
Namun, sakura terlihat seperti tidak ingin terus berjalan, menatap dengan kabur sambil memegang tangan kiriku, dimana aku menahannya.
“Sakura, kita harus sedikit lebih cepat!”
“Eh ?! Uh, Ya!” Bingung dengan ucapanku yang tiba-tiba,
dia mulai berlari. Aku merasa mau bagaimana lagi.....
“Dia pasti berjalan dengan cepat. Itu Koenji!” Koenji sama sekali tidak memikirkan tentang kecepatan seorang perempuan, dia terus berjalan lebih dalam kedalam hutan. Mengabaikan bahwa dia membawa kami dengan
mantap ke wilayah yang tidak dikenal. Di jalan tidak diketahui, tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mengandalkan kaki dan stamina dan mengikutinya.
“Meskipun begitu, dia tidak akan pernah....”
“Ada apa?”
“Tidak.”
Apa maksud semua ini? Apa ini sudah kebetulan? Tidak! Tidak ada yang meragukan dari kecepatan Koenji. Sebagai contoh, kami memilih tempat untuk perkemahan kami dengan pertimbangan dari seluruh kelompok. Apa itu normal bagi seseorang yang berjalan lurus kedepan tanpa melihat ke kiri atau kanan di wilayah yang asing? Sepertinya koenji memiliki tujuan yang cukup jelas dalam pikirannya. Semua perkembangan pesat di wilayah ini mengejutkanku. Ada kemungkinan koenji tidak melangkah maju seperti orang yang tersesat.
“Aku akan mengubah kecepatanku.”
Jadi aku tidak rela jika tersesat. Tapi ada sebuah masalah disini. Aku harus menemani Sakura agar bisa mencocokkannya dengan kecepatan Koenji, jadi aku menarik napas dalam-dalam dan bergerak maju.
“Hei Koenji, apa menurutmu kita sudah terlalu jauh dari tempat berkumpul kita? Kita mungkin tersesat di sini.” Sakura terlihat baik-baik saja dan Koenji terlihat terganggu saat aku memanggilnua. Bayangan Koenji berhenti dan berbalik untuk menatap kami saat ia memperbaiki helaian rambutnya.
“Aku ini jenius dengan kemampuan fisik yang sempurna, tidak mungkin aku bisa membuat kita tersesat di hutan seukuran ini. Jika sesuatu terjadi padamu, itu karena kau mungkin telah kehilangan jejakku dan
kemudian jujur saja, akan lebih baik jika kau menyerah.”
Seperti yang aku harapkan darinya, mungkin dengan mengecualikan diriku untuk membuat sebuah pernyataan sebagai seorang laki-laki, situasi di sekitar sini sama sekali tidak menyenangkan.
__ADS_1
“Aku ingin bertanya kepadamu, orang biasa. Apa kau menganggap ini sangat indah?”
Berpikir bahwa dia sedang menunjukkan kepada kami tentang sifatnya yang sempurna sepertu biasanya. Koenji membuat senyuman yang bergairah, mengajukan pertanyaan itu kepada kami.
“Baiklah ... wajar jika hutan menjadi tempat yang misterius, meski hampir semuanya terlihat sangat indah.”
Kurang lebih inilah yang aku rasakan dan mencoba untuk memberitahu. Namun, Koenji tidak mengharapkan jawaban seperti ini, merasa sedikit kecewa kemudia ia menarik napas dalam-dalam.
“Apa yang kau bicarakan? Bukan itu yang aku tanyakan padamu! Memiliki kondisi fisik yang sempurna, aku sendiri, bisa bersinar dengan indah ditempat ini. Apa kau tidak mengerti?”
Jadi saat kau memiliki tubuh yang sempurna, kau harus membuat pernyataan yang membanggakan dirimu sendiri tentang kondisi tubuhmu. Ah, kau benar. Aku tidak mengerti.
“Mungkin karena kepanasan, itu membuat kepalanya menjadi aneh .... jangan pedulikan itu, Sakura.”
“Uh, ya, Tidak apa-apa karena Koenji sering bertingkah aneh sejak awal.” Oh! Meskipun itu adalah kebenaran, mengatakan hal yang begitu kasar dengan mudah, anak ini benar-benar...
Koenji memutuskan untuk menguji kemampuan fisikku beberapa waktu yang lalu, jadi dia meninggalkanku dan terus berjalan. Dari sini dan seterusnya aku tidak boleh bertengkar karena sarannya atau permintaannya.
