Classroom Of The Elite 2nd Year - Full Volume

Classroom Of The Elite 2nd Year - Full Volume
Ujian Ichika (3)


__ADS_3

Jika lima pasangan teratas dibayar 100.000 dan 30% teratas dibayar 10.000, 200.000 itu terlalu banyak.


“Aku penasaran berapa poin yang diberikan Hashimoto-kun dan teman-temannya.”


“Entah. Tapi tampaknya itu jauh dari 500.000.” Kecuali kau adalah siswa yang benar-benar telah bernegosiasi, itu adalah jawaban yang tidak bisa diketahui.


“Aku yakin bahwa poin yang ditawarkan oleh kelas A dan kelas C tidak sebesar itu. Tidak, yang ada malah mungkin tawaran kelas A lebih rendah.”


Mungkin itu adalah kesimpulan setelah melihat OAA hingga pagi ini. Dalam kelas A tahun kedua dan C tahun kedua, jumlah siswa yang telah memutuskan pasangannya lebih banyak dari kelas C.


“Antara kelas A dan kelas C, kelas A tentu lebih baik dalam hal label nilai. Selama tidak ada perbedaan poin, banyak orang memilih kelas A. Apa yang bisa mereka pikirkan adalah, kelas A bertujuan untuk mendapatkan tahun pertama dengan menarik


baik dari nilai kelas mereka dan poin, dan kelas C yang kalah dalam hal label nilai, mencoba menawarkan poin yang lebih besar.”


Aku mengangguk ringan untuk menegaskan.


“Hal yang aneh adalah cara berpikir Ryuuen. Untuk menang, syarat minimumnya adalah untuk menarik tim teratas ke sisimu, tapi itu artinya akan bersaing dengan kelas A. Jika dia bermain dengan uang, tidak ada peluang untuk menang dengan cara apa pun, dan itu ceroboh untuk mencapai tempat pertama secara keseluruhan.”


Dia mau bilang itu seperti mengancam, tapi sebenarnya mereka kalah dalam pertempuran.


“Bahkan jika kita turun sedikit, kita harus membidik siswa yang tidak terpengaruh.”


Tidak masalah dengan kemampuan akademik B dan C+. Lebih aman untuk menempati posisi kedua secara keseluruhan.


“Yah, tidak masuk akal untuk mencoba membaca pikirannya, tapi... Mari kita lanjutkan. Kelas B yang tersisa berusaha membangun kepercayaan dengan siswa tahun pertama dengan menarik mereka ke dalam kelompok, terlepas dari kemampuan akademiknya, untuk membantu yang lemah. Sebagian besar berasal dari siswa dengan kemampuan akademik D dan lebih rendah, kecuali kelas D tahun pertama, diselamatkan oleh Ichinose-san.”


Dia melihat ke belakang sekali, memastikan tidak ada yang menguping, dan kemudian melanjutkan:


“Tujuannya sekarang adalah kelompok menengah di setiap kelas, yaitu siswa dari kemampuan akademik B sampai C+.” Para siswa di sekitar itu tidak meminta banyak uang dan masih ada banyak siswa tersisa.


Itu adalah ide yang bagus untuk dikatakan sementara kelas A dan kelas C bersaing untuk para siswa teratas.


“Jadi, apakah kamu akan menarik kembali strategi yang berfokus pada kelas D tahun pertama?”


“Tidak, masih lanjut. Sebaliknya, Aku harus katakan bahwa warnanya sebagai yang terfavorit telah menjadi lebih kuat.”


“Jadi kamu ingin membuang kelas menengah dari kelas lain?” Bisa dikatakan bahwa itu terlalu berani. Kami kelas D tahun kedua berada jauh di belakang kelas lain, jadi Aku ingin membentuk lebih banyak pasangan secepat mungkin.


“Aku bukannya tidak melakukan apa-apa. Ini sedikit jahat, tapi Aku akan meluangkan waktu untuk memainkan permainan uang palsu. Tidak seperti siswa pintar, para siswa kelas menengah tidak berpikir akan ada tawaran menggiurkan seperti poin besar. Lalu pada tahap ini, kita akan tanamkan rayuan ke kelas menengah. Itu memberi kita ilusi bahwa kita bisa melakukan bisnis kecil kita sendiri.”


