Classroom Of The Elite 2nd Year - Full Volume

Classroom Of The Elite 2nd Year - Full Volume
Chapter 1


__ADS_3

"Aku tidak mengerti kenapa kau menjawab seperti itu"


"Jika ini adalah sekolah di mana semua orang bisa bersahabat, tindakanmu akan menjadi pelanggaran moral. Tapi sekolah ini hanya peduli tentang 'kemampuan' dan itu adalah segalanya, selain itu, ini adalah ujian di mana kelas saling bersaing satu sama lain. Tergantung situasinya, mungkin saja melakukan tindakan mata-mata atau sabotase. Apa aku salah? "


"Ada orang-orang yang tidak puas hanya dengan logika seperti itu, tidak seperti orang lain yang fleksibel seperti ini"


"Aku tidak berpikir seseorang yang seperti itu akan memiliki kualifikasi yang dibutuhkan untuk mendaftar di sekolah ini sejak awal" Setelah memberikan pendapat jujurku, Ibuki menyilangkan tangannya dan terlihat memikirkannya.


"Tiba-tiba kau menjadi sombong"


"Aku hanya seorang murid yang gagal, aku tidak tertarik untuk bangkit atau jatuh, aku hanya menumpangi coattails seorang murid seperti Horikita dan menganggapnya sebagai keberuntungan"


T/N: Intinya sangat ketergantungan kepada orang lain. Coattails? Jas yang belakangnya lebih panjang dari yang di depan. Dari sudut pandang seseorang yang hanya mencoba mengandalkan diri mereka sendiri seperti Ibuki, yang baru saja aku katakan akan menjadi cerita yang menggelikan. Tapi Ibuki tidak menertawakanku dan juga tidak mengejekku.


"Ini tidak biasa, sejak awal, setiap orang yang mendaftar di sekolah ini hanya mengincar hak istimewa saat mereka lulus, tidak ada yang mengira akan berakhir dengan kompetisi seperti ini. Jadi kebanyakan orang akan menganggap ini sulit"


Sepertinya murid Kelas C tidak begitu berbeda dengan Kelas D. Jika memang begitu, Ibuki yang menarik perhatian Ryuuen dan ditugaskan untuk melakukan mata-mata sejak awal pasti memiliki posisi yang cukup tinggi didalam tingkatan Kelas C.


Karena dia dibayar dengan mendapatkan perhatian dari lingkungannya, itu juga tidak biasa baginya untuk bertindak dipihak Ryuuen. Dia mengatakan bahwa dia bersama Ryuuen karena kegagalannya, tapi sepertinya, dia yang bersamanya juga karena Ryuuen mempercayainya. Dan dengan keyakinan kami berdua, kami berbaris di antrian.


Dan petugas perempuan yang pernah berbicara denganku kemarin datang lagi untuk memastikan bahwa kami memang pasangan dan menyerahkan kami sesuatu yang mungkin adalah tiket. Sepertinya ada 8 pasangan di depan kami yang harus kami tunggu.


"Sepertinya kita akan menunggu"


Jika hanya satu peramal yang tersedia per antrean, Bahkan jika ada sepuluh pasangan yang akan memaksa kami menunggu lebih dari satu jam, itu akan mejadi waktu yang lama untuk menunggu. Satu-satunya pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana kami berdua akan bertahan lebih dari satu jam? Sepertinya aku tidak akan bisa melakukan pembicaraan selama itu.


"Ahh, jangan khawatir dengan keheningan, hubungan kita hanya demi ramalan sehingga kau tidak perlu berbicara tanpa tujuan denganku, benarkan?" Kata Ibuki


"Aku pikir begitu..." Sepertinya dia sudah melihat ke dalam pikiranku. Itu menyelamatkanku dari masalah. ***


"Selanjutnya" Hari sudah sore ketika aku mendengar suara kecil itu datang dari dalam fasilitas sementara.


"Aku sudah membuatmu menunggu"


Pada akhirnya masing-masing kelompok membutuhkan waktu sekitar 1 5 menit dan aku harus mengantri di dalam antrian cukup lama. Itu terjadi ketika aku sudah mulai tidak peduli lagi dengan peramal yang ada di dalam dimana suara dari ruangan di balik tirai tempat peramal itu berada. Dan saat aku masuk, di dalamnya ada pemandangan yang sering aku lihat di televise.


