
membuka pintu tangga darurat. Setelah sampai sejauh ini, apakah kesialan kami akan berubah menjadi sebuah rantai kesialan? Aku bisa mendengar suara yang datang dari atas kami. Mendengarkan dengan saksama, sepertinya seorang murid laki-laki yang tinggal di lantai 3 atau 4 sedang turun. Tidak jarang bagi murid yang tinggal di lantai bawah untuk tidak menggunakan lift. Tidak aneh bahkan jika mereka menggunakan tangga darurat. Tak bisa lagi menaiki tangga, kami terpaksa cepat-cepat kembali menuju lobi.
"Tidak ada pilihan lain selain lift..!.
"Apa kau tidak keberatan? kau akan terlihat di monitor"
"Aku harus menggunakanmu untuk menutupi diriku sendiri. Karena kita tahu posisi kamera, kita harus bisa melakukannya" Pasti akan menjadi sesuatu yang aneh, tapi tentu saja ini bukan tugas yang mustahil. Itu adalah cara yang ingin aku hindari jika memungkinkan, tapi karena tidak ada lagi rute pelarian yang lain, aku tidak punya pilihan lain.
Kami dengan cepat menaiki lift yang seharusnya ada di sisi kiri lantai 1 . Dan kemudian, saat aku cepat-cepat melangkah dari jangkauan kamera, Horikita berdiri di belakangku seperti hantu dan menyembunyikan lengannya. Jika seperti ini, bahkan jika kami terlihat sedikit di monitor, mereka tidak akan memperhatikan apa pun. Bagaimanapun, kami harus meninggalkan lantai 1 . Aku secara acak menekan sebuah tombol untuk membuat lift naik.
"Untuk saat ini kita aman tapi ... ini baru permulaan"
"Aku akan menyerah, ini bukan keadaan di mana aku bisa pergi keluar, karena sudah sejauh ini, aku akan kesulitan mengeluarkannya sampai perbaikan saluran air selesai” Aku merasa ini adalah keputusan pahit yang sudah dia buat, tapi Horikita sepertinya telah memutuskanya. Kalau begitu, kami harus kembali ke lantai 1 3. Aku membatalkan lantai acak yang sudah aku tekan dan menekan tombol lantai 1 3.
.
Tidak ada lagi kesengsaraan yang akan menimpa kami. Karena aku dan Horikita merasa lega dari dalam diri kami, tanpa memperhatikan hal itu muncul. Kecepatan lift yang naik dengan cepat sampai sekarang, tiba-tiba melambat. Baru-baru ini setiap kali naik lift, sesuatu yang baik tidak akan pernah terjadi, jadi aku bahkan tidak sempat memikirkan apa yang sedang terjadi. Ini bukan kegagalan atau kesalahan ketika menekan tombol. Ini...
Lift berhenti di lantai 5. Benar, seorang murid di lantai 5 sudah menekan tombol lift. Tidak peduli siapa yang masuk, tidak ada yang menghindar ketika melihat penampilan normal Horikita. Pada titik ini, memiliki banyak orang, lift lebih cenderung akan mencegah seseorang memperhatikannya.
Tapi masih belum cukup kejam, hanya ada satu murid laki-laki yang berdiri di depan pintu saat terbuka. Dari semua orang, malah bertemu dengannya... Orang itu, entah dia memperhatikan kami atau tidak, melangkah ke dalam lift dengan keanggunannya yang biasa dan tidak berubah. Sekadar hanya melirik kami, dia langsung menuju cermin di dalam lift. Lalu, sambil menatap cermin, dia mulai memeriksa rambutnya karena berantakan.
"........." Horikita sepertinya juga tercengang melihat keberadaan laki-laki yang sepertinya benar-benar tenggelam di dalam dunianya sendiri. Lalu, membawa sisir yang sepertinya selalu diam bawa bersamanya, dia mulai menata rambutnya.
"Elevator Boy, Aku harus naik ke lantai teratas" Sambil menatap bayangannya di cermin, laki-laki itu ..... murid kelas D bernama Kouenji Rokusuke, mengatakan hal itu kepadaku. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan, tapi sekarang, sebaiknya tutup mulut dan mematuhinya. Aku diam-diam menekan tombol ke lantai teratas saat pintu lift tertutup. Kami sekali lagi naik.
.
Mungkin Kouenji tidak tertarik pada kami saat merapikan rambutnya, tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda memperhatikan kami. Itu wajar jika kami terlihat sangat asing, tapi meski begitu, kami adalah teman sekelas. Kurasa setidaknya, sekilas kami sudah terlihat normal. Tapi kami sudah mendapatkan pelarian yang sempit dari kematian tertentu. Jika itu Kouenji, dia sama sekali tidak akan tertarik pada Horikita sehingga dia tidak memperhatikan botol airnya.
