
Aku sudah menduga jika dia akan setuju denganku tapi pendapat yang berbeda datang dari sisi lain telepon.
"Apa itu benar? Aku pikir seseorang dengan kekuatan yang sebenarnya bisa saja akurat” kata Horikita.
"Tidak, tidak, hanya esper atau apapun itu yang bisa akurat"
Sepertinya Horikita percaya kepada sesuatu yang kebetulan. Sesuatu seperti memprediksi masa depan seseorang dari wajah, tangan, atau tanggal lahir mereka. Aku tidak percaya kepada sesuatu yang tidak realistis.
"Bukan berarti Peramal tidak memiliki kekuatan untuk melihat masa depan. Bukankah itu sudah jelas? Itu tidak sekonyol seperti percaya kepada hantu, tetapi tidak untuk paranormal. Peramal memiliki akses ke sejumlah besar informasi masa lalumu, dengan kata lain, mereka mendasarkan prediksi mereka berdasarkan pola manusia. Jadi keterampilan seorang peramal yang mampu menebak hal-hal seperti itu dari pelanggan mereka memang tinggi" Kata Horikita. Jadi dia bukan hanya seorang perempuan yang berhayal tapi sebenarnya punya jawaban berdasarkan teori.
"Dengan kata lain, kekuatan yang berasal dari cold reading, huh?"
T/N: Cold reading (Menafsirkan ulang pernyataan samar dengan cara apa pun yang akan membantu untuk membuat prediksi).
"Kau sangat tau beberpa hal yang 'bermuka tebal' " Horikita menjawab dengan nada jijik.
"Kita tidak bisa melihat diri kita secara obyektif tapi peramal sangat ahli. Dalam waktu singkat, dapat mengekstrak informasi tentangmu dan mengetahui sesuatu yang orang lain tidak sadari. Dan itulah yang tersisa sebagai hasil ramalan. Apa kita bisa memikirkannya seperti itu?" Kata Horikita.
Cold reading. Secara umum berarti membaca pikiran seseorang tanpa persiapan sebelumnya.
Ini adalah teknik yang menarik informasi dari seseorang melalui pembicaraan santai untuk membuat mereka berpikir bahwa kau tahu lebih banyak tentang mereka daripada yang sebenarnya kau lakukan.
Menggunakan keterampilan 'pengamatan' dan 'wawasan' untuk mendapatkan informasi mengenai targetmu dan membuat mereka percaya bahwa kau bisa melihat masa depan dan masa lalu dengan menggunakan kata-kata yang benar.
Mudah untuk dikatakan, tapi sebenarnya melakukannya sambil menghindari ketidakpercayaan dari target dan membuat mereka percaya memerlukan level keterampilan yang tinggi.
"Aku menjadi sedikit tertarik" ucapku
"Aku senang, aku pikir akan lebih baik jika kau pergi"
"Kalau begitu kenapa kau tidak ikut?"
"Apa kau bercanda?"
"Aku cukup serius"
"Aku menolak"
Aku mencoba menyelipkan kata-kata undangan ke dalam pembicaraan singkat kami tapi dia dengan berilian menolak semuanya. Tapi aku masih punya alasan sendiri untuk tidak bisa menerima penolakannya dengan sederhana.
"Aku adalah seorang yang amatir di dalam hal ramalan, jadi aku pikir lebih baik aku memiliki seseorang seperti Horikita bersamaku"
"Aku minta maaf, tapi aku akan melewatkannya, aku tipe yang payah dalam berurusan dengan orang banyak, kau tahu itu juga"
Itu memang benar. Tentu saja akan ada banyak murid berkerumun di sekitar peramal yang kebetulan menjadi topik hangat saat ini. Bahkan ada kemungkinan bahwa itu tidak hanya ada murid saja tapi juga orang dewasa yang akan pergi. Aku pasti tidak akan bisa membayangkan Horikita ada di keramaian seperti itu.
Aku mencoba untuk menegaskannya kembali tanpa menyerah, tapi meskipun aku mengubah caranya, aku akan segera membangkitkan kecurigaan Horikita. Bagiku, jika aku benar-benar mengerti kalimat Horikita, tidak ada lagi alasan untuk bertahan. Aku yakin Sudou juga tidak akan membuat sebuah masalah yang besar. Mungkin.
Begitu aku menyerah untuk mengajaknya, aku mematikan teleponnya. Lalu beberapa saat aku mengirim pesan kepada Sudou di chat. Tentu saja, dengan cepat berubah menjadi tanda 'baca' dan kata-kata yang tidak puas kembali kepadaku.
