
Vol 3 Chapter 1 : Batas antara Surga dan Neraka
Masing-masing dari kami, masih shock, baru saja mendengar
potongan-potongan kalimat ini. Dengan senang hati berpikir bahwa semua ini
hanya kebohongan. Tetapi persis seperti yang dikatakan Mashima-sensei sebelumnya.
Tidak ada gunanya menyangkal. Mulai berpikir egois, aku
menyadari situasiku. Aku harus melewati bagian pemilihan ujian terlebih dahulu
dan berhenti berpikir bahwa ‘ini menggelikan’ atau ‘ini tidak mungkin terjadi’.
Aku harus mulai dengan mencoba memahami orang-orang didekatku. Haruskah aku
mendekati mereka dengan lelucon ?
“Tapi, sensei ... Seharusnya ini liburan musim panas dan kami datang kesini dengan alasan perjalanan. Tisakah kau berpikir mengikuti ujian pelatihan bertahan hidup bukannya permainan curang?”
Beberapa murid kelas akhirnya ingat bagaimana memprotesnya. Hal ini diikuti oleh yang lainnya juga.
“Aku mengerti. Kalian tidak salah tentang hal ini. Aku juga mengerti tidakpuasanmu dan omelanmu.”
Berbeda dengan ike, Mashima-sensei mengakui sebagian keberatan dari para siswa namun tidak memberikan ucapan biasa. Pada saat itu ketidakpuasan semua orang terlihat jelas. Hingga pada proses merasa keberatan.
Bahwa sudut pandang murid dan guru berbeda.
“Tapi jangan khawatir. Dalam kehidupan sehari-hari yang kejam ini, dipaksa mendapat kritikan keras sangat umum terjadi. Jika kami mengatakan bahwa ini adalah ujian khusus jangan terlalu memikirkannya. Mulai
__ADS_1
sekarang selama seminggu, Kalian akan berenang dilaut, Kalian juga bisa pesta barbekyu. Aku berpikir itu akan menyenangkan. Kalian bisa duduk mengelilingi api unggun, berbicara dengan teman dan mengembangkan hubungan. Itu tidak terlalu buruk, bukan? Tema ujian khusus ini adalah ‘Kebebasan’. “
“ Eh...? Eh....? Kebebasan adalah temanya? ... Kita juga bisa membuat barbekyu??? Dan semua ini, adalah bagian dari ujian? Aku tidak mengerti...”
Meski merupakan ujian, mereka memilih ‘kebebasan’ sebagai tema. Begitu para murid mendengar tentang tema tersebut, mereka merasa lebih bingung.
“Ujian bertahan di pulai terpencil ini seharusnya sangat penting. Sedah diputuskan bahwa masing-masing kelas akan diberi 300 poin. Jika kalian memutuskan untuk menggunakan poin ini dengan bijaksana selama satu minggu, ada kemungkinan kalian akan menikmati ujian seperti ini sedang dalam
perjalanan. Untuk itulah kami menyiapkan ‘manual’ . Mashima-sensei sudah membuat ‘manual’ ini dengan mengumpulkan info dari berbagai guru selama bertahun-tahun, sampai cukup tebal untuk diubah menjadi sebuah buku. Buku ini berisi daftar bagaimana kalian dpt memperoleh poin. Memberitahu tentang
kebutuhan sehari-hari, minim air atau mencari makanan, juga tentang bagaimana cara membuat barbekyu. Soal peralatan, bahan dan cara menyiapkan makanan, bagaimana cara menangkap makanan dari laut, bagaimana cara menyimpan makanan dan air, bagaimana cara menikmati kehidupan sehari-hari kalian, bagaimana mengumpulkan berbagai alat dan cara menggunakan dalam banyak kesempatan. “
Perlahan-lahan wajah suram murid mulai berubah.
“Singkatnya, dengan 300 poin ini kami akan bisa memiliki apapun yang kami inginkan? Benar! Kita bisa mendapatkan apa yang kita butuhkan dengan mengumpulkan poin! Kita bisa melakukannya. Jika kita membuat rencana yang tepat tentang bagaimana membelanjakannya dan bagaimana mengumpulkan poin selama seminggu, itu bukan berarti tidak mungkin! Jika bisa hidup dengan poin ini
selama seminggu maka ujian ini benar-benar akan seperti liburan. Kurang lebih
“Tapi, sensei ... Kau bilang ini adalah ujian ? Bukankah seharusnya memiliki tingkat kesulitan?”
