Classroom Of The Elite 2nd Year - Full Volume

Classroom Of The Elite 2nd Year - Full Volume
Chapter 2: PAPER SHUFFLE


__ADS_3

Suatu hari, suasana berat menggantung di kelas.


Bukan berarti atmosfer itu negatif, tapi cukup tegang.


Yang pertama merasakan ini adalah


guru Kelas D, Chabashira Sae.


"Silahkan Duduk. Kalian semua sepertinya sudah mempersiapkan


semuanya dengan baik. ”


Begitu dia masuk ke ruang kelas, suasana menjadi lebih berat dan dengan cepat menjadi dingin.


Melihat perbedaan suasana kelas jika dibandingkan dengan sesaat yang lalu, Chabashira-sensei tidak bisa menyembunyikan keheranannya.


“Semua orang terlihat sedikit serius. Kalian sama sekali tidak seperti murid dari Kelas D. ”


"Karena hari ini pengumuman hasil ujian tengah semester, kan?" Ike berbicara, ada sedikit ekspresi gugup di wajahnya. Chabashira-sensei menjawab dengan


senyuman licik.


"Benar. Kau akan dikeluarkan segera setelah kau tidak lulus ujian tengah semester atau ujian akhirmu. Aku sudah mengatakan ini sebelumnya, jadi kalian semua harus tetap mengingatnya. Hal yang wajar jika kalian menjadi gugup atau kesal, tapi tidak satupun dari kalian yang menunjukkan tanda-tanda itu. Aku senang melihat kalian semua tumbuh dewasa. ”


Chabashira-sensei menganggap ini sebagai sikap yang baru, lebih percaya diri memang terpuji. Namun, kami hanya siap secara psikologis, nilai ujian tidak akan sebagus tekat kami.


Chabashira-sensei sengaja mengatakan ini pada kami, tentu saja.


“Terlepas dari rasa percaya diri kalian, hasil dari kegagalan kalian, kalian akan dikeluarkan. Sekarang, aku akan membagi hasil ujian tengah semester kali ini. Pastikan nama dan nilai kalian tidak tertukar. ”


Justru karena teguran ini serius, maka sebenarnya guru sedang memperingatkan kami. Jika seseorang tidak mendapatkan nilai mereka dan membuat kericuhan, sekolah tidak akan ragu untuk menggunakan tindakan kasar dengan banyak bukti dari kamera yang dipasang di setiap ruang kelas.


“Tentu saja kalian bisa melihat semua nilai tesnya.”


"Ya, itulah salah satu aturan di sekolah ini."


Terlepas dari kemauan murid untuk mengertahui informasi pribadi mereka yang ditampilkan, sekolah juga memposting semua nilai murid di Kelas D melalui papan tulis. Tidak ada satu pun yang dirahasiakan. Hasilnya selalu diberitahu tanpa ada yang ditutup-tutupi. Sama seperti tabel kinerja milik salesman yang diposting untuk seluruh perusahaan, itu menggolongkan orang-orang berperingkat tertinggi hingga orang-orang


berperingkat terendah.


Pada saat seperti ini, mereka yang memiliki nilai sangat bagus dan sangat jelek akan menjadi orang yang mencolok. Mereka yang tertinggal akan merasa cukup tersiksa dan menjadi sasaran pembulian dan penghinaan


dari lingkungan mereka.


“Kalian bisa mengukur nilai kelulusan rata-rata untuk semua mata pelajaran dimulai dari 40 poin atau lebih. Mereka yang tidak memenuhi standar nilai ini akan dikeluarkan. ”


Batas nilai untuk lulus ujian pada dasarnya sama dengan batas nilai yang digunakan untuk ujian sebelumnya, tetapi situasi yang ini sedikit berbeda.


“Nilai yang diumumkan mulai sekarang juga akan mencerminkan hasil kalian di festival olahraga. Mereka yang meraih nilai tinggi dan melakukan berbagai keberhasilan selama festival akan berpotensi mencapai nilai 100.


