
"Apa yang terjadi?"
"Bukan masalah yang besar tenang saja" Claudius mengambil sedikit bagian surai pirang Nisa dan membawanya kebibirnya mencium dan menyesap aroma yang terdapat pada helaian pirang itu.
Nisa hanya bisa memerah dengan tindakan Claudius yang tak biasa itu ia benar-benar tak menyaka jika Claudi memiliki sifat yang begitu manis seperti itu.
"Ta... tapi katanya nona Raisa terluka?" Ujar Nisa dengan gagap karna masih merasa gugup dengan tindakan Claudi yang belum melepaskan surai pirangnya.
"Ya, tapi dia akan segera membaik jadi jangan khawatir"
"Begitu syukurlah jika lukanya tak terlalu para kuharap Nona Raisa akan segera sembuh dan pulih"
"Ya.... tidurlah"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya
"Master Raisa sudah sadar"
"Hm... aku akan kesana"
Ruang perawatan di mana Raisa di rawat terligat Rafael, Cain dan Stefani sudah ada di sana mengelilingi ranjang rawat Raisa.
"Master" sambut ketiganya begitu melihat Claudius memasuki kamar itu bersama Haiden yang mengekor di belakanyan.
Claudius hanya memejamkan matanya sesaat sebagai tanda dia menerima salam dari semua pengikutnya.
Raisa terlihat mau bangun dari baringanya tapi di hentikan oleh Rafael.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan capat kembali berbaring"
"Aku tak apa aku harus memberi salam pada Master" ujar Raisa bersikeras.
"Kembalilah berbaring kau tak perlu melakukan itu" ujar Claudius
berjalan menghampiri ranjang rawat Raisa.
Raisa tak bisa menolak perinta dari sang Master gadis itupun kembali berbaring dengan di bantu oleh Rafael seperti perintah Claudius.
"Maafkan saya karna tak bisa menghentikannya" ujar Raisa penuh sesal atas kekalahannya.
"Kau tak akan mungkun mengalakan seorang pureblood tapi apa kau melihat wajahnya?"
Raisa tak bisa menghindari tatapan sang master yang terlihat teduh penuh wibawa itu tapi dia begitu menyesal karna tak bisa mendapatkan info apapun dari pureblood yang menyerangnya dia hanya tahu jika pria itu adalah seorang pureblood hanya itu tak lebih benar-benar tak berguna.
"Maaf Master saya tak bisa melihat dan mengenalinya" sesal Raisa lagi.
"Begitu"
"Maaf"
"Tak apa, cepatlah sembuh Nisa menghawatirkan keadaanmu dia berharap kau cepat pulih" ujar Claudius membuat semua pengikutnya tertegu mereka tak perna mengira Claudius akan mengatakan hal yang berbentuk penyemangat seperti itu pada orang lain ataupun pada mereka yang merupakan bawahannya selama yang mereka tahu dan ini kali pertama Claidius memberi semangat seperti itu meski itu dia katakan karna Nisa tapi tetap saja itu hal yang tak perna mereka sangka.
Claudius adalah seorang Pureblood dia tak diperbolehkan menujukan ekspresi yang jelas menujukan isi hatinya karna itu akan menjadi sebuah kelemahan untuknya bahkan bersikap rama tama dengan pengikutnya saja tak di ijinkan karna itu Claudius tak perna melakukan hal itu apalagi mengatakan sesuatu seperti penyemangat itu tak mungkin di lakukan pengikutnyapun tak akan memperbolehkanya melakukannya.
"Iya terimakasih sudah menghawatirkan saya tolong sampaikan itu pada Nona Nisa.... tapi harusnya Master tak....
"Baik Master" jawab Mereka semua serempak.
Puncak gedung tertinggi Claudius dan Haiden terlihat berdiri di tempat itu menatap kota yang selalu ramai yang kini menjadi tempat tinggal mereka.
'Sebenarnya pureblood itu siapa? apa mungkin mereka adalah sisa-sisa dari perang sebelumnya jika seperti itu Master tak mungkin bisa diam saja.... sial kenapa mereka harus muncul di saat Master baru saja bangun dari tidur panjangnya siapapun itu dia benar-benar menyebalkan tak akan kubiarkan dia menyentuh Master' Haiden menatap punggu sang Master yang berada di hadapannya.