“Tidak, tidak ada kesulitan, Bahlan tidak akan mempengaruhi semester kedua. Aku jamin itu.”
“Jadi ... Kami harus menikmati dri kami disini selama satu minggu?”
“Benar. Nikmati saja dirimu dengan bebas. Tentu saja, untuk menjalani kehidupan masyarakat dengan menimum yang diperlukan, harus ada peraturan yang harus kalian patuhi, sehingga ini tidak akan menjadi hal yang sulit bagi kalian. “
“Haruskah Kami berasumsi bahwa sebenarnya tidak ada risiko ? jika demikian, maka kami harus mencari tahu maksud sebenarnya dari ujian ini ... “
Jadi kami berpura-pura seperti sedang liburan musim panas yang sederhana, seperti perubahan perjalanan kelas dalam satu putaran. Apa artinya ini. Aku bertanya-tanya ... berpikir terus menerus. Mungkin aku belum
__ADS_1
menyadari maksud sekolah. Tapi beberapa kata berikutnya oleh Mashima-sensei membuat tujuan ujian ini menjadi lebih jelas.
“Ketika ujian khusus ini selesai, poin dari setiap kelas yang tersisa, akan ditambahkan ke dalam setiap poin kelas. Poinnya akan tercermin saat liburan musim panas selesai.”
Kata-kata terakhir ini terdengar seperti embusan angin yang bertiup ke sebuah pantai musim panas. Awan debuh berbisik sampai ke langit.
Tidak ada kesalahan, kata-kata terakhir Mashima-sensei adalah pukulan terbesar hari ini dan kami semua memikirkannya. Ujian tertulis menghitung kemampuan sastra, dalam ujian superioritas ini ditentukan oleh kelas secara keseluruhan. Setiap kali kelas D membagi poin dan meletakkan di tempat yang sangat ketat. Karena itulah saat ini kami harus menerapkan peraturan dengan sempurna, sehingga kami membuat perbedaan . sepertinya tidak ada kerugian yang signifikan antara kelas A dan D.
“Jika kami bisa bertahan selama seminggu, bisakah kami melihat ‘ poin pribadi ‘ kami yang bertambah banyak?”
Itu benar, ini bukan ujian kemampuan ilmiah, kami memperebutkan daya tahan dalam bentuk pertempuran. Meski tidak menolak keinginan untuk menang, kami harus bertahan dengan sabar. Jadi kami harus bisa
mencapai peringkat tinggi dikelas. Bahkan kata-kata ike bukan sekedar mimpi.
“setiap kelas akan menerima satu salinan ‘manual’ jika itu hilang entah bagaimana, penerbitan ulang mungkin dilakukan, tapi itu memerlukan pengeluaran poin, jadi jaga itu baik-baik. Sekali lagi, ada satu
murid kelas A yang tidak hadir. Karena ini adalah ujian yang membutuhkan kemampuan fisik, meski murid absen karena alasan kesehatan buruk, kami akan mengambil 30 poin dari kelas A sebagai pinalti. Jadi, kelas A akan dimulai dengan 270 poin.”
Bagi kelas A yang hadir, mereka menerima pukulan tanpa ampun itu. Para murid gemetar dengan keadaan mendadak. Kelas lainnya, pasti terlihat terkejut dengan penarikan 30 poin tersebut.
Akhir kalimat Mashima-sensei menandai akhir pengumuman. Setiap guru wali kelas memegang microphone dan memanggil kelas masing-masing, kami berkumpul di sekitar guru wali kelas kami, Chabashira-sensei. Jarak antara keempat kelas menjadi terpisah.
“Dari bulan depan 30.000 poin, dari bulan depan lagi 30.000 ... mulai bulan depan lagi 30.000 ... ayo kita lakukan !!!!”
Ike dan yang lainnya membuat pose kemenangan. Para perempuan juga terlihat senang saat mereka mendiskusikan hal-hal apa saja yang dibutuhkan. Keinginan terbesar kelas D adalah mengumpulkan lebih banyak poin. Kami hanya harus mengabaikan hidup dalam kemewahan salam satu minggu. Ini sangat sedehana dalam pikirannya.
bersambung.....
jangan lupa.... like, komen, share, vote.. terima kasih ^^
__ADS_1
maaf jika saya typo ^^"