
Ku mendengar itu dari sisi lain pintu.
"Meskipun kita berada di asrama sekarang, itu berbahaya." kataku.
"Jangan khawatir, meski ada orang yang mencurigakan yang masuk sekarang, kekuatan pemusnah di tangan kananku akan lebih dari cukup"
Apa arti kalimat itu? Sambil memikirkannya, aku masuk ke dalam ruangan. Lalu aku berjalan memasuki ruangan. Horikita memunggungiku dan aku tidak bisa melihat ekspresinya, tapi aku tidak bisa melihat perubahan tertentu tentang dirinya. Bagian dalam ruangan juga sederhana dan aku tidak bisa melihat tempat tertentu yang bisa dianggap aneh.
"Aku sudah di sini, ada masalah apa?"
"Jika kau melihat, kau akan mengerti" Setelah mengatakan itu, Horikita perlahan berdiri dan berbalik menghadapku. Dan kemudian, pada saat itu, rasa perasaan yang tidak mampu dimengerti sekaligus mencoba memahami emosi, secara bersamaan meledak keluar dari dalam diriku.
"Aku mengerti... jadi seperti itu?"
"benar" Aku melirikinya sambil mencoba memahami ujung lengan kanannya. Dan di sana aku melihat sebuah botol air kecil yang digunakan oleh anak perempuan sudah menelan tangannya.
.
.
"Bagaimana caraku menanggapinya... ini adalah kecelakaan yang sama sekali tidak seperti dirimu. Jangan bilang kalau kau sedang bermain dengan itu?"
"Jangan bodoh"
"Tidak, maksudku itu mungkin saja, kan? Rasanya seperti memegang jagung bakar di antara tanganmu dan memakannya, kan?" Mungkin kalimat itu adalah sesuatu yang membuat dia kesal, saat dia mengayunkan lengan kanannya ke sekeliling dengan ekspresi tajam.
“I-itu lawakan"
"Tidak ada gunanya melawak kalau tidak lucu. Milikmu itu garing, itu gagal" jawab Horikita.
"Itu bukan karena lawakanku yang garing, itu karena aku mengejekmu, kan?"
"Ini terjadi karena aku mencucinya, apa kau bisa mengerti?" Jadi seperti itulah ceritanya. Aku meraih ujung botol air dan menariknya. Tapi ketika aku melakukannya, Horikita sendiri malah ikut tertarik bersamaan dengan itu.
"Sudah cukup sial kalau kau tidak bisa melepaskannya dari dirimu sendiri. Berusahalah" Jika tubuhnya ditarik bersama dengan botolnya, maka aku tidak akan bisa melepas apa yang biasanya bisa terlepas.
"Aku sudah mengerti hal seperti itu. Hanya saja, aku sudah cukup lelah, jadi tolong lakukan dengan cepat.”
Sepertinya setelah sempat berjuang lebih dari dua jam, Horikita sudah mulai kelelahan. Aku mencengkeram botol air lagi. Lalu aku menambahkan kekuatan lagi padanya dan menariknya. Horikita juga mengalami rasa sakit saat ia melangkah mundur pada saat bersamaan. Tapi sepertinya dia sudah terbiasa dengan hal ini sejak dia tidak menunjukkan tanda-tanda perasaan bahwa lengannya akan terlepas.
"Tidak ada gunanya, ini mungkin tidak akan terlepas"
"Aku mengerti, sudahku duga..." Sepertinya dia sudah menduga botol airnya tidak akan lepas saat Horikita tidak menunjukkan tanda-tanda kekecewaan yang besar.
"Sepertinya kita perlu menggosoknya dengan sabun dan perlahan melepasnya. Cepat ke dapur”
"Tapi itu hanya akan melanjutkan kecelakaan ini. Bukankah kau pernah diberitahu bahwa sekarang ada perbaikan saluran air?" Kata Horikita. Itu benar. Kami tidak akan bisa menggunakan air sampai pukul 1 2 di asrama. Satu-satunya air yang bisa digunakan saat ini adalah air di toilet, tapi aku ragu Horikita tidak keberatan menggunakannya.