Dengan kata lain, nilai ini akan dianggap sebagai nilai maksimum. ”


Sepuluh murid yang mendapatkan hasil terburuk selama festival olahraga harus dikurangi 10 poin pada ujian tengah semester mereka. Kelas D Sotomura memiliki kinerja terburuk di seluruh kelas, jadi dia adalah salah satu dari orang-orang yang harus mendapatkan nilai 10 poin lebih tinggi dari yang dibutuhkan murid lainnya.


Meskipun begitu, murid yang tidak menerima hukuman seperti Ike dan Sudo masih memiliki ekspresi yang sangat kaku. Suatu sistem di mana putus sekolah akan segera didapatkan hanya karena satu tanda gagal


memberikan beban berat bagi semua murid baik secara fisik maupun mental.


Para murid terlihat gugup melihat hasil tes yang perlahan-lahan ditulis di papan tulis.


Namun, tetangga sebelahku, Horikita, tidak terburu-buru melihat nilai.


“Whoa whoa whoa! Tidak mungkin!"


Peringkat hasil dimulai dengan nilai terendah. Dengan kata lain, Sudō, yang muncul di posisi terakhir saat ujian tengah semester dan ujian akhir semester pertama adalah dugaan semua orang yang sudah dipikirkan pasti


muncul di posisi terakhir. Namun, nama pertama yang ditulis adalah Haruki Yamauchi beserta nilainya dalam berbagai mata pelajaran.


Berikutnya adalah Ike Kanji, diikuti oleh Inogashira, Satō, dan Sotomura. Penempatan Sotomura biasanya lebih tinggi, tetapi peringkat yang lebih rendah mungkin diakibatkan oleh hukuman yang diberikan saat festival olahraga.


"Apa! Aku di bawah? Serius?"


Beruntung dia mendapatkan nilai lebih dari 40 poin dalam setiap mata pelajaran. Dengan yang terendah 43 poin dalam bahasa Inggris. nilai rata-ratanya hampir 50 poin. Yamauchi ketakutan setengah mati ketika dia melihat betapa dekatnya dia dengan ketentuan nilai. Dia berkeringat dingin di bagian wajah dan lehernya.


Yang mengejutkanku, nilainya Sudo. Hingga hari ini, ia secara konsisten ditempatkan di bagian paling bawah kelas. Namun, ujian kali ini, ia naik 12 tingkat. Jika mempertimbangkan poin yang didapatnya dari festival olahraga, sudah jelas kenapa bisa seperti itu. Terbukti dari semua ekspresi terkejut teman-teman sekelas kami. Nilai rata-ratanya adalah 57 poin.


“Aku memecahkan rekor pribadiku sekaligus! Lihat? Hampir 60 poin! ”


Begitu Sudō menerima hasilnya, dia mulai berteriak dan berdiri, menari dengan gembira.


“Jangan terlalu berisik hanya karena peringkat nilai itu. Kau melakukan yang lebih baik hanya karena festival olahraga. Jika kau bertanya padaku, sistem ini benar-benar bermasalah. ”


"Hm, yah..."

__ADS_1


Sudo dengan tenang kembali ke tempat duduknya, terlihat putus asa berkat kata-kata kasar Horikita.


Dia seperti anjing yang setia. Menanggapi perintah tuannya dengan cepat dan melaksanakannya.


"Sudō bahkan mencetak rata-rata 57 poin... Kelompok belajar sepertinya berhasil."


Bahkan dalam pelajaran terburuknya, bahasa Inggris, Sudō berhasil mencetak 52 poin.


Aku dengar Horikita mengajari Sudō dan yang lainnya sekali lagi untuk ujian tengah semester ini. Aku tidak diajak bergabung untuk mengajari mereka, tapi itu bisa dimaklumi. Dari sudut pandang murid lain, aku seharusnya tidak terlihat seperti individu yang sangat cerdas. Selain itu, Horikita sendiri ragu-ragu tentang kemampuan akademisku.


