
Seperti yang di minta Claudi Nisa datang kerumahnya bersama Ryuu yang masih tidur sedang di gendonganya.
"Kamu sudah datang" sambut Claudi setelah membuka pintu.
"Ya"
"Ryuu tidur!? Masuklah" tanya Claudi melihat Ryuu yang tidur di gendongan Nisa.
Seperti biasanya Claudi memberikan jalan agar Nisa bisa masuk kerumahnya.
"Iya"
"Tidurkan Ryuu dikamarku... ayo ikut aku" kata Claudi meminta Nisa untuk mengikutinya.
"Kamarmu apa tak masalah?" tanya Nisa merasa tak enak.
"Kenapa? apa masalahnya ksmar lain masih berantakan belum dibereskan tak mungkim Ryuu tidur dikamar yang beranrakan bukan?" jawab Claudi.
"Ah... baiklah" Nisa mengikuti Claudi kekamarnya untuk menidurkan Ryuu yang saat ini sedang tidur pulas.
"Hari ini Ryuu tidur cepat ya? karna jam segini Ryuu sudah tidur bukankah kemarin dia tidur lebih malam dari ini?" Tanya Claudi masih dalam perjalanan menuju kamarnya yang terletak dilantai dua.
"Iya hari ini Ryuu memang sudah tidur sejak sore itu hal biasa bagi anak seumuran Ryuu" jelas Nisa.
"Disini ini kamarku kamu bisa menidurkan Ryuu disini" Claudi kembali membukakan pintu kamarnya untuk Nisa dan mereka memasuki kamar itu bersama-sama.
Nisa segera menidurkan Ryuu kembali tapi kini tak berada di box bayi melainkan di ranjang Claudi.
Sebelum meninggakan Ryuu Nisa memberi sisi-sisi tubuh Ryuu dengan bantal Claudi untuk mencega sesuatu yang tak diinginkan terjadi.
Setelahnya mereka segera keluar kamar meninggalkan Ryuu agar tak merasa terganggu tapi sebelum itu Claudi masih sempat memberi kecupan ringan dipipi Ryuu sebelum benar-benar meninggalakan bayi itu.
"Memang apa yang ingin kau tunjukan padaku" tanya Nisa setelah keluar dari kamar sekarang mereka sedang berjalan menuruni tangga menuju lantai satu.
"Didapur" ujar Claudi.
Merekapun pergi kedapur dengan kepala Nisa yang kini sedang penuh tanda tanya penasaran dengan apa yang akan ditunjukan Claudi padanya.
"Mana" tanya Nisa saat mereka sudah berada di dapur...... dapur itu nampak seperti kemarin dan masih terasa dingin itulah yang dirasakan Nisa saat memasuki dapur Claudi pertama kalinya sebelum dia menyadari ada sedikit perubahan yang terjadi di dapur itu. dia melihat beberapa prabot disana seperti panci, pant, spatula peralatan makan seperti piring dan gelas juga ada padahal kemarin benar-benar kosong yang ada hanya peralatan elektronik seperti oven, kulkas, microwef dan yamg lainnya yang berbauh-bauh elektronik saja.
__ADS_1
'Apa Claudi mau menujukan jika dirinya habis membeli peralatan memasak' pikir Nisa saat melihat alat-alat memasak itu.
"Apa kamu habis membeli peralatan memasak? Apa itu yang ingin kamu tunjukan padaku?" Tanya Nisa Akhirnya sambil menujuk kearah panci dan teman-teman lainnya yang sudah tertata dengan sangan baik.
"Peratan memasak!?" Claudi melihat kearah yang ditunjuk oleh Nisa dan Claudi baru menyadari jika ada beberapa benda baru di dapur itu memang.
"Hn. Sepertinya Haiden juga membeli itu semua tapi bukan itu yang ingin kutunjukan padamu" kata Claudi lagi melanjutkan.
"Hmm... jadi bukan itu? Lalu apa?" Kata Nisa penasaran.
"Disini" Claudi berjalan kearah kulkas miliknya Nisa hanya mengikuti gerak-gerik Claudi yang berjalan menghampiri kulkas dia penasaran apa yang akan ditunjukan Claudi padanya.
Dan setelahnya Claudi segera membuka kulkas itu untuk menujukan isi dari kulkas itu.
"Bagaimana? Apa menurutmu ini sudah cukup" tanya Claudi dengan ekspresi seriusnya.
"Apa ini?" Tanya Nisa tak mengerti.
