
"Ini buruk..." Gumamku setelah mendengar nafas Ibuki yang keluar dengan kasar di sampingku. Kami mulai berkeringat di dahi kami dan keringat yang keluar dari kepala kami, membasahi rambut kami dan mulai menetes.
Pakaian yang aku gunakan sudah terlihat seperti aku yang sedang berada di bawah air terjun. Sepertinya situasi ini jauh lebih berbahaya daripada yang aku bayangkan. Memikirkannya kembali, lift ini dipasang di dinding Keyaki Mall. Berkat AC yang selalu menyala,
aku menjadi tidak menyadarinya, tapi lokasi ini akan sangat sensitif terhadap panas di dalam kondisi yang seperti ini. Ada insiden dimana anak-anak meninggal di tengah musim panas setelah terkunci di dalam mobil, tapi hal yang sama juga berlaku untuk orang dewasa. Dan seolah-olah, sengatan panas itu mulai menyerang kami.
"Ahh, aku sudah berada dibatasanku, bergeraklah!”
Merasa frustrasi, Ibuki berdiri dan dengan segenap kekuatannya dan dia menendang ke keluar lift, meninggalkan bekas penyok di tempat dia menendangnya. Dia menendang di tempat yang sama lagi. Lift sedikit bergoyang namun tidak menunjukkan tanda-tanda pergerakan.
"Kau hanya menyia-nyiakan tenagamu... tapi sekali lagi, aku benar-benar tidak bisa mengatakan bahwa hanya duduk diam adalah pilihan yang aman lagi" kataku kepada Ibuki.
Bahkan jika seseorang menyadari kemacetan lift dalam waktu 5 menit, hal itu masih akan membawa para penyelamat datang dalam waktu kira-kira 30 menit untuk sampai ke lokasi kami. Jika mereka sudah datang, seharusnya ini adalah saatnya penyelamatan tiba.
.
Jika kami tetap berada di sini setelah waktu itu berlalu, kami tidak akan bisa menghindari sengatan panas dan dalam beberapa kasus, ini juga akan menjadi risiko yang mengancam jiwa kami. Semenjak sampai kepada pemikiran ini, aku tidak bisa lagi mengatakan bahwa terus duduk diam adalah keputusan yang benar lagi.
"Tidak ada pilihan lain ..." Aku menolak untuk mati di sauna lift ini.
"Haruskah kita menendangnya dari sini? Hei, haruskah kita menendang?"
Ibuki bertanya kepadaku karena sudah kehilangan kesejukan dari udara yang panas dan sepertinya hal ini sangat menekankan keinginan hatinya untuk mengamuk.
"Terlepas dari bisa keluar atau tidaknya, untuk saat ini, ayo kita coba membuka penutup di bagian atas" kataku padanya.
Saat ini yang terpenting adalah meloloskan diri dari skenario tertutup ini. Bahkan jika kami tidak bisa keluar, asalkan tempat itu terbuka, itu sudah cukup.
"Tingginya.... kurang lebih 2 meter, sekitar 2,2 atau 2,3 meter"
Bahkan jika aku mengulurkan tanganku tinggi-tinggi, tentu saja aku tidak akan bisa mencapainya.
"Minggir"
Ibuki mengancam dan melotot kepadaku saat aku sedang mengukur ketinggian pintu pembobolan darurat. Lalu dia melompat dari kanan di bawah pintu pembobolan darurat.
.
Lompatan vertikal yang luar biasa. Dia kemudian mengulurkan tangan kanannya ke langit-langit, dan mengeluarkan semua kekuatannya. Tapi tempat itu sepertinya tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbuka dan dari benturan Ibuki yang mendarat kembali ke lantai, lift bergoyang dengan kuat.
"... sepertinya itu macet"
"Aku rasa begitu" Jika itu hanya ditutup seperti biasanya, sekarang, seharusnya sudah terbuka.
“Kau pikir itu terkunci, kalau begitu, bagaimana mekanisme pengunciannya?" Ibuki bertanya padaku.
"Entahlah, aku pikir itu dikunci menggunakan gembok tapi... ada apa?" berhubungan dengan hal itu, aku juga tidak yakin.
