Classroom Of The Elite 2nd Year - Full Volume

Classroom Of The Elite 2nd Year - Full Volume
Epilog #2


__ADS_3

“Tidak, itu sama tidak mengganggu. Jika kau tidak masalah dengan itu, aku akan mengobrol"


"Kalau begitu sudah diputuskan, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepada Ayanokouji-kun, aku juga pernah menanyakan ke semua teman sekelasku, termasuk anak laki-laki seperti Kanzaki-kun juga. Tapi aku juga belum pernah mendengar pendapat dari kelas yang lain, jadi aku penasaran. Ayanokouji-kun, apa kau pernah menjadi sangat ingin naik ke kelas A?”


Aku penasaran pertanyaan apa yang akan dia pilih untuk diberikan kepadaku, tetapi itu adalah pertanyaan yang sangat umum untuk diajukan.


"Tentu saja, aku memikirkan sesuatu seperti itu. Tidak... Dari pada ingin naik ke Kelas A, itu lebih seperti karena aku ‘membidik’ Kelas A. Itu akan menjadi cara yang lebih tepat untuk menggambarkannya"


"Dengan kata lain... itu karena jaminan karier dan penempatan kerjanya yang bagus?"


Di sekolah ini, murid terbagi menjadi kelas A sampai D dan dibuat untuk saling berkompetisi. Namun, hak istimewa tertinggi adalah agar bisa pergi ke universitas manapun dan mendapatkan pekerjaan setelah lulus hanya diberikan kepada Kelas A. Tulisan itu ditulis dengan ambigu di pamphlet sekolah sehingga pada awalnya mungkin terlihat seperti sebuah tipuan.


T/N: Pamflet dapat juga disebut selebaran.


"Di hari ini dan waktu yang lama, setelah lulus kau tidak akan sanggup memegang hidup dan pekerjaanmu, terutama jika harus dipekerjakan"


"Aku pikir itu benar, aku juga berpikir begitu, tetapi terlalu percaya kepada sistem ini juga sangat berbahaya, bukankan begitu? Di dalam 99,9% katakata yang mereka katakan, ada perangkap yang tak kasat mata yang mata kita tidak bisa melihat" katanya.


Tentu saja perangkap yang Ichinose bicarakan kemungkinan ‘99, 9% menjamin tingkat lapangan kerja dan pendidikan yang berikutnya’ yang disebut-sebut oleh sekolah. Misalnya, jika aku ingin menjadi pemain basket profesional namun tidakmemiliki pengalaman yang dibutuhkan, sekolah tersebut akan berusaha menemukan cara untuk mendorongmu ke tingkat profesional. Selanjutnya, sekolah ini juga merupakan tempat berkembangbiakannya koneksi interpersonal. Tetapi hanya karena kau bermain basket secara teratur atau telah lulus dari universitas atau sekolah terkenal, tidak akan menjamin masa depanmu.


Orang-orang yang berhasil mengapai cita-cita mereka yang telah dijamin sejak awal, hanyalah sebagian kecil saja. Menurut statistik tertentu, hanya satu dari enam murid SD yang mewujudkan cita-cita mereka. Sekilas, ini terlihat seperti kemungkinan yang tinggi, namun data itu adalah yang paling ambigu dan standar statistiknya terlihat kabur. Menjadi pemain basket profesional sukses tidak berarti kau akan menjadi pemain kelas satu. Pemain basket profesional misalnya, termasuk trainee, akan berjumlah sekitar 900 atau 1000 orang. Namun, hanya dengan bermain secara reguler, bertanding dan menang melawan sainganmu, seseorang dapat mengapai cita-cita mereka. Pada akhirnya, hanya ada 100 dari orangorang tersebut yang berhasil mewujudkan cita-cita mereka.


Dengan kata lain, membidik cita-citamu dan berhasil menyelesaikannya memiliki kemungkinan yang sangat rendah. Bagaimanapun, mewujudkan cita-cita itu sangat sulit dilakukan. Banyak murid hanya mengulangi kehidupan membosankan mereka berulang-ulang sambil berbicara dengan samar tentang impian mereka. Tetapi jika seseorang benar-benar ingin mewujudkan mimpinya, mereka akan membutuhkan banyak usaha dan keberuntungan.


"Begitulah sekolah ini... jika kau memikirkannya, hal itu memiliki pengaruh yang besar bukan? Dan banyak orang sudah berhasil di dalam kehidupan mereka karena bantuannya atau apa kau ingin mengatakan bahwa kau tidak tertarik dengan itu, Ichinose?"


"Tidak ada yang seperti itu, bahkan aku memiliki mimpi, lulus dari kelas A. Dan juga mimpi yang ingin aku penuhi" Meskipun dia mengatakannya sambil tersenyum, aku bisa melihat perasaan kuat dan tegas di matanya.


