
“.....Ok, Kalau begitu kita harus memasang toilet.” Pada akhirnya pemasangan toilet tersebut disetujui karena Yukimura yang sebelumnya berada di kelompok yang keberatan bersama Ike, dan sekarang sudah menyerah. Horikita, Karuizawa, serta Shinohara dan sisanya menjadi sedikit lega.
“Sensei, jika kami menginginkan toilet sementara, bisakah menentukan lokasi pemasangan dengan detail?”
“Jika berada dilokasi yang memungkinkan maka dimanapun tidak akan masalah, kau juga bisa mentransfer ulang kembali sete;ah pemasangan, tapi hal ini akan memakan banyak waktu, beratnya lebih dari 100 kilo. Cukup mengeluarkan sedikit tenaga.” Hirata mendesah lega karena satu masalah sudah terpecahkan.
“Yang berikutnya adalah..... kami sudah pernah mendengat pendapat sebelumnya, tapi aku pikir kita juga harus keliling untuk menentukan lokasi berkemah. Konsumsi poin sangat bergantung kepada tempat kita tinggal.”
Jawaban Hirata bukan karena ketidaksabaran, tapi untuk mencegah reaksi balik dari teman sekelasnya. Segera kami merekrut relawan, tetapi kami pikir tidak lebih dari dua orang yang berkumpul. Tidak banyak orang yang bisa masuk kedalam hutan seperti ini. Ini bisa dimengerti.
“Aku ingin tahu apakah ada seseorang diantara kita yang sudah terbiasa dengan berkemah?”
Hirata bertanya sambil menatap dengan secercah harapan. Seperti didalam manga, pada saat seperti ini hanya ada satu orang yang bisa kau andalkan. Dia melihat kebelakang memeriksa teman-teman sekelasnya, namun tidak ada yang menunjukkan sikap maju kedepan. Lalu, hakase yang diam sampai sekarang tiba-tiba mengangkat tangannya.
“Kami merindukkan karakter utama yang didorong oleh keterampilan bertahan hidup oleh ayahnya dan dilatih untuk bertahan sendirian bahkan didalam hutan sejak kecil.” Seketika itu hakase yang mengkritik, gelisah meminta maaf, tetapi dia masih dibenci oleh semua orang.
“Emmm... aku akan pergi jika itu tidak masalah.”
Kushida yang secara sukarela memberikan bantuan jika tidak ada yang mau berpartisipasi. Melihat penampilannya, anak laki-laki yang terus terang menolak { ikut serta } membuat mata mereka bersinar dan mulai menunjukkan niat berpartisipasi mereka untuk menjadi sukarelawan. Aku pikir ada murid yang termotivasi dengan berpihak kepada Kushida dan juga murid yang merasa malu membiarkan perempuan tersebut berinisiatif. Aku juga sedikit mengangkat tanganku. Kira-kira bersaman sat Hirata mulai menghitung jumlah orang.
“Sebelas, kila ada satu orang lagi, kita bisa membuat empat kelompok.”
“Apa kau akan pergi juga?”
“Aku harus menolaknya, tapi tidak biasanya melihatmu bersukarela dengan begitu yakin.”
“Jika kau tidak memiliki peran karena alasan tertentu, kau akan terputus dari kelas.” Kemudian..... Tangan yang diam disebelahku dinaikan. Ketika Hirata melihat tangan itu, dia meresponnya dengan lega.
“Terima kasih, Sakura-san. Kita berdua belas sekarang, ayo kita membentuk 4 kelompok dengan masing-masing 3 orang. Sekarang pukul 1.30, jadi aku ingin kalian kembali kesini saat dijam 03.00 tanpa mempedulikkan hasilnya.” Kemudian setiap orang boleh bergabung dengan kelompok yang mereka
sukai. Dalam sekejap, mataku menjadi kosong disini.
“Hei, ngomong-ngomong, Ayanokouji-kun.” Kata Sakura yang juga blank karena tidak ada yang memanggilnya, dan.....
“Sinar matahari ini menyegarkan. Tubuhku butuh energi.”
Koenji Rokusuke. Orang ini benar-benar akan bekerja sama dengan kelompok pencarian kami. Aku beruntung, bersama anaka yang bebas dan gadis yang pendiam. Dengan kedua hal tersebut tidak akan ada kesulitan.
__ADS_1
*
*
*
Begitu kami melangkah kedalam hutan, kami dikejutkan oleh tanaman yang subur dan lebat disekitar kami. Jauh lebih baik jika kami menghindari sinar matahari langsung yang menyerang kami dipantai, tapi tetap
saja, kelembapan dan kepengapan membuat panas yang tidak tertahankan.
Tiba-tiba, aku merasakan segumpal kesejukkan dibelakang leherku, seperti kipas yang menerpa...... Aku merasa bahwa misi ini akan gagal. Panas, panas dan saat aku memikirkannya, udaranya menjadi semakin gerah. Aku harus berbicara dengan seseorang disini untuk mengalihkan pikiranku, bahkan
jika itu sedikit saja.