“Pengaruh kelompok belajar memang sangat besar. Jika kalian tidak siap menghadapi ujian formal, kalian akan gagal. Namun, kali ini


keberhasilannya mungkin karena faktor lain. Ujian tengah semester itu sendiri terdiri dari pertanyaan yang lebih sederhana, yang tidak terlalu menyakitkan. ”


"Mungkin benar."


Ujian tengah semester ini, tidak diragukan lagi, sedikit lebih mudah daripada ujian biasanya. Meskipun ada beberapa pertanyaan yang terlihat salah tempat. Aku benar-benar ragu kalau sekolah sudah membuat


kesalahan. Karena ini, kelompok belajar berada dalam posisi yang cukup aman setelah ujian berakhir, jadi jelas bahwa Horikita tidak akan cemas.


Sebaliknya, Yamauchi, yang ada di posisi terakhir, sepertinya tidak mampu


menyembunyikan ketidakterimaannya karena sudah kalah dari Sudou dengan selisih yang sangat besar. Meskipun Yamauchi dan Sudo sama-sama menerima ajaran Horikita untuk ujian tengah semester, Sudō telah belajar


dengan giat bersama Horikita bahkan selama liburannya. Kekuatan cinta itu menakutkan. Sedikit demi sedikit, kemampuan akademis Sudo mulai membaik.


“Rata-ratamu 64 poin. Biasa sekali. Sudah waktunya kau menghasilkan sesuatu yang nyata. ” Kata Horikita


"Aku sudah melakukan yang terbaik." Aku menjawab seperti itu.


Karena aku biasanya ditempatkan di sekitar 50 poin, jika aku tiba-tiba mencetak 100 poin, aku akan terlibat dalam sejumlah masalah.


Tinggal melakukannya secara perlahan dan pasti.


Setelah mengatakan itu, seharusnya tidak masalah bagiku untuk menaikkan nilaiku lebih tinggi di lain waktu, mengingat melompat Sudō yang dibuatnya.


"Aku tahu kau bermain licik di sini, tidak mungkin lagi mendengarkan dan mempercayai apa pun yang kau katakan."


"Aku tidak yakin apa kau pernah mendengarkanku.”


"Kau benar."


Dan dia sejujurnya setuju denganku...


“Jumlah orang yang dikeluarka karena ujian tengah semester ini adalah nol, seperti yang kalian lihat. Kalian semua lulus ujian tanpa ada masalah. ”


Chabashira-sensei memuji para murid dengan terus terang. Sepertinya tidak perlu mengkritik kami. Sikapnya sangat sopan.


"Tentu saja! Aku menantikan poin pribadi bulan depan, Sensei! ” Dengan siku di atas meja, Sudō yang gembira berbicara blak-


blakan.


Chabashira-sensei membiarkan sikapnya dan mengabaikannya, tanpa banyak senyum.


“Ya, meskipun kerugian yang kalian alami selama festival olahraga, kalian semua pasti menantikan sejumlah poin pribadi di bulan November. Dalam tiga tahun sejak kedatanganku di sekolah ini, aku belum pernah melihat Kelas D berhasil mempertahankan keutuhan jumlah muridnya, tapi kalian sudah melakukannya. Kalian pasti sudah melakukan pekerjaan dengan sangat baik."


Chabashira-sensei memuji kami. Sampai hari ini, dia tidak pernah menunjukkan sikap yang seperti ini di kelas. Karena ini, banyak murid yang sangat ragu menerima maksud tersembunyi dari situasi langka ini.


"Rasanya canggung saat dipuji."


Orang-orang yang jarang dipuji sepertinya lebih malu ketika mereka menerimanya.


Horikita, bagaimanapun, tidak menunjukkan tanda-tanda tenang. Memang benar tidak ada yang gagal dalam ujian, tetapi Horikita tahu bahwa Chabashira-sensei bukanlah tipe orang yang akan mengakhiri pembicaraan


dengan pujian.


Semakin Chabashira-sensei melepaskan sikap lembut ini, semakin menakutkan situasinya.