"Sistem sekolah itu sendiri sudah bagus, tapi jika kau tidak bisa lulus dari Kelas A kemungkinanmu tidak seberapa, karena sekolah beroperasi dengan realisme, jika kau tidak bisa menang dengan menggunakan bakatmu sendiri, tidak ada yang bisa kau lakukan untuk melakukannya. Dan yang terpenting, murid ditempatkan ke kelas berdasarkan kemampuan mereka saat ini, antara aku dan Ayanokouji-kun di sini, hanya satu dari kita yang bisa mencapai cita-cita mereka dengan pindah ke puncak. Aah, meskipun ada juga kasus dimana tidak satu pun dari cita-cita kita yang akan terwujud"


Dengan kata lain, meski kita duduk di sini dan berbicara seperti teman, pada akhirnya hanya ada satu kelas yang bisa menjadi pemenangnya. Tiga kelas yang tersisa tidak akan dibagi ke dalam penghargaan tersebut.


"Apa kau pernah mendengar? ada juga pengecualian terhadap peraturan tersebut"


"Hmm? Apa itu dimana individu mengumpulkan 20 juta poin?"


"Yup. Sepertinya tidak ada yang bisa mencapai sesuatu seperti itu di dalam sejarah sekolah, tetapi ada Ultra C yang seperti itu juga" jawab Ichinose.


"Ya, ya, jika kita memperhitungkannya juga, mungkin saja kita berdua bisa lulus dari kelas A" kata Ichinose.


"Masalahnya adalah apa kau bisa menghemat 20 juta poin atau tidak sejak awal, bahkan jika kau menghemat poin di dalam ujian, sistem sudah ditetapkan sehingga tidak akan mampu mencapai 20 juta" jawabku.

__ADS_1


Jika kita hanya melihat ujian khusus ini, tergantung kepada tindakanmu selama itu. Sangat mungkin untuk menerima sejumlah besar poin dan hanya ada dua ujian yang sudah dilakukan sejauh ini. Dari titik ini dan seterusnya, mungkin saja jumlah poin yang bisa diterima diperkecil dan bagi mereka karena sudah dimakan oleh denda yang besar.


"Aku pikir itu benar. Jika kau mulai menabung poinmu, dengan hanya mencapai setengah dari jumlah itu, kau pasti sudah menimbulkan kecurigaan," kata Ichinose.


"Itu benar. Khususnya di situasi keuangan di Kelas D, sangat mengerikan, meski Horikita melakukan yang terbaik untuk kami, poin yang didapat dari pulau tak berpenghuni masih jauh. Tidak, mungkin saja kami kehilangan poin di Ujian ini, Ichinose, apa kau menyimpan poin? Menurutku, kau bukan tipe yang bekerja keras untuk mendapatkan poin”


"Ummm... Aku bertanya-tanya, aku tidak tahu dengan orang yang lainnya, Aku pikir terkadang aku menggunakan poin dan terkadang menyimpannya juga. Meski aku di Kelas B, aku masih belum memiliki banyak poin. Kau tahu” Menanggapi pertanyaanku, Ichinose membalas dengan nada yang sangat alami tanpa indikasi bahwa dia menyembunyikan sesuatu yang bisa dinilai hanya dari perilakunya.


"Ayanokouji-kun"


"Hmm?" Kemudia, Ichinose tiba-tiba menutup jarak denganku dan berbalik menghadapku sambil menatap wajahku.


"Sepertinya kau sudah melihatnya, saat itu" Mata indah yang terlihat seperti mengisapku dengan melihatku tanpa melepaskannya. Sepertinya Ichinose jauh lebih pintar dari yang aku pikirkan, dia melihat rencanaku.


"... maaf, saat kau menggunakan ponselmu tadi, kebetulan aku melihat layarnya. Aku penasaran dan hanya ingin bertanya kepadamu" jawabku.


"Ahaha... bukan berarti aku menyalahkanmu karena itu. Tentu saja itu poin yang besar, bukan?" Itu benar. Bahkan sebelum akhir semester satu, Ichinose sudah mengumpulkan sejumlah besar poin. Bahkan jika aku menyimpan setiap poin yang diberikan kepadaku setiap bulan tanpa menggunakan satu poin pun, aku tetap tidak bisa menghemat sebanyak itu.


"Jangan khawatir, aku belum memberitahu orang lain, ada kemungkinan aku salah, aku tidak akan menyelidikinya lebih lanjut," kataku padanya. Bahkan jika aku menyelidiki, aku ragu aku akan bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan.


"Apa kau bisa menemukan cara untuk menang?" Aku bertanya.


