
Hari terlihat cerah Nisa memutuskan untuk bersatai dan menikmati taman di rumah Haiden
Bersama Claudi merekan menikmati hari didepan kolam renang bersama beberapa camilan yang di siapkan para pelanyan Haiden.
"Rasanya menyenangkan bisa bersantai seperti ini" ujar Nisa memakan beberapa cemilan yang ada.
"Ya"
"Kau itu kalau berbicara selalu singkat ya" dengan tawa mengembang di bibir yang kini mulai memiliki warna pink pudar itu.
Tanpa sadar hal itu membuat Claudius terpesona akah tawa renya dari wanita pirang itu.
"Kau terlihat sangat cantik saat tertawa" ujar Claudius sepontan begitu saja keluar dari mulut pria tampan itu.
"Eh.." Nisa berhenti tertawa terkejut akan perkataan dari pria yang saat ini bersamanya Selama ini dia tinggal bersama Claudius dan Haiden dia tak perna mendengar Claudius memuji seseorang bahkan Haiden yang selalu bekerja dengan baik dan sempurnapun tak perna dapat pujian dari Claudius tapi kini pria itu tiba-tiba memujinya dan mengatakan jika dia cantik sunggu itu membuatny sangat malu entah karna apa.
Coba pikirkan saja Claudius yang tak perna memuji seperti yang di katakan sebelumnya lalu pria itu juga jarang berbicara meski dia bilanlah pria yang dingin tapi memang tipe pria yang tak suka berbicara banyak jika berbicarapun selalu singkan dan tiba-tiba memujimu apa ada hal lain yang kau rasakan selain rasa malu dan itulah yang di rasakan Nisa dan seketika membuat wanita itu jadi salah tingka sendiri.
Mata berwarna merah kelam itu menatap Nisa yang terlihat salah tingka akan perkataannya.
"......" Claudius hanya memperhatikan gerak-gerik Nisa sebenarnya dia juga sedikit merasa malu saat ini karna ulahnya sendiri yang tiba-tida mengatakan sesuatu dengan sepontan begitu saja saat melihat wanita yang bersamannya itu tertawa.
"Nisa" ujar Claudius dengan wajah memerah mencoba meluruskan apa yang dia katakan sebelumnya agar membuat Nisa merasa nyaman juga dan tak merasa terbebani dengan ucapanya dia takut jika Nisa tak menyukai apa yang dia katakan sebelumnya.
"Em... soal yang barusan kukatakan..." ujar Claudius dengan wajah memerahnya dia tak perna melakukan hal seperti sebelumnya dan seumur hidupnya baru kali ini dia mengatakan sesuatu yang membuatnya merasa sangat malu yang tak perna ia rasakan juga sebelumnya.
"Terimasih sudah memujiku" jawab Nisa dengan senyuman yang mengembang dan kembali membuat Claudius terpana.
Saat tersadar akan kelakuanya pria itu kembali memerah wajahnya karna malu.
'Dia terlihat begitu manis saat wajahnya memerah seperti itu ternyata' pikir Nisa Saat melihat wajah Memerah Claudius.
'Tunggu apa yang aku pikirkan dasar bodoh' lanjut Nisa lagi saat menyadari akan pemikiranya yang sebelumnya Nisa menempelkan tangannya pada dadanya dimana dia merasakan jantungnya saat ini tengah berdetak begitu kecang.
Nisa mengambil nafas dalam-dalam untuk menetralkan detak jantungnya tak perduli jika dihadapanya masih ada Claudius yang saat ini sedang menatapnya hangat dan setelahnya Nisa kembali tersenyum pada pria tampan itu.
Dia saat ini sudah mengerti perasaannya pada Claudius dia mencinta pria itu dan dia ingin bersama pria itu itulah yang di rasakanya saat ini tapi dia ragu untuk mengatakannya.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Di lain tempat seorang wanita cantik sangat cantik duduk di singasananya dihadapan para pengikutnya.
Dia adalah Yunifer Flanders The Orient seorang pureblood perempuan yang memimpin kerajaan Vampire saat ini.
Wanita berparas cantik bersurai gelam dengan mata berwarna emas dengan bibir merah darah dan kulit putih mulus itu dulu merupakan tunangan dari Claudius sebelum Claudius memutuskan untuk tidur panjang.