Rambut ponytailnya berayun lembut saat suara langkah kaki mulai berdetak. Sensei berjalan dan perlahan mulai melewati di antara deretan meja.


Ketika Chabashira-sensei tiba di kursi Ike, dia berhenti dan berkata:


“Kau lulus ujian tanpa masalah. Aku akan bertanya lagi, apa pendapatmu tentang sekolah ini? Aku ingin mendengar apa yang kau katakan. ”


“Ini... Ini sekolah yang bagus. Aku bisa mendapatkan banyak uang saku jika semuanya berjalan dengan baik. Makanan dan semuanya lezat dan kamarnya bagus. ”


"Lalu," lanjutnya, menghitung dengan jari-jarinya.


"Ada game yang dijual, film dan karaoke, dan gadis-gadis imut..."


Hanya poin terakhir yang tidak ada hubungannya dengan sekolah itu


sendiri.

__ADS_1


"Hm... apa aku berbicara sesuatu yang salah?"


Ike terlihat menjadi semakin stres saat dia berdiri di sana dalam keheningan. Dia melihat ke arah Chabashira-sensei seolah meminta


instruksi tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.


“Tidak, dari sudut pandang seorang muird, sekolah ini tidak diragukan lagi adalah sekolah yang hebat. Bahkan dari sudut pandangku sebagai seorang guru, aku juga merasa sekolah ini memberikan banyak manfaat yang tak terbayangkan bagi para muridnya. Semuanya terasa tidak masuk akal ”


Sensei mulai bergerak lagi, melewati tempat duduk di ujung barisan, dan kemudian menjangkau ke sisiku.


Suasananya seperti: di mana guru akan muncul dan mengajukan kalimat: Angkat tangan kalian.


Tolong jangan berhenti di mejaku. Untungnya, harapanku menjadi kenyataan ketika Chabashira-sensei berhenti di depan meja Hirata.


"Hirata, apa kau sudah terbiasa dengan sekolah ini?"


"Ya. Aku punya banyak teman dan aku menjalani kehidupan sekolahku dengan sangat memuaskan. ”


Hirata memberikan jawaban yang handal dan kuat.


"Kau berisiko dikeluarkan jika kau membuat satu kesalahan, apa kau tidak kesal?"


"Aku akan menyelesaikan ini bersama seluruh kelas."


Hirata, yang selalu memikirkan teman-teman sekelasnya, berdiri teguh dengan pendiriannya.


Setelah mengelilingi kelas, Chabashira-sensei kembali ke depan.


Dia sepertinya mencoba mengkonfirmasi sesuatu, dan aku tidak begitu mengerti apa itu.


Dia mungkin ingin tahu lebih banyak tentang semangat dan suasana kelas. Apa itu untuk melihat apakah kami mampu menangani


ujian yang belum datang?


“Seperti yang kalian tau, akan ada kuis delapan mata pelajaran minggu depan sebagai bagian dari ujian akhir semester kedua. Aku pikir beberapa dari kalian sudah mulai belajar untuk ujian, tapi aku akan memberitahu kalian lagi. ”


“Eh !? Kami baru saja menyelesaikan ujian tengah semester. Ada ujian lain?"


Cuaca mulai dingin, dan murid yang tidak pintar belajar akan mulai mengalami jadwal yang terlalu padat. Akan ada rentetan ujian dalam waktu dekat dan murid tidak akan bisa melarikan diri. Khususnya, jaraknya di antara ujian semester kedua terlalu singkat.


"Masih ada satu minggu lagi dan aku belum mendengar apa-apa tentang itu!"Ike berteriak.


Tapi para guru dari setiap mata pelajaran selalu memberi tahu kami tentang kuis kecil yang akan datang ini. Aku tidak bisa berbuat apa pun selain mendesah pada ketidaktahuannya.