"Aku akan pergi ke kafetaria sebentar" Tidak ada jalan lain kecuali ini. Jika aku bisa mendapatkan sedikit air, ada kemungkinan untuk melepaskannya. Dengan cepat meninggalkan ruangan, aku menuju kafetaria. Tapi begitu sampai di sana, aku diserang kejadian tak terduga.
"Aku minta maaf tapi lebih banyak murid yang datang dari perkiraan dan kami kehabisan air" Wanita tua di kafetaria meminta maaf dengan nada menyesal. Sepertinya para murid yang membutuhkan air untuk makan malam mereka sudah mengambil semuanya.
"Aku mengerti, aku akan membeli beberapa di mesin penjual otomatis"
__ADS_1
"Mohon maaf"
.
Untuk menarik keluar lengan dari botol air, air yang banyak seharusnya tidak diperlukan. Kira-kira dua gelas air itu sudah cukup. Berpikir seperti itu, aku menuju mesin penjual otomatis yang terpasang di dekat kafetaria. Tapi sepertinya kesialan cenderung tumpang tindih. Semua air, teh, jus dan sejenisnya di mesin penjual otomatis semuanya sudah habis terjual.
"... ini pertama kalinya aku melihat mesin penjual otomatis sudah kosong..."
***
"Jadi, kau kembali tanpa membawa apapun?" Perempuan botol air itu memelototiku, tapi mau bagaimana lagi karena tidak ada yang bisa aku lakukan.
"Aku mau membawa beberapa dari kamarku tapi aku sudah menghabiskan semua airku" Dan juga, tidak bisa dijelaskan selain sebuah tragedi yang dibawa dari arus kesialan ini.
"Jadi apa yang akan kita lakukan?"
"Jika kau tidak masalah, kita bisa meminta Ike atau Sudou untuk berbagi air dengan kita?"
"Aku keberatan" Aku sudah menduga jawaban semacam ini jadi aku sudah pernah membayangkannya sebelum bertanya, tapi seperti yang diharapkan.
"Jika kau merasa tidak nyaman dengan pinjaman dari mereka, aku bisa berbohong dan mengatakan kepada mereka bahwa aku adalah orang yang membutuhkannya" kataku.
.
“Bukan seperti itu, aku menolak menggunakan air dari mereka, tidak ada yang tahu apa yang mereka masukkan ke sana ....."
Dia menganggap mereka hampir seperti bakteri. Sudah pasti seperti itu... ini merupakan apa yang ingin aku katakan, tapi aku tidak memiliki kepercayaan diri untuk membuat pernyataan seperti itu. Orang-orang itu, mereka memiliki kebiasaan meninggalkan air minum atau teh begitu aja.
Jika Horikita meminta mereka untuk menyerahkannya, mereka mungkin akan memberi air bersih yang mereka punya, tapi jika aku yang mengatakan kepada mereka bahwa aku menginginkan air, tergantung situasinya, mereka mungkin akan mengembalikan sesuatu dari jenis itu. Tidak ada yang lebih mengerikan dari pada kejahatan tanpa niat buruk.
"Ya, tolong teruskan meski ini membuatku sakit" Horikita memberiku lengan kanannya seolah dia sudah menyiapkan tekadnya. Sepertinya dia ingin terbebas dari ini secepat mungkin. Aku bisa melihat sedikit keringat terbentuk di lengannya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mencobanya sedikit demi sedikit"
aku juga ingin membebaskan Horikita secepat mungkin dan kembali ke kamarku. Berpikir untuk menahan sikap konyol sejenak, aku menarik botol airnya. Kemudian aku menggunakan kekuatan dua kali lebih besar dari sebelumnya untuk menarik botol ini, tapi itu hanya membuat Horikita membuat ekspresi kesakitan. Meski begitu, Horikita tidak memberikan keluhan dari rasa sakit. Namun, botol airnya, seolah mengisap lengannya, tidak mau lepas.
"Astaga. Sudahku duga, kita membutuhkan air" Aku harus membuatnya licin dulu sebelum menariknya keluar. Jika masih belum ada air setelah itu, mungkin harus menelepon layanan darurat.
