Classroom Of The Elite 2nd Year - Full Volume

Classroom Of The Elite 2nd Year - Full Volume
Vol 3 chapter 1 : Batas antara Surga dan Neraka


__ADS_3

Kushida dan yang lainnya memperhatikannya  dan dengan tenang sepertinya


menanti-nanti apa yang akan terjadi.


Beberapa menit setelah beberapa siswa mulai berkumpul,pulau itu muncul. Ike mengeluarkan teriakan gembira. Para siswa memperhatikannya dan mereka mulai berkerumun didek sekaligus.Ketika seluruh massa memadati tempat itu, beberapa siswa yang berkuasa mendorong kami sehingga mereka dapat menggantikan posisi kami dengan baik.


"Ah sangat menyusahkan ...Hei,pergilah! Kau buangan!"


Pada saatitu,salah satu anak laki-lak iyang sangat mengintimidasi mendorong bahuku. Dengan tiba-tiba, aku meraih tiang geladak kapal untuk menghindari kehilangan keseimbangan dan jatuh. Murid-murid itu


menertawakanku dengan jijik.


"Hei,apa yang kau lakukan?"


Sudō menjadi sangat kesal dan terintimidasi ditempat. Kushida yang khawatir dengan situasinya, datang ke sampingku. Gadis lain yang mengikuti dibelakang murid itu dan melihat kejadian ini benar-benar memiliki wajah yang sangat menyedihkan.


"Kau harus mengerti sistem sekolah ini,sekolah ini berdasarkan prestasi, tidak ada hak asasi manusia di


kelasD. 'Cacat' harus bersikap penurut dan patuh, mereka seperti terbuang. Disisi lain,kita semua kelas A."


KelasD kemudian pergi dari haluan (dari kapal) seakan mereka telah menendang kami keluar. Sudō tampak tidak senang, meski dia tidak menyerah untuk tidak berkelahi dan mampu bertahan dengan itu yang membuktikan bahwa dia menjadi sedikit lebih dewasa. Atau apakah itu hanya karena dia mengerti dan menerima posisi rendah dari kelas D?


"Hei semuanya, kalian ada disini. Apa yang terjadi?"


Diantara siswa yang datang berkelompok, satu anak memanggilku. Meskipun kami merasa bahwa situasinya tidak menyenangkan dan tidak adil, tidak perlu ada kekhawatiran yang tida kperlu . Jadi lebih baik tidak


mengindahkannya.


Nama anak itu adalah Yōsuke Hirata. Pemimpin Kelas D.Dia juga pemimpin kelompok tempatku berada. Pembagian ruang dalam kelompok akan diputuskan pada saat itu. Sementara aku hanya berharap untuk tidak dipanggil oleh Ike dan Sudō orang-orang yang cukup dekat ,kelompok tersebut akhirnya berakhir dengan kapasitas yang berlebihan. Tepat ketika aku sendirian, kedatangan Hirata seperti seorang penyelamat yang menenangkan situasi.


"Katakan Hirata, seberapa jauh kau bersama Karuizawa?" Ike menunjuk Hirata yang sebenarnya tidak pernah


mencoba mendekati Karuizawa.


"Kenapa kau tidak mengambil kesempatan dari perjalanan yang telah lama dinanti ini dan mencoba untuk menjadi lebih genit dengannya?" Dia terlihat biasa meski dikatakan seperti itu, aku juga tidak pernah mendengar bahwa Hirata benci ketika gadis-gadis lain melihatnya.


"Kami hanya mengikuti langkah kami sendiri, huh maaf aku harus pergi sekarang. Miyake-kun sepertinya berada dalam masalah." Ponselnya berdering dan Hirata kembali kekapal sambil membual. Sibuk adalah takdir bagi orang-orang populer.


"Ada apa dengan dia? Apa dia selalu mengkhawatirkan teman sekelasnnya. " Tapi Karuizawa adalah Karuizawa, dan sepertinya mereka belum terlalu dekat akhir-akhir ini jadi..mungkin...mereka sudah putus? Kalau memanseperti itu, maka itu menyebalkan.Kushida-chan akan memiliki lebih banyak lawan."


Tentu, mereka bisa menjadi kurang dekat dibandingkan saat mereka mulai berkencan. Tapi aku tidak merasa mereka bertengkar atau situasinya menjadi lebih buruk. Karena memang sepertinya mereka berteman dengan baik saat melihat mereka berbicara.


