Classroom Of The Elite 2nd Year - Full Volume

Classroom Of The Elite 2nd Year - Full Volume
Vol 3 Chapter 1 : Batas antara Surga dan Neraka


__ADS_3

Melihat kebelakang, aku melihat sekilas Sakura berjalan diujung barisan dan melihat lurus kearahku. Begitu menyadari bahwa aku memalingkan kepalaku dan menatapnya, dia terlihat bingung dan mengalihkan pandangannya.


“Ada sesuatu?”


“Tidak ada.” Mungkin aku terlalu memikirkannya. Aku kembali berbalik.


“Aku penasaran apa yang sedang kelas lain lakukan? Aku sedikit tertarik untuk melihat bagaimana sikap mereka. Jika kelas A dan kelas B benar-benar menggunakan rencana untuk mengendalikan penggunaan poin mereka, kita juga harus melakukannya. Didalam ujian ini, kita tidak bisa membiarkan terjadinya perbedaan besar dalam jumlah poin.”


Pada saat itu, aku menyadari bahwa tekad kuat yang luar biasa ini mungkin ada. Dari tatapan serius Horikita sejak dulu. Perubahan perilaku dalam kehidupan seseorang setiap hari muncul karena kelelahan. Ujian kemampuan belajar dapat memisahkan status kuota saat ini, namun satu-satunya pertentangan


dalam ujian ini, mungkin untuk melakukan perlawanan sehingga kami tidak akan kalah dari kelas A.


“Terjatuh dari kelas atas akan sangat mengerikan.”


“Sesuatu yang Chabashira-sensei katakan, aku pikir itu adalah lelucon saat itu, tapi apa kau benar-benar tidak tertarik untuk pindah kekelas atas?” Chabashira-sensei mengatakan beberapa hal saat dia bertemu denganku dan horikita diruang konsultasi.


“Aku tidak akan menyangkalnya, bahkan Ike dan lainnya pun tidak mau tertinggal dari kelas A, aku senang jika akan ada banyak poin pribadi atau tunjangan setiap bulannya dan aku akan cukup beruntung jika bisa pergi ke kelas A.” Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang Hirata dan Karuizawa pikirkan, sampai sejauh mana niat mereka yang sebenarnya.


“Orang-orang yang masuk sekolah in berpikir bahwa mereka masuk untuk memanfaatkan hak istimewa tersebut.” Daripada terlihat tidak puas, dia terbatuk-batuk dan terlihat bingung. Awalnya pada saat penerimaan, masuk ke perguruan tinggi dan mendapatkan pekerjaan seharusnya sudah dijamin oleh sekolah.


Sebenarnya,  banyak murid yang menunggu hal tersebut.


“Kenapa kau memilih sekolah ini?”

__ADS_1


“Tentang itu, apa aku bisa mengatakan hal yang sama? Untuk menggunakan hak Istimewa secara langsung dan tanpa ragu.”


“...Aku mengerti.” Kali ini dia terjebak dalam ketidakpuasan, dan menatapku dengan tatapan yang tajam. Mungkin horikita mendaftar disini karena ingin pergi ke sekolah yang sama dengan kakaknya. Aku pikir seperti itu. Jika bukan untuk dirinya sendiri yang harus naik ke kelas A untuk diakui oleh kakaknya. Dengan kata lain, tujuan awalnya disekolah sudah berubah.


“ini bukan sesuatu yang menyenangkan untuk membongkar masa lalu seseorang. Itu bukan contoh yang bagus.” Aku bermaksud menusuknya sedikit lebih dalam, tapi sepertinya dia cepat menyadari niatku yang sebenarnya. Dia mencoba mengetahui masa laluku dengan menganalisasi masa lalu orang lain, atau mungkin aku harus mengatakkannya dengan menganalisasi manusia atau orang lain secara menyeluruh. Itu


bukan hal yang menyenangkan bagiku. Aku ingin melakukan sesuatu tercepat mungkin.


“Satu-satunya yang bisa aku katakan adalah bahwa Chabashira-sensei membocorkan informasi tersebut dengan sengaja. Tidak bisakah kau tidak salah paham kepadaku dipoin ini? Aku belum menerimamu. Jangan lupakan itu.”


“Tidak masalah, aku juga tidak berpikir ingin diterima.” Tidak lama kemudian, Hirata dan yang lainnya berhenti didalam barisan.


“Disini kau bisa menghalangi sinar matahari dan kau tidak perlu khawatir bisa didengar oleh seseorang disekitarmu.” Hirata dan yang lainnya berhenti berjalan saat mereka masuk sedikit kedalam hutan dan melanjutkan pembicaraan. Beberapa anak laki-laki berkumpul bersama seakan bersatu dan mulai mengembangkan pemikiran yang berselisihan yang mungkin mereka pikirkan dalam perjalanan mereka kesini.


