Classroom Of The Elite 2nd Year - Full Volume

Classroom Of The Elite 2nd Year - Full Volume
Chapter 4 Bab 2


__ADS_3

"Itu benar tapi ... uuuu --- aku bertanya-tannya, apa aku harus mengaku secara pribadi ....." Akhirnya, bahkan di dalam diri Yamauchi, satu kesimpulan sepertinya sudah terbentuk.


"... Ayanokouji-kun?" Untuk sesaat, aku pikir aku sudah mendengar langkah kaki samar dari belakangku dan sebuah suara sepertinya sedang memanggilku.


"Sakura di sini! Aku akan menyerahkan sisanya kepadamu!"


Sepertinya Yamauchi sudah mencoba membangkitkan keberanian, tapi sejak Sakura tiba lebih cepat dari yang diperkirakan, dia menjadi panik dan menutup teleponnya. Sedangkan aku, karena aku sudah melakukan kontak dengan Sakura, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Yang tersisa hanyalah menyerahkan surat yang dipercayakan Yamauchi kepadaku.


"Ini sebuah kebetulan, bukan?"


"Ahh, tidak, kau diminta ke sini oleh Kushida, kan?"


"Y-Ya, dia bilang dia ingin berbicara denganku tentang sesuatu ... dia bilang itu sesuatu yang penting" Aku melihat ke sekeliling, tapi jelas, tidak ada orang yang lain kecuali aku "Sebenarnya, aku meminta bantuan Kushida dan meminta dia menyuruhmu ke sini". Sebenarnya, itu bukan aku, tapi mau bagaimana lagi. Meski itu membingungkannya di sini.


"Ayanokouji-kun yang melakukannya? A-aku mengerti. Itu melegakan, biasanya aku tidak banyak berbicara dengan Kushida-san jadi aku takut melakukan sesuatu untuk membuatnya marah" Dia menepuk dadanya lega. Sepertinya Sakura yang janjian Kushida tidak lagi merasa tidak nyaman. Melihat Sakura, aku memutuskan untuk menghadapinya dengan sebuah pertanyaan sederhana.


"Meski begitu, kau datang terlalu cepat, masih ada sekitar 30 menit sampai waktu yang dijanjikan"


"Itu ... aku merasa cemas, jadi aku hari ke sini lebih cepat" Masih bingung, dia menjelaskan hal itu kepadaku.


"Tapi aku mengerti, itu adalah Ayanokouji-kun, orang yang ingin menemuiku, aku sangat lega" Saat dia menepuk dadanya setelah merasa lega dari lubuk hatinya, kegugupan yang dirasakan sebelumnya terurai dan ekspresinya kembali tenang seperti biasanya.


"Tapi kenapa? Jika kau membutuhkanku, kau bisa saja memintaku menemuimu langsung"


"Ahh, tidak, itu sedikit, ada sedikit situasi rumit yang terjadi"


.


"Situasi yang rumit?"


 Bagaimana aku menjelaskan hal ini? Dalam masalah ini, aku juga merasa sedikit bingung. Secara biologis, aku sudah banyak mempelajari perbedaan antara laki-laki dan perempuan secara akademis, namun ketika menerapkan pengetahuan itu dalam kenyataan seperti ini, aku belum pernah mempelajari strategi apa pun. Dan di sini masalahnya bukan hanya perbedaan antara jenis kelamin kita tapi aku juga membutuhkan faktor dari kepribadian dan perasaan individu milik Sakura juga.


Ini adalah kerumitan dan keanehan dari masyarakat yang dibangun oleh kecerdasan manusia. Waktu telah berlalu saat aku mempertimbangkannya. Semakin lama keheningan terjadi, semakin kehati-hatian dia bangkit.


"Masalahnya adalah ... aku menyuruh Kushida memanggilmu karena aku ingin menyerahkan ini kepadamu" Surat yang Yamauchi percayakan kepadaku, aku memberikannya kepada Sakura.


"Ini...?"


"Aku ingin kau menerimanya tanpa banyak bertanya. Jika kau membaca isinya, aku yakin kau akan mengerti" kataku pada Sakura. Jika si pengirim sendiri yang menjelaskannya, makna dibalik surat tersebut akan berkurang. Aku menyerahkannya seperti itu.


.


"B-baiklah" Aku merasakan sesuatu yang mirip dengan rasa bersalah dan karenanya aku mengalihkan pandanganku. Di sisi lain Sakura terus melihat bolak-balik antara aku dan surat untuk mencoba memahami situasinya.


"S... urat .... di belakang gedung sekolah .... laki-laki ......" Sakura yang menerima surat itu, sambil menatap ke suatu tempat yang jauh, dengan lemah membisikkan sesuatu pada dirinya sendiri. Woah, tapi seperti yang baru saja aku katakan, itu bisa berarti bahwa akulah yang menulis surat itu. Ini gawat.


