Couple Vampire Lord

Couple Vampire Lord
Chapter 44


__ADS_3

Saat ini Claudi dan Nisa berada di ruang inkubato untuk melihat bayi mereka.


Meski mereka tak diperbolehkan memasuki ruangan itu tapi mereka masih bisa melihat bayi mereka dari kaca besar yang memisakan ruang itu.


Nisa yang duduk dikursi roda terlihat Haru bahagian bisa melihat buah hatinya bersama Claudi dibelakanya Claudi dengan setia menemani kemanapun Nisa berada.


"Dia sangat kecil" gumam Nisa melihat bayinya yang masih merah itu didalam inkubator.


"Ya. Dia harus terlahir sebelum waktunya karna itu dia terlihat sangat kecil... tapi kamu tenang saja dia saat ini dalam keadaan yang sangat baik dan setabil jangan Khawatir karma dia adalah anak yang sangat kuat seperti dirimu sayang"


Nisa tersenyum mendengarkan apa yang dikatakan Claudi dia percaya sepenuhnya pada pria itu.


"Iya"


Keadaan Nisa memang semakin membaik dan kecepatan pemulihanya lebih cepat dari pada manusia normal lainnya karna Nisa sudah mengkonsumsi darah Claudi sebelumnya.


Lalu soal mentalnya Nisa tak menujukan sesuatu yang serius seperti yang ditakutkan oleh Haiden sebelumnya wanita itu terlihat sangat baik entah karna dia keturunan Hunter atau bagaimana hingga dia memiliki mental yang cukup kuat untuk menghadapi masalah yang sebelumnya dihadapi dan setelahnya ia bisa bersikap baik-baik saja seperti itu.


Karna Haiden juga sudah mengeceknya sendiri jika Nisa dalam keadaan baik dan stabil dari mulai keadaan tubuhnya maupun kejiwaannya.


Memang awalnya Nisa menujukan rasa trauma tapi seiring berjalannya waktu semua yakin jika Nisa pasti bisa memgatasinya dengan sangat baik.


"Ngomong-ngomong kamu akan memberi nama apa pada bayi kita?" Tanya Nisa tiba-tiba mereka masih ditempat yang sama saat ini memandang bayi mereka yang sedamg tertidur pulas.


"Hn!" Tanggap Claudi tak menyangka jika Nisa tiba-tiba bertamya soal nama bayi mereka.


"Kamu belum menyiapkanya harusnya begitu lahir kau menyiapkanya kamukan Papanya" ujar Nisa meledek.


"Ryuu" celetuk Claudi.


"Hmm.... Ryuu?"


"Al_zelvin Ryuu The Night" putus Claudi sebagai nama Anak mereka.


"Al_zelvin Ryuu The Night! Lalu panggilanya Ryuu?"


"Hn. Apa kamu suka? Atau tidak?"


"Ryuu itu nama yang bagus aku menyukainya" ujar Nisa sambil terseyum tulus dia merasa sangat bahagia saat ini.


"Syukurlah kalau kamu juga menyukainya" Claudi memeluk Nisa dari belakang kursi rodanya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Beberapa bulan sudah berlalu disebuah rumah sederhana tapi memiliki dua lantai juga taman hijau yang indah meski tak terlalu luas.


Diteras rumah yang menghadap pada taman hijau indah disamping rumah terlihat seorang pria sedang mengoda seorang bayi yang berada di pangkuannya.


"Ha... ha.... kenapa kamu belepotan sekali" ujar pria itu membersikan sisa makanan bayi yang tadi di makan bayi itu di pipi tembem sang bayi.


"Dia baru saja selesai makan paman" ujar seorang wanita bersurai pirang membawa tisu basah untuk membersikan sisa makanan yang menempel di pipi bayinya.


Dengan telaten wanita itu membersikan anaknya agar bersi kembali dari sisa makananya.


"Sudah bersi" wanita itu segera memberikan mainanan pada bayi itu agar tenang dan dirinya pun ikutan duduk di samping pria yang sedang memangku sang bayi.


"Apa kamu akan mengambil tawaran Kent"


"Entahlah mungki aku akan melakukannya saat Ryuu sudah mulai sedikit lebih besar dari sekarang"


"Begitu"


Bayi dengan bola mata berbedah warna di masing-masing bola matanya itu melihat kearah Mamanya dengan mengakat kedua tanganya tanda jika dia minta di gendong sang Mama setelah melempar mainannya.


"Sepertinya kamu sudah bosan ya denganku...." ujar Garry sambil menguyel perut Ryuu tak mau memberikanya pada sang Mama.


Ryuu tertawa kecil merasakan geli diperutnya karna terkena wajah dan rambut Garry.


"Ternyata kalian ada di sini patas di dalam sepi" Seorang pria lain baru datang.