Pencahayaannya redup di dalam sana, hanya sekitar 30 lux. Ditambah dengan adanya buku tebal, palu dan bola kristal yang juga bisa digunakan untuk sebuah tujuan yang tidak aku ketahui. Peramal wanita tua itu mengunakan tudung pada dirinya dan karena itu, aku tidak bisa melihat ekspresinya.


Suasana tempat ini sendiri adalah suasananya tahun pertama. Bola kristal itu sedang bersinar, bahkan sekarang benda ini seolah-olah sedang mencerminkan tentang Ibuki dan masa depanku. Di depan peramal, ada dua kursi bundar tanpa sandaran. Kurasa di situlah kami seharusnya duduk. Ketika kami berdua duduk, si peramal hanya tertawa sesaat dan tangan kanannya bergerak.


"Pertama-tama, bayar" kata peramal itu kepada kami. Dan setelah mengatakan itu, dia mengeluarkan card reader dari bawah meja dan meletakkannya di atas meja di depan kami.


T/N: Card Reader sejenis kaya Mesin EDC sebagai alat pembayaran menggunakan kartu. Dari atmosfir yang menyesakan ini, hampir memberikan kesan seperti museum peramal.


Artefak peradaban modern muncul seperti itu dan melepaskan perasaan yang tidak masuk akal. Tentu saja, aku tidak berpikir bahwa itu akan gratis, tapi tiba-tiba aku seperti ditarik kembali ke dalam kenyataan.


"Apa yang akan kau ramalkan untuk kami?" Sebelum mengeluarkan kartu tanda pengenal muridnya, Pertama-tama Ibuki mengajukan pertanyaan tersebut.


"Pendidikmu, pekerjaan, urusan cinta dan apapun yang kau suka" jawab peramal saat dia tertawa terbahak-bahak. Tentu saja ini akan membuat perasaan yang kuat ke daerah sekitarnya, tapi daripada hanya sekadar seorang peramal, Menurutku dia terlihat seperti penyihir.


Tetapi daftar harga yang diletakkan di atas meja sangat tidak sesuai. Sepertinya harga yang diberikan terbagi menjadi beberapa kategori. Sesuatu yang dikatakan oleh peramal sepertinya termasuk ke dalam "rencana dasar" dan di sana, hal itu terbagi lagi menjadi jauh lebih banyak bagian dan salah satunya termasuk ke dalam Tenchuusatsu.


Di antara yang lainnya, ada bimbingan yang akan membiarkanmu melihat sampai ke akhir kehidupanmu dan karena peramal memiliki persyaratan untuk berpasangan, ada banyak bimbingan yang berfokus kepada asmara. Ini hanya pemikiran spontanku, tapi jika peramal meramalkan kecocokan yang buruk diantara pasangan, aku bertanya-tanya apa yang akan dilakukan oleh pasangan tersebut? Hanya saja dalam masalah ini, lebih dari 5000 poin dibutuhkan. Ini sedikit mahal.


"Meski begitu ... harganya sangat mahal" Bagi murid Kelas D yang berjuang dengan masalah poin setiap hari, ini merupakan biaya yang sangat mahal.


Bahkan jika aku mengatakan hal itu, akan sia-sia saja untuk kembali tanpa kesempatan untuk menyelidiki Tenchuusatsu. Selalu ada pilihan untuk hanya mendengarkan hasil ramalan Ibuki dan kemudian kembali, tapi jika aku melakukan itu, aku tidak akan bisa memastikan kebenarannya.


Kupikir untuk berjaga-jaga, aku memeriksa saldo poin di ponselku. Di layar, poin pribadiku ditampilkan. Sisa pion yang aku miliki saat ini sekitar 6000 poin sehingga aku hampir tidak mampu membayarnya.


"Aku akan memilih rencana dasar," kata Ibuki tiba-tiba. Meskipun dia mengakuinya sebagai peramal, dia terlihat tidak berniat untuk mengikuti bimbingan penuh.


"Apa yang akan kau lakukan?" dia bertanya kepadaku


"Aku akan memilih rencana yang sama seperti Ibuki" Pada titik ini, aku merasa seperti sedang memesan makan di restoran, tapi aku menjawab seperti itu dan mengangkat kartu tanda pengenal muridku. Suara dari kartu yang digunakan terdengar dari card reader dan beberapa saldo dikurangkan dari kartuku.


"Kalau begitu, kita mulai dari perempuan ini, siapa namamu?" peramal bertanya.