“Apakah kamu bertujuan untuk membiarkan


Sakayanagi dan pengikutnya menggunakan poin tidak hanya untuk kelas atas tapi juga untuk kelas menengah?”


“Aku ragu seberapa efektif itu, tapi Aku bisa menarik perhatian. Dan sementara itu, Aku akan masuk ke kelas D tahun pertama. Itu sebabnya kau sudah membawakan cerita yang tidak ku harapkan. Karena Aku juga berpikir untuk menghubungi Nanase-san.”


“Tapi bukankah Housen menginginkan permainan uang?”


“Itu memang benar. Tapi apakah dia benar-benar hanya menginginkan poin? Ketika dia masuk ke area tahun kedua, dia berkata, [Kami tidak bisa membuat pasangan yang layak kecuali dengan kelas D. Karena itulah Aku akan membantu kalian para orang bodoh dan tidak kompeten]. Dengan kata lain, tujuannya


adalah kita kelas D. Jika hanya poin tujuannya, apakah dia akan mengatakan itu?”


Horikita menegaskan bahwa masih ada ruang untuk negosiasi di luar poin pribadi.


“Hal terakhir yang dia katakan adalah, [Sampai jumpa lagi], dari sana Aku yakin,”


“Itu benar. Sudah pasti bahwa Housen hanya terfokus pada kelas D tahun kedua.”


Kali ini, Horikita mengabaikan peringkat teratas secara keseluruhan, sebagai gantinya [Tidak akan membiarkan siswa dikeluarkan].


Dia menganjurkan tiga proposisi [Jangan ikut serta dalam pertarungan uang] dan [Mengincar peringkat tiga atau lebih tinggi secara keseluruhan]. Ini tidak mudah, tapi itulah sebabnya harus kelas D tahun pertama.


“Tapi, Aku bisa membayangkan bahwa Housen-kun bukanlah orang yang berpikiran tunggal. Aku punya jaminan,” Sepertinya dia melakukan gerakan lain yang Aku tidak ketahui.


“Sekarang, Aku sedang membicarakan tentang apakah kita bisa bekerjasama dengan beberapa siswa kelas B tahun pertama.”


“Kelas B tahun pertama... Yagami yang berasal dari SMP yang sama denganmu dan Kushida.”


Aku ingat bahwa Kushida dan Yagami telah memutuskanpasangan di OAA pagi ini.

__ADS_1


“Kemarin, Kushida-san dan Yagami-kun bergandengan tangan. Sayangnya, Aku tidak pernah ingat tentang kohai ku, tapi dia bisa menjadi kunci juga. Dia tampaknya sangat mempercayai Kushida-san, dan dia sudah bernegosiasi di bawah permukaan. Jika berjalan dengan baik, dia bisa menambah jumlah kooperator.”


Itu kabar baik, tapi itu membuatku khawatir.


“Apakah kamu memberikan instruksi kepada Kushida?” Kushida yang membenci Horikita, pertanyaannya adalah seberapa serius dia akan bekerja sama.


“Sekarang, Aku mengerti bahwa hal itu sulit. Karena itulah Aku bicara dengan Hirata-kun di antaranya.”


“Aku mengerti. Dengan itu Kushida tidak akan bisa lari di tengah jalan.”


Jika Kushida akan bernegosiasi dengan Yagami dan membawa beberapa siswa, kelas D tahun kedua dapat menyelesaikan beberapa masalah pasangan dan berkonsentrasi untuk belajar.


“Selamat pagi Horikita-san. Bisa ganggu sebentar?”


Ketika waktu istirahat setelah jam pertama, Yousuke bergeser ke kursi Horikita. Entah bagaimana Aku melihatnya dari tempat duduk ku.


“Kemarin, Aku berkeliling dan mendengar tentang banyak hal, tapi ternyata memang tidak mudah untuk bisa bekerja sama. Ada beberapa anak yang mengatakan kepada ku bahwa mereka bersedia bergabung, tapi...”


