
Bosan sunggu sangat membosankan itulah yang dirasakan Nisa setiap hari tak melakukan apapun hanya berdiam diri dan bersantai tak ada pekerjaan yang bisa dia lakukan di rumah Haiden karna semua pekerjaan sudah dikerjakan oleh para pekerja yang dikerjakan Haiden masing-masing.
"Kenapa? Kamu merasa bosan?" Tanya Claudi pada Nisa yang duduk di sampingnya.
"Claudi apa kau tak merasakan itu juga? Selalu berada di rumah tak melakukan apapun bukankah itu sangat membosankan?" Keluh Nisa dengan wajah bosanya.
"Mau pergi keluar?"
"Eh... apa boleh?"
"Memang siapa yang melarang?"
"Heh... bukannya Dokter Haiden...
"Jadi karna itu saat pergi keresto kenalanmu kamu bilang mumpung Haiden pergi dan akan kembali sebelum Haiden Kembali?"
"....."
"Akukan sudah bilang juga jika kau pergi denganku itu bukanlah masalah lain lagi jika kamu pergi sendirian"
"Bener juga setiap pergi dengan Claudikan Dokter Haiden tak perna mengatakan sesuatu ya______ tapi sebenarnya aku juga gak apa-apa meski gak keluar rumah asal ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk menghabiskan waktu itu saja cukup tak perlu keluar juga tapi di sini tidak ada pekerjaan yang bisa kulakukan jadi rasanya bosan sekali"
"Kalau begitu apa yang biasa kamu lakukan sebelum datang kerumah ini?"
"Aku! Kalau dulu sebelum semua ini menimpahku aku menjalani hidupku sebagai mahasiswi semester awal hari-hariku kulakukan layaknya pelajar lainnya pergi keuniversitas, belajar, kumpul bersama teman-teman seuniversitas satu jurusan, kerja kelompok ya___ begitulah seperti yang lainnya dan itu sangat menyenangkan jika menginggat itu aku jadi merindukannya meski dulu aku berpikir jika kegiatan itu hanyalah rutinitas biasa saja yang tak ada istimewanya tapi kini entah kenapa aku sangat merindukan rutinitas itu he... he..."
"Sepertinya itu menyenangkan"
"Ya itu lumayan meyenangkan kalau saja aku tak di usir dari rumah mungkin hingga hari ini aku masih bisa melakukaannya hiks...... eh... kenapa aku menangis... dasar bodoh...hiks"
"Kamu diusir dari rumahmu?" Tanya Claidius sambil menghapus air mata Nisa yang menetes tanpa kendali dari wanita cantik itu saat menginggat masa lalunya.
"Ayahku tak mau menerimaku saat dia mengetahui aku hamil tanpa ikatan pernikahan karna itu aku dikeluarkan dari daftar nama keluarganya" jelas Nisa menjelaskan setelah bisa mengendalikan emosinya yang membuncah tiba-tiba.
"Lalu kenapa kamu tak mau menerimah lamaranku hingga sekarang? Jika kamu mengingginkan ikatan itu kamu harusnya menerima lamaranku buka!" Heran Claudius karna hingga hari ini Nisa masih saja meragukan lamarannya dan tak mau memberikan jawaban apapun padanya.
"Aku tak mau mendapatkanmu dengan cara ini"
"......."
__ADS_1
"Simpati_____ aku tak ingin jika kamu hanya mau bersamaku hanya karna merasa bersimpati padaku Claudi, aku ingin kamu melakukan semua yang kau katakan itu dengan tulus karna mencintaiku bukan karna simpati, aku ingin perasaan ini di balas olehmu dengan perasaan yang sama seperti yang aku rasakan saat ini padamu, aku tak mau menjadi wanita egois yang harus mengikat seseorang yang sama sekali tak memiliki perasaan padaku melainkan hanya bersimpati padaku aku tak mau itu semua" ujar Nisa sambil menunduk dalam.
"Sepertinya ada kesalahan disini jika mendengar apa yang kamu katakan harusnya aku jujur saja dari awal"
"Apa maksudmu?" Nisa mengakat kembali wajahnya menatap Claudius tak mengerti.
"Jadi kamu berpikir jika aku melamarmu hari itu tanpa alasan yang jelas karna tiba-tiba aku melakukanya saat kita baru bertemu?"
"Bukannya memang begitu"
"Kamu berpikir berapa kali kita bertemu saat itu?"
"Bukannya itu pertama kalinya kita bertemu?"
"Hn, tidak.... itu bukan pertama kalinya melainkan kali kedua kita bertemu bukankah aku sudah bilang waktu itu"
"Iya kamu mengatakanya hari itu tapi kapan itu terjadi aku tak menginggatnya?"