"Ibuki... Ibuki Mio"


"Kemampuan meremalku mengharuskanku untuk melihat wajah, tangan dan hati pelangganku Dan dipertengahan, aku mungkin melihat sesuatu, sebaiknya kau tetap berhati-hati. Apa kau tidak masalah dengan itu?”


"Lakukan apa pun yang kau inginkan"


Ibuki menjawab bahwa dia tidak akan kecewa dengan hal itu, apakah dia juga yakin akan hal itu? Dari balik tudungnya, aku tidak hanya bisa melihat kulit keriput sang peramal tapi juga tatapannya yang tajam. Kemudian, dia menginstruksikan Ibuki untuk meletakkan kedua tangannya, dia mulai berbicara tentang hasil ramalannya perlahan-lahan.


"Mulai dengan membaca telapak tangan, kau memiliki umur yang panjang. Aku tidak melihatmu menderita sebuah penyakit berat seperti sekarang..." dia berbicara.


Sebuah cerita yang sering di dengar itu adalah sebuah pembukaan. Aku pribadi tidak mengerti bagaimana seseorang bisa meramal dari garis di telapak tangan seseorang. Merasa tidak ada gunanya, Aku meresa kecurigaanku ingin menolak ramalan.


Mungkin peramal menggunakan statistik pengalaman mereka sendiri untuk mengatasinya? Jika itu adalah aku, aku hanya akan menggunakan kesehatan yang bagus untuk banyak pelanggan Dari warna wajah mereka dan semacamnya, itu akan memberikan jawaban untuk ku. Dan masih terus berlanjut, peramal berbicara tentang pendidikan, keberuntungan ekonomi dan urusan cinta dengan jawaban yang tidak diharapkan.


Sementara orang-orang biasanya akan marah kepada kata-kata yang terlihat palsu dari peramal, Ibuki terus mendengarkan mereka dengan perasaan puas. Tidak banyak prediksi yanng buruk, kebanyakan prediksi tentang masa depan yang cerah untuknya. Terkadang peringatan diberikan kepadanya, tapi sepertinya tidak ada risiko khusus untuk kehidupan dan kesejahteraannya.


"Terima kasih banyak," kata Ibuki.


Setelah menyelesaikan sesi ramalan, Ibuki menunduk. Sepertinya giliranku, di mana aku bisa mengerti tentang peramal dengan lebih baik, akan segera dilakukan sekarang. Peramal tersebut mengikuti prosedur yang sama dengan yang dia gunakan selama sesi dengan Ibuki.


Jawaban untuk sesiku sebagian besar sama dengan apa yang terjadi selama sesi Ibuki. Meskipun situasinya mungkin berbeda, intinya adalah kebanyakan prediksi merupakan sesuatu yang baik yang akan datang. Namun aku diperingatkan untuk berhati-hati terhadap malapetaka suatu hari nanti. Pengetahuan semacam itu diberitahukan kepadaku.


"... Aku mengerti, sepertinya kau memiliki masa kecil yang sulit" kata peramal itu kepadaku.


Bahkan jika kau mengatakan hal seperti itu, kebanyakan anak memang mengalami sesuatu yang mereka anggap seperti itu setidaknya sekali atau dua kali di masa kecil mereka. Apalagi jika anak itu adalah laki-laki. Jika memungkinkan, aku akan menyukainya untuk menjawab jawaban yang lebih pasti.


Yang lebih penting lagi, ini adalah misteri yang lebih besar. Kenapa peramal yang seharusnya berbicara tentang masa depan malah berbicara tentang masa lalu? Tapi Ibuki di sampingku, tanpa menyela atau menguap, mendengarkan peramal tersebut dengan saksama. Mungkin peramalan seharusnya memang seperti ini atau mungkin sebagai ritual yang diperlukan, kami akan kembali ke masa lalu.

__ADS_1


Ahh, jadi peramal memang benar-benar seperti ini. Pada saat ini, aku berpikir begitu. Karena manusia adalah makhluk yang mudah, sesekali 'nasib baik' yang telah diprediksikan untuk mereka, mereka akan menguncinya di dalam ingatan mereka dan bahkan jika keberuntungan yang tidak ada hubungannya dengan ramalan terjadi, mereka akan mengingat kenangan itu kembali dan mengartikannya sebagai " Ahh, jadi peramal yang waktu itu sedang membicarakan hal yang ini "


Tetapi kenyataannya akan berbeda, karena di dalam kehidupan, tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang akan mengalami nasib yang baik dan malapetaka sekaligus kebahagiaan dan kesengsaraan.