"Surat ini dipercayakan kepadaku dari seorang laki-laki yang sedang bersembunyi. Pengirim mengatakan bahwa kau akan mengerti jika kau membacanya. Mungkin tulisannya jelek, tapi sepertinya dia memberikan semuanya untuk menulis surat ini" Aku langsung meluruskan untuk memastikan bahwa tidak akan ada sebuah kesalahpahaman.


"A, Awawa ..... ini ... awawawa !?"


Mungkin ini adalah surat pengakuan dari seorang anak laki-laki, prediksi seperti itu sudah tumbuh di dalam Sakura. Dia sudah kehilangan ketenangannya dan tatapannya terlihat mulai membayangkan ke hari lusa nanti. Bahkan jika dia membuka surat itu dan membacanya di sini, reaksinya akan menjadi masalah untukku jadi lebih baik aku cepat-cepat meninggalkan lokasi ini.


.


"Dan dengan begitu aku sudah menyerahkannya. Yang tersisa adalah agar kau bisa mengambil keputusan dengan benar. Jika kau merasa sulit untuk memberikan jawaban secara langsung, Kau bisa mengirimkannya melalui chat atau melalui telepon. Itu tidak masalah. "Kataku padanya. Dalam masalah Sakura, ada kemungkinan dia tidak bisa mengatakan 'Ya' atau 'Tidak'. Seharusnya aku akan membantunya.


"Ko, kokoko, kokoko"


"Apa kau ini ayam?"


"T-tidak, bukan begitu. I-ini adalah orang yang menyu....."


"Benar, ini adalah surat cinta," kataku.


"Kyuuuu !?"



"Woah" Dengan cepat aku bergerak untuk menopang perempuan yang dengan cepat terjatuh ke belakang.


"Apa kau baik-baik saja?" Hanya dengan menyentuh punggungnya dengan tanganku, aku bisa memastikan tubuhnya sedang terbakar. Ini pasti sangat mengejutkan. lagipula, dia mungkin mencoba untuk mencari tahu siapa pengirim surat itu di kepalanya.

__ADS_1


"Umm, umm umm!" Tiba-tiba membuka matanya, dia menggerakkan tubuhnya dengan kekuatan luar biasa. Setelah aku memastikan bahwa dia sekarang berdiri di atas kakinya sendiri, aku melepaskan tanganku dari punggungnya.


"Horikita .....-san, apa menurutmu dia akan marah !?" Tanya Sakura.


"Hmm? Horikita?"


Tidak ada alasan kenapa dia harus marah. Jika dia kebetulan melihatku mengantarkan surat itu ke tempat Yamauchi, dia mungkin akan dengan putus asa mengeluh saat mengatakan sesuatu seperti, "Kau membuat dirimu terlibat dalam sesuatu yang tidak berguna lagi. Haa~" Paling tidak itu bukan sesuatu yang akan membuatnya marah.


.


Aku berpikir bahwa dia salah mengira jika akulah yang mengaku, tapi ketika aku menyerahkan surat itu, aku benar-benar mengatakan "Aku dipercayakan oleh seorang laki-laki yang sedang bersembunyi". Dia seharusnya tidak salah paham denganku.


"U, uwa ..... uwa ....."


Tapi wajah Sakura menjadi lebih merah dan merah dan dari kegugupan, sepertinya dia akan pingsan. Hanya saja, aku tidak berpikir jika ini adalah reaksi ketika sudah menerima surat itu. Ini terasa seperti situasi dimana laki-laki yang menyerahkan surat pengakuan itu ada tepat di depan matanya.....


Jika memang seperti itu, terlepas dari pengakuannya, tidak akan aneh jika Sakura menjadi panik. Bahkan aku bisa menimbulkan kepanikan jika berada di situasi seperti itu. Kalau memang begitu, sekarang aku juga bisa mengerti alasan kenapa nama Horikita disebutkan.


"Sakura, aku akan menjelaskan tentang diriku..... surat itu dipercayakan kepadaku oleh orang lain, apa kau bisa mengerti?" Setelah aku mengatakannya sekali lagi, bahu Sakura bergetar.


"Ehh --- ahh, ini bukan dari Ayanokouji-kun ....?"


"Aku sudah bilang seperti itu tadi, kan? Aku baru saja disuruh untuk mengirimkannya"


"..... Aku mengerti. Tentu saja seperti itu. Tidak mungkin ada yang seperti itu, mungkin.... **-tapi, apa yang harus aku lakukan dengan ini !?"


.


"Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali membacanya dan memberikan jawabanmu" Aku mencoba untuk pergi karena aku hanyalah sebuah perantara, tapi aku ditarik oleh belenggu di pakaianku.