"Aku akan menendangnya"
"Tidak, tunggu. Tentu saja itu tidak mungkin" Aku tidak yakin apakah dia sangat percaya diri dengan teknik menendangnya, tapi itu bukan sesuatu yang bisa ditendang dengan mudah.
"Pintu itu adalah pintu darurat, bukan? Itu berarti benda itu terhubung ke luar. Itu sebabnya tim penyelamat bisa membukanya dari luar, itu artinya pintu yang terbuka itu adalah jalan keluar dari sini sejauh yang aku ketahui. Kekuatan yang dibutuhkan untuk itu juga seharusnya lebih kecil"
Bukan berarti aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi situasi adalah situasi. Pertama, karena pembobolan darurat terletak di langit-langit, lupakan, Menendang akan sulit dengan kakinya atau bahkan memukulnya.
"Aku tidak akan tahu dengan pasti kecuali aku mencobanya" kata Ibuki kemudian.
Sepertinya Ibuki ingin melarikan diri dari panas ini secepat mungkin saat dia mulai melihat ke dinding di kiri dan kanan. Jangan bilang jika dia ingin melakukan lompatan segitiga dengan menendang dinding. Jika itu adalah dia, aku yakin dia akan memikirkan sesuatu seperti itu, tapi aku tidak bisa membayangkan bahwa dia sedang melakukan hal itu.
"... aku bisa mengatakan bahwa ini persis seperti yang diramalkan. Sepertinya ramalan sang peramal sudah menjadi kenyataan, huh?”
"Hah? Apa lagi itu?"
__ADS_1
"Wanita tua itu mengatakannya, bukan? Bahkan jika kita mendapatkan kesialan, jangan panic dan saling bekerjasama." Aku melirik ke lokasi di mana tombol-tombol lift itu berada.
"Tombol darurat tidak merespon. Aku penasaran tentang tombol yang lainnya"
Karena lampu di tombol untuk lantai 1 masih menyala, memikirkannya, setidaknya sebagian baterai masih bekerja. Aku mencoba menekan tombol lantai 2 sebagai percobaan dan ketika aku melakukannya, lampu untuk lantai 2 juga menyala.
Mungkin hanya untuk lampu yang masih aktif tapi patut dicoba. Kemudian aku mulai menekan tombol secara acak.
"Itu tidak ada gunanya, sepertinya." Setelah menekan semua tombolnya, Ibuki berkata lagi seolah mengingatkanku.
"Tidak ada pilihan selain menendangnya"
"Tidak. Masih ada cara lain. Lift memiliki perintah seperti meng-cancel perintah di dalamnya, bukan?"
Bukan berarti aku adalah ahlinya lift, tapi itu hanya hal sepele yang aku ketahui dari sesuatu. Itu adalah cara untuk meng-cancel perintah saat aku salah menekan tombol lantai bawah karena kesalahan. Aku pikir perintahnya bergantung pada pabrikan, tapi berulang kali aku terus menekan tombol batal, atau memang seperti itu. Tapi setelah membiarkan tombol lantai 2 seperti itu, lampu kuning yang menyala tiba-tiba berkedip.
"Pasti ada beberapa perintah yang tersedia dalam mode pemberhentian ..."
"Pemberhentian ...?".
"Misalnya, anggap saja ini adalah lantai 3. Jika ada seseorang yang ingin turun di lantai 2 mereka akan menekan tombol tersebut dan itu akan berhenti di lantai 2. Tapi jika kau menggunakan perintah pemberhentian, perintah yang sebelumnya akan diabaikan dan langsung turun ke lantai 1 "kataku Tapi aku tidak tahu apakah perintah pemberhentian ini dipasangkan di lift ini atau tidak.
"Masalahnya adalah menemukan sebuah cara..."
"Apa itu harus dicoba?" Ibuki bertanya.
"Ini lebih baik daripada melakukan tugas yang sulit seperti menendang langit-langit" jawabku padanya.
Tapi, kurasa lift tidak akan bergerak begitu saja. Aku hanya menyebutnya sebagai; untuk membuang waktu dan mengubah topik pembicaraan dengan memberikan harapan kepada Ibuki yang hampir kehilangan akal sehatnya.