“Bilang kalau kau belum pernah mendengarnya tidak akan mengubah


apapun, aku ingin memberitahumu sebaliknya, tapi aku tidak bisa. Apapun itu, jangan terlalu khawatir, Ike-kun. ”


Chabashira-sensei tersenyum seolah dia memperluas bantuannya untuk kelas. Namun, semua orang tahu; lebih baik jangan berpikir


bahwa itu murni karena kebaikan semata.


“Benarkah, sensei? Kau membuatku khawatir." Chabashira-sensei mengalihkan pandangannya dari Ike dan melanjutkan:


“Pertama-tama, kuis akan mencangkup 100 pertanyaan dengan total 100 poin, tetapi isinya akan berada pada level yang sama dengan murid SMP kelas ketiga. Artinya, kuis ini berfungsi sebagai sarana bagi kami untuk mengonfirmasi apakah kalian masih mengingat dasar-dasarnya. Selain itu, seperti ujian-ujian semester pertama, kuis ini tidak akan mempengaruhi nilai kalian. Bahkan jika kalian mendapatkan nilai nol atau 100, itu tidak masalah. Itu akan digunakan semata-mata untuk menentukan kemampuanmu saat ini. ”


“Oh! Ini ujian palsu! Itu luar biasa! ”


"Namun! Aku akan memberi tahu kalian terlebih dahulu, hasil kuis tentu tidak ada gunanya. Kenapa? Itu karena hasil kuis ini akan berdampak besar terhadap ujian akhirmu selanjutnya. ”


Haruskah aku katakan kalau itu jelas adalah masalah atau sesuatu?


Sudah lama sejak festival olahraga selesai. Tentu saja proyek selanjutnya akan segera dimulai.


"Berdampak? Tolong jelaskan dengan cara yang bisa kami pahami. ”


Aku mengerti kenapa Sudo meminta penjelasan, tapi tidak ada gunanya melakukannya. Chabashira-sensei sengaja memberikan informasi sedemikian rupa dengan maksud menyebabkan ketidaknyamanan.


Kemungkinan dia menunda menjelaskan semuanya kepada kami sampai pada saatnya.


“Kalau saja aku bisa membuatmu mengerti sedikit lebih baik, Sudō. Sekolah sudah memutuskan bahwa hasil kuis ini akan digunakan sebagai dasar bagimu untuk berpasangan dengan orang lain di kelas. ”


"Pasangan?" Hirata mempertanyakan kata yang paling tidak seharusnya.


"Benar. Pasangan yang dibuat dari kuis ini akan dipakai untuk menyelesaikan ujian akhir semester bersama-sama. Akan ada delapan mata pelajaran ujian akhir, masing-masing dengan 50 pertanyaan, dengan total 400 pertanyaan. Ada dua cara yang menentukan kegagalan dalam ujian akhir semester nanti. Cara pertama sangat mirip dengan apa yang sudah kalian semua alami. Semua mata pelajaran memiliki standar minimum 60 poin. Jika nilai akhir yang didapat pasangamu pada satu pelajaran di bawah 60 poin, maka kedua anggota pasangan akan dikeluarkan. Batas 60 poin ini adalah nilai gabungan dari kedua anggota. Sebagai contoh, jika Ike dan Hirata adalah pasangan, walaupun Ike mendapat nilai nol pada satu mata pelajaran, selama Hirata mendapat 60, tidak ada dari keduanya yang akan dikeluarkan. ”


T/N: 60 poin adalah hasil dari masing-masing nilai terendah 30 poin. Karena anggota pasangan nanti hanya dua orang, 30 + 30 \= 60 poin. Maka, bagaimanapun caranya, satu kelompok harus dapat 60 poin.


Suara guncangan bocor keluar dari salah satu murid. Sepertinya, selama kau mendapatkan pasangan yang bisa diandalkan, ini akan menjadi ujian yang cukup mudah.


Namun, apa cara kedua yang menentukan kegagalan ujian akhir semester?


Chabashira-sensei mengabaikan reaksi murid dan menjelaskan cara lain yang menentukan kegagalan ujian akhir.

__ADS_1


sambung...


__ADS_2