"Ini..." Sekali lagi, peramal yang sepertinya berada di tengah ritual, menghentikan tangannya.


"Kau adalah pemilik 'penentuan Tenchuusatsu' "


"Uwa ... serius?” Yang terkejut dengan hasil itu bukan aku melainkan Ibuki dan peramal itu sendiri. Tenchuusatsu adalah sebuah kata yang bahkan aku tidak sadari sejak kemarin, jadi meski ada kata lain yang ditambahkan di atas semua itu, itu hanya akan membuatku kebingungan lagi.


"Sederhananya, sejak aku lahir, kau sudah menjalani kehidupan yang sial" Ibuki menjelaskan kepadaku.


"Itu hal yang menakjubkan ..." Apakah ini murni kebetulan atau tidak, sekali lagi memang akurat. Hanya saja, peramal masih ambigu di dalam masalah ini.


Karena, jika seseorang melihat diri mereka dengan pesimis, tidak ada kegagalan dari orangorang yang akan melihat ke masa lalu mereka dan menganggap kehidupan mereka sebagai ketidakberuntungan. Tapi jika itu adalah Tenchuusatsu yang tidak biasa, akan menjadi risiko bagi peramal untuk mengatakannya juga.


"Ngomong-ngomong, apakah Penentuan tenchuusatsu itu akan terus berlanjut ketika keluar dari sini?" Aku bertanya.


"Beberapa waktu yang lalu, perempuan itu mengatakan bahwa itu berarti menjalani kehidupan yang sial, tapi itu salah"


"Perempuan itu..."


"Penentuan tenchuusatsu memang jarang, tapi bukan berarti itu akan mengutuk seluruh hidupmu menjadi kesialan. Tentu saja aliran itu sendiri memang jelek, kau tidak akan bisa menerima berkat dari keluarga atau orang tua. Tapi itu sesuai dengan kepribadianmu. Apa yang akan kau lakukan mulai sekarang adalah sesuatu yang harus kau putuskan " Kata peramal itu kepadaku. Dari ekspresi tajam yang dimilikinya sebelumnya, sekarang di mata peramal aku bisa melihat kebijaksanaan.


"Tidak perlu merasa pesimistis dan tidak perlu bertindak seperti protagonis comedy juga"


T/N: Pesimistis, (sikap) ragu akan kemampuan atau keberhasilan suatu usaha.


Aku sudah mendengar banyak cerita yang menarik hari ini, tapi bagaimanapun juga itu hanya ramalan. Ini bukanlah sesuatu yang menyebabkanmu melihat dengan mata yang memerah atau memiringkan telinga agar bisa mendengar dengan lebih baik. Ketika aku mencoba bangkit dari tempat duduk, aku kembali dipanggil oleh peramal.


"Satu lagi prediksi untukmu. Kembali ke jalan yang lurus, jangan mengambil jalan memutar. Jika kau mengambil jalan memutar yang tidak penting, kau mungkin akan terjebak dalam waktu yang lama. Tapi bahkan jika kau terjebak, jangan panik. Tetap tenang dan jika kau bekerja sama, kau harus bisa mengatasinya" Dia meninggalkan kalimat ramalan seperti itu.


***


"Bagaimana pengalaman ramalan pertamamu?"


"Bagaimana denganmu?"


"Sangat puas, peramal itu cukup terkenal di seluruh dunia. Dikatakan bahwa keakuratannya cukup tinggi" Ibuki memberitahuku.


"Kurasa begitu ... itu seperti profesi sederhana, tapi sangat


sulit"


"Apa maksudnya?"


Lebih dari setengahnya hanya berdasarkan pola dari gambaran dan kata-kata yang bisa di dengar dari sebuah ramalan. Tapi di dalamnya, tidak bisa dipungkiri bahwa ada juga fakta yang akurat. Dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa dia prediksikan hanya dengan kata kunci yang aku berikan kepadanya. Aku tidak bisa lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang bisa didapatkan dari menjalani hidup yang panjang atau memiliki pengalaman meramal.


"Mulai sekarang, aku tidak akan menganggapnya hanya sekedar ramalan lagi. Begitulahperasaanku" kataku pada Ibuki.