__ADS_1
Sekarang yang harus kami lakukan adalah tidak melakukan tindakan yang akan menarik perhatiannya dan menghabiskan waktu singkat ini. Itu saja. Dan bahkan jika dengan beberapa halangan, dia kebetulan melirik kami, Horikita sudah menyesuaikan posisi tubuhnya agar terlihat baik-baik saja. Sambil mempertahankan posisinya di titik buta kamera, dia juga berhasil menutupi dirinya dari Kouenji.
Lift melewati lantai 1 0. Kupikir urusan apa yang dia punya di lantai paling atas, tapi aku tidak bisa menanyakannya. Aku pikir, secara tidak terduga dia mungkin benar-benar tidak punya alasan untuk pergi ke sana, tapi kami berhasil sampai ke lantai 1 3.
Saat pintu lift perlahan terbuka, aku dan Horikita hampir bersamaan melangkah keluar. Pada akhirnya, tanpa pernah mengalihkan pandangan dari cermin, Kouenji terus melangkah sampai ke lantai paling atas. Meski kami berhasil menghindari masalah yang lebih lanjut, Horikita, setelah beberapa saat, berjalan dengan cepat, kembali di depan kamarnya.
"Tidak mungkin melakukan lebih dari ini. Terlalu banyak berkeliaran di luar dan berhati-hati dengan lingkungan sekitar” Mengatakan itu, dia tiba-tiba kembali ke kamarnya. Dia pasti merasa cukup cemas... Setelah itu, mengikutinya, aku juga masuk ke kamar. Dan, saat itu, ponselku bergetar.
"Aku minta maaf karena lambat menjawab, aku sedang mencari sesuatu dan aku tidak memperhatikannya" Dari Sakura, respon seperti itu kembali kepadaku.
"Sakura-san?"
.
"Ya"
"Ini tentang air, bukan? Tentu saja tidak masalah, apa satu botol plastik cukup?"
"Ya, aku akan menunggu" Sakura menjawab seperti itu. Kapan pun aku berbicara secara langsung dengannya, sulit untuk melanjutkan pembicaraan tapi ketika chattingan, itu berjalan dengan sangat lancar.
"Berbahagialah, Horikita, sepertinya Sakura akan berbagi air dengan kita. Aku sudah mendapat persetujuannya jadi aku akan pergi sekarang"
"Terima kasih, tolong pastikan untuk tidak memberitahu Sakura-san tentang aku”
"Ya, kau akan segera berpisah dengan ini, apa kau keberatan jika aku mengambil foto kenang-kenangan?" Tanyaku padanya. Karena sepertinya dia akan mulai mengayunkan botol air ke arahku, aku menjadi panik dan cepat-cepat berlari ke koridor.
"Perempuan yang mengerikan. Dilihat dari penilaian atletiknya, jika dia mengayunkan itu di kepalaku, aku bisa mati". Itu akan meninggalkan noda di dalam sejarah hidupku jika aku meninggal karena kepalaku hancur oleh seorang gadis SMA yang tangannya terjebak di dalam botol air.
(T/N: Gak kebayang judul berita korannya nanti kaya gimana XD) ***
__ADS_1
“Baiklah, akhirnya terlepas"
.
Setelah melalui perjuangan yang panjang, entah bagaimana berhasil mengeluarkan botol air dari Horikita.
"Jujur saja, ini adalah hari yang sangat buruk ....." Aku sempat mengambil botol air itu, aku bisa mengerti bagaimana perasaan sejenis ini.
"Ayanokouji-kun, berhati-hatilah untuk tidak memberitahu ini kepada orang lain".
"Sebelum kau mulai memperingatiku, bukankah ada sesuatu yang ingin kau katakan lebih dulu?"
"..........Terima kasih" Ketulusan? Tidak juga, tapi sepertinya dia bisa merasa bersyukur.
"Tapi meski begitu, karena tidak bisa melepaskan lenganmu dari botol air, ini terjadi sama sekali tidak seperti dirimu, Horikita"
"Lupakan, itu bukan masalah yang ingin aku hadapi karena aku menyukainya"
yah, itu adalah bahaya yang tersembunyi di dekatnya. Atau mungkin itu artinya kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya di dunia ini. Setelah didesak untuk meninggalkan kamarnya secepat mungkin, aku mulai kembali ke kamarku.
Tapi benarkah? Apa mungkin ada satu lengan yang terjebak dalam botol air dan tidak bisa keluar? Aku mengeluarkannya dari kotak, membilasnya dengan air dan meletakkan tanganku di dalamnya untuk mengujinya. Ketika aku melakukannya, ukurannya cukup berbahaya dan tidak disangka lenganku diposisikan dengan baik.
"Rocket Punch! Bercanda"
.
Aku menjadi sangat bodoh untuk beberapa waktu dan kemudian mencoba melepaskan botol air dari lenganku tapi ...
"Aku tidak bisa melepaskannya!?"
__ADS_1
.
.