" kata Sudou.
Aku pikir itu hanya teori ... Tapi bagaimanapun, anak perempuan memang memiliki citra yang menyukai peramal. Tapi ketika sampai kepada Horikita, aku tidak bisa membayangkan jika dia bertingkah seperti perempuan normal dan menikmati ramalan.
"Kau mengerti? Apa kau akan mengajaknya atau tidak? pastikan untuk memberi tahuku. Kau mengerti?”
Dan setelah mengatakan itu, Sudou menghentikan pembicaraan dengan paksa. Kupikir aneh jika Sudou mengajakku pergi untuk bersenang-senang, sepertinya inilah yang sebenarnya dia inginkan.
Sementara aku merasa sedikit kecewa, dengan cepat aku mengubah perasaanku. Sebaiknya aku cepat menghubungi Horikita. Jika Sudou tahu bahwa aku mengabaikan permintaannya, itu akan merepotkan untukku juga. Sebelum aku lupa, aku langsung menelpon Horikita disini. Dan segera, Horikita menerima telepon itu.
"Hei Horikita, apa kau suka peramal?" Semua perempuan menyukai peramal. Jika ada perempuan yang mampu menghancurkan anggapanku tentang perempuan pada umumnya, tidak diragukan lagi jika itu adalah perempuan ini.
"Kau mengatakan hal yang paling aneh sebagai pembukaan" kata Horikita. Itu benar. Tapi bagiku, aku tidak punya kesempatan lain untuk membuka pembicaraan, jadi tidak ada pilihan lain.
"Akan sangat membantu jika kau menjawabku"
"Jadi, itu berarti jika aku tidak menjawabnya sama sekali, ada kemungkinan kau tidak akan selamat?"
Aku tidak berharap dia akan membalas seperti itu, tapi memang ada kemungkinan bahwa aku tidak akan selamat jika dia tidak menjawab. Bayangan Sudou yang menempatkanku di kuncian tangan muncul dalam pikiranku.
"Jadi, maukah kau menyelamatkanku?"
"Jika kau tidak keberatan denganku"
Jadi, aku akan dianggap bahwa aku hanya menuntut untuk menjawab ‘apakah dia menyukai peramal?’, huh? Aku menahan keinginan untuk menggerakkan jariku dan dengan cepat mengakhiri panggilan sekarang, tapi aku harus menahannya, wajah marah Sudou muncul di dalam pikiranku.
"Tolong, pertimbangkanlah" kataku padanya. Setelah menyadari bahwa jawabannya adalah sesuatu yang berharga, Horikita mengangkat suaranya sedikit dan menjawab.
"Mari kita lihat... Aku tidak terlalu antusias dengan hal seperti itu tapi akan menjadi kebohongan jika mengatakan bahwa aku tidak menyukainya" Mengejutkan, itu mengejutkan. Horikita sudah menjawabku seakan dia mangiakan peramal.
"Apa kau pernah mendapatkan keberuntungan yang diberitahu oleh peramal sebelumnya?" Tanyaku padanya.
"Tentu saja tidak ada yang seperti itu. Hanya saja aku pernah melihat ramalan muncul di dalam berita setiap pagi," Mungkin dia sedang membicarakan adalah ramalan bulan ulang tahun yang muncul di dalam berita. Aku tidak bisa membayangkan Horikita yang mengganti pakaiannya atau membeli asesoris setelah mendengar bahwa warna keberuntungannya adalah berwarna merah dari layar televisi.
"Apa kau mungkin kecanduan ramalan?" dia bertanya.
"Tidak, tidak seperti itu. Ada rumor yang beredar baru-baru ini, apa kau pernah mendengar tentang peramal itu?"
"Peramal?..." Diam seolah dia telah mengingat sesuatu yang pasti. Mmungkin dia mengingat sesuatu, tapi kemudian Horikita segera menjawab dengan nada yakin.
"Aku mengakui bahwa sepertinya ada keributan tentang itu, aku pernah mendengarnya," katanya.
"Aku sedikit penasaran dengan hal itu. Mereka terus mengatakan jika itu akurat, aku ingin melihat seberapa akuratnya, tapi aku tidak bisa benar-benar percaya bahwa peramal bisa sangat akurat mengenai sesuatu"
__ADS_1
Sambung...