"Ehh ---! Tidak mungkin! Tidak mungkin! aku tidak bisa melakukannya ..."


"Apa kau pernah mengaku sebelumnya?"


"Tidak pernah!" Sakura menjawabku dengan cepat seperti itu. Sepertinya dia akan ditembak berkali-kai mengingat bahwa dia ini imut, tapi itu hanya karena aku berpendapat seperti itu kepada Sakura saat ini. Ceritanya mungkin akan berbeda dengan Sakura yang sebelumnya.


"Surat ini ..... apa kau ingin membacanya, bersama denganku .....?" Bersama-sama... Sejak awal isinya ditulis sesuai dengan pengarahanku. Jika Sakura tidak memiliki keberanian yang dibutuhkan untuk membacanya seorang diri, bukan berarti aku tidak bisa bekerja sama dengan dia tapi.... Pemandangan seperti ini, Yamauchi mungkin tidak menginginkan hal seperti itu.


"Baiklah....."


.


Karena Sakura sama sekali tidak senang dengan ini, aku memutuskan untuk menindaklanjutinya sedikit.


"Ada juga kemungkinan jika itu berasal dari seseorang yang kau sukai" kataku kepadanya.


"Kemungkinan itu sudah tidak ada lagi ......"


"Hmm?"


"Ahh, um, itu karena aku tidak punya seseorang yang aku suka. Aku-aku akan coba membacanya!" Mengangguk, Sakura sedikit menyesuaikan pandangannya, menurunkan kepalanya, dan kembali ke asrama. Dia mungkin akan kembali ke kamarnya untuk membaca surat yang ditulis Yamauchi.


"B-bagaimana hasilnya!? Bagaimana perasaannya! Apa dia terlihat bahagia !?"


Setelah dipastikan dari kejauhan bahwa Sakura sudah kembali ke asrama dengan surat di tangan, Yamauchi bergegas dan bertanya hal itu kepadaku dengan gugup. Aku mengerti keinginannya untuk menanyakan berbagai hal, tapi kalau memang seperti itu, seharusnya dia yang menyerahkannya sendiri sejak awal.


"Dia belum membaca suratnya, keputusannya akan datang dimulai dari sekarang, aku pikir"


"K-keputusan? jangan memakai kata-kata yang menakutkan. Aku percaya itu akan baik-baik saja!"


,


"Aku akan bertanya untuk berjaga-jaga, tapi apa dasar dari alasanmu itu?"


"Itu, dilihat dari sikapnya saat dia berbicara denganku, kurasa"


"Sikapnya?"


"Bagaimana aku mengatakannya, dia yang malu-malu kucing mengalihkan pandangannya, bukankah itu karena dia sadar bahwa dia tidak mampu melihat langsung ke arahku?" Tidak ..... aku pikir itu karena Sakura payah jika berurusan dengan orang-orang secara langsung.


“Bukan hanya itu. Kapanpun dia berbicara denganku, setelah itu dia selalu sedikit mendesah, bukankah itu yang kau sebut dengan ******* cinta? Bukankah itu yang terjadi? Memikirkan seseorang yang kau cintai dan melakukann ‘Haa ~’ *******. Aku bisa merasakan pertanda yang seperti itu" kata Yamauchi.

__ADS_1


Aku pikir itu mungkin saja, karena dia menjadilelah setelah berurusan dengan seseorang seperti Yamauchi yang berbicara dengannya menggunakan ketegangan tinggi ..... Tapi yang jelas, ketika menyangkut seseorang yang kau sukai, mereka akan buta terhadap sesuatu yang seperti itu.


***


Tengah malam, sementara sedang sedikit khawatir dengan tanggapan Sakura besok, aku membuat persiapan untuk tidur. Ponselku bergetar satu kali.


"Apa kau masih bangun?"


.


Kalimat singkat dan sederhana. Itu dari Sakura. Aku menatap layar ponselku untuk beberapa saat tanpa menyentuhnya, tapi kelanjutan kalimat itu sepertinya tidak akan datang. Dia mungkin mengira jika aku sudah tertidur dan sedang mempertimbangkannya. Aku membuka layar obrolan dan menandainya sebagai pesan yang sudah dibaca. Dan ketika aku melakukannya, pesan singkat lainnya dikirim.


"Apa aku membangunkanmu .....?"


"Maaf, Aku mencuci pakaianku. Jangan khawatir" Aku menjawab dengan kebohongan kecil seperti itu. Seperti yang aku lakukan, mungkin dia merasa lega, karena kalimat berikutnya sedikit lebih panjang.


