Classroom Of The Elite 2nd Year - Full Volume

Classroom Of The Elite 2nd Year - Full Volume
Chapter 3


__ADS_3

Jadi dia tidak ingin Karuizawa sedih, ya?


Jika dia tahu apa yang sebenarnya yang akan aku lakukan kepada Karuizawa, aku yakin Hirata akan marah kepadaku, tetapi selama aku tidak mengalami sebuah masalah, aku rasa itu akan baik-baik saja.


Dengan demikian, bahkan jika dia sedang beristirahat di sini sekarang, selama dia tidak menyadari apapun setelah kejadian, itu tidak akan menjadi masalah. Dengan menggunakan contoh yang ekstrem; bahkan jika kau melakukan pembunuhan, selama bukti yang ada tidak mencukupi, kau akan aman. Kemudian dengan cepat aku melewati teks yang aku tulis beberapa saat yang lalu dan mengirimkannya. Isinya adalah,


"Hei, apa kau punya waktu?" Kalimat singkat seperti itu.


Sebagai aturan yang umum, aplikasi chat yang aku gunakan hanya bisa digunakan satu akun per-ponsel. Tetapi ada sedikit celah dalam peraturan tersebut. Dengan menciptakan akun jejaring sosial utama yang baru, kau bisa membuat akun lain untukmu sendiri. Tentu saja, umumnya tidak ada murid yang membagi dirinya di antara akun utama dan sub akun karena tidak ada banyak keuntungan jika beralih di antara akun tersebut. Tetapi dengan melakukan hal ini, aku bisa menghubungi pihak ketiga tanpa identitasku.


Aku harus melanjutkannya dengan hati-hati dari sini. Selama aku tidak melakukan kesalahan dalam proses ini, semuanya akan berjalan dengan sempurna. Meski pesannya berasal dari pengirim anonim, Manabe dengan cepat membalasnya.


"Siapa kau?" Tentu saja Manabe tidak mengenal si pengirim, menjawab pertanyaan tersebut,


"Apa ada orang di sekitarmu saat ini?" Aku membalas.


"Tidak, aku sendirian ... siapa dirimu?"


"Jangan tunjukkan chat ini kepada siapapun, ini hanya untukmu"


"Aku bilang, Kau ini siapa?"


"Aku adalah orang sama sepertimu. Kita membenci orang yang sama, katakan saja seperti itu” Meski tanda 'baca' dengan cepat muncul, Manabe meluangkan waktunya untuk membalas. Mungkin dia masih belum mengerti maksud dari kalimat tersebut.


“Apa kau sudah salah orang?"


"Aku tidak membuat kesalahan, Manabe-san, aku menghubungimu untuk memberitahumu tentang Karuizawa-san yang sangat kau benci. Aku pikir aku bisa berkonsultasi denganmu mengenai situasi ini, Manabe-san"


"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, tolong berhenti mengirimkanku pesan" Dia terlihat berhati-hati, tidak mengerti apakah aku ini musuh atau bukan. Reaksi yang wajar. Aku harus mengatasi kesalahpahaman ini terlebih dahulu.


"Sebenarnya, sebagai teman sekelasnya, aku sudah menyimpan dendam terhadap Karuizawa-san selama ini. Karena itulah aku pikir kita bisa bekerja sama dan membalas dendam padanya. Karena aku adalah teman sekelasnya, sangat sulit untuku membalaskan dendamku kepada Karuizawa-san secara langsung karena itulah aku ingin bekerja sama denganmu"


"Aku tidak tahu apa yang sedang aku bicarakan, aku akan mengabaikanmu saat ini juga"


Meskipun dia mewaspadaiku, kenyataannya dia masih belum memutuskan hubungannya denganku adalah bukti betapa dia sangat membenci Karuizawa. Sudah pasti ini berasal dari keinginannya untuk membalaskan dendam temannya, Rika dan juga kebenciannya terhadap Karuizawa. Dengan mudah aku bisa membuat kesimpulan dari fakta tersebut bahwa Manabe menggunakan kekerasan untuk membawa Karuizawa ke tangga darurat.