"Kau menyuruhku menunggu sampai pukul 1 2? Dalam keadaan seperti ini?"
.
"Jika masih ada seseorang yang bisa kita andalkan dari antara kontakku, laki-laki yang tersisa hanyalah Hirata" kataku padanya.
"Kalau itu dia, tidak ada yang mencurigakan dengan kualitas air tapi... aku lebih suka tidak berhutang kepadanya"
"Bahkan jika kau bilang hutang, di depanku ini adalah orang yang membutuhkan air. Seharusnya kau tidak keberatan”
"... itu memang benar" Sepertinya dia masih merasa tidak puas, tapi dia terlihat menerima bahwa sebuah pengorbanan harus dilakukan untuk menghindari situasi mendesak ini dan menerima rencanaku.
"Kalau begitu aku akan segera menghubungi dia" Aku mencoba menelepon Hirata. Bahkan saat ini, kesialan terlihat tumpang tindih. Tidak peduli berapa kali aku menelepon, Hirata tidak menunjukkan tanda-tanda akan menjawab. Selain itu, bahkan ketika aku mencoba mengiriminya pesan, pesan itu tidak dibaca.
"Dia tidak menyadarinya, mungkin dia sudah tidur. Bagaimanapun, tidak ada respon"
__ADS_1
“Aku mengerti, perasaan senang dan kesedihan, keduanya saling campur aduk, membingungkan dan membuat semuanya menjadi rumit untukku" kata Horikita.
"Kalau begitu berikutnya, tidak ada pilihan selain mengandalkan Kushida atau Sakura"
"Kalau begitu, tolong tanya kepada Sakura-san” Seakan mengatakan bahwa Kushida sangat tidak mungkin, dia langsung membalasku.
.
"Apa kau masih memiliki hubungan yang buruk dengan Kushida?" Tanyaku padanya
"Kami tidak perlu berteman, dan selain itu, masih banyak tindakannya yang masih belum aku mengerti"
"Apa maksudmu kau tidak mengerti?"
"..... ujian di kapal pesiar. Dia memegang kemenangan sejak awal, tapi malah menginginkan imbang" Mengingat ujian khusus dari beberapa waktu ke belakang, Horikita menyilangkan tangannya. Sayangnya botol air yang menempel di lengannya membuatnya terlihat tidak keren dan karena itu rasa dari pernyataannya menjadi kurang.
"Secara alami dia adalah seorang yang menentang pertentangan. Dia mungkin akan memilih hasil di mana semua orang bahagia"
"Aku sama sekali tidak berniat untuk menolak hasil keseluruhannya, bagaimanapun jika ‘target’ itu adalah dirinya sendiri, itu sudah keluar dari akar permasalahan" Dia mulai berbicara dengan tajam. Ujian yang berlangsung di kapal memisahkan murid menjadi 1 2 kelompok dalam sebuah permainan untuk menemukan "target". Ada empat kemungkinan hasil dan di antaranya, hasil 1 adalah hasil tersulit untuk dicapai dimana identitas "target" diketahui setiap orang belum diselesaikan tanpa ada orang yang mengkhianati kelompok tersebut. Sebagai gantinya, bayaran itu sendiri cukup besar dimana seluruh kelompok menerima 1 .000.000 poin tanpa dibagi-bagi. Satu-satunya kekurangan untuk hasil ini adalah, kelas yang memiliki "target" tidak mendapatkan poin apa pun. Karena kelas-kelas lain sama-sama mendapatkan bayaran, perbedaan di antara keduanya tidak berubah. Dia tidak memanfaatkan posisi istimewa dari "target" tersebut. Itulah yang Horikita tidak puas.
"Situasi itu sangat disukai Kelas D. dengan kata lain, identitas ‘target’ yang mutlak harus tersembunyi, hingga seharusnya masih tetap tersembunyi. Namun, semua orang akhirnya mengetahui bahwa Kushida-san adalah ‘target’ . Pikirkanlah, dia sendiri pun terlibat " Dengan kata lain, Horikita mencoba mengatakan bahwa Kushida, dengan melakukan sesuatu, akhirnya menghasilkan hasil 1 .
