
"Umm ... Karuizawa-san, aku yakin aku pernah meneleponmu beberapa waktu yang lalu untuk memberitahumu tentang pembatalan makan siang, tapi ..."
Hirata tersandung pada kata-katanya. Karuizawa dan teman-temannya menarik meja lain, bergabung dengan meja kami sementara Karuizawa dengan cepat mendorongku keluar dari kelompok. Makan siang tiba-tiba menjadi agak berisik dan aku, tentu saja, mengalami masalah bersosialisasi. Tapi aku tidak perlu khawatir. Aku sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Dalam hal ini aku perlu menggunakan keahlian khususki ‘Cepat kabur dari lokasi’
Aku mengambil makanan dan diam-diam pergi. Mataku bertemu dengan Hirata beberapa saat, tapi tak lama kemudian dia dikelilingi oleh Karuizawa dan perempuan lainnya dan aku tidak bisa lagi melihatnya. Aku rasa itu salah satu kerugian membuat terlalu banyak teman. Kau kehilangan waktu yang bisa kau habiskan untuk diri sendiri dengan harus mengorbankannya kepada orang lain. Bahkan jika Hirata memiliki masalah pribadi yang perlu dikonsultasikan dengan seseorang, aku yakin dia tidak dapat meminta saran dari Karuizawa agar dia harus tetap diam di dalam rumah.
*
*
*
Setelah meninggalkan Hirata dan Karuizawa, aku memutuskan untuk kembali ke kamarku karena tidak ada orang yang bisa didatangi atau diajak berbicara. Aku menggunakan tangga bukannya lift untuk kembali
menuruni kapal ke lantai tiga di mana kamarku berada. Ada tetesan air di koridor, aku memperhatikan. Bukan hanya kamarku tapi tetesan-tetesan itu membentang di sepanjang koridor. Aku berjalan di sepanjang tetesan itu, mengikuti mereka dan melihat seorang pria berjalan dengan anggun melewati koridor yang tidak mengenakan apa-apa selain pakaina renang. Seluruh tubuh bagian atasnya telanjang.
"T-tuan, ini masalah bagi kami kalau berjalan di koridor saat kau basah!" Salah satu staf yang melihat situasi darurat, bergegas turun untuk berbicara dengan pria itu. Staf itu sudah membawa handuk di tangannya, seolah-olah dia selalu membawanya untuk situasi seperti ini.
"Ha Ha Ha, sepertinya kau sudah menemukanku" kata orang itu.
"Ya, tuan Ini adalah keempat kalinya aku menemukanmu seperti ini. Aku sudah mengatakannya berkali-kali , tapi tolong keringkan tubuhmu sebelum kembali ke kapal. M-melakukan sesuatu seperti ini akan sangat merepotkan para tamu lainnya" Jadi, inilah alasan kenapa staf sudah menyiapkan handuk terlebih dahulu, dia sudah pernah melihat ini terjadi berkali-kali sebelumnya.
"Aku membuat sebuah prinsip untuk tidak pernah mengeringkan tubuhku" kata Kouenji sementara tetesan air menetes dari sekujur tubuhnya. Tibatiba ia berhenti berjalan.
"Apa kau kebetulan punya pulpen dan kertas?"
"Hah?... uh aku punya buku catatan dan pulpen" Staf tersebut dengan cepat membalasnya tanpa memahami dengan pasti ke mana dia pergi saat ini sambil dengan canggung mengambil pulpen dan buku catatannya
"Apa kau tau kenapa tanda tangan seorang selebriti bisa tiba-tiba memiliki harga premium, kadang bernilai puluhan juta di luar negeri?"
__ADS_1
"Dan ... kenapa?" Begitu selesai menulis sesuatu di buku catatan dengan pulpen, Kouenji dengan cepat menyerahkannya kembali ke staf. Itu sangat jauh sehingga aku tidak bisa melihat dengan benar tapi sepertinya dia telah menuliskan namanya 'Kouenji Rokusuke' di buku catatan.
"A-apa ini?" tanya staf itu dengan lemah lembut.
"Apa ini tidak jelas? Ini adalah tanda tangan. Tanda tangan. Meskipun ditulis dengan buku yang begitu murah, di masa depan pasti akan sangat berharga, aku akan memberikan ini kepadamu sebagai hadiah. Terimalah dengan penuh syukur" Sepertinya Kouenji bukan orang jahat, dia memberi tanda tangan pada stafnya dengan
harapan akan berguna baginya sebagai sarana untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya.
Tapi entah bagaimana aku ragu apa itu akan sangat berguna bagi staf, kemungkinan besar itu hanya membuang-buang kertas dan tinta yang berharga.
"Jangan membuatku terlihat bodoh, aku adalah orang yang akan membawa masa depan Jepang di punggung masa depan. Sebagai ucapan terima kasih telah membantuku, aku akan mengizinkan kau untuk bekerja di sebuah kapal mewah yang jauh lebih besar. Satu yang cukup besar untuk membuat yang satu ini terlihat seperti kapal biasa, "
Secara pribadi aku pikir, aku lebih suka tidak memiliki kapal yang terlalu besar dan mengambil risiko seperti Titanic yang tenggelam. Namun, Kouenji tertawa terbahak-bahak. Staf sepertinya telah kehilangan tekadnya untuk menghentikan pria ini dan hanya menatap lantai yang sekarang basah dengan sedih. Rumor mengatakan bahwa teman sekelasnya secara aktif menghindari Kouenji karena kepribadiannya yang egois ini. Sepertinya beberapa teman sekelasku sendiri sudah mengalami apa yang baru saja dialami oleh staf pria ini.