"Kak Kent sudah pulang" ujar Nisa menyambut kedatangan sang kakak.


Kent segera mengambil Ryuu dari pangkuan Gerry memberikan ciuman beruntun pada bayi gembul itu.


"Kenapa terlambat sekali apa kamu mendapatkan kesulitan?" Tanya Garry.


"Tak masalah kau juga tahu perkerjaan ini memang selalu menyusakan buka"


"Ha... ha... kau memang benar"


Begitulah kebersamaan yang setiap hari mereka lakukan jika berkumpul bersama.


Nisa membawa Ryuu keluar hari ini untuk mengujungi resto Bu Sella Ryuu terlihat begitu mengemaskan pakaian panda dengan topi pandanya yang dipakainya membuat wajahnya yang bulat terlihat semakin bulat.


"Oh ....siapa ini yang datang sayangku Ryuu....." sambut Bu Sella saat melihat Nisa dan Ryuu datang ke restonya.


"Hallo Bibi" balas Nisa dengan nada anak kecil sambil melambaikan tangan Ryuu.


"Astaga dia makin bulat ya" Sella menoel-noel pipi bulat Ryuu.


Nisa hanya tersenyum melihat aksi Sella yang mengoda Ryuu.


"Loh.... bayi tampan Ryuu hari ini datang sini ikut Tante" ujar Reni pekerja di resto Sella.


Wanita yang umurnya lebih tua dari Nisa beberapa tahun itu segera merebut tubuh Kecil Ryuu dari gendongan Mamanya.


"Astaga Ryuu kenapa kamu bisa setampan ini sih sayangku.... kamu jadi anak Tante ajah ya"  goda Reni.

__ADS_1


"Kau itu menikah sana dan punya anakmu sendiri jangan anak orang yang kamu jadikan anakmu" sindir Sella.


"Aisss.... aku tak mau menikah pria jaman sekarang Brengsek semua" balas Reni.


Tuk


"Kalau bicaranya jangan sembarang ada anak kecil disini" balas Sella setelah memberikan satu ketukan ringan di kening Reni.


"Aiss... apaan sih Bu Sella apa yang kukatakan adalah kenyataannya" Reni tak mau kalah.


"Kamu pikir semua pria seperti yang kamu pikirkan itu.... makanya kalau cari pasangan jangan asal tampan saja cari yang baik juga setia yang mau serius"


"Aku mau menunggu Ryuu dewasa saja"


"Kamu pikir Ryuu kalau sudah dewasa mau dengan nenek-nenek seperti dirimu"


"Aiss.... Bu Sella menyebalkan Ryuu pasti mau iya kan Ryuu sayang"


Nisa hanya tersenyum melihat pertengkaran pemilik resto dan pegawainya sendiri itu karna itu sudah terlalu sering dilihatnya sudah biasa setiap diribya dan Ryuu datang pasti ada saja yang diperdebatkan kedua wanita itu.


Hingga pertengaran mereka berhenti karna ada pengujung resto yang datang.


Kliting.... kliting....


"Ada pelanggan sana pergi sambut mereka" usir Sella pada Reni.


"Ais... dasar Bos kejam" tak membantah Reni segera berdiri mengembalikan Ryuu kembali pada Mamanya.


"Bu Sella memang Bos yang kejam tapi Kak Reni masih saja betah ya bekerja di sini aku saja tak betah" celetuk Nisa menanggapi ucapan Reni.


"Kalau saja dia tak membayarku lebih aku pasti tidak akan kuat Nisa sungguh" ujar Reni dengan wajah yang menakutkan.


"Ha.. ha.. begitukah"


"Tentu saja"


Tuk


Satu ketukan ringan  kembali mengenai kepalah Reni yang di lakukan oleh Sella.


"Untuk apa aku membayarmu mahal sayang uangnya dong bukanya kau sendiri yang tak mau meninggalkan restoku" ujar Sella tak mau kalah.


"Ya.... ya... kapan aku melakukan itu"


"Kapan! Pikirkan saja sediri cepat pergi sana layani pelangan yang baru datang dengan baik"


"Iya ... iya" Reni segera pergi melayani pesanan pelangan yang baru datang tanpa penolakan sedikitpun.


"Kak Reni adalah pekerja yang rajin juga sangat ramah" ujar Nisa Melihat kepergian Reni.


"Dia memang rajin tapi Ramah? .... ramah apanya dia itu wanita muda yang suka bertindak semaunya sendiri kau tahu" jelas Sella tak terima dengan apa yang dikatakan Nisa.


"Tapi Bu Sella sangat menyukainyakan?"


"Iya ... itu tak bisa dipungkiri setelah dia mengantikanmu dia bekerja sangat rajin dan pekerjaannya juga sangat baik" jujur Sella.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2