"Itu hanya pemikiranmu, kan?"
"Itu benar, tapi kemungkinan itu sangat tinggi, aku menganggap dia sudah bersalah"
Horikita menambahkan lebih banyak kekuatan pada kata-katanya. Bukan berarti aku tidak mengerti bagaimana perasaannya, tapi botol air yang menempel di lengannya membuat dia tidak terlihat keren. Hanya saja, aku harus mengoreksi sedikit pemikiran Horikita di sini. Dia masih di tahap prematur.
"Aku bisa mengerti apa yang kau rasakan, tapi itu tidak baik, bukan?"
"Maksudmu aku berbicara tanpa bukti bahwa dia mengkhianati kita?"
“Bukan seperti itu, maksudku itu semua adalah tanggung jawabmu, aku hanya akan menganggap bahwa Kushida memang mengkhianati kita. Sebenarnya, jika kita berasumsi seandainya itu adalah kenyataannya maka kesalahannya terletak pada dirimu karena membiarkan dia mengkhianati kita. Jika Kushida mengkhianatimu, Kau harus menang dengan segala cara. Apa aku salah? " Tanyaku padanya.
Dia memahaminya dengan jelas, namun sebagai tanggapan atas pertanyaan sulit ini, dia melawannya dengan jawaban yang benar. Horikita, melawan serangan yang tidak masuk akal ini, membuat dia keberatan.
"Jangan bersikap tidak masuk akal, apa kau mengerti betapa tidak realistisnya itu?"
"Tidak realistis? aku tidak berpikir begitu. Aku akan mengulanginya lagi, jika Kushida memang mengkhianati kita dan membimbing kelompok tersebut untuk menghasilkan hasil 1 itu adalah hal yang menakjubkan, ini adalah wilayah yang tidak bisa kau selesaikan dengan setengah hati. Dengan kata lain, dalam ujian sebelumnya, kau benar-benar tersingkir oleh Kushida, dengan perbedaan antara kemampuanmu dan kemampuannya "
Tentu saja pernyataanku ini menganggap bahwa Kushida memang mengkhianati kami, jika ini salah, pernyataan itu tidak akan benar apa adanya. Ryuuen atau Katsuragi. Aku tidak tahu yang mana tapi dengan kekuatan yang lebih kuat, sebuah hasil yang memaksa setiap orang dari kelompok (Naga) dengan patuh sudah didapatkan. Bahkan dalam masalah itu, fakta bahwa Horikita sudah diakali tidak berubah.
“Kau memiliki ‘target’ di kelasmu dan kau begitu yakin akan kemenanganmu sehingga kau tidak melakukan tindakan yang lebih jauh. Jika seperti itu, tanggung jawab untuk itu ada pada orang-orang di kelompok yang sama. Jika kau membidik Kelas A, kau harus bisa memperbaiki setidaknya hal itu "kataku pada Horikita.
"..... Kau membicarakan beberapa hal yang sulit"
"Aku mengerti perasaan frustrasimu, tapi meski begitu, inilah jalan yang kau pilih, dan selain itu, kau sudah dewasa bahkan lebih dari sebelumnya. Jika aku mengatakan hal yang sama kepadamu saat pertama kali bertemu denganmu, kau sama sekali tidak akan mendengarkanku "lanjutku.
Itu benar. Perlahan tapi pasti, pola pikir Horikita perlahan mulai berkembang menjadi dewasa. Tidak seperti saat pertama kali bertemu, dia menjadi perempuan yang tidak menolak semuanya.
"Aku sudah mengerti, aku akan menerima hasil ujiannya. Aku akui bahwa aku terlalu optimis, tapi yang terpenting, membebaskan lengan ini" Itu benar, Ini terlihat seperti situasi di mana beberapa profesor di suatu tempat akan mengatakannya sambil mengangguk.
"Aku akan mencoba sedikit mengandalkan Sakura" kataku.
__ADS_1
Sambung....