Aku yakin jika itu Hirata, dia pasti akan memanggil Kouenji bahkan jika dia disingkirkan seperti staf itu sekarang. Tapi pria bernama Kouenji itu seperti racun, dan mereka yang berinteraksi dengan dia, teman atau musuh akan menderita karenanya. Untuk menghindari masalah seperti itu, aku dengan sederhana dan diamdiam melewati mereka berdua.
"Oh, bukankah itu Ayanokoji? Kebetulan sekali"Tanpa diduga mendengar namaku dipanggil seperti itu, aku menoleh ke belakang untuk melihat staf pria itu dengan gembira tersenyum bahwa sasaran keinginan Kouenji telah beralih darinya kepadaku seolah mengatakan bahwa 'aku akhirnya bebas' padaku. Memang, Kouenji sepertinya termasuk dalam spesies asing yang dengan kejam melahap semua spesies asli di sungai.
"Tidak, tidak, tidak, aku hanya memanggilmu sebagai teman sekelas. Bagaimanapun, kau memang kebetulan teman sekamarku" Lalu dia mengusap rambutnya dan hampir seperti senapan, tetesan air terbang dari
rambutnya dan mendarat di wajah dan seragamku. Tentu saja, Kouenji sepertinya begitu senang dalam
dirinya sehingga dia bahkan tidak menyadari keadaan sulitku.
"Kalau begitu, aku permisi" Staf laki-laki yang sebelumnya menyaksikan tontonan ini meluruskan, dengan cepat berkata dan berjalan menjauh, dengan jelas tidak mau terlibat lagi dalam masalah ini. Tentu saja, aku
juga tidak ingin sendirian dengan Kouenji dalam situasi seperti ini.
"Apa yang kau bicarakan dengan Kouenji?" Sejenak, staf pria itu sepertinya sedikit marah karena menolak kesempatan untuk melepaskan diri dari Kouenji tapi dengan patuh menjawabku.
__ADS_1
"Sepertinya dia sedang basah, jadi kupikir dia harus ditemani dengan handuk... tapi sepertinya aku mengganggu kalian berdua, aku permisi"
"Begitu, jadi dia berusaha menjagaku?"
"Y-ya, sepertinya begitu" Aku cepat-cepat memberitahunya sebagai jawaban. Entah bagaimana rasanya aku
berhasil melepaskan diri dari Kouenji dan berhasil kembali ke kamarku.
"Tetap saja, ini sebuah kebetulan. Bertemu dengan Kouenji dalam perjalanan pulang ke sini"
Meski begitu, walau terasa tidak nyaman, Kurasa masih akan terjadi entah bagaimana mengingat kurangnya ruang yang penuh sesak di kapal ini bersamaan. Karena ingin menghindari pertemuan canggung yang lain, aku malah memilih untuk berbelok ke kanan dan bukan ke kiri dan memilih untuk kembali ke kamarku di waktu yang lain. Hirata dan Yukimura yang juga berbagi kamar yang sama denganku, pasti segera kembali.
Aku sudah pergi ke papan pemandu terdekat yang petanya digambarkan dengan jelas untuk menggambarkan berbagai rute pelarian jika terjadi keadaan darurat. Saat aku berjalan dengan santai melewati koridor di lantai dua, sepertinya saat ini tidak banyak murid di sini. Lalu ponsel di sakuku bergetar. Aku mengeluarkannya untuk melihat bahwa aku memiliki pesan. Seorang perempuan sudah menghubungiku. Karena tidak ada yang lebih baik untuk dilakukan, aku memutuskan untuk menerima dan menuju keluar untuk menemuinya.
"Hah ... hah ... hah" Saat aku mendekati perempuan yang mengirimiku pesan itu, Sakura, aku bisa mendengar ******* cemas keluar dari mulutnya.
"Ada apa?"
"Waaah ... A-Ayanokouji-kun?" Sepertinya aku sudah mengejutkan Sakura, karena dia dengan cepat panic dan memanggil namaku dengan suara terkejut.
"Maaf karena mengejutkanmu"
"T-tidak... aku-aku hanya sedikit gugup". Jika dia merasa gugup saat bertemu dengan seorang teman sepertiku, hidupnya pasti sangat sulit, aku pikir.
"Ayanokouji-kun, teman sekamarmu adalah Hirata-kun, Yukimura-kun dan Kouenji-kun ... kan?”
"Ya, ada sesuatu yang penting?" Aku terkejut mendengarnya bertanya hal seperti itu.
"Umm... tentang itu... aku sedikit khawatir dengan orang-orang yang membagi kamarku dengan ..." Dia membungkuk. Sepertinya Sakura tidak akrab dengan teman sekamarnya, karena dia tidak pernah bersosialisasi sejak awal. Dengan melihat ekspresinya yang khawatir, aku bisa memahami keparahan masalahnya.
__ADS_1
Hei......
pd kmn ni