Tampaknya itu tidak berjalan lancar karena mereka berada di klub sepak bola. Selain itu, tidak peduli berapa banyak yang Yousuke katakan, sulit untuk benar-benar terbuka dengan siswa baru yang belum lama memasuki sekolah.


“Apa ada permintaan poin dari tahun pertama?”


Setelah Yousuke menegaskannya, Horikita melanjutkan.


“Ini kesempatan untuk menjual diri setinggi-tingginya, tidak mengejutkan.”


Seperti yang bisa ku bayangkan, masalah jual-beli poin sudah menyebar di seluruh tahun pertama.


“Setelah diminta menjadi pasangan kelas A tahun kedua, dia diberitahu bahwa mereka akan membayar poin yang diberikan oleh kelas C tahun kedua. Tidak hanya anak itu, tapi hampir semua siswa yang dipanggil oleh kelas A diminta untuk menarik diri dari kelas C.”


“Siswa yang cerdas memiliki tingkat kompetitif yang tinggi, jadi wajar saja.”


Itu sudah diprediksi oleh Horikita. Tetapi, kata-kata berikutnya yang datang dari Yousuke berbeda.


“Tampaknya beberapa siswa yang memiliki kemampuan akademik C dan D telah dipanggil. Aku pernah mendengar bahwa mereka juga berpikir untuk mendapatkan banyak poin.”


“Sejauh yang bisa ku lihat,”


“Oh. Jika kau tahu nama para siswa itu, bisa kau sebutkan?”


“Tentu saja.”


Yousuke menyebutkan nama siswa tahun pertama yang diketahui telah direkrut oleh kelas A pada Horikita. Begitu Horikita memeriksanya, dia langsung tahu.


Para siswa yang dipanggil adalah siswa yang memiliki kemampuan akademik mereka rendah tetapi memiliki karakteristik luar biasa lainnya. Mereka dihargai karena kemampuan fisik, kemampuan berpikir dan kontribusi sosialnya.


“Aku mengerti... seperti yang diharapkan(sasuga)... haruskah Aku berpikir begitu.”


“Mereka mungkin melihat ke masa depan, terlepas dari hasil jangka pendek.”


Ini bukan satu-satunya ujian khusus yang melibatkan kerja sama dengan siswa tahun pertama. Jika demikian, kemampuan lain selain kemampuan akademik dibutuhkan. Idenya adalah untuk membantu siswa yang khawatir tentang kemampuan akademiknya dan nantinya mereka akan berguna sebagai bantuan dalam bidang keahlian mereka. Tidak ada keraguan ke arah itu.


Meski begitu, hal yang menarik adalah kelas C yang dipimpin oleh Ryuuen mengikutinya. Alih-alih hanya membidik siswa dengan kemampuan akademik


tinggi, dia justru berada tepat di belakang Sakayanagi.


“Aku harap kita bisa melakukan hal yang sama...”


“Itu sulit, bukan?”


Kami kelas D. Dan Sakayanagi adalah kelas A.


Para siswa yang baru masuk sekolah sudah tahu label mana yang lebih baik. Mengingat masa depan, itu wajar untuk condong ke kelas yang baik jika nantinya membutuhkan bantuan.


“Terima kasih. Apa kau bisa terus bertanya.”


“Ya. Aku akan melaporkannya lagi begitu Aku tahu sesuatu.”


Yousuke mengirim wajah yang menyegarkan ke Horikita dan kembali ke tempat duduknya. Tak lama kemudia, pesan chat datang dari Horikita. [Jadi begitulah.]

__ADS_1


Aku mengerti, kurasa dia tahu kalau Aku sedang menguping.


[Hirata-kun benar-benar bisa diandalkan.]


[Kehihatannya begitu.]


Dulu dia pernah bertengkar hebat dengan Horikita, tapi sekarang itu sudah selesai. Keberadaan yang sepenuhnya berputar demi sekitar kelas adalah


yang bisa diandalkan.


Kemampuan Yousuke untuk berkomunikasi dan kecerdasannya tentu saja merupakan senjata, tapi kekuatan terbesarnya adalah kepercayaan.


Yousuke telah membangun pencapaiannya yang cukup untuk membuat mereka merasa yakin. Itulah sebabnya Horikita juga bisa dengan bebas mendiskusikan strateginya.