“Hei, koenji!”
“Ah! Indah! Bisa berjalan dengan tenang dikelilingi alam! Ini sempurna.. keindahan yang mewah!” tidak ada harapan. Sekarang aku tidak bisa berbicara dengannya. Sebenarnya, tidak ada seorangpun disekitar sini yang
bisa aku ajak bicara.
“Eh? .....” Aku pikir aku hanya mendengar secuil suara dibelakangku saat sakura melompat kesampingku.
“Ketika kelompok mengatakan bahwa mereka membutuhkan satu anggota lagi dan aku mengangkat tanganku.... Kau mungkin berpikir jika aku belum siap untuk melakukannya.”
“Aku sama sekali tidak memikirkan apapun, sungguh sama sekali tidak... Kenapa kau mengungkit hal ini? Sekarang, entah bagaimana ini membingungkan.” Sakura adalah karakter yang jinak, namun entah kenapa
sepertinya dia tidak mundur dari pembicaraan ini.
Ketika kami mulai menganggap ini sebagai perjalanan sekolah, dia terlihat sedikit pasif. Aku pikir Sakura aka menjauh, namun meski rasa malu itu terlihat jelas, kami terus berjalan berdampingan.
Berjalan dari pantai menuju hutan, dengan kata lain, bergerak menuju bagian dalam pulau, tiba-tiba menghabiskan banyak stamina kami. Ini buka rute yang sederhana dan nyaman, bahkan akan menjadi lebih buruk dan jengkel didalam perjalanan. Seolah-olah sedang berjalan di jalanan berbukit dan berkelok yang panjang.
“Jadi, kenapa kau mengangkat tanganmu dan berpartisipasi dalam penelusuran hutan yang menyusahkan?”
“Ya ... karena ada banyak orang diperkemahan, aku merasa tidak nyaman.”
“Aku benar-benar tidak mengerti perasaanmu, bahkan jika hanya ada sedikit orang, tetap saja itu tidak menyenangkan.” Sekarang, sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk berbicara dengan seeorang, bahkan
__ADS_1
jika aku menjadi sedikit menjengkelkan.
“Tapi .... Ayanokouji, kau juga mengangkat tanganmu.” Sakura mengangkat kepalanya dan membuat wajah bahagia, lalu terlihat sedikit bingung, memberi isyarat dengan tangannya dan mengelak dengan suara yang keras.
“Bukan seperti itu ... Bukan begitu, hanya saja tidak banyak orang yang bisa aku ajak bicara, Itulah yang aku maksudkan.” Sakura terus menyangkal dengan semangat sambil berjalan tergesa-gesa saat....
“Hei!! .... Hati-hati!”
“Au ...” Saat dia berbicara denganku sambil melihat kebelakang dan kedepan, kakinya tersandung akar dari sebatang pohon besar hingga menyebabkan dia jatuh ke belakang. Dengan tergesa-gesa aku mengulurkan
tanganku untuk meraihnya, meskipun akhirnya aku tidak sempat.
“Apa kau baik-baik saja?”
“Em .... Mungkin sedikit sakit.” Syukurlah, dia mendarat dengan tangannya sedikit di bawahnya. Hal yang ceroboh namun bukan sesuatu yang serius.
“Jika kau tidak berjalan dengan hati-hati dihutan ini, kau mungkin akan terluka. Sekarang, pegang tanganku.”
“Terima kasih.” Tanpa menolak, Sakura mengangkat tangannya tapi kemudian dia menyadari bahwa tangannya kotor karena kejatuhannya, dia menariknya kembali. Dengan mengabaikan ini, aku meraih
tangannya dan memegangnya dengan lembut.
“Aku ... Aku minta maaf.”
“Kau tidak perlu meminta maaf dengan sesuatu yang seperti ini.” Dengan hati-hati aku menepis tanah dari tangan Sakura.
Ngomong-ngomong dihutan ini, sepertinya ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang menginjakkan kakinya ditempat ini. Pada awalnya aku pikir kami memiliki level petunjuk berjalan didalam hutan. Tapi,
sekarang aku merasa seperti ini tebakan yang salah.
Yang penting dan terutama, kami tidak bisa selalu berjalan lurus. Kami harus mendaki untuk mengatasi hambatan dialam. Itu artinya, mengikuti rute yang diharuskan itu tidak berubah meski kami berjalan
ke kiri atau ke kanan.
Situasi ini berlanjut selama beberapa menit lagi, aku merasa seperti melupakan diriku sendiri, rute mana yang harus ditempuh? Penuntun itu terus melangkah maju sampai ke tingkat tertentu sehingga aku hampir tidak bisa melihta Koenji lagi.
Bersambung lagi........^^"
__ADS_1