"Aku sudah memutuskan Haruki, aku akanmengatakannya kepada Kushida-chan dalam perjalanan ini."


"Yah,apa!? jika dia mencampakkan muIke, itu akan sangat canggung. Apa itu baik-baik saja?"


"Ini hanya penalaran egoisku, bagaimanapun, bukankah Kushida-chan sangat imut? Karena itulah aku pikir kebanyakan anak laki-laki ingin mengajaknya pacaran. Tapi, selama dia berada di luar jangkauanku dan selalu berkumpul dengan mereka,dan dia juga tidak pernah ditembak, aku yakin ada kemungkinan bahwa hati Kushida-chan akan terguncang oleh pengakuan cintaku yang tiba- tiba.Tapi hanya ada sedikit harapan disana."


"Aku mengerti... Kau sudah memutuskan keinginanmu..."


"Ah...ya." Yamauch iingin meledek dan menentangnya, tapi dia tidak melakukannya.Dia melihat dari atas dek


dengan gelisah seolah sedang mencari sesuatu.


"Apa ada sesuatu?"


"Ahhh,tidak ada apa-apa..." Setelah mengabaikan ku dengan linglung seperti itu, pada akhirnya Yamauchi tidak lagi menyentuh subjek Kushida.


"Hey hey Kushida-chan,kau punya waktu sebentar?"


"Uhm? Ada apa?" Ike langsung mendekati Kushida yang dengan tenang melihat kelaut didekatnya.Jelas,itu adalah langkah yang mencurigakan.


"Baiklah...bagaimana aku harus mengatakannya... Sekitar kurang dari 4 bulan sejak kita bertemu?

__ADS_1


Karena itu,selama ini aku berfikir apa itu tidak masalah jika aku memanggilmu dengan nama depanmu.Kau tahu,kedengarannya dingin dan tidak ramah ketika aku memanggilmu dengan nama belakangmu."


"Sekarang setelah kau menyebutkannya, Yamauchi-kun juga memanggilku dengan nama depanku sebelum aku menyadarinya."


"Eh,mungkin itu buruk kalau aku memanggilmu Kikyo-chan." Ike berseru sedikit kempis tapi Kushida berseri tidak acuh.


"Tentu saja,tidak ada masalah dengan itu! Haruskah aku memanggilmu Kanji-kun juga?"


"UUUUUOOOOOOOOOOOOOHHHHHHHH KIKYO-CHANAAAAAAAAHHHHHH."


Ike berteriak dan menjerit dengan berpose seperti seseorang yang menuju surga atau seseorang yang


baru saja menerima sebuah paket dengan film Peleton. Kushida tertawa pelan.Mungkin dia melihat nya aneh


dan lucu.


"Nama depan uh?... Kalau dipikir-pikir,apa nama depan Horikita?" Sudō secara alamibertanya kepadaku apa aku mengetahuinya.


"Tomiko, Horikita Tomiko."


"Mhm Tomiko...itu nama yang imut. Seperti yang diharapkan,nama yang sempurna."


"Ah tidak,aku salah, yang benar Suzune."


"Kau...jangan membuat kesalahan. Suzune uh? Rasanya sangat sempurna seperti Tomiko, tapi 100 juta kali lebih baik." Jika nama Horikita adalah Sadako atau Sam, akan egois untuk menebaknya atau mengatakan nya tanpa izin.


"Selama liburan musim panas ini, aku juga akan memanggilmu dengan nama depanmu Suzune, Suzune..."


Nah, sepertinya anak laki-lakiingin lebih dekat dengan anak perempuan selama liburan ini. Sementara itu, tidak satupun dari anak laki-laki memanggilku dengan nama depanku atau aku memanggil mereka dengan nama depan mereka.


"Itu benar.Hei  lihat kesini, Ayanokoji. Kau akan membuatku mencoba berlatih. Sekarang aku akan berlatih mengatakan nama Suzune juga."


"Berlatih? Kenapa? Berlatih, kau bilang...itu tidak normal."


Kau tidak bisa melakukan sesuatu seperti berlatih mengatakan nama seseorang ...kecuali jika kau melakukannya kepada orang itu sendiri.  Jangan beritahu aku bahwa Sudo yang berpikiran sederhana bermaksud membuatku menjadi imajiner Horikita. Dia menatapku tajam. Mungkin karena dia membayangkanku lawan jenis,tapi tatapan itu sangat menjijikan.