Sudou telah menjawab “Kalau begitu tidak jadi" kepadaku melalui pesan. Seperti yang aku duga, keberadaanku hanya dibutuhkan olehnya untuk mengajak Horikita dan karena aku sudah gagal, aku tidak lagi berguna untuknya. Tapi aku harus mengakui bahwa akan aneh bagi dua laki-laki pergi bersama ke peramal.
"Meski begitu ... Peramal, ya?" Gumamku Awalnya aku tidak tertarik, tapi setelah pembicaraanku dengan Horikita, aku menjadi sedikit tertarik. Kurasa aku akan memeriksanya besok.
⁰ₒ⁰
Siapa sebenarnya yang berpikir bahwa menemui peramal itu adalah ide yang bagus?
"Mungkin aku sudah gila..."
Aku tahu itu, tetapi pagi hari di akhir Agustus sudah diserang oleh gelombang panas membuatnya terasa seperti neraka yang terbakar. Aku bahkan bisa melihat fatamorgana yang terbentuk dan dengan lembut berguncangan di beton yang terbentang di depan pohon pinggir jalan. Tentu saja fasilitas sekolah semuanya ber-AC sehingga kita tidak merasakan panasnya di sana. Di koridor, di lobi atau di kamar kami. Namun, saat terkena sinar matahari langsung, seseorang akan langsung berkeringat.
Jadi begitulah cara manusia mati. Sambil memikirkan hal seperti itu, aku dengan putus asa berusaha menemukan beberapa tempat naungan. Beruntung untukku, sekolah menawarkan lahan yang besar memiliki sedikit pohon yang ditanam. Berkat itu, tidak akan ada yang namanya kekurangan bayangan untuk menghalangi sinar matahari.
Saat ini adalah pukul 9:30 sebelum murid memulai berbagai aktivitas mereka, aku menuju lokasi peramal yang dikabarkan. Sepertinya mereka mulai meramal pada pukul 1 0.00, tapi aku tidak berencana untuk bertahan lebih lama. Aku akan melakukan peramalan keberuntunganku dengan cepat dan segera pergi. Itulah tujuanku. Tapi saat sudah mendekati tujuanku, aku menyadari bahwa harapanku telah dikhianati.
Di Keyaki Mall yang kuharapkan kebanyakan masih kosong, kerumunan murid yang mengenakan pakaian musim panas sudah ada di sana. Sementara aku berharap tidak semua dari mereka akan berada di sini untuk alasan yang sama denganku, hal itu tidak mungkin terjadi.
Untuk saat ini, untuk menghindari neraka yang terbakar di luar sana, aku memutuskan untuk berlindung di Keyaki. Karena kegiatan tersebut sepertinya dilakukan di lantai 5, aku mencari lift terdekat.
"Geeh ..."
__ADS_1
Suara seperti itu tiba-tiba bocor keluar dari tubuhku. Hampir sepuluh murid sudah membentuk kerumunan di depan lift. Aku bertanya-tanya apakah orang-orang yang tidak pintar berkomunikasi yang sama sepertiku juga bisa mengerti?
Setiap kali aku menaiki lift sendirian, aku adalah tipe orang yang berulang kali menekan tombol 'Close' segera setelah aku masuk. Tapi aku tidak ahli menaiki lift dengan sekelompok besar orang yang seumuran denganku. Aku membutuhkan sedikit keberanian untuk masuk bersama orang banyak.
Mungkin sedikit merepotkan, tapi untuk sekarang, kita akan jalan memutar dan memilih lift lain di tempat lain. Ada lift lain yang berlawanan arah dimana saat ini sedang tidak terpakai oleh murid dan disimpan sebagai cadangan.
"Ini menenangkan ..." gumamku.
Hal ini memang membutuhkan usaha tambahan dari pihakku, tapi aku bersyukur untuk ketenangan pikiran yang diberikan kepadaku. Sangat menyedihkan. Setelah sampai di lantai 5, dengan cepat aku mencari lokasi peramal dan di sana aku mengalami situasi yang lebih membingungkan daripada yang sebelumnya.
"Hanya ada orang-orang yang berpasangan di sini"
Anak laki-laki dan anak perempuan. Dua dalam satu kelompok. Dengan kata lain, kerumunan ini terdiri dari sebagian besar murid dengan status sebagai sepasang kekasih. tentu saja ada kelompok dengan hanya ada anak laki-laki dan kelompok dengan hanya ada perempuan juga di sini, tapi mereka hanya sebagian kecil.