"Hari pertama kita bertemu mungkin awalnya aku merasakan perasaan ini, perasaan yang tak perna kurakan selama ini selama seumur hidupku, aku terus bertanya-tanya sampai beberapa waktu aku mengerti jika ini yang dinamakan Cinta, pantas saja saat itu aku merasa harus mencarimu dan menemukanmu apapun yang terjadi meski aku tak mengetahui dengan jelas perasaanku itu, bahkan aku langsung memberanikan diri melamarmu seperti yang di katakan Haiden begitu melihatmu kembali tapi aku kini mengerti kenapa aku melakukaan itu semua saat itu... itu karna aku sudah mencintaimu sejak awal pertemuan kita sejak malam itu, malam yang membuat semua ini terjadi, maaf karna sudah membuatmu menderita selama ini karna perbuatanku" Claudius membelai wajah Nisa begitu lembut menyalurkan perasaan menyesalnya.
Nisa dengan lembut mengenggam tangan Claudius yang berada di pipinya.
"Claudi apa maksudmu? Jangan bilang jika pria yang menghabiskan malam denganku waktu itu adalah kamu?" Ujar Nisa tak percaya akan pemikirannya tapi yang bisa dia tangkap dari semua yang di katakan Claudius hanya itu.
"Tapi kenapa kau tak mengatakannya sejak awal hiks... hiks dasar bodoh... bodoh... hiks..." Nisa menangis memukul dada Claudius menyalurkan kekecewaan, kekesalanya dan keharuannya karna mengetahui jika ayah dari anak yang di kandungnya adalah pria baik seperti Claudius.
Sett
Greb
Claudius menarik Nisa yang masih memukul dadanya kedalam pelukannya merasa bersalah karna sudah menyembuyikan sesuatu yang begitu penting pada wanita pirang itu.
"Saat itu aku berpikir mungkin kamu akan sangat Syok jika aku mengatakannya secara langsung, aku tak ingin kau terkejut dan membahayakan nyawamu Haiden bilang keadaanmu sangat tidak setabil saat itu karna itu kau tak boleh mendapatkan guncangan sedikitpun lagi jika tak ingin kehilangan nyawamu, karna itu aku tak mengarakan yang sebenarnya dan lebih memilih mendekatimu secara perlahan agar kamu bisa meberimaku tanpa paksaan juga keterpaksaan "
"Dasar bodoh hiks... dasar bodoh.. hiks ... hiks.." tangis Nisa di pelukan Claudius.
"Kurasa kau benar jika aku memang benar-benar bodoh selama ini aku tak perna mengetahui jika aku sebodoh ini"
Claudius semakin mengeratkan pelukannya pada Nisa merasakan kehangatan tubuh wanita yang sedang menangis di pelukannya itu.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Disisi lain istana Senate Stive dan Nao terlihat memberikan laporan pada seorang wanita di hadapan mereka yang sedang duduk dengan nyaman di singasananya.
"KALIAN BODOH YA____ BUKANKAH AKU MEMERINTAKAN KALIAN UNTUK MEMBAWANYA KESINI APAPUN YANG TERJADI TAPI APA YANG KALIAN DAPAT KALIAN HANYA MENGATAKAN SESUATU YANG TAK BERGUNA DIHADAPANKU" triak Yunifer pada kedua bawahanya itu.
"Maaf kan kami karna gagal dalam misi kali ini Nona tolong beri kami kesempatan sekali lagi" ujar Nao merasa Kesal karna kalau saja Stive mau melalukan apa yang di katanya sebelumnya pasti hal ini tidak akan terjadi.
"Kesempatan! Kalian pikir kalian yang sudah gagal melakukan tugas bisa melakukanya dengan baik jika aku memberikan kesempatan pada kalia?" Ujar Yunifer pelan tapi begitu dingin menusuk.
"Ketua tolong maafkan kesalahan kami" ujar Nao memohon.
"Tak ada kesempatan kedua mulai sekarang kalian akan di asingkan jadi pergi tinggalkan tempat ini secepatnya" kesal Yunifer.
"Tapi Ketua... saya...
"Ketua maafkan Saya jika saya dengan lsncang menyelah apa yang anda ingin katakan tapi saya ingin mengatakan sesuatu pada anda jika sebenarnya misi kali ini gagal karna kesalahan saya yang sudah memutuskan untuk pergi begitu saja saat mereka memintanya jadi jika anda ingin menghukum hukumlah saya saja.... saya akan melakukan apapun yang anda perintakan setelah ini Nao masilah sangat muda dia hanya mengikuti apa yang saya ucapkan saat itu" ujar Stive panjang lebar memotong perkataan Nao.
"Kau mengatakan itu semua apa kau ingin membangkang pertintahku?" Yunifer berbicara dengan mata meyalahnya membuat atmosfer ruangan itu menjadi berat membuat semua yang berada diruangan itu semakin menunduk dalam.
"Sa... saya tentu saja saya tak berani melalukan itu" jawab Stive memberanikan diri.
"Kalian Seret dia dan masukan kepenjara bawah tanah sekarang juga" perinta Yunifer yang segera dilakukan oleh dua orang yang berdiri di tempat terdekat di mana Nao dan Steve berada.
__ADS_1
Mereka membawa Stive dengan muda karna pria itu tak melakukan perlawanan apapun saat di bawa sedangkan Nao tak bisa berbuat apapun hanya bisa melihat temannya yang dibawa kepenjara begitu saja.
Tbc