Couple Vampire Lord

Couple Vampire Lord
Chapter 50


__ADS_3

Dikediaman Haiden terlihat semua pengikut Claudi sedang berkumpul sedang membahas sesuatu.


"Haiden apa tak apa jika membiarkan Master tinggal disana sendirian seperti ini?" Tanya Stefani khawatir akan keadaan Claudi master mereka.


"Ini keputusan Master sendiri kita tak bisa menolaknya yang harus kita lakukan hanya melakukan tugas yang Master perintakan untuk kita lagi pula keputusan ini memang yang tebaik jika Master ingin melindungi pasanganya dari semua musuh yang mengicarnya lalu bagaimana ada yang sudah kalian dapatkan"


"Kami tak bisa menemukan apapun bahkan jejaknyapun tak bisa kami lacak" jawab Cain.


"Lalu soal pergerakan Senate juga tak ada yang aneh-aneh setelah kematian Yunifer permimpin mereka kini mereka sudah kehilangan pemimpin dan tak bisa melakukan apa-apa lagi mereka seperti binatang sekarat yang kehilangan kepalanya" kali ini Raisa yang berbicara.


"Tapi tertap saja kita harus terus mengawasi mereka kita tak tahu apa yang akan dilakukan oleh suatu kelompok yang kehilang pemimpin mereka dan kegilaan apa yang mungkin mereka bisa lakukan jika dalam keadaan terdesak seperti saat ini" peringat Haiden.


"Itu memang benar"


"Tapi akan susah jika kita harus mengawasi sesuatu sekaligus mencari sesuatu juga apalagi apa yang kita cari dan awasi bukanlah sesuatu yamg bisa dianggap remeh.... karna itu sebaiknya kita segera menyelesaikan ini secepatnya aku tak mau ada yang terluka lagi seperti Raisa terakhir kali " ujar Rafael yang sejak tadi diam.


"Ya" semua setuju dengan apa yang dikatakan pemuda yang sangat menyukai tidur itu.


Disisi lain sebuah Mainsion yang terlihat gelap itu terdapat orang-orang berjubah sedang mengadap pimpinan mereka.


"Jadi sekarang mereka sedang mencariku? He... he...he.... Ha... Ha.. HAAAA.. HAAA...." tawa mengelegar dari pria yang duduk disinga sananya.


Pria itu menumpuh wajahnya pada tanganya yang bertumpuh juga pada pegangan kursi singa sananya.


Tatapannya yang tajam menatap lurus kearah semua pengikutnya yang berada dihadapannya bibirnya menujukan sringai menakutkan yang terlihat puas.


"Sepertinya wanita itu sudah mengatakan sesuatu sebelum musna dari dunia ini.... Claudi....Claudi ......sepertinya keponakanku itu sedang ketakutan saat ini dia begitu takut jika apa yang dia sembuyikan aku temukan, jika seperti ini kau hanya akan membuatku semakin penasaran dengan apa yang kau coba sembuyikan itu...... sebenarnya apa yang kau sembuyikan itu aku semakin tertarik ingin segera melihatnya menarik.... aku akan menatikan keseruan yang akan kau bawakan untukku itu K e p o n a k a n k u"


"Tapi kelihatanya mereka belum mengetahui jika itu anda Tuan mereka ganya mencari Pureblood yang sidah membuat masalah akhir-akhir ini itulah tujuan mereka sepertinya rencana kita berhasil Tuan"


"Jadi begitu... ini akan semakin menarik" Smirk dibibir pria itu.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Lalu beralih dimana sang keponakan itu berada tepatnya dirumah Claudi.


Claudi baru saja keluar dari rumahnya saat akan memasuki mobilnya Claudi melihat Nisa dan Ryuu sedang keluar juga dari rumahnya.


"Mau kemana?" Tanya Claudi begitu melihat Nisa yang mengendong Ryuu ke luar rumah.


"Oh.... kami hanya mau berjemur pagi matahari pagi bagus untuk bayi" jawab Nisa mebiasan yang selalu mereka lakukan meski Ryuu buka lagi bayi yang perlu dijemur lagi seperti yang dikatakan oleh Nisa.


"Hm.. benarkah!?"


"Iya... kamu sendiri mau kemana? Bekerjakah?"


"Hm" Claudi berjalan mendekat kearah pagar yang membatasi rumahnya dan Rumah Nisa.


Karna pagar itu tak terlalu tinggi hanya setinggi perut saja jadi bisa melihat dengan jelas.


"Bisakah aku meyapa Ryuu sebentar sebelum pergi" ujat Claudi meminta Nisa untuk mendekat padanya bersama Ryuu.


"Hai..." ujar Claudi pada Ryuu yang ada digendongan Mamanya Ryuu terlihat senang saat melihat Claudi.


"Jagoan Papa baik-baiknya sama Mama" ujar Claudi menoel pipi Ryuu sambil tersenyum kecil.