[Kita kelas D membawa hambatan sendiri. Ini adalah pertarungan yang sulit.]


[Meski begitu kita harus melakukannya. Semoga berhasil!”


[Aku akan membuat mu ambil bagian.]


[Soal Nanase?]


[Ya. Bisakah Aku meminta mu untuk menjawabnya segera? Aku bisa pergi kapan saja.]


Masalahnya harus bergerak cepat, seperti memukul besi saat sedang panas-panasnya. Kalau tidak, kelas-kelas lain akan memiliki lebih banyak siswa


yang berbakat.


[Tapi itu akan lusa. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membereskan masalah itu.]


[Tentu saja Aku tahu.]


Tanpa balasan dari Nanase hingga sepulang sekolah. Bahkan jika Aku mendapat balasan jika dia bisa pergi hari ini, Aku dan Horikita tidak bisa bergerak.


Ada masalah mendesak yang harus diselesaikan secepatnya. Ini adalah janji untuk menyajikan masakan rumah yang tiba-tiba terjadi dengan Amasawa. Ini adalah cerita lezat dimana jika Aku mendapat nilai kelulusan, dia bisa berpasangan dengan Sudo, tapi rintangannya tidak rendah.


Tiba di pintu masuk Keyaki Mall 10 menit sebelum waktu yang dijanjikan, Amasawa tampaknya belum tiba. Tidak melakukan apapun terutama memainkan ponsel, Aku melihat para siswa datang ke Keyaki Mall di tempat. Dari siswa tahun pertama hingga tahun ketiga tersedot ke dalam mall sementara mereka membicarakan tentang berbagai hal. Pagi ini sepertinya suhu lebih hangat dari biasanya, tapi malam sudah dekat dan perlahan-lahan menjadi dingin.


Temperatur cenderung turun sedikit di malam hari. Lalu ketika tiba waktunya yang dijanjikan, Amasawa muncul.


“Itu sempurna, Ayanokouji-senpai.” Ketika dia bergabung, dia mengangguk beberapa kali dan tersenyum tampak puas akan sesuatu.


“Apa yang kau bicarakan?”


“Karena kamu sedang menunggu di tempat pertemuan sebelum gadis. Dan tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu.”


Dia sangat tajam, atau sangat mengerti hal-hal kecil ini dengan baik. Hal-hal tidak perlu, mungkin adalah tidak bermain dengan ponsel atau tidak menelepon.


Mulai sekarang, Aku harus menjalani ujian dari Amasawa, yaitu memasak, mengingat itu, ini saat yang tepat untuk mengambil tindakan dengan melihat berbagai resep hingga menit terakhir.


Singkatnya adalah bahwa pada hari ujian tertulis, mudah dipahami bahwa siswa masih dipenuhi oleh buku pelajaran dan hal-hal lain hingga bel berbunyi. Tentu saja, itu sendiri tidak melanggar aturan yang disyaratkan oleh Amasawa.


Tapi, bisa dianggap bahwa orang tersebut tidak percaya diri dalam memasak. Bahkan jika Aku menelpon. Aku mungkin dianggap memiliki percakapan semacam itu dengan seseorang. Itu sebabnya Aku tidak berani melakukan apa pun untuk menunjukan diri ku mampu. Aku bermaksud menanamkannya secara tidak sadar pada Amasawa, tapi itu terlihat pada tahap pertama.


“Kalau begitu, Ayanokouji-senpai, ayo pergi.”


Berdiri disamping ku, Amasawa mengatakan itu dan segera memasuki Keyaki Mall.


“Mau membeli bahannya?”


“Ya ya. Yang itu juga. Aku harus membeli sesuatu untuk dibuat oleh senpai. Apa kamu punya uang?”


“Hanya ini,”


Benar-benar hanya itu saja. Jangan mengatakan apa pun yang tidak perlu di hadapan kohai.


“Syukurlah, kalau begitu jangan malu-malu. Mm, Aku dengar dari teman sekelas ku bahwa mereka menjual banyak hal yang dibutuhkan di sini... Ada di mana keranjang belanjanya.”


sambung

__ADS_1


__ADS_2