
Hari sudah menujukan tengah malam seorang pria baru saja memasuki sebuah kamar yang di dalam kamar itu terlihat sang pemilik kamar sedang tertidur pulas dalam posisi miring kekanan.
Claudius itu adalah dia berjalan menghampiri tempat tidur dimana Nisa berada memandang teduh pada wanita pirang yang tertidur pulas itu mengingat kembali apa yang di bicarakanya dengan para pengikutnya sesaat sebelum dia mendatangi kamar Nisa.
Flasback on
"Tuan Claudisus kenapa anda melakukan hal ini dia adalah manusia yang hanya akan menjadi kelemahan bagi anda nantinya" ujar Stefani masih kelihatan tak senang.
Claudius menatap tajam Stefani dan berdiri dari tempat duduknya untuk menghampiri wanita itu.
Stefani nanpak gugup saat Claudius menghampirinya.
"Meskipun begitu dia adalah istriku saat ini dan juga saat ini tengah mengadung anakku aku tak akan membiarkan sesuatuh hal buruk apapun menimpah mereka" ujar Claudius dingin tepat di telinga Stefani dan tentu masih bisa didengarkan oleh semua orang yang berada diruangan itu bagaimanapun mereka semua adalah vampir jika hanya mendengatkan bisikan Claudius dari jarak saat ini mereka pasti masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
Semua orang terdiam setelah mendengarkan bisikan dingin Claudius yang diarahkan pada Stefani termasuk gadis cantik itupun demekian.
Setelahnya Claudius segera meninggalkan mereka semua tak ingin mendengar hal-hal yang menurutnya tak perlu di dengar meninggalkan semua orang yang terdiam tak lagi berani melontarkan perkataan tak setuju mereka.
Ini adalah hidupnya dan dia tak mau lagi kehidupanya di campuri oleh tangan orang lain lagi seperti yang terjadi di masa lalunya.
Flesback off
"Aku tak akan membiarkan siapun menyentuh dan menyakiti kalian" gumam Claudius sambil memainkan surai pirang Nisa dijarinya dan menyingkirkan beberapa anak rambut yang berada di wajah Nisa.
Setelah puas memandang wajah damai sang wanita yang mengandung anaknya kini perhatian Claudius beralih pada Perut buncit Nisa perlahan tapi pasti pria itu dengan sangat lembut mengelus permukaan perut itu bibirnya terangkat keatas menujukan kesenangan juga ketulusannya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Pagi haripun datang Nisa terbangun dikejutkan dengan keberadaan pria yang di peluknya dengan nyaman yang tertidur di sampingnya dalam keadaan setengah duduk menyandarkan sebagian tubuhnya di kepala ranjang.
"Kenapa Claudi ada disini?" Monolog Nisa dengan Wajah memerah menginggat tadi saat dia bagun dia sudah dalam keadaan memeluk pinggang Claudius.
"Kau sudah bangun?" Tanya Claudius dengan suara khas orang bangun tidur.
"Ah... ya.." jawab Nisa cepat dan segera duduk menjaga jarak dari Claudi dengan wajah memerah dan menunduk dalam.
"Sepertinya aku ketiduran disini hingga pagi aku akan pergi sekarang" kata Claudius kalem dan segera berajak turun dari tempat tidur Nisa.
"Soal lamaranku waktu itu apa kau sudah memutuskan jawannya?" Ujar Claudius lagi.
"Em.. itu...." jawab Nisa masih belum yakin dengan perasaannnya.
"Aku tak akan berubah aku akan menunggu jawabanmu sampai kapanpun jangan terlalu tertekan untuk memikirkannya" kata Claudius lagi dengan senyum di bibir merahnya sebelum pria itu pergi keluar dari kamar itu.