"Iya... Papa" jawab Nisa dengan nada anak kecilnya mewakili Ryuu.


"He.... he... he...Kalau gini kamu benar-benar seperti Papanya Ryuu jika ada orang yang lihat bisa-bisa mereka salah paham" ujar Nisa merasa lucu.


"Bukanya aku memang Papanya Ryuu kamu yang bilangkan waktu itu" jawab Claudi dengan senyuman kecilnya.


"Hah... baiklah... baiklah... sudah sana berangkat kerja jika kau tak ingin terlambat"


"Hn, Papa berakat kerja dulu Ryuu... nanti saat pulang Papa akan bawakan hadia untuk Ryuu dan Mama" ujar Claudi menunduk kearah Ryuu tersenyum kecil yang dibalas senyuman juga oleh Ryuu.


Setelahnya Claudi berjalan kembali kemobilnya masuk dan mulai menjalankan mobilnya.


"Dah..dah.. Papa" ujar Nisa Main-main sambil melambaikan tangan Ryuu.


Claudi membuka kaca jendela mobilnya dan melambai membalas lambaian Ryuu dan setelahnya dia segera pergi meningalkan rumahnya.

__ADS_1


Setelah kepergian Claudi Nisa dan Ryuu kembali melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda sebelumnya.


"Selamat pagi Nisa, Ryuu Juga sedang berjemur pagi ya" sapa seorang tetangga wanita yang baru keluar dari rumahnya.


"Iya. Bibi" jawab Nisa.


"Oh... ya aku melihatmu tadi bercakap-cakap dengan tetangga barumu itu... ternyata kamu sudah cukup dekat denganya ya sekarang?"


"Oh maksud Bibi Claudi?"


"Oh... namanya Claudi aku baru tahu... dia pria muda yang tampan ya... kelihatanya juga seumuran denganmu Nisa"


"Iya sepertinya... Claudi dia pria yang baik dan ramah dia sering datang hanya untuk menyapa Ryuu sepertinya dia menyukai anak-anak" jawab Nisa menebak-nebak melihat perlakuan Claudi pada Ryuu dan dirinya selama ini.


"Begitukah... oh.. ya dia masih lajang bukan?"


"Hm.. entalah aku tak tahu jika soal itu Bi he..he.." jawab Nisa canggung dia tak mau mengurusi masalah priadi orang lain jadi jika ditanya hal-hal pribadi orang lain dia sedikit merasa canggung untuk menjawabnya.


"Oh... begitu ya... lalu apa kamu tahu apa pekerjaannya? Apa dia perna mengatakanya padamu sepertinya pekerjaannya cukup bagus kamu lihat mobilnya bukan bagus sekali pasti gajinya besar"


"He.. he..  mana mungkin aku mengetahui hal yang seperti itu juga dia hanya menyapa karna Ryuu"


"Begitu ya.... kukira kalian cukup dekat saat melihat kalian berbicara tadi"


He..he..he


Nisa hanya bisa tertawa mendengakan apa yang di katakan ibu-ibu kepo tetangganya itu untuk menanggapinya.


Mereka melanjutkan bercakap-cakap sebentar kemudian Nisa dan Ryuu harus kembali kedalam rumah karna waktunya makan untuk Ryuu.


"Astaga kita jadi kesiangan karna berbicara dengan Bibi-bibi Kepo Ryuu kamu pasti sudah lapar ya... maaafkan Mama" ujar Nisa setelah memasuki rumah.


"Mama akan siapkan makanan untuk Ryuu dulu tunggu disini bersama Reven ya... Reven tolong jaga Ryuu ya"  seperti biasa Nisa mendudukan Ryuu di boxnya dengan pengawasan Reven yang akan selalu setia menjaga bayi itu atas permintaanya.


Nisa bergegas kedapur untuk membuatkan makanan untuk Ryuu membutukhan waktu yang tak lama untuk melakukannya setelahnya Nisa kembali ke Ryuu untuk menyuapi putranya itu.


Nisa memilih menyuapi Ryuu sambil menonton Tv itu adalah salah satu kebiasaannya juga.


Setelah makan biasanya Ryuu akan tidur dan saat itulah Nisa baru bisa melakukan pekerjaan rumah seperti membersikan rumah dan lain sebagainya termasuk sarapan untuk dirinya sendiri juga.


Dirumahnya tak ada asisten rumah tangga jadi dia sendiri yang harus mengerjakan semuanya sendiri, itu sudah menjadi tugasnya meski terasa berat dan melelahkan tapi mau bagaimana lagi dia tetap harus melakukan semuanya bukan dia tak ingin menyusakan Kakak dan Pamanya lagi dari keberadaannya bersama anaknya untuk mereka meski mereka juga sama sekali tak perna merasa direpotkan sana sekali justru mereka merasa senang dengan keberadaan Nisa dan Ryuu bersama mereka.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2