"Pinjamkan aku otakmu juga, perintah seperti ini juga bisa diberikan oleh pemikiran individu yang berbeda. Jika kau
memberikanku idemu juga, ini mungkin secara tidak terduga akan berhasil" kataku kepada Ibuki.
Kemudian aku menekan tombol untuk lantai 1 berulang
menekan semua tombol untuk semua lantai. Tapi
tidak satu pun dari mereka yang menyebabkan lift bereaksi. "gantian"
“....Baiklah”
.
Kemudian Ibuki bergabung dan mulai bekerja di depan tombolnya. Sepertinya memang harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa bantuan benar-benar tidak akan datang. Bukan berarti aku ingin menggunakan ide Ibuki, tapi aku harus mempertimbangkan bahwa menendang ke pintu keluar mungkin memang diperlukan. Bahkan jika membukanya itu tidak mungkin, aku mungkin bisa membuka celah kecil agar manusia bisa merangkak melewatinya.
Aku bukan ahli lift, tapi selama melarikan diri ke luar itu masih mungkin, apa pun akan terjadi. Hanya saja, jika memungkinkan, aku ingin keluar tanpa harus menggunakan kekuatan yang seperti itu.
"Aku tidak bisa meng-cancel-nya, tapi aku pikir kau tidak bisa mendapatkan perintah pemberhentian hanya melalui kombinasi tombol yang digunakan setiap hari" kata Ibuki.
Tentu saja, dengan menggunakan logika, itu sudah jelas. Anak-anak terkadang suka bermainmain dengan menekan-nekan tombolnya. Dan jika lift masuk ke dalam mode pemberhentian setiap saat, maka hal itu akan membuat para penumpang merasa tidak nyaman. Dengan kata lain, kemungkinan kami tidak akan menemukan mode tersebut dengan kombinasi seperti itu cukup tinggi, atau setidaknya itulah penalaran Ibuki.
"Itu mungkin ide yang bagus... mungkin lebih baik menggunakan kombinasi kompleks juga," kataku padanya.
Misalnya, setelah menekan urutan seperti 1 , 6, 5, 5, 4, 2, 4 (T/N: Kode Pemberhentian) kemudian aku bisa menekan tombol lantai yang ingin aku tuju. Tapi akan sulit bagi orang-orang untuk menghafalnya dan itu akan memberlakukan persyaratan ketinggian yang ketat minimal 6 lantai. Aneh rasanya kalau tidak bisa menggunakannya dengan lift yang hanya bisa naik sampai 3 lantai.
.
"Kita juga harus mencoba menggunakan tombol darurat" Jika hanya bereaksi dengan ditekan, akan sulit untuk menggunakannya sebagai perintah.
"Jadi dengan kata lain ... 1 atau 2 atau 3. Tertutup dan terbuka di 5?"
"Kita harus menganggap bahwa hal itu dibuat dari kombinasi seperti itu"
__ADS_1
Tapi, jika ada kombinasi yang lebih dari itu akan menjadi sangat sulit untuk menguji mereka semua. Jadi Ibuki terus menguji pola yang sudah ditetapkan. Dan saat aku melihatnya melakukannya, aku mengecualikan kombinasi yang gagal.
"Ahh... ini sudah mulai panas"
Gan! Ibuki meninju dinding dengan tinjunya seolah-olah hal itu bisa menghilangkan rasa frustrasi yang disebabkan oleh panas. Normalnya, aku akan memberinya peringatan lain untuk menentang hal ini, tapi karena dia puas dengan itu, aku memutuskan untuk membiarkanya.
"... ini tidak terbuka, apa kau belum mencoba semuanya?"
"kurang lebih, kalaupun ada yang tersisa ..." Karena masih ada kemungkinan, aku memutuskan untuk mencoba perintah yang belum aku uji.
"Kenapa kau tidak mencoba menekan lantai tujuan dan tombol tutup pada saat bersamaan?"
"Tombol tutup? ... aku mengerti"
.
Sambil berpikir bahwa itu tidak mungkin, Ibuki mencoba kombinasi yang belum pernah diuji. Dan saat dia menekannya, meski kupikir itu tidak akan berhasil, pada saat itu lift mulai bergerak perlahan lagi. Kami berdua langsung saling memandang.
