
"Ada apa?"
"Kamu..... apa benar kamu adalah Papa Ryuu"
"......"
"Kau adalah tetangga mereka bangaimana bisa jadi Papa Ryuu?"
"Untuk apa aku mengatakan urusan pribadiku padamu"
"Memang bukan urusanku tapi juka menyangkut dengan Nisa....
Ancel terdiam tak melanjutkan apa yang dikatakan.
'Bagaimana justru aku yang terdesak padahal aku mengajaknya bicara hanya untuk mendengar kebenarannya' pikir Ancel sambil menginggat kejadian sebelumnya.
Flasback on
Ancel yang sedang dalam perjalana kerumah Nisa tak sengaja melihan Nisa berserta Ryuu sedang berada di taman.
Segera saja dirinya menghentikan mobilnya dan buru-buru keluar dari mobil untuk menghampiri Nisa.
Saat langkanya akan sampai pada Nisa berada dia baru saja menyadari jika ada orang lain lagi yang bersama ibu muda satu anak itu.
'Pria itu lagi' pikirnya saat melihat Claudi yang sedang membawakan sesuatu seperti es krim dan diberikan pada Nisa.
Terlihat Nisa menerimanya dengan senang hati es krim yang diberikan oleh Claudi.
Hatinya terasa sakit saat melihat hal itu dia merasa benar-benar sudah kalah kini tapi untuk memastikan seuanya egohnya tak mengijinkan menyerah lagi kali ini seperti sebelumnya.
Sebelum dirinya mendapatkan kepastian yang benar-benar pasti dia tak akan menyerah begitu saja.
Ancel melanjutkan langkanya untuk menghampiri Nisa, Ryuu dan Claudi.
"Nisa" panggil Ancel begitu dirinya cukup dekat.
"Ancel... Hei.. ayo kesinilah" Nisa membalasnya sambil melambai memanggilnya.
__ADS_1
"Kemu ada disini ternyata aku baru saja ingin pergi kerumahmu dan secara kebetulang aku melihatmu disini jadi aku berhenti disini juga" jelas Ancel memberitahu alasanya datang.
"Aku dan Ryuu sedang jalan-jalan dan Claudi juga kebetulan baru pulang dari tempat kerjanya sama seperti kamu dia berhenti saat melihat kami katanya.... iyakan Claudi"
"Hn"
Dan setelahnya merekapun mengabiskan waktu bersama di taman itu hingga dirinya punya kesempatan berbicara dengan Claudi karna Nisa membawa Ryuu untuk melihat dan memberi makan burung dara yang berkeliaran di taman itu.
Flasback off
"Kau adalah seorang CEO sebenarnya apa tujuanmu mendekati Nisa yang bahkan tak memiliki kedudukan yang sama denganmu bukannya biasanya orang-orang sepertimu itu selalu mementingkan kedudukan seseorang yang berada disisi kalian" ketus Ancel melanjutkan apa yang mereka bicarakan sebelumnya dia mengataka hal-hal yang seharusnya tak perlu dikatakanya karna dia sama sekali tak mengenal orang yang diahaknya bicara itu tapi karna ego dan emosinya membuatnya mengatakan itu semua.
"Terserah kau menganggapku apa aku tak perduli karna bagiku yang terpenting bukanlah dirimu atau anggapan orang lain" sarkas Claudi setelahnya Claudi pergi meninggalkan Ancel menyusul Nisa dan Ryuu.
"Sial" kesal Ancel dan setelahnya dia meninggalkan taman kembali ke mobilnya dan pergi dari lokasi itu.
"Loh.... mana Ancel?" Tanya Nisa saat melihat hanya Claudi yang datang menyusul dirinya bersama Ryuu.
"Dia pergi dengan buru-buru sepertinya ada urusan mendadak yang harus diurusnya" jawab Claudi.
"Oh.. tak biasanya dia langsung pergi tanpa pamit pasti urusan itu begitu penting baginya"
"Hn. Mungkin saja"
Setelahnya merekapun mengabiskan waktunya bersama kembali seperti sebelum kedatangan Ancel cuman mereka bertiga layaknya keluarga kecil yang begitu bahagia.
Disebuah bangunan yang terlihat habis runtuh atau memang itu adalah bangunan yang memang sudah runtuh.
Terlihat dua orang pria yang berdiri saling berhadapan satu sama lain meski wajah mereka tak bisa di lihat karna tertutup oleh bayangan bangunan yang runtuh itu.
"Itu adalah tugasmu jika kamu ingin menujukan loyalitasanmu padaku jika kau gagal kau mungkin tak akan perna lagi di terima di dunia ini.... jadi sebaiknya lakukan sebaik mungkin apa yang kukatakan ini karna mungkin ini adalah kesempatan terakhirmu" kata salah satu dari mereka.