"Geh ... sudah rame lagi" Jika aku melanjutkan, ini adalah neraka dan jika aku kembali, ini masih merupakan neraka. Murid-murid membanjiri ruang di depan lift.


"Maaf, tapi aku akan mengambil jalan memutar untuk kembali" kataku pada Ibuki.


"Aku juga" dia segera menjawab. Sepertinya Ibuki juga sedang memikirkan jalur pemikiran yang sama sepertiku dan saat kami berdua menuju lift yang jauh, kata-kata peramal kembali ke kepalaku.


"Omong-omong, sebelumnya..."


"Peramal itu mengatakan kepada kita, jangan mengambil jalan memutar" Untuk beberapa waktu, mataku bertemu dengan Ibuki. Entah itu hanya sebuah kebetulan atau kesengajaan, kami akan mengambil jalan memutar pada saat ini juga.


"Aku pikir itu mungkin menarik. Ayo cari tahu seberapa akuratnya prediksi itu"


Jika tidak, aku akan kembali tanpa apapun yang terjadi dan pada akhirnya aku akan berpikir jika itu hanyalah


sekedar ramalan. Tapi pada akhirnya, tanpa apapun yang terjadi, kami sampai di lift yang jauh. Dan saat itu, tidak ada seorang pun di sekitar kami. Kami bisa memakai lift di waktu senggang kami.


"Apa kau tidak masalah dengan lantai 1 ?"


"Aku akan kembali ke sana" jawab Ibuki. Sepertinya kami tidak akan memiliki jalur yang sama untuk kembali sehingga aku menekan tombol ke lantai 1 dan menutup pintu lift.


Lift mulai bergerak perlahan. Karena kami tidak lagi memiliki sesuatu untuk dibicarakan satu sama lain, kami menghabiskan waktu di dalam lift dengan diam. Tapi saat aku mengatakan 'bergerak', itu hanya sesaat.


Semenjak lampu "lantai 3" menyala, lift berhenti dengan suara yang berat. Sepertinya tidak ada seorang pun yang mencoba masuk ke lift di lantai 3, tapi lift, dalam usahanya untuk turun lebih jauh dari lantai 3, berhenti di tengah jalan.


Saat aku merenungkannya, untuk sesaat, lampu mati dan warna menjadi hitam pekat. Namun, pada saat itu, lampu darurat kembali menyala dan kami bisa menghindari situasi gelap gulita.


"Apa mungkin, pemadaman listrik?" Ibuki bertanya.


"Hampir mirip" Tidak banyak orang-orang yang akan mengalami kerusakan lift seperti ini. Jika ini adalah kesialan tak terduga yang diprediksi oleh peramal, dalam arti tertentu, ini tepat sasaran.


"Untuk sekarang, seharusnya telepon darurat masih belum cukup?" Tidak perlu panik disini. Lift sudah disiapkan untuk situasi rusak seperti ini. Disini juga ada kamera pengintai dan tombol darurat (interkom yang menghubungkan lift ke pusat pencegahan bencana) yang terpasang.


T/N: Interkom adalah alat komunikasi tanpa kabel yang tidak menggunakan pulsa.


Dan setelah memberitahukannya hal tersebut, tanpa keberatan, Ibuki bersandar di dinding lift... Kurasa aku akan menekan tombolnya dan meminta bantuan. Aku melakukannya, tapi...


"Tidak ada jawaban" Aku tidak tahu apakah telepon yang dituju itu berdering atau tidak, aku merasa aku tidak bisa masuk ke pusat pencegahan bencana.


"Bukankah pemadaman listrik juga mematikan telepon?" Ibuki bertanya kepadaku.


"Tidak. Lift biasanya memiliki baterai cadangan yang bisa berjalan selama beberapa jam. Sebagai bukti, lampu darurat menyala sekarang. Itu berarti pasti ada kesalahan internal lainnya di lift."


Aku mencoba menekan tombol yang tuna rugu gunakan, tapi itu juga tidak merespons. Dengan kata lain, tombol panel yang terpasang pada dirinya sendiri sudah rusak. Baterai masih berjalan dan AC juga masih bekerja. Itu saja sudah merupakan berkah, tapi apa yang harus dilakukan sekarang?


"Apa kau bisa menghubungi sekolah dengan ponselmu? Itu masih berhubungan" aku bertanya pada Ibuki.

__ADS_1


"Maaf, tapi tolong lakukanlah sendiri"


"Aku bisa mengerti perasaanmu karena tidak ingin berbicara dengan orang lain, tapi bukankah ini akan baik-baik saja?"


