
"Nisa" panggil Kent.
"Kak Kent" Nisa segera berdiri dari tempat duduknya saat ini dirinya sedang berada di gazebo taman seperti biasanya untuk menikmati harinya.
"Kau tak apa-apa kan?" Kent terlihat khawatir dan segera memeriksa keadaan adiknya itu dengan seksama.
"Ada apa kak? Aku baik-baik saja" jawab Nisa yang mesara aneh dengan sikap sang kakak yang masih memutar tubuhnya untuk mengecek keadaaanya.
"Hah... syukurlah sepertinya kau memang dalam keadaan baik-baik saja"
'Apakah aku hanya terlalu sensitif dan merasakan ketakutan sendiri pada sesyatu yang belum terjadi.... tapi pria itu mengatajan hal-hal yang membuatku menjadi seperri ini.... aku juga tak bisa mempercayai makluk yang sudah membunuh ibuku begitu saja ada di sekeliling adikku meski Nisa mempercayai mereka' lanjut Kent dalan hati.
"Memang ada apa kak?"
"Ah... tidak.... tidak apa-apa"
'Sepertinya aku harus menyelidiki masalah ini sendiri Nanti' pikir Kent kembali.
"Hm... baiklah kalau begitu ayo kemarilah kak kita duduk" Nisa mengajak Kent untuk duduk di gazebo bersamanya.
"Kenapa kakak datang kesini tiba-tiba apa ada yang Kakak perlukan?"
"Perlu!? Tidak aku hanya ingin mengujungimu dan melihatmu apa tak boleh"
"Hah... mana mungkin" gelagapan menanggapi apa yang dikatakan oleh Nisa.
Kent tersenyum mendengar jawaban sang adik mengelus rambut pirang Nisa tepat dipuncak kepala menujukan kasih sayangnya pada sang adik.
"Nisa apa pria itu selalu bersamamu selama ini?" Tanya Kent sedikit ragu-ragu pada awalnya tapi akhirnya ia tayakan juga.
"Siapa maksud kakak? Claudi kah?"
"Ya dia"
"Kalau Claudi dia memang selalu bersamaku setiap hari pagi, siang, malam karna dia sepertinya tak punya pekerjaan tertentu yang membuatnya harus keluar rumah karna setiap hari dia selalu berada dirumah ini menemaniku sepertinya dia benar-benar seorang pengangguran"
"Jadi begitu"
"Hm... begitulah aku juga khawatir apa Kakak juga mengkhawatirkan hal yang sama denganku karna itu Kakak tanya soal Claudius padaku"
"....."
__ADS_1
"Apa di tempat Kakak tak ada lowongan pekerjaan jika ada ajaklah Claudi juga bekerja disana"
"Apa maksudmu?"
"Kita akan menikah nanti jika Claudi tak memiliki pekerjaan bagaimana dengan kebutuhan kami nantinya tak mungkin kan kita terus mengandalkan Dokter Haiden untuk selamanya....."
"......"
"Aku tahu dokter Haiden memang pria yang baik bahkan sampai saat ini meski Claudi sudah bangkrut sekalipun Dokter Haiden masih saja mau mengikuti Claudi juga menujang semua kebutuhan yang Claudi perlukan...
Tapi jika kami menikah hal itu tak mungkin di lakukan bukan? biar bagaiman yang terjadi Claudi harus bekerja dan mencari nafka untuk kami dengan keringatnya sendiri aku tak mau jika terus merepotkan Dokter Haiden aku tak masalah meski gaji Claudi nantinya kecil sekalipun asal itu semua adalah hasil dari usahanya sendiri.
Aku Akhir-akhir ini terus memikirkannya tapi masih belum bisa menyampaikan hal ini pada Claudi karna itu jika ada lowongan perkerjaan di tempat kakak tolong katakan padaku dan setelanua aku akan segera mengatakanya pada Claudius apapun yang terja.....
"Nisa... nisa.... tunggu... tunggu dulu kamu ini sedang bicara apa sebenarnya?" ujar Kent menghentikan pekataan Nisa yang begitu panjang.
"Tentu saja pekerjaan Claudi Kakak tak mendengarkanku dari tadi?" ujar bingung Nisa karna Kakaknya yang terkesan tak mendengarkan curhatanya padahal dia juga merasa sangat malu saat mau menyampaikanya tapi dia beranikan agar Kakaknya tahu setidaknya mungkin Kent bisa memvantunya jika dia menceritakanya tahunya malah sepertinya Kakaknya sama sekali terlihat tak mendrngarkan apa yang dikatakanya.
"Tidak bukan itu maksudku aku mendengarkan apa yang kau katakan dan aku mengerti maksudmu hanya saja.... hah... bagaimana aku mengatakannya"
"Kenapa? Jadi tidak ada lowongan di tempat Kakak ya? Ya sudahlah kurasa Claudi harus mencari pekerjaan di tempat lain" ujar Nisa merasa sedih memikirkan masa depan keluarganya nantinya.
"Bukan.... bukan begitu maksudku sudah ku katakan....