"Aku bukan Horikita." Aku segera merasa jijik dan berpaling dengan wajah tidak setuju.


"KAU IDIOT, ini latihan, aku juga tidak mau melakukannya, tapi itu penting bagiku,mhm atau mungkin juga tidak. Karena jika aku tidak berlatih, aku tidak   bisa melakukannya dengan baik. Penting bagiku mencobanya bagaimanapun juga.”


Aku benar-benar tidak ingin mendengar kalimat bangsat seperti itu.  Ahhh, karena tidak bisa membantu, aku akan ikut saja dan bersabar.


"Horikita.Tidak aneh jika kita selalu saling berprilaku sebagai orang asing. Kita sudah lama kenal sepertinya kita akan memanggil satu sama lain dengan baik dengan nama depan, bagaimana kalau kita melakukannya juga? Suatu hari nanti...sedikit demi sedikit?"


“.........................................” Tanpa disadari,aku ingin memukul kepala Sudo sebanyak mungkin.Tapi aku bertahan dengan sabar dan bersikap seperti orang dewasa melakukannya. Sama seperti orang dewasa yang akan melakukannya.


"Katakan sesuatu. Kenapa kau tidak berlatih denganku?"


"Tidak,tidak...Apa yang kau ingin aku katakan?"


"Hanya sesuatu yang bisa dibalas oleh Horikita. Karena kau sudah mengenalnya sejak lama, kau pasti tahu apa yang akan dikatakannya, bukan?"


Kami baru kenal kurang dari 4 bulan,jadi tidak mungkin aku tahu hal seperti itu. Meski begitu, Sudō bersikeras bahwa aku memainkan peran imajiner Horikita. Aku mengepalkan tinjuku tanpa sadar seakan mengancam seseorang.


"Aku satu langkah lagi menjad iorang dewasa dan aku bisa melakukan sesuatu sepert iini atas nama Horikita? Jangan ragu untuk berlatih lagi." Sebaliknya, Ike bertindak sebagai pengganti. Sambil melihatku sedikit malu,Sudō berkata:


"Horikita...tidak masalah jika aku memanggilmu dengan nama depanmu?"


"Um,ya...Sudo-kun bukan orang yang tampan, kan? Maksudku, sepertinya kau juga tidak punya banyak uang. Kau sama sekali bukan tipeku,apa kau tidak mengerti? ah,maaf.maaf.Kau orang buangan,ya?"


Ike bertindak sebagai gyaru  (wanita yang mengikuti tren mode yang biasanya ditandai dengan rambut cokelat atau rambut pirang, pakaian dan aksesoris mencolok) sebagai siswa SMA. sebaliknya, tanpa memandangnya, Sudo yang saat ini berada di geladak, memutuskan untuk mencarinya dan membuat nya menggeliat kesakitan. Mereka berdua selalu penuh semangat. Hanya dengan melihat mereka,kelelahan terus bertambah


dan menumpuk. Meski begitu, sepertinya menyenangkan.

__ADS_1


Setelah beberapa saat,keributan disekitar itu semakin keras.Antusiasme siswa juga meningkat pesat saat pulau mulai terlihat jelas dengan mata telanjang dan jarak nya semakin pendek . Aku pikir kapal itu diarahkan kepulau tersebut, tapi aku tidak tahu kenapa kita melewati dermaga dan kapal itu mulai terus mengelilingi pulau tersebut.


Luas yang dipinjam kan oleh negara untuk mengelola pulau ini adalah 0,5km. Ketinggian tertinggi adalah 230m. Ini adalah pulau yang sangat kecil jika dilihat dar isudut pandang totalitas Jepang sebagai sebuah negara, tapi jika dilihat oleh seratus lusin orang di kapal pesiar seperti kita, itu bahkan terlalu besar.


Entah bagaimana, kapal itu mengelilingi pulau itu dan menunjukkannya secara penuh. Ini terus berputar -putar diluar batas tanpa berubah kecepatannya.nMeskipun kapal itu laris tidak membuat percikan air,


kapal itu benar-benar melaju dengan kecepatan tinggi yang tidak wajar.


"Ini pemandangan yang sangat misterius...Aku terkesan, bukan begitu ,Ayanokoji-kun?"


"Oh,ya,yabenar." Aku menatap Kushida yang matanya bersinar saat melihat pulau terpencil, dan hatiku berdetak kencang. Lagipula, Kushida benar-benar imut. Aku ingin melindungi senyum itu dan perilakunya seperti anak-anak itu.