"...yang benar saja" gumam Ibuki sambil mengeluarkan ponselnya dengan ekspresi tidak senang. Tapi saat melihat layarnya, ekspresinya berubah menjadi buruk. Dia kemudian memutar layar untuk menunjukkannya kepadaku. Di layar ada pemberitahuan yang memberi sinyal baterai lemah, dan tidak lama kemudian ponselnya mati.


"Karena aku tidak memiliki kontak di ponselku, aku bahkan tidak menyadarinya sampai baterai ini habis. Jadi, sebagai gantinya kau yang menelpon"


"Mau bagaimana lagi" Mengambil ponselku sendiri. Ketika aku melihat ke layar dan aku segera membeku.


"Telpon sekarang, cepatlah"


"Sepertinya situasi ini jauh lebih serius dari yang aku pikirkan" Sama seperti yang dilakukan Ibuki tadi, kali ini, aku menunjukkan kepada Ibuki layar ponselku. Persentase baterai yang ditampilkan di ponselku hanyalah 4%. Rasanya seperti api di puncak mercusuar yang akan hilang kapan pun oleh angin.


"Kau benar-benar mengacauku”


"Ini sangat mirip denganmu, karena aku tidak memiliki banyak orang yang bisa aku ajak bicara, aku tidak peduli apakah aku memiliki daya baterai atau tidak," jawabku.


"Tidak, tidak, kita benar-benar dalam masalah sekarang. kau adalah orang yang tidak berguna"


"Kau sangat kasar meski kita berdua ini sama... masalahnya adalah kemana harus menelepon sekarang, huh?" Aku bertanya pada Ibuki.


Aku bisa menghubungi polisi atau layanan darurat, tapi ada sesuatu yang sepertinya aku hadapi. Jika masih di dalam halaman sekolah, pasti ada tempat lain yang bisa aku telepon dan berpikir seperti itu, aku mulai mencari tahu apakah aku bisa menemukan kontak untuk layanan darurat di lift. Seperti yang aku lakukan, di dekat papan operasi lift, ada 1 0 digit nomor. Tapi... itu pasti adalah ide dari seseorang yang menyebabkan kerusakan, tapi 4 digit terakhir sudah dicoret.


"Lelucon ini terlalu berlebihan..."


"Kenapa kau tidak menelepon salah satu temanmu dan meminta bantuan?" Ibuki lalu bertanya kepadaku.


"Teman, ya?" Sepertinya tidak ada pilihan yang lain, tapi masalahnya adalah siapa yang harus aku hubungi.


"Jika semuanya berjalan dengan baik, maka itu adalah Horikita"


"Ditolak" Ibuki langsung menjawab.


"... aku pikir kau akan mengatakan hal itu"


"Jika kau meneleponnya, itu berarti dia akan datang dan menyelamatkanku. Jangan bercanda" Aku tidak berpikir bahwa siapapun yang melakukan penyelamatan di dalam skenario ini penting. Dan bukan berarti ini adalah kesalahan Ibuki juga. Ini hanyalah lift yang macet sehingga sejak awal tidak perlu khawatir juga.


"kau tidak ingin hal ini menjadi heboh, jika kita melakukannya" Ibuki mengangguk sedikit sebagai jawaban.


Jadi dengan kata lain, seseorang yang akan membantu kami tanpa menimbulkan keributan saat melakukannya adalah yang terbaik. Itu berarti ketiga orang idiot itu sudah dicoret dari solusi. Dalam sebuah kejadian seperti ini, tidak mengherankan jika mereka menyebarkan hal ini ke sana ke mari.


Tapi kalaupun aku mengandalkan seseorang yang tidak akan menyebarkannya seperti Sakura, menyelesaikan situasi seperti ini akan sulit untuknya. Akan sangat merepotkan baginya untuk menghubungi orang dewasa dan akhirnya aku akan menyebabkan masalahnya untuknya.


Dalam arti yang sama, Kushida dan Karuizawa juga tidak cocok dengan sesuatu yang seperti ini. Seseorang yang akan datang dan membantu kami tanpa kehebohan. Dan di dalam masalah ini, yang bisa aku andalkan adalah...


"Di saat seperti ini" Di dalam daftar kontakku, satu-satunya orang yang bisa aku andalkan saat ini tidak lain adalah orang itu.