"Besok jam 5 pagi aku harus bertemu dengan Yamauchi-kun... apa aku bisa menemuimu sebelum itu .....?" Pesan seperti itu masuk. Aku bisa saja menolak, tapi untuk Sakura, tidak ada orang lain yang bisa diandalkannya.


"Di mana kau akan bertemu dengannya?"


"Di tempat yang sama di belakang gedung sekolah seperti kemarin" Aku memang sudah tahu, tapi pada dasarnya aku sedang mengkonfirmasikan hal itu sekali lagi ketika aku berjanji untuk bertemu dengan Sakura. Karena aku tidak ingin merepotkan Sakura, aku memutuskan untuk menemuinya di tempat yang sama di belakang gedung sekolah itu.


.


Sekarang, waktunya tidur. Dengan cepat menyelesaikan tugas-tugas yang tersisa, aku mematikan daya dan meletakkannya. Dan, ponselku bergetar lagi.


"Umm ... maaf sudah mengganggumu berkali-kali, apa tidak masalah kalau aku meneleponmu?" Kecemasan yang disalurkan untukku melalui pesan. Lebih baik kalau aku tidak pergi tidur dan membiarkan Sakura begitu saja. Dan saat aku meneleponnya, Sakura menjawab dengan suara rendah.


"Kau tidak bisa tidur?"


"Iya ..... memikirkan hari esok, Aku baru saja merasa gugup ..... haaaaa" Itu adalah ******* yang menyedihkan. Kecemasannya juga ditularkan melalui telepon. Dia mungkin sedang memikirkan jawaban atas pengakuan itu.


"Aku - aku tidak tahu apa-apa tentang Yamauchi-kun ..... dan itu sedikit menakutkan ....."


"Aku mengerti....."


"Menyukai seseorang atau membenci seseorang, aku baru sadar jika itu datang membawa tanggung jawab yang besar" Bagi Sakura yang belum terlalu memperhatikan jarak di antara dia dan sekitarnya sampai sekarang, kejadian ini pasti merupakan stimulus yang terlalu banyak. Tapi sejauh mana orang luar bisa ikut campur dan membantu itu sendiri terbatas.


.


T/N: Stimulus adalah istilah yang digunakan oleh psikologi untuk menjelaskan suatu hal yang merangsang terjadinya respon tertentu.


Orang yang memutuskan segalanya adalah Sakura dan yang menerimanya adalah Yamauchi. Pola seperti ini saja tidak bisa dibantah. Itu adalah sesuatu yang bahkan seorang pemula dalam percintaan seperti aku mampu mengerti. Aku tidak punya hak menyuruh Sakura untuk menolaknya atau menerima dia. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain diam mendengarkan apa yang dia katakan.


"Yamauchi-kun tidak melakukan sebuah kesalahan, tapi aku hanya... berpikir aku tidak menginginkannya. Tapi aku juga merasa tidak enak dengannya yang menyukai seseorang sepertiku ....."  Aku sangat menyadari bahwa cinta itu sudah pasti adalah sesuatu yang rumit.


"..... ketika Aku terus berpikir, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan ....." Itu bisa dimaklumi, meski melalui telepon aku bisa mengerti bagaimana dia yang selalu merasa bingung.


"Kenapa aku..... aku berpikir kenapa aku harus menderita seperti ini, aku akhirnya memikirkannya" Daripada merasa bahagia, sebaliknya, sepertinya dia tidak menyukai atau setidaknya terganggu olehnya.


"Ayanokouji-kun, kau, umm ..... ahh, kau mungkin mendengar sesuatu yang tidak penting tapi ...."


"Tanyakan aku apa saja. kalau itu adalah sesuatu yang bisa aku jawab, aku akan menjawabnya" Kataku.


.


"Umm ..... sekarang, apa kau sedang pacaran dengan seseorang ..... seperti itu?" Untuk beberapa alasan dia bertanya kepadaku hal itu dengan nada formal.


"Tidak, sama sekali tidak. Saat ini dan tentu saja, sampai sekarang juga"


"B-Benarkah!?"


"Jika kau terdengar sangat bahagia, itu membuatku merasa jika kau ini Blak-blakan” Hal itu sangat menyakitkan saat dia merasa sangat senang dengan orang yang jones.


"Waahh .... tidak, aku tidak bermaksud mengejekmu! Aku hanya senang, karena kau sama sepertiku"


"Aku cuma bercanda" kataku padanya.


"Mou .....!" Itu hanya lawakan ringan, tapi sepertinya itu sudah mengacaukan hati Sakura yang mengeras.


"Kalau begitu umm, apa kau pernah ditembak oleh seseorang, atau mengaku kepada seseorang, sesuatu seperti itu?" Dia terlihat akan sedikit mengatasinya. Tapi aku tidak punya apa pun untuk disembunyikan jadi tidak masalah.

__ADS_1


sambung


__ADS_2