"Rika-chanmasih takut kepada Karuizawa-san, apa kau mau tidak membantunya sebagai teman? Wajah balas dendammu sangat kelihatan, kau tahu? Tapi sebenarnya, kau tidak bisa melakukannya meski kau mau. Karena setelah kejadian kemarin, Karuizawa-san menjadi waspada. Aku yakin dia tidak akan pergi dari sisi Hirata-kun atau Machida-kun untuk sementara waktu dan dia akan selalu bersama dengan teman wanitanya sehingga dia bisa menang dengan sendirinya"


"Aku tidak butuh bantuanmu, aku hanya harus membawa Rika agar bisa bertemu dengan Karuizawa-san. Kebenarannya akan terungkap"


"Aku ingin tahu apakah itu hal yang mudah, aku tidak berpikir dia akan dengan mudah mengakui kesalahannya. Sebaliknya, itu akan menyulitkan Rika-chan jika Karuizawa-san menggunakan kata-kata tak berperasaan. Dia akan berakhir dengan melukai Rika-chan lebih jauh, tidak, bukan hanya itu saja, jika dia menyimpan dendam, dia mungkin malah akan menggertak Rika-chan lebih jauh lagi"


"... lalu apa yang harus aku lakukan? Apa kau ingin mengatakan jika ada jalan lain?" Keinginan Manabe untuk menyelesaikan ini dengan menggunakan sebuah konflik dari kedua belah pihak yang berikutnya menjadi jelas.


"Itu dia, kau dan aku, kita bisa bekerja sama untuk memastikan kita bisa membalas dendam kepadanya di tempat yang aman,"


"Dan jaminannya? kau terlihat seperti hanya berencana menjualku kepada sekolah. Lagipula akun ini berbau seperti sub akun”


"Jika aku benar-benar menjualmu, jangan ragu untuk menunjukkan chat ini kepada para guru, Manabe-san. Akun ini sudah terdaftar di telepon sekolah. Dengan kata lain, aku mempertaruhkan identitasku untuk membalas dendam kepada Karuizawa. Dengan begitu, akulah yang paling bertanggung jawab disini, bukankah begitu?”


Aku yakin Manabe juga memahami hal ini dengan baik. Sekalipun ini adalah sub akun, begitu kau menganalisisnya secara menyeluruh, identitas seseorang di belakangnya bisa terungkap. Jika itu terjadi, aku sebagai orang yang mendalangi rencana pembalasan ini, akan menanggung hampir semua tanggung jawab dan pasti akan dihukum dengan berat.


"Kalau begitu jika aku menunjukkan chat ini ke sekolah sekarang, apa yang akan kau lakukan? Itu adalah akhir untukmu"


"Karena aku yakin Manabe-san bukanlah tipe orang yang melakukan hal seperti itu, aku harus percaya agar bisa dipercayai"


"Aku mengerti apa yang ingin kau katakan, kurang lebih, setidaknya aku akan mendengarmu" Setelah itu aku mengulangi cerita yang sama kepadanya berkali-kali.

__ADS_1


Tentang betapa aku membenci Karuizawa. Tentang bagaimana aku ingin balas dendam kepadanya namun belum bisa karena merupakan seseorang yang berada dalam posisi yang lemah. Dan bagaimana aku mendengar Manabe dan teman-temannya bertengkar dengan Karuizawa. Aku sangat memastikan untuk berperan sebagai korban.


"Begitu kita kembali ke darat, kontak dengan Karuizawa pasti akan menjadi sulit. Karena asrama sekolah ditebari dengan kamera pengintai, meskipun kau mencoba membawanya ke wilayah pribadi, akan ada mata yang mengawasimu. Tempat ini, medan perang yang tidak memiliki jalan keluar akan menjadi tempat yang sempurna untukmu." Hal ini akan memastikan Manabe dan yang lainnya menyadari tempat ini, hanya di kapal ini, tempat untuk mereka bisa membalas dendam mereka.


"Jadi ... usulan apa yang bisa kau lakukan?" Manabe yang akhirnya berhasil terjebak oleh rencanaku, akhirnya mulai mengajukan pertanyaan.


"Aku bisa menghubungi Karuizawa-san, setelah itu, kau bisa meluangkan waktu untuk berbicara dengannya dan menyelesaikan masalah" Dan dengan begitu, melalui chat, aku mengirimkannya peta ke lantai bawah kapal.