"Menurutmu siapa yang paling tinggi kemungkinan pelakunya" tanya Claudius dia tahu jika saat ini Haiden sedang memikirkan sesuatu.
"Saya tidak bisa mengatakannya dengan yakin tapi saya pikir itu mungkin sisa dari perang"
"......"
"Master"
"Aku akan kembali kau juga kembalilah"
"Baik Master"
Wusss
Claudius segera menghilang dari tempat itu tak lama Haidenpun ikutan menghilang juga.
__ADS_1
Korban makin hari makin banyak Black Vampire juga semakin meningkat membuat kelompok Hunter menjadi semakin sibuk karna itu.
Bukan hanya itu para pengikut Claudius juga tak kalah sibuknya biar bagaimanapun tugas mereka adalah menekan keberadaaan Black vampire seperti yang ada di undang-undang yang dibuat oleh Claudius dulu saat dia menjadi ketua Senate dan hingga kini pun hal itu masih dilakukan.
Dor
Dor
Dor
Suara tembakan mengema di hutan yang lebat tak jauh dari kota utama seorang pemuda silver terlihat berlarian mengejar sosok gila darah yang semakin hari semakin banyak.
Pemuda itu terpeca dengan kelompoknya saat pembasmian Black Vampire.
"Sial kenapa mereka tak ada habisnya" kesal Kent menembaki black vampire yang terlihat oleh matanya yang tajam.
Saat menemukan Black Vampire target terakhirnya bayangan hitam tiba-tiba menghadang jalannya Kent terlihat semakin waspada dengan kedatangan pria berjubah itu.
"Siapa kau?" Tanya Kent pada pria itu.
Pria itu hanya diam di balik bayangan memperhatikan dengan mata merah menyalahnya tak berkata apapun.
'Dia bangsawan? Tidak tapi pureblood apa dia yang membuat para Black Vampire' pikir Kent saat ini.
"Kau apa kau yang membuat Black vampire meningkat?" Tanya Kent lagi tak perna melonggarkan kewaspadaannya sedikitpun.
Pria dibalik bayangan itu menyerigai mendengar pertanyaan dari Kent.
"Hunter memang tak bisa diremehkan kau langsung tahu jika aku adalah seorang Pureblood tapi sayang tebakanmu salah soal para Black Vampire karna aku sama sekali tak melakukan hal yang kau katakan" kata pria itu dengan sringainya.
"Jadi kau tahu siapa itu? Pureblood mana yang melakukanya?" Kesal Kent terbawa suasana.
"Entahlah mungkin ada Pureblood lain di sini selain aku mengkin para Hunter tahu akan hal itu" jawab Pria itu masih dalam keadaan tenangnya.
"Pureblood lain?" Gumam Kent mengingat Pureblood yang dia ketahui.
'Apa mungkin dia!?' lanjut Kent dalam pikirannya dia tak mengenal Pureblood selama ini dan baru-baru ini dia mengenal satu Purebllod yang saat ini tinggal bersama dengan sang adik.
'Tapi tak mungkin dia melakukannya jika dia yang melakukannya lalu bagaimana dengan Nisa' lanjutnya lagi.
"Bagaimana apakah Mr, Hunter sedang mengingat seorang Pureblood saat ini?" Tanya pria itu tepat sasaran saat melihat Kent yang terdiam sedang memikirkan sesuatu.
"Baiklah aku hanya datang untuk memberi tahumu soal ini dan sekarang aku harus pergi sampai jumpa lagi Mr, Hunter"
Wusss
"TUNGGUU...." triak Kent mencoba mengejar pria itu sayang pria itu sudah benar-benar menghilang tanpa jejak sedikitpun untuk bisa di lacak keberadaannya.
"Sial" kesal Kent yang kehilangan buruannya sekaligus orang misterius yang sangat mencurigakan itu.
__ADS_1
"Nisa aku harus menemuinya dan mengetahui keadaanya secepatnya" Kent segera pergi dari tempat itu dan mencari angota kelompoknya yang lain.
Tbc