"Jadi apa benar Claudius Runtven The Night telah kembali" ujar wanita itu pada pengikutnnya.
"Yes My Lord" jawab seorang pria yang membungkuk di hadapan.
"......" wanita itu tak mengatakan apapun tapi sudut bibirnya terlihat melengkung keatas meski sangat sedikit.
'Sepertinya kita akan segera bertemu kembali Claudius' batin Yunifer senang.
Yunifer bukanlah Pureblood terkuat tapi wanita ini memilik pengikut yang sangat banyak bahkan Claudius yang merupakan purebloot terkuat saja tak bisa mengumpulkan pengikut sebanyak yang dimiliki perempuan itu.
Sifat Yunifer yang terlihat begitu elegan, kalem dan baik sangat membantunya untuk membuat vampire lain mengikutinya tanpa mereka sadari akan sifat licik dari wanita itu yang tertutup apik di balik sikap kalem, baik dan elegannya.
"Kalian berdua kuperintakan untuk membawa Claudius Runtven The Night kehadapanku apapun yang terjadi" perintanya pada dua orang pria pengikutnya yang saat ini berdiri di hadapannya.
"Kami mengerti Lord" jawab kedua pria itu menerima tugas dari sang tuan.
"Pergilah" tita Yunifer dan setelahnya...
Wussss...
Kedua orang itupun menghilang dari ruangan itu dalam sekejap mata saja sedangkan yang lain tak ada yang bicara maupun protes akan perinta sang Lord meski mereka tak menyukai hal itu sekalipun.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Kembali pada Nisa dan Claudius setelah mengalikan apa yang terjadi sebelumnya kini mereka kembali menimati hari mereka masih di tempat yang sama dan suasana yang sama.
Terlihat kini Nisa mulai tengah menikmati kudapan yang di sajikan para pelayan sebelumnya.
"Ini enak" ujar Nisa menikmati kukis di tangannya sambil melihat lurus kedepan menatap langit biru yang cerah.
Sedangkan Claudius entah kenapa pria itu tak bisa mengalikan tatapanya dari Nisa sedari tadi dia terus menikmati setiap gerakan yang dibuat oleh wanita hamil itu.
Dia merasa sudah benar-benar jatuh akan pesona wanita itu kini dia juga benar-benar telah menemukan seseorang yang akan menjadi pelabuhan hatinya untuk selamanya setelah apa yang dia lalui selama ini.
Wanita ini telah mencairkan dan memberikan kehangatan pada hatinya yang telah membeku hingga membuatnya kini merasa benar-benar seperti lelehan lava panas yang membara akan keberadaan wanita satu ini.
Seumur hidupnya ia tak perna jatuh cinta meski dia sudah perna bertunangan dengan seseorang sekalipun dia tak perna merasakan perasaan hangat membara seperti saat ini.
Dia tahu kali ini sepertinya pilihan hidupnya bukanlah kesalahan ia bersyukur bisa dapat bertemu dengan Nisa saat itu dan kini membawanya dan merasakan kebahagian yang tak perna ia rasakan sebelumnya seperti saat ini ia benar-benar bersyukur.
Claudius tersenyum tipis saat menyadari ada remahan kukis yang tertempel di sudut bibir Nisa.
Entah bagaiman tanganya terulur dengan sendirinya mengusap ujung bibir Nisa dengan sangat lembut berniat mengambil ramahan kukis yang tertempel di sudut itu.
Nisa yang merasakan tangan Cladius tiba-tuba berada dibibirnya membeku seketika.
Sedangkan Claudius hanya menatap lurus Nisa yang membeku mata mereka saling bertemu saling menatap satu sama lain Biru dan Merah saling menyelami satu sama lain terpaku hingga akhirnya Claudiuslah yang tersadar terlebih dahulu.
Claudius tersenyum kecil untuk menghalau kecanggungan yang mungkin akan terjadi sambil menarik kembali tangannya.
"Ada remahan yang tertempel" ujarnya setelahnya.
"Begitukah! Terimakasih" jawab Nisa masih merasa gugup dengan wajah yang kini kembali memerah.
Tbc
__ADS_1