"Karena panggilan ponsel tidak bisa masuk di sana, dia juga tidak bisa meminta bantuan dan tidak ada yang akan pergi ke sana"


"Aku mengerti... jadi kau bisa menghubungi Karuizawa-san sebagai teman sekelas?"


"Aku ingin kau memutuskan sekarang. Apa mau bekerja sama dengan rencanaku atau tidak? Setelah aku menelponnya, kau bisa memutuskan apakah kau ingin membalas dendammu atau tidak. Apa kau tidak masalah dengan itu?"


Setelah itu, untuk waktu yang lama, meski ada tanda 'baca' yang muncul. Tidak ada jawaban yang datang dari Manabe. Kemudian, begitu jawabannya datang, aku yakin aku akan berhasil. Jika rencanaku untuk meyakinkannya melalui chat gagal, aku sudah menyiapkan rencana lain di mana aku harus muncul di depan Manabe sendiri melalui kontak langsung.


Tentu saja itu berbahaya. Karena aku sudah mengambil beberapa foto Karuizawa yang diancam di tangga darurat, aku bisa memerasnya untuk mengikuti rencanaku. Tetapi risikonya juga besar karena aku ingin menghindari keberadaanku berdiri.


"Sekarang, biarkan aku melihat apa yang bisa kau lakukan, Manabe"


***


Terkadang, suara besi yang tergeser dengan keras bergema di lantai yang gelap. Mungkin hal tersebut bisa terjadi kapan pun kapal merubah haluan atau mungkin itu karena kapal sudah menabrak sesuatu. Meskipun begitu, tempat di mana hanya suara mesin yang bisa terdengar, perempuan tersebut datang sendirian.


"Ada apa ini? Aku tidak bisa mengakses ponsel" gumamnya. Masih ada sepuluh menit lagi sebelum waktu yang dijanjikan. Mungkin dia datang lebih cepat supaya bisa menenangkan diri sebelum menemui Hirata.


Setelah menyadari bahwa ponsel akan tidak berguna, Karuizawa mengantonginya lagi dengan ekspresi bosan dan bersandar di dinding. Dan seiring berjalannya waktu, kesimpulan apa yang dia dapatkan dari ini? Tetapi apa pun itu, sayangnya, Hirata tidak akan pernah menemuinya. Saat jam menunjukan waktu 4 sore, satu-satunya pintu yang ada di lantai tersebut terbuka dengan bunyi yang keras. Orang-orang yang muncul adalah tiga kelompok perempuan dari Kelas C, para perempuan yang dipimpin oleh Manabe. Dan satu lagi, seorang gadis yang memiliki aura yang mirip dengan Sakura. Mungkin perempuan tersebut bernama Rika.


“Itu benar” Teriak Manabe saat ia melangkah ke ruangan dan dengan cepat, dia menemukan sosok Karuizawa. Tentu saja, Karuizawa juga melihat mereka.


"Aku baru saja melihatmu memasuki tempat ini, yah, ini saat yang tepat, jadi aku ingin mengenalkanmu. Perempuan ini adalah Rika, Karuizawa-san, apa kau mengingat dia?" Tanya Manabe.


Dia kemudian menarik Rika yang bersembunyi di belakangnya ke depan dan mereka berdua bertatap muka. Karuizawa mengalihkan pandangannya dan berpura-pura tidak tahu, tetapi dari tingkah lakunya, jelas dia memang mengingat orang itu.


"Hei Rika, orang yang mendorongmu sebelumnya adalah Karuizawa-san, kan?"


"Ya... dia orangnya"


Setelah mendengar jawabannya, Manabe tersenyum senang dari lubuk hatinya. Di sisi lain, Karuizawa yang menyadari situasi yang berbahaya mulai menjadi cemas dan gugup. Yang perlu aku lakukan sekarang adalah menyaksikan kejadian menyedihkan yang akan segera terungkap di sini. Bahkan jika Karuizawa menghadapi siksaan yang lebih parah dari yang diperkirakan di sini, aku sama sekali tidak berniat menyelamatkannya di tengah jalan.


