
"Antonius... apa dia pria yang berada dipikiranku? tapi tidak mungkin itu dia karna dia telah hilang tampa jejak dipertempuran terakhir kali" monolog Haiden setelah mendapatkan laporan dari wanita yang dikenalnya siapa lagi kalau bukan Erin.
"Jika apa yang kupikirkan benar-benar terjadi ini bisa jadi berbahaya sepertinya aku harus segera memberitahukan hal ini pada Master"
Haiden beranjak dari tempatnya untuk menemui sang Master.
.
.
.
.
.
.
C_N crop
Haiden berjalan cepat memasuki perusahaan tak memperdulikan sapaan dari orang lain dia terlihat menghubungi seseorang.
Berjalan memasuki lift untuk menujuh lantai teratas dimana tujuannya berada.
Setelah sampai di lantai tujuannya Haiden segera menujuh kekantor CEO dimanan tujuannya yang sesunggunya.
Tok... tok... tok
Dirinya mengetuk pintu tiga kali untuk sopan santun biar bagaimana itu adalah ruangan sang Master seseorang yang paling dihormatinya dimuka bumi ini.
"Masuklah" suara dari dalam memintanya untuk Masuk tanpa banyak bicara lagi Haiden segera memasuki ruangan itu.
"Master" panggilnya disana dia sudah melihat semua teman-temannya yang sengaja dirinya kumpulkan dan meminta mereka berkumpul di kantor sang Master.
"Hn" tanggap Claudi melihat kearah Haiden.
"Kalian semua juga sudah berkumpul semua" ujar Haiden lagi pada semua teman-temannya saat dirinya memasuki kantor Claudi.
"Untuk apa kau mengumpulkan kami semua?" Tanya Stefani.
"Ada yang ingin aku katakan pada kalian semua"
"Apa itu?" Kali ini Raisa.
"Aku mendapatkan laporan jika ada orang mencurigakan yang sedang mencoba mendekati Nona Nisa" terang Haiden memulai menyampaikan apa yang dia pengen di sampaikan pada semuanya termasuk Claudi.
"Orang mencurigan seperti apa maksudmu?" Tanya Raisa lagi.
"Hn. Katakan yang lebih jelas Haiden selama ini aku tak perna merasakan sesuatu yang mengancam Nisa juga" kali Claudi yang berbicara.
"Saya juga belum mengetahui detailnya Maneger Erin hanya mengatakan ada seorang pria yang selalu datang menemu Nyonya Nisa dan sepertinya memiliki niatan yang tak baik.... dan lagi katanya orang itu bernama Antonius itu yang membuat saya khawatir"
__ADS_1
Semua orang yang berada diruangan itu nampak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Haiden mereka semua mengenal nama itu dengan sangan baik bahkan Nao yang memang Vampire barupun mengetahui nama itu.
"Antonius jangan bilang......
Cain terlihat memutus apa yang ingin dikatakanya tak ingin melanjutkanya membiarkan mengambang begitu saja.
"Itu belum bisa dipastikan, tapi Master apa Nyonya tak perna membicarakan ini pada anda " jawab dan tanya Haiden.
"Tidak"
"Nyonya memang adalah orang yang terlalu santai dengan sekitarnya beliau pasti tak perna berpikir jika ada orang yang memiliki niatan yang buruk padanya meneger resto juga mengatakan itu"
"......."
"Tapi pria itu telah menghilang ratusan tahun yang lalu tanpa jejak dipertempuran terakhir tak ada yang mengetahui keberadaanya. pasti buka dia" ujar Stefani.
"Kuharap juga begitu..... tapi tak ada yang bisa memastikan saat itu dia menghilang kini keberadaanya masih belum jelas apakah dia masih hidup atau tidak itu yang kutakutkan saat ini" balas Haiden kalut.
Deg
"Nisa" panggil Claudi yang tiba-tiba bangun dari tempatnya.
"Master ada apa?" Tanya Haiden saat melihat sang Master bangkit dari tempat duduknya dengan tiba-tiba padahal sedari tadi sang Master terlihat tenang.
.
.
.
Saat ini terlihat Nisa dan Antonius terlihat serius berbicara disana kenapa tidak didalam resto saja itu karna permintaan Antonius.
Saat tadi Antonius datang dan mengampiri Nisa untuk mengembalikan apa yang diberikan pria itu Antonius mengatakan dia sudah tahu apa yang akan Nisa katakan padanya dengan kota hadia yang ada ditangan wanita itu.
Setelahnya dengan alasan tak ingin dilihat oleh orang lain Antonius mengajak Nisa untuk berbicara ditempat yang lebih private yang tak ada orangnya dan akhirnya merekapun kini berada disamping Resto yang memang jarang akan ada orang disana.
"Aku mengerti maksudmu tapi aku tak bisa menerima perasanmu itu kamu juga tahukan jika aku sudah menikah" jelas Nisa.