"Claudius memang adalah seseorang yang bakrut sebelumnya tapi aku yakin jika dia mau pasti dia akan bisa bangkit dan memulainya kembali dari awal.
Aku ingin Claudi melakukan itu dan untuk langka awal dia harus mencari pekerjaan terlebih dahulu jika dia sudah memiliki modalnya sendiri suatu hari nanti dia boleh membangun kembali usahanya yang dulu dia lakukan.... aku hanya ingin Claudi melakukan itu dan melupakan semuanya juga lepas dari keterpurukannya saat ini...."
"Nisa" panggil Claudi yang baru datang dengan membawa beberapa camilan kue kering dan potongan buah-buahan segar dipiring menghentikan perkataan Nisa.
"Oh .... Claudi bagaimana keadaan Nona Raisa"
"Raisa dia sudah membaik sepertinya harapanmu terkabul"
"Benarkah syukurlah
Hmmm... apa yang kau bawah itu?" Nisa menujuk pada piring yang dibawah Claudius.
"Camilan ada buah-buhan juga tadi aku bawakan untukmu aku tak tahu jika ada Kakakmu juga disini" Claudi memberikannya pada Nisa dan dia mengambil tempat untuk duduk di gazebo itu juga.
"Ah...Kak Kent baru saja datang"
__ADS_1
"Hn"
"Tapi aku juga harus segera kembali Nisa" Kent berdiri dari tempatnya.
"Eh... kenapa Kakak sebentar sekali mampirnya" ujar Nisa kecewa karna Kakaknya harus kembali pergi setelah datang dalam waktu yang sangat singkat tak ada waktunya hinga 30 menit yang dihabiskan bersama.
"Mau bagaimana lagi lain kali aku akan datang lagi" Kent tersenyum membawa sang adik dalam pelukan singkatnya.
"Iya"
"Baiklah aku pergi sekarang"
"Ya... oh tunggu kak" Nisa menghentikan Kakaknya yang hampir berjalan pergi.
"Hmm... ada apa?"
Nisa mendekat kembali pada sang Kakak memberi kode ingin membisikan sesuatu Kent yang mengerti kode yang diberikan adiknya segera menunduk dan memberikan telinganya pada sang adik.
"Jika kakak mengetahui ada lowongan pekerjaan dimanapun tolong kasih tahu aku ya... aku akan meminta Claudi untuk melamar kesana nantinya kakak mengertikan" ujar Nisa berbisik di telinga sang kakak.
"Ah.. ya" jawab Kent kikuk sambil memandang lurus pada Claudius dia yakin pria itu bisa mendengarkan apa yang di katakan Nisa barusan.
Kent tak bisa berbuat apapun dengan semua kesalahan yang ada dipikiran Nisa saat ini.
"Baiklah aku akan selalu menunggu kabar dari Kakak" kata Nisa dengan seyum senangnya.
"Baiklah aku pergi sekarang"
"Ya"
Kent mengusap puncak kepala Nisa kembali untuk sesaat dan segera pergi meninggalkan sang adik di rumah Haiden itu kembali.
Diluar rumah Haiden Kent terlihat mengacak rambutnya yang ia ikat tinggi itu dengan kasar ia tak habis pikir dengan apa yang diminta adiknya itu padanya.
Dan sialnya lagi dia tak bisa menolaknya apalagi melihat wajah adiknya yang penuh harap itu.
Dia tahu apa yang di pikirkan adiknya dia juga mengerti apa yang di khawatirkan adiknya karna semua orang juga pasti akan merasakan hal yang sama seperti adiknya jika melihat calon suami yang akan dinikahinya adalah seorang pengangguran dan tak memiliki pekerjaan padahal setelah pernikahan mereka selesai diselengarakan itu bukanlah sebuah akhir dari perjalanan seseorang melainkan awal yang baru yang harus mereka lakukan setelahnya.
Jadi pantas saja jika Nisa begitu terlihat Khawatir dengan pekerjaan calon suaminya itu apalagi mereka harus menghidupi anak mereka juga kebutuhan yang diperlukan tidaklah sedikit.
Tapi harusnya Nisa tak perlu memikirkan semuanya dengan seserius itu karna dia yakin jika Pureblood itu pasti memiliki kekayaan yang begitu banyak entah dimana karna biar bagaimanapun kebayakan bangsawan Vampire memang memiliki kekayaan yang begitu banyak itulah yang dia ketahui tapi sanyangnya Nisa sama sekali tak mengetahui hal itu dan dirinya tak bisa memberi tahukan hal itu juga pada sang adik itu jugalah yang membuat Kent merasa sedikit frustasi saat ini.
__ADS_1
Niatnya ingin melihat keadaannadik kecilnya yang berada disarang Vampire sekarang justru dia harus mendengarkan curhatan adiknya yang memintanya untuk mencarikan lowongan perkerjaan untuk makluk yang merupakan musuh bebuyutanya atas permitaan sang adik sunggu dunia ini sudah mau gila rasanya.
Tbc