"Minta maaflah kepada Rika"


"Hah, siapa yang mau minta maaf? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun"


"bertingkah keras di dalam situasi seperti ini, itu sangat mengesankan, tapi kurang lebih aku mengerti"


"...... apa yang kau mengertikan?"


"Sikap yang aneh dan ketakutan. Karuizawa-san, kau adalah korban dari bullying, bukan?"


"...." Fakta bahwa dia sangat berusaha untuk menyembunyikannya diketahui oleh orang yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.


"Aku benar, bukan? Aku tahu itu, aku memiliki perasaan seperti itu tentangmu sejak awal"


"I-itu tidak benar ..." Itu merupakan penyangkalan yang mengerikan, tetapi bahkan untuk actor yang terbaik, dia tidak akan bisa meyakinkan mereka.


Bukan berarti Manabe memiliki mata yang bagus untuk mengamati hal-hal seperti itu, tetapi karena sebelumnya aku sudah menceritakan kepada Manabe semua hal tentangnya. Karuizawa sudah diganggu dengan sangat mengerikan sejak kecil dan dia mengalami trauma serius dari hal tersebut. Tidak ada gunanya menyangkal hal ini kepada seseorang yang sudah mengetahui kebenarannya.

__ADS_1


"Jika kau berlutut dan mengemis sekarang, aku mungkin akan memaafkanmu. Itulah yang harus kau lakukan, benarkan? Berlutut!”


"Aku-aku tidak akan melakukannya. Lagi pula, aku belum pernah melakukan itu sebelumnya" Dia mencoba melewati Manabe seolah ingin melarikan diri, tetapi Manabe meraih rambut panjangnya dan mendorongnya kembali ke dinding, membantingnya ke sana.


Setelah merasa nyaman dengan sebuah tempat untuk pembalasan dendam yang sudah dipersiapkan untuknya, mengendalikan Manabe sudah pasti tidak akan bekerja lagi. Apa yang kami sepakati di chat kami adalah agar dia 'bertemu' dengan Karuizawa. Seharusnya dia ragu menggunakan kekerasan sebagai alat balas dendam, Tetapi setelah bertemu langsung, semua tekanan yang harus ditahan di dalam dirinya, bersamaan dengan harapan dari teman-teman di sekitarnya untuk membalas Karuizawa, sudah pasti Manabe tidak akan puas kecuali jika dia membuat Karuizawa menderita. Itulah tujuanku.


Ada sebuah percobaan di tahun 1960-an yang dikenal dengan percobaan ‘Milgram’. Juga dikenal sebagai prcobaan ‘Eichmann’. melibatkan tes yang melibatkan peran 'guru' dan peran 'murid' di tempat yang terisolasi. Peran guru adalah memberikan kejutan listrik yang rendah kepada subjek sampai rasa takut dan rasa sakit karena syok akan diingat oleh mereka.


Kemudian, orang yang diberi peran 'murid' akan dipisahkan dari 'guru' melalui kaca dengan alat yang memungkinkan kejutan mengalir ke 'murid' yang dipasangkan. Pengejutan kemudian akan dipercayakan kepada subjek yang diberi peran sebagai 'guru'. Persiapan itu selesai untuk memulain percobaan.


Kemudian, percobaan memberikan 'murid' serangkaian pertanyaan untuk menjawab pertanyaan 'guru'. Untuk setiap jawaban 'murid' yang salah, 'guru' akan terus memberikan kejutan listrik dan dengan setiap kesalahan juga akan menaikkan volume kejutan itu sendiri. Akhirnya, kejutan bisa naik hingga 450 volt dimana itu cukup kuat yang akan berakibat fatal bagi manusia.


Di sisi lain, yang terlemah adalah 45 volt dan hanya berefek gatal ringan. Namun, berbeda dengan pengetahuan ‘guru’, perangkat tersebut palsu dan ‘murid’ dibuat bertindak di dalam rasa sakit karena teriakan yang akan terdengar dari lain. Bahkan jika arus yang mengalir kepada subjek, pada awalnya tidak akan ada banyak reaksi, walaupun setiap kali volumenya meningkat, rasa sakit tersebut akan meningkat mulai dari jeritan, merintih, hingga akhirnya terdiam.


