
Seorang pria muda terlihat sangat marah pada sang ayah yang sudah mengusir adik perempuannya yang sudah lama tak di temuinya.
"BAGAIMANA BISA AYAH MENGUSIR NISA KELUAR DARI RUMAH INI APA AYAH SUDAH MULAI GILA DAN PIKUN" triak pria itu tersulut emosinya.
"Anak itu sudah mempermalukan nama keluarga ini bagaimana bisa aku tetap membiarkan anak itu di sini" ujar pria paruhbaya itu tak mau kalah dengan sang pria muda.
Pria muda itu adalah Kent Invader Atreya kakak laki-laki dari Nisa dia sudah beberapa tahun meninggalkan rumah memilih ikut memasukin sebuah organisasi rahasia bersama pamannya dari pihak sang ibu.
Pria yang memiliki wajah tampan dengan surai silver panjang turunan sang ayah dan mata biru turunan sang ibu itu sangat operprotektif jika menyangkut adik perempuannya yang selalu mengingatkanya pada sosok ibunya itu.
Meski pada akhirnya dia harus meninggalkan sang adik dikarnakan tugas pekerjaan yang diturunkan secara turun- menurun di keluarga ibunya itu mengharuskanya juga melakukan hal yang sama.
Keluarga ibunya adalah keluarga Hunter secara turun- temurun hingga detik ini karna itu Kent juga harus menjadi Hunter untuk meneruskan pekerjaan yang diturunkan oleh leluhur keluarga ibunya.
"Jadi itu alasanmu mengusirnya dari rumahmu kau bener-benar seorang ayah yang sangat buruk brangsek" geram Kent mendengar balasan Sang ayah.
"Kau anak yang tak tahu di untung bangaimana bisa kau mengatakan itu pada atahmu sendiri" emosi Albert
"Aku tak perduli"
Dan setelahnya Kent segera keluar dari rumah ayahnya itu dengan keadaan marah.
"Nisa di mana kau" monolog Kent setelah keluar dari rumah Ayahnya merasa kesal, menyesal, khawatir itulah yang di rasakan pemuda silver itu saat ini karna baru mengetahui keadaan adiknya yang sudah diusir ayahnya dengan sangat terlambat.
Kini dia tak tahu kebaradan adiknya dan saat di hubungipun ponsel adiknya tak bisa entah apa yang terjadi dengan adik perempuan satu-satunya itu.
"Aku harus menemukannya apapun yang terjadi" gumam Kent penuh ambisi.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Dia merasa kram pada perutnya?" Ujar Haiden penuh tanda tanya.
"Ya"
__ADS_1
"Master jangan khawatir soal itu karna itu hal biasa bagi seorang wanita yang sedang hamil" jelas Haiden.
Saat ini mereka sudah berada di rumah Haiden hari juga sudah malam bahkan Nisa sudah kembali kekamarnya untuk beristirahat.
"Jadi begitu!"
"Yes master"
Jedah
"Master yang lain ingin menemui anda Bagaimana?" Ujar Haiden setelah jedah sesaat diantara mereka.
"Hm suruh saja mereka datang" jawab Claudius sambil menikmati tehnya.
"Baik Master"
Hari berikutnya sesuai apa yang di setujui Claudius para pengikutnya pun datang kerumah Haiden sesuai yang di sampaikan Haiden.
Di ruang tamu itu sudah penuh dengan orang-orang yang selalu setia pada Claudius terlihat duduk di shofa tak jauh darinya Nisa juga ada duduk di shofa singel.
Sedangkan Haiden, Cain, Rafael, Stefani dan Raisa berdiri di hadapan Claudius memberi salam masing-masing melewatkan Haiden saja.
"Hm, bagaimana kabar kalian?" Tanya Claudius setelah menerima salam dari orang-orangnya.
"Kami semua selalu dalam keadaan baik Tuan" balas Cain mewakili semua teman-temannya.
"Eh.. kenapa?" Bingung Nisa atas permintaan Claudi.
"Kemarilah" Claudi kembali melambaikan tangannya meminta Nisa untuk datang padanya
Dengan cangung Nisa berdiri dan berjalan menghampiri Claudi dan duduk disampingnya.
Semua orang yang berada di ruangan itu melihat dengan pandandangan yang sama yaitu tak menyakah.
"Jadi dia wanita yang menjadi istri anda?" tanya Raisa.
"Ya"
"Hai aku Raisa Green salam kenal dia adalah Rafael Clowley lalu cewek ini Stefani Rousseau lalu cowok yang di sebelah sana dia adalah Cain Barnave kami adalah temanya Haiden dan merupakan pengikut dari tuan Claudius" jelas Raisa memperkenalkan dirinya bersama-teman-temannya pada Nisa.
"Oh... hallo aku Nisa Elvirna Freya" balas Nisa dengan senyum kecil cangungnya.