"Baik saya mengerti saya akan melakukan yang terbaik yang saya bisa dan tak akan perna mencoba mengecewakan anda" balas pria satunya.
"Baiklah aku tunggu kabar baik darimu sekarang pergilah"
"Baik" setelah menjawab pria itupun segera pergi meninggalkan pria satunya hanya dalam waktu sekejap saja.
__ADS_1
"Kuharap ini akan berjalan sesuai rencanaku" smik pria yang tersisa dan setelahnya pria itupun menghilang juga dalam sekejap mata seperti orang satunya.
Beberapa hari setelah itu di kota terlihat pertarungan Hunter dengan para Black Vampire yang semakin hari semakin banyak membeludak membuat pertarungan itu menjadi sangat sengit.
Meski pertarungan para Hunter juga dibantu kelompok Claudi sesekali karna memang itulah salah satu tugas yang diberikan oleh Claudi pada mereka agar semua yang tak diinginkan nantinya menjadi makin kacau dan tak bisa dikendalikan lagi.
Mereka harus bisa mendendalikan keadaan saat ini secepat mungkin dan segera menemukan dalang dibalik semua serangan Black Vampire yang semakin hari bukanya berkurang justru semakin banyak itu.
"Hah... mereka tak ada habisnya" keluh rafael sambil mengeluarkan kekuatan anginya yang terbang layaknya pisaju tajam berbentu sabit menghancurkan semua Black Vampire yang berada di hadapanya.
"Karna itulah kita ditugaskan untuk menghancurkan mereka semua" balas Cain pria itu juga sedang menyerang para Black Vampire yang berada disekitarnya dengan kekuatan khususnya yaitu bara api pria itu membakar semua black Vampire dengan api yang dia kendalikan itu.
"Sudahlah jangan banyak mengeluh kalian berdua sebaiknya cepat hancurkan makluk-makluk menjijikan itu" itu Stefani masih fokus menyerang dengan kekuatan esnya.
"Kamu terlalu serius Stefani tenanglah kita pasti akan segera menghancurkan mereka semua dan segera menemukan dalang dari semua serangan ini" tanggap Raisa pada perkataan Stefani tentu wanita itu juga saat ini tidak sedang bersantai seperti teman-temanya yang lainnya wanita itu sedang menyerang para Black Vampir dengan sulur-sulur tanaman yang merupakan kemampuanya.
Disisilain seorang yang sedang mengila tak memperdulikan teman-temannya yang saat ini berada tak jauh darinya.
Pria itu menyerang dengan ganas dan brutalnya mengunakan kekuatannya petir yang menyambar-nyambar pada semua Black Vampir pria itu adalah Haiden tentu saja pengikut Claudi yang paling kuat diantara yang lainnya jika bisa dibilang begitu.
Saat semuanya sibuk menghancurkan dan menghabisi Black Vampire mereka tiba-tiba dikejutkan dengan kemunculan seorang Vampire bangsawan yang terlihat terluka cukup parah.
"Bukankah pria ini salah satu anggota Senate pengikut Yunifer yang perna mendatangi tempatmu" ujar Cain mengamati pria yang saat ini terkapar di tanah dengan darah yang memenuhu tubuhnya.
"Ya. Sepertinya begitu" tanggap Haiden yang kini sudah berkumpul dengan teman-temanya kembali dan terlihat sedang memeriksa keadaan pria yang terkapar itu.
"Tapi apa yang terjadi kenapa dia bisa terluka seperti ini" komen Raisa.
"Apapun yang terjadi padanya aku tak perduli" itu Stefani seperti biasanya dengan kata ketusnya.
"Melihat luka-lukanya sepertinya dia habis melakukan sebuah pertarungan yang cukup sengit mungkin dia diserang seseorang sebelum ini" tanggapan Rafael melihat kondisi pria itu.
"Ya. Seperti dugaanmu dia memang sepertinga habis diserang untungnya dia bisa meloloskan dirinya kalau tidak mungkin dia akan musna" tanggap Haiden lagi setelah memeriksa dengan seksama keadaan pria terkapar itu.
"Lalu bagaimana apa kita akan membawanya" tanya Cain.
"Ya. Kita tak mungkin membiarkanya seperti ini kita akan membawanya dan mencari tahu apa yang terjadi padanya dan siapa yang sudah menyerangnya kita harus bersiap dan melakukan apapun kemungkinan terburuknya" putus Haiden akhrinya dan tentunya disetujui oleh semua teman-temanya tanpa protes.
__ADS_1
Tbc