Peramal pada dasarnya dimaksudkan untuk hal semacam ini. Meramalkan kecocokan antara laki-laki dan perempuan bukan hal yang spesial, hanya saja aku sadar tempat ini jauh lebih tidak nyaman dibanding yang aku pikirkan. Tidak banyak orang yang datang ke peramal sendirian. Apalagi jika hanya dengan anak laki-laki sepertiku. Bagaimanapun, karena sudah ada antrian yang terbentuk, aku memutuskan untuk berbaris bersama mereka dan ketika aku melakukannya, seorang perempuan yang sepertinya adalah orang yang membuat antrian tersebut memanggilku.
"Selamat pagi, Apakah pasanganmu akan datang nanti?" dia bertanya kepadaku.
"Pasangan? Tidak, aku sendirian" jawabku padanya.
Tentu saja, mengingat orang-orang di sekitar kami kebanyakan adalah pasangan, wajar saja jika mengajukan pertanyaan seperti itu, tapi aku ingin dia memikirkan lebih banyak tentang kami yang sendirian.
"Ummm ..." Mungkin dia masih harus mengatakan sesuatu, tapi wajah perempuan itu terus meminta maaf.
"Aku takut jika peramal-sensei ini hanya untuk pasangan saja ..."
"Jadi tidak mungkin jika aku sendirian?"
Dia mengangguk sedikit dan menunjuk ke depan. Aku tidak bisa melihatnya dengan baik melalui kerumunan bayak orang, tetapi ada beberapa catatan yang memperingatkan tentang persyaratan tersebut.
"Kami akan membimbingmu sebagai pasangan. Syarat ini harus diketahui”
Itu masuk akal. Seharusnya memang tidak ada satu orang sepertiku di sini. Karena aku belum dihadapkan pada situasi canggung seperti ini sebelumnya, hal itu tidak terelakan. Sepertinya saat ini, aku dalam posisi yang sangat sulit.
Lagipula, aku mengerti sekarang alasan kenapa Sudou ingin mengajak Horikita ke sini. Dalam format peramal ini, dia dan Horikita akan memiliki waktu yang lama untuk saling berbicara sambil mengantri untuk meramal dan mereka bisa menghabiskan waktu yang lama bersama sampai ramalan berakhir.
"Itu juga berarti, sejak awal harusnya aku tidak peduli" gumamku.
"Omong-omong, antrian di sampingmu sama saja, bukan?" Aku bertanya.
"... Ya Ukon-sensei hanya memberitau keberuntungan untuk pasangan ..."
"Aku mengerti"
Aku menundukkan kepalaku ke arah petugas dan meninggalkan antrean. Dan murid-murid yang sudah megantri di belakangku, Langsung melangkah maju. Aku tidak pernah berpikir trik semacam ini akan terlibat. Bagiku, bayanganku tentang peramal adalah tentang seorang wanita tua di pinggir jalan yang sedang menghitung koin sambil melakukan pekerjaannya, sesuatu seperti itu. Tapi baru-baru ini, sepertinya rekomendasi ramalan pasangan seperti ini juga ada. Aku pikir setidaknya tidak akan terlalu buruk jika memiliki pengalaman ramalan sekali, tapi mau bagaimana lagi. Tidak ada banyak keuntungan jika mengajak Horikita pergi lagi, jadi sebaiknya aku mundur dari sini dengan tenang.
"Hah? Jadi kau bilang aku tidak bisa masuk sendirian?"
Sepertinya di dalam antrian di sampingku, ada satu korban lainnya yang datang sendirian karena suara yang terdengar marah bisa terdengar dari sana. Dan saat aku mengirimkan tatapan simpati dengan cara mereka itu, sayangnya mataku bertemu dengan orang tersebut.
"Ah" Jawaban singkat itu berasal dari seseorang yang kebetulan adalah kenalanku. Ketika aku berpura-pura tidak melihatnya dan berusaha untuk pergi, entah kenapa, dengan waktu yang sama, dia berjalan ke arah yang sama denganku. Aku mempercepat langkahku.
"Tunggu" Mungkin dia pikir jika aku sedang berusaha melarikan diri (aku memang sedang berusaha melarikan diri), tapi dia mengejarku.
"Ada yang bisa aku bantu?" Tanyaku padanya.