Terliahat Cain membalas dengan mengakat tanganya sedada untuk membalas perkenalan mereka lalu Rafael yang bilang hallo sebagai balasan sedangkan Stefani hanya diam dengan acuh tak sedikitpun menatap pada Nisa.
'Sepertinya mereka tak terlalu suka dengan keberadaanku disini' batin Nisa saat melihat teman-teman Haiden yang berada di hadapanya.
Mereka memang menyapanya dengan baik tapi melihat ekspresi mereka sepertinya mereka melakukan itu karna terpaksa mungkin karna adanya keberadaam Claudius yang berada di sampingnya yang membuat mereka terpaksa beramah- tamah padanya itulah yang di pikitkan oleh Nisa.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Dilain tempat lagi markas Hunter seorang pria bersurai coklat datang menghampiri pemuda besurai putih yang terlihat tak semangat beberapa hari belakangan.
"Kent ada apa denganmu sebenarnya kenapa kau tak fokus akhir-akhir ini" ujar pria coklat itu.
Kent hanya memandang pria yang merupakan pamanya itu sekaligu gurunya sebagai Hunter Pria berusia kisaran 30 tahunan itu bernama Gerry pria yang miliki sifat ceria itu sangat baik jika menyakut soal Kent yang merupakan keponakanya sendiri itu.
"Nisa hilang" ujar Kent frustasi dia samgat menkhawatirkan adiknya hingga membuatnya tak bisa fokus dalam pekerjaan dan beberapa kali membuat kesalahan saat bekerja.
"APA? BAGAIMANA BISA?" triak Gerry sangat kaget juga Khawatir pada keponakan perempuannya.
"Jangan bertriak didepanku" kesal Kent karna Gerry yang berteriak tepat di hadapanya.
"Hm, Nisa tinggal dengan Ayah kalian bukan! bagaimana bisa dia menghilang?" Ujat Gerry tak menghiraukan kekesalan Kent padanya.
"Ck, pria menyebalkan itu justru yang mengusirnya dari rumah jika nanti terjadi sesuatu yang buruk pada adikku aku tak akan perna memaafkan pria itu meski dia ayahku sekalipun" geram Kent penuh kamarahan yang tercetak jelas di wajahnya.
"Kenapa ayahmu melakukan itu pada putrinya sendiri? yang merupakankeponakanku" Tanya Garry lagi meski dia juga kesal saat ini setelah mendengar jawaban Kent tapi dia belum bisa menyimpulkan apa yang terjadi karma itu dia tetep bersikap tenang dengan tak menujukan kekesalannya karna kalau dia terbawa perasaan takutnya nanti justru membuat masalah semakin runyam berantakan.
"Mereka mengatakan jika Nisa hamil dan tak mengetahui siapa pria yang menjadi ayah calon bayinya" ujar Kent tertunduk hantinya sangat kesal, khawatir, marah dan kecewa bersatu menjadi satu dan membuat perasaanya menjadi kacau dia tak tahu bagai mana bisa adiknya itu mengalami sesuatu yang begitu serius seperti itu.
"Apa? Bagaimana itu bisa?" Ujar Garry kembali terkejut dia tak menyangka jika keponalan yang selalu bersikan baik, polos dan tak perna melakukan hal macam-macam itu bisa melakukan hal itu.
"Apa mungkin dia melakulanya dengan kekasihnya?" Lanjut Garry meski di hatinya masih sulit untuk mempercayainya.
"Tidak, Nisa tak mungkin berani melakukan hal seperti itu sekalipun dengan kekasihnya aku sangat mengenal adikku itu" kata Kent pelan sangat percaya dengan sang adik.
"Lalu apa yang kau pikirkan apa dia terlibat dalam one nignt stand?"
"Entahlah mungkin tanpa diketahuin dan disadari Nisa memang terlibat hal itu karna itu dia tak mengtahui siapa pria itu bahkan kekasihnya yang brangsek itu saat aku menanyakan keberadaan Nisa pemuda brengsek itu sama sekali tak mengetahuinya dan justru dia tak mau lagi membicatakan soal Nisa dia mengatakan kalau mereka putus setelah dia tahu Nisa Hamil dengan pria lain dan dengan beraninya menghina adikku"
"Hm.. begitu... lalu kau apakan pria brengsek yang sudah mencapakan dan menghina keponakaku itu" tanya Gerry dengan wajah tenangnya.
"Tentu saja aku menghajarnya" jawab Kent dengan stringai di bibirnya dia merasa puas setelah menghancar pria brengsek yang sudah berani menghina adiknya meski kekhawatiran soal adiknya tak perna hilang hingga saat ini.
"Hm... kerja bagus kita akan menemukan Nisa apapun yang terjadi kau jangan khawatir" ujar Gerry menenangkan pemuda silver itu.
"Ya tentu saja"
__ADS_1