"Dari sini,kita akan mendarat dipulau yang tidak berpenghuni yang dimilik ioleh sekolah. Siswa harus mengganti pakaian kalian, periksa tas dan barang bawaan kalian dengan benar dan jangan lupa mengeluarkan ponsel kalian. Setelah itu, silakannberkumpul digeladak. Tolong simpan semua barang


pribadimu dikamarmu. Ada kemungkinan kau tidak bisa pergi ketoilet untuk beberapa lama, tolong


persiapkan semuanya dengan baik sekarang."


Pengumuman in ibergema kesekeliling. Ternyata tempat dok dipantai pribadi sudah dekat. Sepertinya


Ike dan yang lainnya akan kembali berubah menjadi begitu semangat. Aku juga membalikkan kakiku kembali ke kamar kelompok. Kemudian aku mengenakan jersey yang aku gunakan selama kelas olahraga, kembali kegeladak dan menunggunkapal mencapai pulau itu. Saat kami mendekat kepulau yang berada tepat di


depan, antusiasme siswa kelas satu mencapai puncaknya.


"Sejak saat ini,mulai dari siswa kelas A,kami akan mulai turun menurut urutan dan dilarang membawa


ponsel dipulau ini. Jadi tolong, serahkan secara terpisah kepada guru wali kelasmu dan turun dari


kapal." Dengan suara guru diloud speaker,para siswa menuruni tangga kapal secara berurutan.


"Whew,tolong cepatlah! Meskipun kita berpakaian tipis, kita semua berkeringat disini."


Dek kapal yang berlabuh terlalu banyak terkena sinar matahari. Tidak heran banyak keluhan keluar.  Kelas D


berdiri diatas kapal siap untuk turun sambil menahan panas,dan pada akhirnya Horikita juga ikut bergabung. Sekilas rasanya seperti situasi yang biasa, tapi ada sesuatu yang aneh. Sepertinya ada perasaan gelisah


dan tidak nyaman. Bahkan Horikita yang biasanya adalah seseorang yang metodis dan teliti nampak


cemas dengan penampilan luarnya.


Meski begitu, dia tetap membuat rambut hitamnya acak-acakan sehingga tidak mengubah keseluruhan


penampilannya.Dia tampak agak kedinginan dan tanpa sadar dia mengusap tangannya sambil menunggu pendaratan dipulau itu.


"Apa yang baru saja kau lakukan?"


"Aku baru saja membaca buku dikamarku. Yang berjudul ‘ Untuk bunyi lonceng itu’... Kau tidak akan tahu."


Ayolah. Itu adalah salah satu dari Ernest Hemingway, bukan? Sebuah karya yang tidak tertandingi ,tidak


ada keraguan tentang hal itu.Aku sudah lama memikirkannya, tapi hobi Horikita dalam membaca buku semacam ini sangat menakjubkan...Tapi,aku bertanya-tanya tentang prioritas membaca bahkan


selama perjalanan indah ini.yah,dalam keadaan seperti ini aku juga meragukan apakah aku menyukai


ruangan sebagai tempat yang baik untuk membaca buku atau tidak.  Tapi mari kita lupakan saja. Orang itu sendiri tidak akan mengatakan apapun tentang topik itu dan membongkar rasa ingin tahu dari sini akan menjadi sikap yang kasar.


"Aku cemas tentang kelanjutannya,tapi kalau dilarang membawa barang pribadi,maka aku tidak bisa berbuat apa-apa."  Dengan menyesal dan canggung, aku membersihkan tenggorokanku. Ini bukan hal yang orang katakan saat turun kepantai.


pergi kedarat dan meninggalkan kapal memakan waktu lebih lama dari yang aku pikirkan. Mungkin karena para guru membagi dan mengumpulkan murid-murid didua sisinya dan mereka terus memeriksa barang bawaan mereka.


"Hei ,bukankah aneh mereka terlalu ketat atau bagaimana aku harus mengatakannya ,terlalu berhati-hati? Mereka bahkan harus menyita ponsel seperti sedang ujian, bukan. Sepertinya bahkan membawa terlalu banyak barang pribadi juga dilarang."


"Pastinya jika seseorang hanya bermain dilautan, aku juga merasa mereka tidak harus melakukan hal

__ADS_1


seperti itu."


bersambung.......


__ADS_2