Classroom Of The Elite 2nd Year - Full Volume

Classroom Of The Elite 2nd Year - Full Volume
kelompok masalah tahun pertama (4)


__ADS_3

“Aku berencana akan menghajarmu beberapa kali sampai kau menangis. Tetapi aku tidak bisa melihatmu sebelumnya. Itu karena kau takut dan bersembunyi, kan? Apakah kau melarikan diri dan membiarkan prajuritmu bekerja?”


“Kuku, kau telah diselamatkan oleh itu Housen. Jika kau bertemu denganku, kau tidak akan memiliki sikap yang besar sekarang. Untungnya, aku masih tidak tahu.”


“Aku pikir kau sedang melarikan diri dengan ekor melilit. Jika tidak, bisakah kita perjelas hasilnya di sini sekarang?”


Housen yang memegang kepalan tangan besar dan menunjukkan sifat untuk berkelahi.


Jika dia sudah mengetahui Ryuen di sekolah menengah pertama, mungkin tidak ada perbedaan besar antara kesan yang dimiliki


oleh kami siswa kelas dua. Tidakkah dia menganggap Ryuen sebagai orang yang tidak ingin dijadikan musuh?


“Hentikan. Aku tidak akan melawan gorila dalam situasi di mana tidak untungnya bagiku.”


Meskipun diajak bertarung, Ryuen menolak tawaran itu. Tentu saja, tidak mungkin bisa bertarung di tempat seperti ini.


Ishizaki dan yang lainnya mungkin berpikir bahwa mereka akan menerima pertarungan jika mereka pindah tempat.


“Apakah dia sangat berbahaya? Memang badannya lebih besar dari Sudou, tapi ...” Ryuen tertawa sedikit sebelum memberikan arahan, seolah tidak niat untuk menjawabnya.


“Kuku, kita kembali.”


“Apakah kau baik-baik saja dikatakan seperti itu oleh tahun pertama?”


Ibuki juga tahu bahwa Ryuen adalah orang yang dapat menyerang siapapun, tanpa sadar dia mengatakan kata-kata seperti itu.


“Heh, Itu bisa diselesaikan kapanpun.”


Ryuen berkata seperti itu kepada Ibuki dan dia kembali dengan tenang. Itu bagus jika berakhir sampai di sini, tapi Housen berjalan dan memperpendek jaraknya dengan Ryuen.


“Apakah wanita itu juga prajuritmu?” Housen yang menyaksikan percakapan itu, bertanya kepada Ryuen.


“Ya, begitulah.”


“Hah? Siapa? Aku bukan prajuritmu.”


“Ryuen bahkan menggunakan wanita sebagai prajurit.”


“Kau juga bersama seorang prajurit yang cantik dan lucu.”


Ryuen membalas dengan cara yang sama, Housen juga memiliki seorang siswa bernama Nanase di sampingnya.


“Dia bukan seorang prajurit. Yah, itu tidak masalah. Ayo bermain Ryuuen.”


“Yaran Tsutsuro.”


(TLN : gak tau artinya apa. )


Tidak peduli berapa kali dia diprovokasi, Ryuen tidak menanggapinya. Seolah-olah dia menunjukkan keinginannya untuk mundur.


“Ya, kalau begitu..."


Aku merasa bahwa Ryuen tidak tertarik untuk berkelahi, tetapi gerakan lengan Housen perlahan membentang. Lengannya diarahkan kepada Ibuki. Ibuki mencoba untuk menariknya dengan ringan. Tapi...


Lengan yang direntangkan dengan cepat dan kuat meraih leher Ibuki tepat sebelum ditarik.


“Hah!?”


Ibuki mencoba menarik lengan Housen dengan panik, tampaknya sinyal berbahaya dikirim dari gelombang otaknya. Namun, Housen tertawa tanpa rasa takut, lengannya terlihat seolah-olah terbuat dari baja


Ryuen menghadap ke belakang dan melihat sosok Ibuki yang terjerat.