"Jadi aku ditolak padahal aku belum menyatakan perasaanku padamu"
"Ini salah Mr. Antonius kamu juga tahukan aku tak perna berniat memberikanmu kesempatan seperti itu untuk diriku.... jadi sebaiknya kamu lupakanlah aku dan carilah wanita lain yang pasti ada diluaran sana yang lebih baik dariku"
"Bagaimana jika aku menolak hal itu?"
"Apa maksudmu?"
"Aku tak mau yang lain.... karna aku hanya menginginkan dirimu"
"Antonius hentikan semua itu sudah kukatakan aku sudah memiliki keluarga aku tak akan perba menghianati suamiku jika kamu seperti ini terus sebaiknya kamu pergi dari sini jangan perna temui aku lagi dan jangan perna datang keresto ini lagi... padahal aku benar-benar tulus menganggapmu sebagai temanku meski kita baru saja dalam waktu tak lama tapi aku merasa jamu adalah seorang pria yang begitu baik aku bahkan sudah mengaggapmu seperti kakakku sendiri tapi kamu justru menyalah artikan semuanya"
Merasa kesal Nisa berbalik dan ingin pergi dari tempat itu untuk kembali kerestonya.
__ADS_1
"Memang apa bagusnya sih Claudius itu hingga kamu berbuat sejauh ini untuknya?" Tanya Antonius dan hal itu menghentikan langkanya Nisa dan kembali berbalik melihat kearah Antonius Nisa tak menyangka jika pria tampan yang berada dihadapannya itu mengenal Claudi juga..... apa karna dia melihat Artikel Claudi pikir Nisa.
"Kau mengenal Claudi?" Tanya Nisa memastikan jika benar apa yang dipikirkanya maka dia pasti akan semakin kesal pada Antonius karna sudah seenaknya menghina suaminya.
"Menurutmu bagaimana apa kau tak merasa familier dengan wajah ini" Atonius memandang Nisa kini dengan mata merah berkilatnya.
Nisa yang melihat hal itu melangka mundur dia mengenali mata yang menyalah itu mata Vampire dan itu membahayakan dirinya.
"Meski aku tak suka jika dibandingakan dengannya ataupun orang tuanya tapi tetap saja aku tak bisa memungkiri wajah turun temurun ini yang berasal dari darah yang sama inu" Smirk dibibir Antonius.
"Maksudmu kamu bagian dari keluarga Claudi?" Tanya Nisa masih dengan berjalan mundur dengan siaga.
"Bisa dibilang begitu karna aku adalah pamannya.... adik dari Ayah sih kecil Claudi" jawab Antonius dengan tak tinggal diam pria itu juga ikut bejalan melangka mencoba mendekati Nisa.
"Jangan mendekat" ujar Nisa agar Antonius tak semakin mendekat padanya.
"Kenapa? Apa kau takut? bukankah kau sudah tahu jika suami yang kau cintai itu juga sama sepertiku" Smirk dibibir Antonius tak perna pudar.
Wusss
Gherrrrr.....
Karna Nisa yang merasa terancam tiba-tiba Reven muncul dengan sigap melindungi Nisa sambil mengerang waspada.
"Hm.. jelmaan jadi dia melindungimu dengan cara itu?"
"......"
"Tapi sayangnya itu tak akan bisa menghalangiku" Smirk kejam terpampang jelas dibibir Antonius membuat rasa takut mendera pada Nisa.
Antonisus berjalan cepat kearah Nisa tapi dengan sigap Reven menutup jalannya dan menyerang pria itu dengan cakar depanya.
Antonous menghindar dan mengarakan tanganya kearah Reven sesuatu muncul dari tangan pria itu seperi bola berwarna merah kecil dan pria itu menembakanya tepat di kepala Reven yang juga sedang melompat ingin menyetangnya.
Wussss
Cratak... cratak...
Ctarrr......
Dan benar saja dalam sekejap entah bagaimana Reven yang berdiri di hadapan Nisa sedang melindunginya itu tiba-tiba hancur dalam sekejap hanya dengan satu serangan yang dilancarkan oleh Antonius.
"REVEN.....
BUG
Triakan Nisa pada Reven yang hancur berkeping-kepingpun terhenti karna kini wanita pirang itu sedang berada dalam pelukan Antonius dalam keadaan pingsan.
karba terlalu terkejut dan tak percaya neligat Reven yang hancur di depan matabya membuat pertahananya berkurang hal itulah yang membuat Antonius mudah untuk membuat Nisa jatuh pingsan hanya dengan satu serangan yang di arahkan tepat di belakan leher Nisa.
"Jadi ini yang dia lakukan untuk melindungimu benar-benar mainan anak kecil" ujar Antonius pada Nisa yang pingsan dan tangan satunya menghancurkan cincin pernikahan yang dipakai oleh Nisa setelahnya dalam sekejap Antonius membawa tubuh Nisa yang sudah pingsan pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Tbc