"Ummm ... kurasa seperti itu, kurasa aku sudah menemukan petunjuk"Kupikir tidak mungkin dia menjawab dengan jujur, tapi apa itu karena kepercayaan dirinya, Ichinose menjawab dengan nada santai. Sepertinya Ichinose adalah tipe yang bertindak berdasarkan keyakinannya tanpa membuang waktu.


"Aku tidak akan tahu sampai tirai sudah dijatuhkan (berakhir). Kemenangan yang aku bidik adalah..." Tetapi sebelum dia bisa menyelesaikannya, seiring waktu diskusi kelompok mulai mendekat, anggota kelompok mulai muncul satu per satu. Murid Kelas A adalah orang pertama yang datang, bagaimanapun, tanpa banyak bertukar sapaan dengan kami, mereka hanya mengambil tempat duduk mereka.


"Apa? Kau sudah di sini, Ayanokouji?"


"Bersama dengan Ichinose-dono, kalian berdua saja. Pertemuan rahasia apa yang sedang kau rencanakan di sini?"


Baik Yukimura maupun Sotomura menyerangku secara sepihak dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut saat mereka memasuki ruangan bersamasama. Aku tidak bisa menuliskan kecemasan dan depresi di wajah mereka, jadi mungkin mereka sudah menyerah kepada kemenangan pada saat ini. Di sisi lain, murid Kelas B terlihat hampir tenang.


"Ini yang terakhir, ya? Apa kau sudah menemukan petunjuk?" Hamaguchi bertanya kepadaku setelah diam-diam menunggu diskusi kelompok dimulai dengan serius.


"Jujur saja, aku belum punya ide, kami sama sekali belum bisa membangun pembicaraan yang layak" Aku memang mengatakannya, tapi aku sudah menjalankan strategi yang sudah aku rencanakan sejak awal ujian. Dengan menggunakan pesan yang dikirim sekolah ke ponsel kami, "target" tersebut berhasil disamarkan.


"Target" kelompok (naga) adalah Kushida, tapi apa yang terjadi jika misalnya, Kushida dan Horikita menukar ponsel mereka. Saat melihat ponsel itu, siapa pun akan menduga Horikita sebagai "target" Dan jika ada pengkhianat yang mengetahui fakta ini, dengan mengirimkan nama Horikita sebagai "target", mereka akan membuat kesalahan dan kemenangan akan tercapai seperti itu.


"Selamat malam, ayo kita jalani" Setelah sempat mengatakannya, Ichinose kembali bersikap dan tersenyum seperti biasa. Tetapi masih terlalu cepat, karena masih belum ada yang tahu apa yang anggota lain sembunyikan dan rencanakan.


Selain itu, jika setiap orang fokus pada masalah yang ada, akan semakin sulit menyamarkan "target" itu sendiri. Aku sudah menunggu Ichinose untuk terus berbicara lebih cepat, tapi aku memutuskan untuk membiarkanya sekarang.

__ADS_1


"Jika semua orang tidak masalah dengan itu..."


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan" Anehnya, aku dan Hamaguchi mengucapkan kata-kata itu pada saat bersamaan.


"Maaf, tolong teruskan Ayanokouji-kun"


"Tidak... Apapun itu, kau duluan, aku baik-baik saja” Aku tidak pernah mengharapkan kebetulan ini saat ini. Sebuah kebetulan yang mengerikan. Rencanaku sendiri tidak memiliki kekurangan, tapi jika masalah tak terduga seperti ini terjadi, efek dari rencanaku mungkin menjadi tidak stabil.


Kurasa aku bisa mendengarkan apa yang Hamaguchi katakan sebelum waktunya aku berbicara dan mencoba lagi. Sebagai tanggapan terhadapku yang telah memikirkan hal tersebut, Hamaguchi menghancurkan harapanku dengan cara yang tidak terduga.


“Lalu, dengan seizinmu selama tiga hari terakhir, aku terus memikirkan cara terbaik untuk mencapai hasil yang pertama" Hamaguchi kemudian mulai menceritakan rencananya kepada anggota kelompok kelinci yang lain. Anehnya, isi usulannya sangat mirip dengan strategi yang sudah aku rencanakan.


"Dan akhirnya aku hanya menemukan satu kesimpulan, bahwa memungkinkan untuk seluruh kelompok mencapai hasil pertama dan sebuah cara untuk membuatnya mungkin" Hamaguchi melanjutkan.


"Apa itu benar, Hamaguchi?" Sambil menatap Yukimura dan yang lainnya yang telah melepaskan semua harapan mereka, secercah harapan sudah kembali.


"Tentu saja, ini ide yang aku dapatkan setelah mendengarkan semua orang di sini, termasuk Ichinose-san dan Machida-kun" kata Hamaguchi.