Ibuki mencoba melarikan diri menggunakan tangan dan kakinya dengan terampil, tetapi Housen tidak membiarkannya.


“Heh. Majulah atau kalian semua hanya bisa menonton saja dari sana.”


Bukannya merasa takut, tapi kepercayaan diri yang mutlak terlihat di wajahnya. Tapi itu jelas bukan situasi yang mudah. Jika membuat keributan di tempat seperti ini, pihak sekolah akan mengetahuinya.


Karena tampaknya tak terelakkan bahwa itu akan menjadi perkelahian, Ryuen satu-satunya yang tidak takut terikat aturan mulai maju.


Sebuah gerakan untuk membantu Ibuki daripada memberi pukulan pada Housen. Dia menyelinap kehadapan Housen.


Namun, sambil memegang leher Ibuki, Housen melakukan tendangan ringan kepada Ryuen dalam situasi dimana gerakannya terbatas.


“Teme!”


Di sana, Ishizaki yang sebelumnya berhenti juga mulai ikut maju. Itu mulai membuat keributan yang tidak lagi terlihat seperti di koridor sekolah.


“Ini tidak apa-apa. Meskipun aku masih ingin pergi kesekolah seperti ini.” Pertarungan skala penuh mungkin akan dimulai.


Sementara itu, Nanase yang telah menonton dari awal hingga akhir, membuka mulutnya.


“Tolong hentikan Housen-kun.”


Housen yang melawan Ryuen dan Ishizaki, tidak menunjukkan gerakan yang merasa kesulitan walaupun sedang menangkap


Ibuki, tetapi ia dihentikan oleh teman sekelasnya Nanase.


“Apakah kau mengatakan sesuatu?” Daripada menerima nasihat itu, dia malah merasa kesal dengan perkatakan Nanase.


“Para senior sudah khawatir dari tadi dengan kamera pengintai. Di lihat dari situasinya, aku menilai bahwa tidak ada untungnya kau menjadi liar di sini.”


"Aku tahu apa yang kau maksud. Aku mengerti dan aku hanya bermain.”

__ADS_1


Dia menyadarinya sejak awal bahwa dia telah di awasi oleh kamera pengintai.


Jika demikian, serangkaian tindakan Housen sejak dia muncul masih tidak dapat dipahami.


Kemudian Housen mengabaikan saran itu dan mencoba melanjutkan pertarungan. Nanase semakin memperkuat kata-katanya.


“Itu bagus jika kamu sudah mengetahuinya. Pikirkan juga hal itu, jika kamu akan melakukan hal yang sia sia lagi, kita akan diketahui 'Are' di sini.”


Gerakan Housen berhenti lagi karena mendengar kata abstrak 'Are'.


Setelah menunjukkan wajah membosankan, dia melepaskan tangannya dari Ibuki dan Ibuki pun jatuh terduduk di lantai sambil batuk-batuk.


“Jika kau tidak memenuhi harapkanku, aku tidak akan memaafkanmu walaupun kau seorang wanita. Itu baik-baik saja kan, Nanase?”


“Pada saat itu aku akan menerimanya.”


Walaupun dia kesal dengan Housen, Nanase mengatakannya tanpa merasa takut.


Tampaknya koridor kelas dua menjadi tenang sehingga tidak terasa sedikit pun debu.


Bagaimanapun, pria bernama Hosen ini tidak bebas. Lagipula, tidak banyak siswa tahun kedua yang bisa bertarung. Untuk laki-laki itu adalah Ryuen dan Sudou begitu juga dengan Albert.


Namun untuk siswa baru, sementara ini adalah Housen, dapat dipahami bahwa dia adalah orang yang sangat kuat dengan skala


sedikit tajam.


Bahkan jika aku menghadapinya, dia tidak akan menjadi lawan yang mudah. Di sisi lain, aku tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi jika aku melawannya dengan


kekuatan penuhku.


Tujuan Ryuen untuk menghentikan Ishizaki


dari tindakan ceroboh mungkin karena dia memutuskan bahwa perkelahian itu tidak menguntungkan. Tahun yang mengerikan


telah tiba.