“Tidak perlu khawatir, apapun yang terjadi dihutan ini itu tidak akan menjadi masalah.”
“Aku tidak bisa menyebut ini hutan yang alami, setidaknya pada siang hari, kemungkinan tersesat saat berkeliaran cukup rendah, karena alasan inilah, ada rasa keingintahuan tertentu.”
Dia meninggalkan pembicaraan yang menggantung dengan kata-kata yang yang berarti, Koenji yang sudah kehilangan minat kepada kami beberapa waktu yang lalu sudah mulai berjalan kembali dengan cepat. Dengan kecepatannya Sakura tidak bisa mengikutinya.
“Hei!”
“Ya .... Emmmm, Aku merasa lebih baik, jadi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk melanjutkan.”
Sambil berkeringat Sakura memutuskan untuk menunjukkan bahwa dia memiliki nyali dan mengangkat sarung tinjunya. Ini semacam menentang perasaannya meskipun itu sangat berbahaya. Yang terburuk adalah keputusan Koenji, Tapi Sakura mulai dari sekarang, mencoba untuk bersabar dengan mengikuti langkah Koenji. Terkadang sosok itu menjadi terlalu lusuh. Itu berbahaya, tapi kami harus gigih atas tekad kami sendiri untuk bisa mengejarnya.
Aku tidak keberatan dengan usaha yang menyakitkan semacam ini, Tapi Koenji terus berjalan kedepan. Meskipun aku pikir kami tidak akan berhenti kecuali kami keluar dari hutan. Namun tiba-tiba ia berhenti di depan mataku dan menoleh kearah kami, menarik rambutnya keatas dengan senyuman yang
__ADS_1
tidak kenal takut.
“Bisakah aku mengajukkan pertanyaan kepadamu, orang biasa?” Lalu, sebelum kami sempat membalasnya, Koenji melanjutkan.
“Aku ingin mendengarkan pendapatmu tentang tempat ini? Perasaan seperti apa yang kau dapatkan saat melihat ini disekitarmu?”
“Eh?? Apa.... Apa maksud dari pertanyaan ini, Ayanokouji?” Tiba-tiba tatapan tajam Koenji terhalangi oleh punggung Sakura saat dia mendekat dan mendengarkan.
Apa perasaanku tentang tempat ini? Izinkan aku melihat ke sekeliling. Pertama, melihat ke sekeliling wilayah. Namun, tidak ada yang anej dari tempat ini. Terlihat seperti hutan biasa. Dengan sengaja berusaha
mendapatkan semacam konfirmasi, apa yang ingin dia coba lakukan?
“Aku mengerti, jangan khawatir, orang biasa hanya akan tetap biasa saja.” Sekali lagi, tidak mendapat balasan, Koenji kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya ke dalam hutan.
“Apa aku melakukan sesuatu ... yang aneh?”
“Tidak..” tidak akan ada habisnya jika kau mulai mempertimbangkan ucapan Koenji. Dia adalah seseorang yang memiliki banyak kebohongan. Tapi dia masih menolak kemungkinan bahwa kami tidak bisa melihat
apa yang dilihatnya di tempat ini dan tidak ada waktu bagi kamu untuk menelusuri tempat ini dengan mudah. Koenji sekali lagi mengambil langkahnya.
“Sakura apa kau punya saputangan?”
“Ah, ya, aku punya..” Seperti yang aku harapkan dari seorang perempua, dia menyiapkan barang-barang yang berguna.
“Apa kau tidak keberatan meminjamkannya kepadaku? Mungkin akan menjadi kotor.”
“Tidak apa-apa...” Saat dia mengatakkan ini tanpa keberatan, Sakura memberiku saputangannya. Aku meminjamnya dengan rasa syukur dan mengikatnya ke pohon didekatnya, di cabang yang tidak mudah patah.
Melakukannya, kami juga akan menandainya dan ini akan berguna saat kami akan kembali ke tempat ini nanti.
“Ahh, aku kehilangan jejak Koenji-kun ... Cepat, Ayanokouji-kun!!” Sakura semakin cemas, namun karena kelelahan sudah mencapai batas, ia tersandung dan hampir terjatuh. Lagipula, kekuatan fisik Sakura sudah mendekati batasnya. Bahkan jika aku memaksakan diriku sendiri, aku juga tidak akan bisa bertahan.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini ^_^
Jangan lupa : Like, Komen, Share and Vote