"Dimana Horikita?" Setelah mengajukan pertanyaan singkat tersebut, perempuan itu dengan cepat melihat ke sekelilingnya.
Dia adalah Ibuki Mio, murid Kelas C. Dia juga seperti Sudou, sepertinya berusaha mendekati Horikita melaluiku. Namun, tidak seperti Sudou, tindakan Ibuki dalam hal ini masuk akal. Hanya saja, akan sangat membantu jika dia bisa sampai ke Horikita tanpa perlu melewatiku.
"Bukan berarti aku selalu pergi bersamanya, aku sendirian hari ini"
"Ahh, aku mengerti"
Di dalam ujian di pulau tak berpenghuni sebelumnya, Ibuki dikirim ke Kelas D sebagai mata-mata dan mencoba melemparkan kelas ke dalam kekacauan. Dan kemudian dia bertengkar dengan Horikita dan sejak saat itu, Ibuki bersikap antagonis terhadap Horikita. Persaingan akan lebih besar di dalam hubungan mereka.
Meski sikap tsun-nya yang seperti biasa tidak berubah, dia memang memiliki selera mode yang bagus dan pastinya akan meninggalkan kesan yang bagus. Jika dia bertingkah sedikit lebih dewasa, aku tidak akan terkejut jika dia akan menjadi populer.
"Biasanya ramalan ini dilakukan satu lawan satu bukan? Aku sama sekali tidak mengharapkan ini, bukankah begitu?" Ibuki bertanya padaku.
__ADS_1
"Kurasa begitu, aku memang punya gambaran seperti itu"
"Jadi, Kau tidak memita Horikita untuk menemanimu ke sini?" Pertama, Sudou dan sekarang Ibuki. Topik pembicaraan selalu tentang Horikita, seseorang yang tidak ada di sini.
"Tidak, jika kau ingin berbicara dengan Horikita sebanyak itu, kenapa kau tidak pergi dan melihatnya sendiri? Katakan kepadanya jika kau ingin pergi menemui peramal bersama dia"
"Hah? Tentu saja tidak. Lagi pula bukan berarti aku punya sesuatu untuk dibicarakan dengannya" Kalau begitu, aku ingin kau tidak membicarakan Horikita lagi dan lagi.
"Aku tidak pernah benar-benar tertarik dengan ramalan sejak awal, jadi aku tidak menyesal berada disini. Bagaimana denganmu?" Tanyaku padanya. Aku pasti sedang berbohong jika aku bilang aku tidak menyesal ..."
Sepertinya persyaratan berpasangan ini menghadirkan sebuah masalah yang sulit untuknya dari apa yang dia sadari saat dia menggelengkan kepalanya sambil mengatakan penyesalannya.
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menyerah sekarang, Aku juga payah dalam berbicara," kata Ibuki.
Itu adalah jawaban yang sebenarnya sama sekali bukan sebuah jawaban. Dia mengatakan bahwa dia tidak pintar berbicara, tapi tidak seperti Sakura, dia tidak terlihat seperti tipe yang akan mengalami kesulitan dalam melakukan pembicaraan normal. Sebenarnya dia sangat mampu berbicara kepadaku dengan bahasa yang sama ... atau bahkan berbicara santai denganku.
"Kenapa kau tidak mengajak Ryuuen?" Aku mengatakan itu sebagai lelucon tambahan, tapi dia membuat wajah jijik sama seperti atau bahkan lebih besar dari pada Horikita.
"Aku sangat benci melihat wajahnya bahkan selama liburan. Kau pasti bercanda"
"Tapi kau bersama dia saat di kapal, bukan? Bukankah itu normal menganggap kalian berdua sangat akrab?"
"...itu hanya karena aku merasa bertanggung jawab karena tidak mencari tahu pemimpin Kelas D"
Dia menjawab dengan lemah seperti itu. Jika apa yang dia katakan itu benar, itu berarti Ibuki bertindak bersama dengan Ryuuen sebagai tempat untuk mempertanggungjawabkan kegagalannya. Itu saja tidak memberiku gambaran keseluruhannya, tapi itu pasti sesuatu yang hanya Kelas C yang bisa mengerti.
Meski begitu, pada bagian pertama ujian khusus, ujian di pulau tak berpenghuni, Ibuki berhasil mengidentifikasi Horikita sebagai pemimpin kelas D dan dia tidak salah dalam penilaiannya. Jika aku tidak ikut campur, dia pasti akan memberikan kontribusi besar kepada Kelas C.
"Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu, tapi selama ujian di pulau, siapa pemimpin Kelas D?"
"Entahlah"
"Entahlah? Bukan berarti kau tidak tahu"
"Bahkan jika aku tahu, aku tidak akan serius memberitahumu, tapi aku benar-benar tidak tahu... Aku pikir sebagian besar Kelas D juga berada di dalam kegelapan, bukan? Horikita bergerak di dalam bayang-bayang dan dia pasti sudah memanfaatkannya entah bagaimana dan hanya itu yang bisa aku katakan"
Ibuki menatapku seolah melihat ke dalam diriku. Tapi, aku tidak terlalu bodoh untuk dilihat melalui pengamatan sederhana semacam itu.
"... yah, jika itu mudah, aku tidak perlu melewati banyak masalah seperti ini" Ibuki mengangkat bahunya seolah dia sudah menyerah.
"Jika Ryuuen adalah ide yang buruk, kenapa kau tidak mengajak perempuan dari kelasmu?"
"Jika aku memiliki orang-orang yang seperti itu, aku tidak akan berada di dalam masalah ini, aku sama sekali tidak menyukai semua perempuan di kelasku"
Bahkan teman sekelasnya termasuk di dalam kategori orang yang sama sekali tidak dia sukai. Ibuki sama seperti Horikita... atau bahkan sifat antisosialnya lebih dalam. Dalam masalah ini, mereka adalah karakter yang sama. Dan dengan sebuah pemicu, sepertinya mereka akan akrap dengan sempurna.
"Tapi saat ini kau begitu saja berbicara denganku, Ibuki. Kau harus bisa berbicara dengan orang lain dengan normal. Aku tidak merasa bahwa kau sangat payah bebicara dengan orang lain"
"Itu tidak benar, saat kau berbicara denganku, kau merasakan perasaan itu, bukan? perasaan yang menusuk"
“Aku pikir itu benar"
Kapan pun aku ingin berbicara dengan Ibuki, aku merasa bahwa aku telah tertusuk oleh gergaji tajam. Mungkin hal itu karena ekspresi Ibuki yang terlihat seperti menjaga jarak dengan orang lain. Aku yakin perasaan ini juga akan disampaikan kepada murid yang lainnya.
"Apa pun yang aku lakukan, suasana hati selalu berakhir dengan buruk seperti ini, kau mengerti?" Kata Ibuki.
Dengan kata lain, karena dia tidak bersosialisasi, dia tidak bisa mengajak teman sekelasnya. Masih bisa diragukan apakah 'payah dalam bersosialisasi' itu benar atau tidak, Tapi sudah dipastikan bahwa Ibuki terlihat seperti seseorang yang bahkan melihat teman sekelasnya di dalam cahaya antagonis.
Aku bahkan bisa membayangkan jika dia akan meragukan si peramal dengan sikap keras kepala miliknya.
"Meskipun kau payah dalam berurusan dengan orang lain, itu aneh jika kau akan mencoba ramalan keberuntunganmu"
"Itu adalah salah satu masalahku. Lebih seperti sedang menyukai kucing, tapi disisi lain juga alergi terhadap kucing. Sesuatu seperti itu” Itu pasti akan membuatmu sangat frustrasi. Meskipun seseorang menyukai sesuatu, mereka tetap merasa sulit untuk menerima atau melakukannya, atau sesuatu seperti itu.
"Luar biasa. Kau menjadi mata-mata di Kelas D meskipun kau seperti itu," kataku padanya. Meskipun dia selalu memiliki sikap tsun, dia tidak pernah menunjukkan tanda ketidaknyamanan selama kegiatan mata-matanya, sama sekali tidak. Bahkan murid kelas D, tanpa mencurigai Ibuki, mengajaknya bergabung.
"Hal itu dan ini berbeda, bagaimanapun, berbicara dengan orang lain membuatku cemas dan karena aku cemas, aku menjadi gugup. Aku tidak suka itu, karena tidak bisa berbuat apapun. Bukan berarti aku menjadi seperti ini karena aku suka. Kenapa aku berbicara denganmu tentang hal ini? Bagaimana jika kita menjadi salah paham?"
Ibuki menghentikan pembicaraan saat dia berpaling. Tapi itu juga adalah batasanku. Sebelum aku menyadarinya, orang-orang di sekitar kami sudah meningkatkan antrian dan hanya kami berdua yang tertinggal sendirian.
Sambung......
__ADS_1