“Tujuannya sudah terpenuhi, ayo kita kembali Nanase.”


“Ya. Itu bijaksana.”


Tampaknya dia puas dengan sesuatu selain pertarungan, Housen kembali menatap


Ryuen.


“Jika aku bersujud padamu, bisakah kita berpasangan? Ryuen-paisen.”


“Sayangnya aku hanya bekerja sama dengan manusia. Aku tidak akan bekerja sama dengan gorila liar.”


Namun, kejadian ini tidak berakhir di sini.


Selain Housen dan Nanase, seorang siswa tahun pertama mengamati situasi dalam waktu yang lama.


Tampaknya itu telah membuat Housen merasa kesal, dia akhirnya menghadapi siswa tahun pertama itu.


“Apa yang kau lihat?”


“ *Jangan mendekati Kimiko.* Apakah kau pernah mendengar kata-kata itu?


(TLN : * kata istilah)


Siswa tahun pertama tersebut menjawab seperti itu dengan tersenyum kepada Housen yang menatapnya dengan tajam.


“Berdiskusi itu baik-baik saja, tapi bukan hal yang baik bagi Housen-kun untuk membuat keributan di sini. Aku pikir aku perlu turun tangan. Apakah itu salah?”


Akhirnya, seseorang yang bersikap dewasa muncul di sini, bersama dengan nasihat seperti itu.


“Apa yang sedang kau lakukan Housen?”


Seorang pria berjas muncul seolah-olah ingin menghentikan keributan(kerusuhan) para siswa. Pada saat yang sama, banyak siswa kelas dua yang menonton tempat ini berlari ke ruang kelas mereka.


“Housen, aku mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi aku sudah mengatakan bahwa aturan sekolah sangat keras hingga membuat telingamu sakit.”


“Aku tahu itu.”


“Jika kau tahu, cepatlah kembali. Berkelahi bukanlah hal yang baik.”


“Yang seperti ini bahkan tidak bisa di sebut perkelahian.”


Housen tertawa, lalu dia memasukkan tangan ke saku dan membalikkan punggungnya.


Secara tiba-tiba Housen mundur dengan mudah, dia juga memerintahkan Nanase untuk mundur.


“Lalu aku akan datang lagi, Horikita.” Housen menargetkan Horikita... Tidak, Kelas D tahun kedua.


“Aku sangat kesal.”


Akhirnya, entah bagaimana kerusuhan di tempat ini bisa di atasi dan Nanase menundukkan kepalanya.


Nanase yang mengangkat wajahnya menatapku lagi ketika dia akan pergi. Tatapan matanya sama dengan saat dia pertama kali


muncul di koridor ini. Pandangannya terlihat seperti ingin mengetahui sesuatu. Namun, saat tatapan kami bertemu, dia mengalihkan pandangannya dan mengejar Housen.


“Aku minta maaf pada kalian semua. Para siswa di kelasku menyebabkan masalah.”

__ADS_1


Seorang guru yang melihat situasinya dari dekat, meminta maaf kepada Horikita.


“Tidak apa-apa...”


“Kalau begitu, izinkan aku memperkenalkan diriku. Aku adalah Wali Kelas D tahun pertama, Katsunori Shiba. Aku baru saja


tiba di sekolah ini, mohon bantuannya dari sekarang. “


Setelah memperkenalkan dirinya, Shiba-sensei kembali mengikuti Housen. Kemudian, siswa itu membungkuk kepada siswa kelas dua.


“Teman seangkatanku, Housen-kun tampaknya telah mengganggu senpai. Sekali lagi aku minta maaf atas nama tahun pertama.”


Berbeda dari yang sebelumnya, tampaknya dia adalah siswa yang bisa di ajak berkomunikasi.


“Kami siswa tahun pertama belum memahami ujian khusus ini dengan baik. Kami meminta maaf atas ketidaknyamanan ini, mohon bantuannya senpai.”