"Apa masih kurang atau salah? orang-orang itu mengisinya seperti ini.... disini juga sudah ada air minum seperti yang kamu katakan kemarin. Lihatlah ini" ujar Claudi menujukan semuanya termasuk botol Airpun ia tunjukan pada Nisa.
Pfft
"Ha.. ha.. ha... Astaga kenapa kamu begitu lucu Claudi..... ha... ha... aduh... duh... perutku sakit.... tapi aku tak bisa berhenti tertawa... ha..ha..."
"Kau tertawa?" Ujar Claudi dengan senyum tipis di bibirnya merasa senang karna melihat Nisa yang tertawa lepas dia bepikir sepertinya dia sudah membuat Nisa merasa senang karna dia melakukan apa yang Nisa katakan kemarin yaitu mengisi Kulkasnya tidak sia-sia diameminta Haiden melakukan itu semua dan memanggil Nisa untuk menujukan pada wanita beranak satu itu. terbukti bahwa Nisa terlihat sangat senangkan dengan menijukan tawa lepas seperti itu bukankah manusia selalu begitu jika merasa senang.
"Ah... maafkan aku" ujar Nisa gelagapan merasa bersalah dan tak enak karna sudah menertawakan Claudi.
"Untuk apa kamu meminta maaf? Kamu boleh tertawa sebanyak yang kamu mau.... aku tahu kamu merasa senang buka.... saat aku menujukan ini padamu..... aku melakukan seperti yang kamu katakan kemarin jadi kau tak perlu menahan rasa bahagiamu..... kau tahu aku senang jika melihatmu senang" ujar Claudi yang memang sejak awal sudah salah paham mengartikan tawa Nisa.
Nisa terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Claudi.
'Jadi dia Melakukan ini karnaku... karna ingin membuatku senang' pikir Nisa dan kini wanita itu tersenyum tipis pada Claudi.
"Kenapa kau begitu manis" celetuk Nisa tanpa sadar.
Claudi yang mendengar itu entah kenapa membuat daun telinganya memerah hatinya begitu senang dan bahagia mendapatkan pujian tulus dari wanita dihadapannya.
Dirinya merasa aneh tapi juga menyenangkan hanya Nisa yang mampu membuatnya seperti itu.
__ADS_1
Hanya karna pujian sedikit saja dari Nisa dia akan langsung merasa sangat senang dan bangga meski dia sering mendapatkan pujian dari orang lain itu sama sekali tak berguna untuknya karna baginya hanya Nisa yang terpenting.
"Kau sudah mengisi penuh Kulkasmu sekarang tapi apa kamu bisa memasak itu semua?" Tanya Nisa lagi.
Nisa baru ingat kalau selama ini kelihatannya Claudi tak perna mengijakan kaki kedapur dan selalu beli makanan diluar sana karna itu dapur Claudi kosong.
Tapi kini pria itu mengisi dapurnya dengan berbagai macam bahan makana dan peralatan baru karna melakukan apa yang dikatakanya di hari sebelumnya tapi dia tak yakin jika Claudi bisa memasak bahan-bahan yang dibelinya itu.
"Memasak!?"
"Iya. kamu bisakan?"
"Aku hanya perna masak Mie instan itupun karna seseorang" jawab Claudi jujur sambil mengingat kejadian dimana dia harus terpaksa memasak karna Nisa yang sedang ngidam saat itu.
"Hanya Mie Instan semua orang pasti bisa maksudku masak masakan sungguhan?"
"......"
"Hah... sudah kuduga ini yang terjadi mengingat selama ini dapurmu selalu kosong dan kamu mengisinya hari ini juga kamu bilang karna apa yang kukarakan kemarin... lalu bagaimana setelah ini tak mungkin bukan kamu membiarkan bahan-bahan makanan itu begitu saja dan menjadi rusak tanpa kamu masak"
"Lalu bagaimana? Hn.... Apa kamu mau mengajariku memasak?"
"Hah.... kenapa aku"
"Karna hanya kamu yang bisa kumintai tolong"
"Hah... baiklah kalau begitu.... belajar memasaknya kita mulai besok saja.... sekarang yang terpenting apa kamu sudah makan malam?"
"Belum"
"Sudah kuduga aku akan membuatkan sesuatu untukmu hari ini" kata Nisa sudah menduganya.
"Kalau begitu kamu akan makan juga disini"
"Hmm.... baiklah ayo kemarilah bantu aku ini juga anggap sebagai awal belajar juga"
"Ya"
Serelahnya merekapun memasak bersama dengan Claudi membantu meski sebenarnya sama sekali tak bisa di bilang sebagai membatuh dan lebih bisa dibilang menganggu dan merusak semuannya.
__ADS_1
Tbc