Subjek yang diberi peran sebagai 'guru' tidak terancam oleh hal ini dan terus menaikkan volumenya meski sudah tau bahwa pihak lawan sudah menderita kesakitan. Hampir 66% subjek dinaikan volumenya hingga ke titik di mana manusia pasti akan terbunuh. Percobaan tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa 'tergantung kepada keadaan, setiap orang mampu menunjukkan kekejaman'.


"sakit, sakit, sakit! Lepaskan aku!" Karuizawa menjerit kesakitan karena rambutnya ditarik, tetapi Manabe hanya tertawa. Saat ini, daerah tertutup ini merupakan lantai kapal yang lebih rendah.


Peran 'guru' sudah ditugaskan kepada Manabe dan peran 'murid' untuk karuizawa sesuai dengan percobaan. Aku sudah menyiapkan sebuah panggung yang serupa dengan percobaan ‘Milgram’ sebisaku. Umumnya, meski dengan kondisi seperti ini, itu tidak akan cukup, namun mengingat sejarah di antara keduanya, hasil percobaan harus tetap terjadi di sini. Penderitaan dan rasa sakit yang dialami Karuizawa yang bersikap keras beberapa waktu lalu, terasa lebih baik kepada mereka saat ini.


"Haah"


"Uwa ~ Shiho, kau menggunakan lututmu untuk menendangnya. Itu berlebihan, kau tahu" Manabe terus menggunakan lututnya untuk menyerang daerah sekitar perut Karuizawa. Tentu saja, Manabe yang tidak biasa menendang seperti itu,


memiliki gerakan yang lambat dan lemah dan ditendangnya seharusnya tidak terlalu menyakitkan. Tetapi bagi Manabe, rasa sakit dari suara Karuizawa adalah upah terbesar. Dia terihat memiliki waktu dan berbisik kepada Rika yang sudah menjauhkan diri dari mereka sampai sekarang.


"Rika, kau juga harus mencobanya”


"Aku-aku baik-baik saja..."


"Kami melakukan ini untukmu, kau tahu? Tidak apa-apa, lagipula tidak ada yang melihat" Rika terlihat menolak membalas dendam secara langsung, tapi daerah tertutup ini tidak akan membiarkan hal tersebut.


‘Kau juga temanku, bukan?'


Jika sesuatu seperti itu harus diucapkan di sini, akan sulit baginya untuk terus menolak. Jika kemarahan itu diarahkan kepadanya, dia akan menjadi korban esok hari. Dia tidak mampu menyangkal bahwa dia mungkin akan bertemu dengan mata yang sama dari Manabe suatu hari.


"Uuunn ... aku akan coba melakukannya" Pechi. Dengan suara kering dan ringan seperti itu, Rika menampar Karuizawa dengan tamparan yang tidak menimbulkan rasa sakit.


"S-seperti ini?"


"Bukan seperti itu, kau harus membuatnya lebih kuat lagi, seperti ini"


Pakk!


Suara tinggi seperti itu terdengar saat Manabe menampar pipi Karuizawa seperti itu. Menanggapi hal tersebut, Karuizawa terlihat menderita. Dan seperti yang diinstruksikan, Rika perlahan mengulangi tamparannya. Perlahan, kekuatan menamparnya terus meningkat.


"B-b-b-b-berhenti ...“


"Haha ... ini menyenangkan ... haha" Terlihat seperti bukan Manabe. Dia akan menjadi orang yang lebih cocok untuk percobaan ‘Milgram’. Karuizawa yang telah dihadapkan oleh sesuatu kuat sampai sekarang, mulai menunjukkan rasa sakit.


"Kumohon... Maafkan aku ..." Dia kemudian meminta maaf. Melihat sosok itu pasti bukan hal yang tidak nyaman dan menyenangkan.


Dia terlihat tidak takut sama sekali, Rika mulai memukul dan menendang dengan kuat. Terlebih, hal yang menarik adalah, tempat yang awalnya tidak mereka sentuh, seperti di bawah seragam dan di bawah rambutnya, tempattempat yang biasanya tidak dapat dilihat. Mereka mulai menargetkan tempat-tempat seperti itu juga.



sambung

__ADS_1


__ADS_2