Dan dalam beberapa detik lift sudah mencapai lantai 1 dan pintunya perlahan terbuka. Angin segar mengalir ke dalam lift, dua orang dewasa yang mengubah ekspresi mereka berpaling untuk melihat kami.
"Apa kalian berdua baik-baik saja? Apa kalian terluka?"
"Ahh, tidak, kami tidak terluka, hanya merasa panas di sana saja"
Hanya dengan melihat betapa berkeringatnya kami, mudah untuk menebak betapa panasnya tempat itu. Mungkin orang dewasa juga menyadarinya, tapi dengan cepat kami diberikan minuman olahraga.
T/N: Minuman olah raga itu kek Pocari Sweat. Dan kemudian, untuk berjaga-jaga, kami dibawa pergi ke UKS.
"Umm.... Bisakah kami bertanya sesuatu? Bagaimana lift itu bergerak...”
"Ya, kami mengoperasikannya dari sini"
Ternyata ada remote control khusus yang bisa dioperasikan mulai dari lantai 1 , sepertinya hal itu berkat penggunaan mode pemberhentian dari sini. Dan kami kebetulan menggunakan kombinasi itu dengan timing yang sama.
.
"... Kalian pasti sudah mengalami masa-masa yang sulit"
"banar-benar sebuah malapetaka. Aku merasa sudah cukup dengan peramal untuk beberapa waktu ke depan”
Bukan berarti aku tidak mengerti perasaan Ibuki karena mengatakan hal itu. Kemudian aku mengungkapkan rasa terima kasihku kepada orang dewasa, dan orang yang melihat dari jauh kemudian mendekati kami.
"Apa kau baik-baik saja, Ayanokouji?" dia bertanya padaku. Pria besar yang mendekat memiliki aura yang familiar dan bertanya kepadaku dengan suara yang khawatir.
"Kau menyelamatkan kami, kau berhasil mengeluarkan kami" Lift yang berhenti menyebabkan beberapa masalah. Tapi sepertinya itu tidak menimbulkan kehebohan yang mencolok. Pria ini, Katsuragi, mungkin berhasil melakukan hal itu untuk kami.
"Informasi yang kau ceritakan kepadaku melalui telepon sudah cukup. Ini cukup bagus, bukan?" dia bertanya padaku.
"Aku harus pergi ke UKS sekarang, tolong biarkan aku membalasnya lain kali" kataku pada Katsuragi.
"Kau tidak perlu melakukannya, aku sendiri sudah banyak dibantu olehmu dan juga Sudou. Karena kita berasal dari kelas yang berbeda, ada garis yang sama sekali tidak bisa kita lewati, tetapi jika kita bisa menyesuaikan diri, itu akan saling menguntungkan” Katsuragi menjawabku.
.
"Sepertinya itu berjalan dengan lancar"
"Ya, Sudou menjawab harapanku dengan cemerlang, tolong beritahu dia sekali lagi bahwa aku sangat menghargainya" kata Katsuragi.
"Aku mengerti"
"Dan juga, Ayanokouji, aku juga harus berterima kasih, meskipun bukti sebelumnya sudah disiapkan,
seharusnya ada sedikit perlawanan sebelum menyetujui permohonan yang telah aku buat" lanjutnya. Dia menundukkan kepalanya seolah meminta maaf kepadaku. Tapi aku merasa sangat bersyukur saat ini. Jika aku terjebak lagi di lift itu, pasti aku akan kehilangan ketenanganku.
__ADS_1
"Jika ada sesuatu yang kau butuhkan lagi, tolong hubungi aku. Jika aku bisa membantu, aku akan bekerja sama selain di dalam ujian" Katsuragi tertawa untuk beberapa saat dan pergi sambil meninggalkan lelucon seperti itu untukku.
Dan sebelum aku menyadarinya, aku sudah menjadi akrab dengan Katsuragi. Hampir seakrab dengan 3 idiot itu, mungkin bahkan lebih dari itu. Kenapa aku mengetahui alamat kontak Katsuragi Kelas A, dan kenapa aku begitu akrab dengannya? ...Itu adalah cerita dari beberapa waktu yang lalu.