"Aku menghormati keinginanmu, tapi kau harus menyerahkan sisanya kepadaku sekarang" kataku kepada Ibuki.


"Selama itu bukan Horikita aku tidak keberatan dengan itu"


Kemudian aku mulai menelpon orang tertentu dan beberapa detik setelah telepon mulai berdering, laki-laki pendiam itu menjawab dengan tenang panggilan ini. Aku menceritakan situasiku dan memintanya untuk membantu kami. Tapi tak lama setelah aku memulai pembicaraan, ponselku tiba-tiba mati.


"Baterainya sudah habis" kataku pada Ibuki.


"Apa kau sudah mengatakannya dengan benar?"


"Mungkin"


Sekarang yang bisa aku lakukan hanyalah duduk dan menunggu. Tidak perlu terburu-buru. Cepat atau lambat, seseorang juga pasti akan menyadari situasinya. Bahkan jika kami mencoba membebaskan diri dari lift seperti yang terjadi di bioskop-bioskop, itu hanya akan menimbulkan bahaya yang lebih banyak.


Tapi sepertinya situasi ini berjalan dengan cara yang tidak terduga dan seperti yang sudah aku pikirkan, aku mendengar suara dari dalam yang dibuat oleh mesin bergema di dalam lift, pendingin yang memberikan angin sejuk ke dalam ruangan berhenti.


"Tidak mungkin ini nyata..."


Ibuki yang tenang sampai sekarang, mulai menjadi panik. Kami berada di tempat yang tertutup rapat di pertengahan musim panas, ini bukan waktunya untuk membayangkan jika suhu akan mulai meningkat di sini. Saat ini udara di dalam lift menjadi sedikit hangat dari waktu ke waktu, apakah kami menyukainya atau tidak, kami pasti akan mulai berkeringat.


"Apa ada cara untuk keluar dari sini sendirian?" Ibuki bertanya padaku.


"Sepertinya, tempat pembobolan darurat itu ada, tapi..." Saat ini, sepertinya akan menjadi semakin panas, tapi ada pintu keluar yang dibangun di langitlangit lift. Itu merupakan sesuatu yang biasanya terlihat di dalam film, tapi meloloskan diri dengan itu kenyataannya adalah---


"Bagaimana kita bisa membukanya?"


Ibuki yang melihat ke atas, mau tidak mau mengajukan pertanyaan tersebut. Umumnya, pembobolan darurat tidak bisa dibuka dari dalam. Sehingga di dalam skenario di mana tim penyelamat tidak bisa membuka lift yang tertutup, mereka bisa menggunakannya sebagai upaya terakhir untuk menyelamatkan orang-orang yang terjebak di dalamnya.


"Aku pikir lebih baik tidak melakukan apapun dan menunggu saja, ini adalah peraturan yang harus dilakukan dalam masalah yang darurat di dalam lift" Itu adalah cara teraman dan yang paling pasti.


"itu jika kau bisa menangani sauna ini dengan yakin" Ibuki balas menembaki.


Dan sementara kami saling memberikan tanggapan yang tidak berguna bolak-balik, suhu sudah meningkat. Aku bisa mengerti bagaimana keinginan untuk keluar dari sini, tapi aku ingin menghindari keputusan yang salah. Aku melepaskan lapisan kemejaku saat aku duduk di lantai. Di dalam situasi seperti ini, sesuatu yang harus dilakukan adalah tidak menaikkan suhu tubuh itu sendiri.


"Bagaimana kalau kau ikut duduk juga? Jika terlalu panas, kau juga bisa melepaskan lapisan bajumu" kataku padanya.


".... huh? Apa kau mungkin sedang memikirkan sesuatu yang cabul di dalam situasi seperti ini?” Sepertinya Ibuki mengartikan kata-kataku seperti itu dan kewaspadaannya meningkat.


"Aku dengar kau mampu bertarung dengan Horikita. Tidak mungkin aku bisa mengalahkan seseorang sepertimu"


"Itu benar, tapi ..."


"Tentu saja, jika kau akan melepaskannya, aku akan membelakangimu dengan santai"


"Aku tidak akan melepaskannya" Setelah mengatakan bahwa dia tidak akan melakukannya, Ibuki kemudian duduk di tempat. Setelah itu, kami menunggu sekitar 30 menit dengan sabar tapi tidak ada kontak dari luar.


Sambung...

__ADS_1


__ADS_2