“Ya, benar, Kita harus segera pindah, tapi tidak baik mengabaikan jalan permasalahan saat ini dan membiarkannya begitu saja. Pertama, bukankah kita harus memulai solusi tentang masalah toilet?”


“Itu hanya masalah ‘Apakah kita semua menyetujui toilet yang disediakan’ ?”


“Yukimura menatap tajam kepada teman sekelasnya, terutama kelompok anak perempuan.”


“Aku memikirkannya  saat kita dalam perjalanan, tapi pertama-tama aku pikir harus memasang toilet.” Hirata kemudian berbicara dengan Yukimura dengan nada sedikit lebih kuat. Karena kekuatan kata-kata penutup tersebut, sepertinya situasi ini tidak akan berbeda atau bergoyang sedikit pun dari sebelumnya.


“Jangan putuskan itu sendiri, kau juga harus mendapatkan persetujuan dari Ike mengingat pendapatnya yang berbeda.”

__ADS_1


“Biaya pemasangan toilet mungkin merupakan biaya yang diperlukan. Pertama, ada toilet sederhana yang tidak bisa kita gunakan , dikelas ada 30 orang atau lebih. Aku bertanya-tanya apakah kita benar-benar bisa menggunakannya dengan baik tanpa kesulitan?”


“Tentang itu.... Kita akan memanfaatkan dengan baik....”


“Tetapi jika menggambarkannya kedalam beberapa kata, itu tidak berguna. Aku tidak ingin memikirkan dampak terburuk, tapi bahkan jika satu orang hanya membutuhkan waktu 3 menit untuk menggunakannya, pada saat semua orang selesai, lebih dari 90 menit akan berlalu, kemudian baru akan selesai disaat itu.”


“Tidak ada gunanya beramsumsi, setiap orang bisa langsung menggunakan toilet dengan cepat, mengingat keputusan sekolah itu lebih mudah digunakan. Mereka hanya menyediakan satu toilet saja. Tidakkah sebaiknya kita memanfaatkannya dengan bijaksana?”


“Aku tidak berpikir seperti itu. Dari mulai pergi, aku selalu berpikir bahwa toilet sederhana itu tidak mungkin. Jika kau bercermin dari sana, bukankah itu benar-benar sebuah petunjuk bahwa pada akhirnya kita harus


menghabiskan poin kita dan kita harus belajar bagaimana cara menggunakannya dengan lebih baik? Yukimura-kun pasti mengerti. Mungkin kelas-kelas lain sudah mencapai keputusan yang sama, yaitu tidak memungkinkan untuk mendirikan toilet sementara.”


Pastinya aku merasa bahwa ujian ini, tidak peduli bagaimana cara kamu akan menggunakan poin, akan menjadi saat-saat kritis yang akan menentukan kemenangan atau kekalahan. Semuanya persediaan sangat tidak lengkap sejak awal. Seolah-olah mereka menyarankan agar kau menggunakan poin jika ingin menggunakan tenda atau senter yang hanya bisa digunakan oleh satu kelas saja bila memungkinkan.


“Itu semua pendapatmu... Selain itu, jika kelas lain memasang toilet, itu akan membuat selisih perbedaan menjadi 20 poin, jika kita bisa bertahan dengan itu. Kita pasti bisa menggunakannya, bukan?”


“Tapi, aku merasa bahwa tidak memasang toilet itu merupakan nilai tambah, itu akan memberikan tekanan stress sambil menimbulkan kegelisahan dan aku juga khawatir dengan kebersihan, jadi setelah penilaian yang objektif, aku berpikir bahwa setidaknya satu toilet harus disiapkan.” Sepertinya Hirata sampai kepada


kesimpulan yang kuat karena menjelaskannya dengan tenang. Itu bukan tindakan yang akan membuat penolakan dari laki-laki, namun sebuah kepastian untuk persetujuan yang harus diperoleh diakhirnya.


“Aku rasa anak perempuan bisa tenang dan mempersiapkan diri mereka sendiri dalam ujian.” Bahkan Yukimura pun tidak bisa menyangkal hal tersebut. Meskipun sulit menerima. Dia bisa mengerti perasaan menjaga poin, tapi sangat sulit untuk  bertahan dengan satu toilet sederhana.


Teman sekelas penuh dengan berbagai informasi dalam sekejap sampai pada titik didalam bahkan hal-hal yang wajar tidak akan muncul dalam kondisi seperti itu. Yukimura yang tidak tahan melihat tatapan dan keheningan disekelilingnya, tidak lama lagi akan menyerah.

__ADS_1


Bersambung...........


__ADS_2