"Luar biasa. Tidak mungkin hasil pertama bisa dicapai melalui pembicaraan itu sendiri" Seseorang yang keberatan dengan usulan naif dan mimpi seperti ini tentu saja adalah Machida.


"Lebih baik kita medengarkannya terlebih dulu. Hamaguchi-kun bukan tipe yang bisa berbicara sebelum berpikir" Ichinose menindaklanjuti Hamaguchi dan membuat lingkungan yang tenang untuk berdiskusi.


"Sekarang aku akan melanjutkan dengan menunjukkan semua ponselku. Tentu saja, ada pesan yang dikirimkan kepadaku oleh sekolah. Aku yakin kalian pasti mengerti apa yang aku dapatkan karena dilarang memalsukan atau mengubah pesan dari sekolah dengan cara apapun, tidak ada risiko menipu dengan cara ini. Itulah kenapa ini adalah hal yang sederhana, hanya dengan saling menunjukkan kiriman kita, kita bisa menemukan siapa ‘target’ itu, itulah cara yang aku lakukan untuk menemukan kebenaran”


"Ini bodoh, siapa yang akan menunjukkan pesan mereka seperti ini? Kami masih belum tahu bahwa seseorang tidak akan mengkhianati kami saat kami menunjukkan pesan kami, tidak ada orang yang mau mengikuti rencana ini." Menanggapi rencana ini, siapa pun bisa memikirkannya, tapi tidak ada yang mau setuju, tentu saja sang penonton, Machida ternganga keheranan.


"Tentu saja, karena mereka tahu ada kemungkinan pengkhianatan, ‘target’ tidak akan menunjukkan pesan di ponsel mereka. Tapi melihat dari sudut pandang orang-orang yang bukan ‘target’, ada sedikit risiko dalam menunjukkan pesan. Ujian akan segera berakhir, jika kita tidak melakukan langkah kita sekarang, kita tidak akan menang. Jika kelas bekerja sama untuk melindungi ‘target’, tidak satu pun dari mereka akan menunjukkan pesan mereka. Dengan cara ini, mengepung ‘target’ sangat mungkin”


"Bahkan jika kau tahu identitas ‘target’ atau kelas yang menjadi milik mereka, jika seseorang mengkhianati kita, masalahnya tidak akan terselesaikan. Apa kau berencana memainkan permainan di mana seseorang akan lebih cepat mengkhianati kemenangan?"


Dengan menggunakan strategi ini, memang mungkin untuk mengetahui identitas "target". Tapi hanya itu yang bisa dilakukan. Pada akhirnya, bukan berarti semua orang akan bermain dengan adil satu sama lain dan menjawabnya dengan benar.


"Kalau begitu, tolong tutup mulutmu. Pada akhirnya semuanya menjadi lebih baik jika Machida-kun tidak ikut berpartisipasi" Hamaguchi mengatakan hal tersebut sambil menolak untuk menyerah kepada sikap yang tidak mau membantu dari orang lain dan melanjutkan untuk menunjukan pesan diponselnya.


"Aku setuju dengan ide Hamaguchi-kun, aku akan menunjukkannya juga milikku"


Dan Beppu dari Kelas B yang sama juga mengikutinya. Sepertinya ini bukan kejadian yang acak dan terpencil melainkan strategi Ichinose yang tidak beralasan. Perkembangannya sama dengan strategi yang sudah aku rencanakan. Tapi, aku tidak tahu sejauh mana mereka memikirkan hal ini. Tetapi jika mereka berpikir semua orang dengan patuh akan mempercayai kata-kata itu dan menunjukkan pesan di ponsel mereka, itu akan menjadi sebuah tindakan yang gegabah...


"Aku pikir ini ide yang bagus. Aku tidak keberatan untuk menunjukkan ponselku juga" Ichinose sekali lagi tersenyum seolah setuju untuk mengikuti rencana Hamaguchi. Mencocokkan dengan tindakan yang lain, Ichinose juga meraih saku kanan roknya untuk mengeluarkan ponselnya.


"Aku sudah lama merenungkan ini untuk waktu yang lama, tapi akhirnya aku mengerti sekarang setelah mendengar apa yang Hamaguchi-kun katakan. Maaf aku menyimpan ini sampai sekarang tapi ..." dan dengan kata-kata yang penuh arti tersebut, Ichinose mengeluarkan ponselnya. Sekarang aku memutuskan untuk menyerang sebelum Ichinose bisa menyelesaikan strateginya.

__ADS_1


"Apa kau serius, Ichinose? Jika kau berani bertaruh, maka aku akan membawamu ke penawaran itu"


Sambung.......


__ADS_2