Dia harus bersabar hingga Nisa mau menerima lamarannya seperti yang dikatakan oleh Haideh apapun yang terjadi jika dia ingin mendapat wanita itu dia harus relah mekakuknnya setahap demi setahap untuk menyakinkan Nisa meskipun mereka sebenarnya sudah menikah tapi Nisa tak akan bisa menerima pernikahan mereka yang dilakukan dengan cara bangsa Vampire.
Meski bangsa vampire juga menyelengarakan hal yang sama seperti manusia saat menikan seperti pesta pernikahan, bertunangan dan lain sebagainya hanya satu yang membedakan dan hal itu adalah bagian paling suci di pernikakan vampire yaitu ikatan Darah jika manusia akan mengucapkan janji suci satu sama lain sebagai tahap paling suci dan tak bisa di lewatkan berbedah lagi dengan pernikahan Vampire mereka harus melakukan ikatan Darah sebagai ikatan suci mereka hanya dengan melakukan itu saja mereka sudah dianggap resmi menjadi pasangan suami istri.
Dan Claudius sudah melakukanya bersama Nisa saat mereka pertama bertemu karna itulah Nisa saat ini bisa hamil anak Claudius kini yang tersisa adalah membujuk Nisa untuk mau menikah dengannya secara adat Manusia agar wanita itu bisa merasa lega dan tak terbebani untuk mau menerima Claudius secara suka relah.
'Kenapa dia begitu baik apa tak apa aku menerimanya padahal dia tahu aku sedang mengandung anak orang lain, aku juga merasakan perasaan yang berbeda pada Claudi saat ini perasaan yang berbedah dengan prasaan saat aku baru datang kerumah ini' pikir Nisa begitu dalam.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Beberapa saat setelahnya semua orang kini telah berkumpul diruang makan.
Nisa tak menyangkah jika orang-orang yang datang hari sebelumnya ternyata menginap di rumah Haiden juga.
Rumah Haiden memang besar jadi jika kedatangan empat orang lagi itu bukanlah masalah besar karna ada banyak kamar yang tak terpakai di rumah ini para pelayanpun menempati paviliun berbedah dari rumah utama jadi jika hanya kedatang 4 orang saja itu tak berefek apapun memang.
"Em... selamat pagi" sapa Nisa pada semua orang yang duduk di kursi meja makan hanya Haiden yang terlihat masih melayani Claudius seorang juga para maid yang bekerja melayani yang lainnya seperti biasanya.
Semua yang mendengar sapaan dari Nisa segera mengalikan perhatian mereka pada wanita hamil itu.
"Pagi" balas Claudius halus dan sebagai orang yang pertama.
"Pagi kemarilah duduklah disini" itu Haiden sambil menarik tampat duduk yang berada di samping Claudius.
"Ah.. iya" Nisa segera berjalan menghampiri Haiden dan menerima tawaran dengan duduk di tempat yang disiapkan oleh Haiden.
Dan setelah Nisa duduk di tempatnya beberapa orang yang duduk dihadapanya pun ikut membalas sapaannya sebelumnya.
"Pagi apa tudurmu nyenyak?" Itu Raisa.
"Ya"
"Pagi/pagi" Cain juga Rafael bersamaan.
Sedangkan Stefani tak melakukanya wanita itu lebih memilih meminum minumanya dari pada membalas sapaan Nisa.
'Mereka semua minum wine di pagi hari?' pikir Nisa saat melihat gelas-gelas Wine di hadapan mereka semua masing-masing.
Hanya Claudius saja yang terlihat dengan secangkir teh dihadapanya Nisa sudah tahu hal itu dari awal jika Claudius selalu minum Teh buatan Haiden setiap saat dia mau.
"Makanlah yang banyak" ujar Claudius memberikan daging bagianya di piring Nisa.
__ADS_1
"Eh... iya" jawab Nisa dengan wajah memerah meski dia sudah terbiasa dengan apa yang di lakukan Claudius tapi jika di hadapan semua orang seperti para pengikut Claudius yang lainnya dia juga bisa merasa malu karna biasanyakan hanya ada Haiden di sekitar mereka.
Tbc