Setelah mengucapkan permintaan maaf, siswa bernama Yagami juga memperkenalkan dirinya.



Pada saat itu, Yagami tiba-tiba memperhatikan sesuatu.


Sepertinya beberapa siswa Kelas D baru saja kembali dari makan siang. Mereka adalah Matsushita, Kushida, Sato dan Mi-chan.


Salah satu dari mereka, Kushida tampak terkejut.


“Sedikit berisik. Apa yang terjadi Horikita-san?” Kushida mencoba memahami situasi sambil memperhatikan keberadaan Yagami.


“Tidak usah kalian pikirkan.” Kushida kembali kedalam kelas bersama mereka bertiga.


“Um... Apakah kau Kushida-senpai?”


Setelah mendengar suara itu Kushida melihat kebelakang, Yagami mengetahui namanya berarti dia adalah kenalan Kushida. Aku berpikir begitu...


Tapi Kushida memandang pihak lain dengan aneh bahkan dia tidak mengenalnya.


“Apa kau tidak mengenalku? Itu tidak mengejutkan. Ini aku, Yagami Takuya.”


Setelah mendengar namanya Kushida berpikir sedikit dan sepertinya dia langsung mengetahuinya.


“Yagami... Oh! Eh, Yagami-kun itu !? "


“Ya, ini Yagami. Sudah lama!”


“Ini kebetulan sekali.! Yagami-kun juga masuk ke sekolah ini.”


“Aku tidak pernah berpikir akan melihat Kushida-senpai lagi di sini.”


“Apakah kalian saling kenal?” Ketika Sato bertanya, Kushida segera menjawabnya.


“Ya. Tapi hampir tidak ada kontak. Aku hanya mengetahui bahwa Yagami Takuya-kun benar-benar pintar. Karena aku berada di angkatan yang berbeda jadi kami belum pernah


berbicara satu sama lain.”


“Lalu, apakah kau juga mengenalnya?”


Begitu aku bertanya kepada Horikita sambil berbisik, aku langsung mendapat jawaban.


“Yah, aku tidak tahu.”


“Dalam kasusmu, kau mungkin tidak akan ingat wajah teman sekelasmu.”


“Aku tidak akan menyangkalnya. Aku tidak punya cukup waktu untuk melihat orang-orang yang tidak menarik bagiku.”


Rupanya dia benar-benar tidak ingat... Tidak,dia bahkan tidak mengenalinya.


Dalam situasi dimana bahkan teman sekelas pun dicurigai, tidak ada cara untuk mengingat tentang junior.


Yah, bahkan jika dia tidak ingat Kushida, dari sudut pandang anak laki-laki, mereka tidak akan pernah melupakan Kushida begitu mereka melihatnya. Itu karena Kushida terlihat menarik bagi orang-orang disekitarnya.


“Aku beruntung bisa pergi ke sekolah yang sama lagi dengan Kushida-senpai.”


“Aku juga begitu...”


Kushida bersikap rendah hati. Tapi, dia sedikit khawatir karena Yagami berasal dari sekolah menengah pertama yang sama dengannya.


“Apakah junior seperti Yagami juga mengetahuinya? misalnya..”


Tentu saja itu adalah masa lalu Kushida.


Kushida memiliki masa lalu yang kelam ketika di sekolah menengah pertama yaitu diamenghancurkan kelasnya..


Horikita yang berasal dari sekolah menengah pertama yang sama mendapat permusuhan darinya karena mengetahui fakta itu.


Aku merasa berbahaya untuk dikenal sebagai tipe orang yang akan merugikan kelas, dan aku ingin menghilangkan hal itu.


Tidak mengherankan Yagami mengetahui ceritanya, jika mereka berasal dari sekolah menengah pertama yang sama.


“Itu wajar jika dia mengetahuinya. Tapi.. juga tidak ada jaminan bahwa dia mengetahuinya.”


Yagami bukanlah keberadaan yang aman untuk Kushida.


sambung

__ADS_1


__ADS_2