Couple Vampire Lord

Couple Vampire Lord
Chapter 84


__ADS_3

Perjalan kerumah hari sudah menujukan sore menjelang malam Claudi mengendarai mobilnya dengan perlahan tak terlalu pelan ataupun cepat.


Saat sedang asik mengobrol dengan tenang tiba-tiba Claudi membanting setir kemudinya dan mengerem mendadak hingga Nisa berteriak karna apa yang dilakukan Claudi untung saja mereka semua selamat dan tak terjadi apapun pada mereka semua.


KYAAAAAA


Claudi menghentikan mobilnya dan menghadap pada Istrinya yang memeluk anak mereka dengan erat.


"Kalian tak apa?" Tanya Claudi.


"Kami tidak apa-apa sebenarnya ada apa kenapa kamu melakukan itu mendadak"


"Tetep disini dan tetep tenang ada sesuatu diluar aku akan keluar untuk memeriksanya" jelas Claudi.


"Ada apa katakan sesuatu" ujar Nisa merasa khawatit.


"Tenanglah tidak usah khawatir semua akan baik-baik saja aku akan atasi mereka" Claudi mencoba menenangkan istrinya.


Setelahnya Claudi segera keluar dari mobilnya berdiri tepat didepan mobilnya.


Tiga orang keluar begitu melihat Claudi keluar dari mobilnya.


"Saorang pureblood aku akan jadi semakin kuat jika meminum darahmu"  ujar salah satu orang yang berada dihadapan Claudi.


Claudi tak mengatakan apapun hanya mengakat sebelah tanganya yang diarahkan ketiganya dan dalam sekejap ketiganya hancur besamaan tak menyisakan apapun yang hanya tinggal terdengar triak menjerit ketiganya diudara.


KYAAAAAAA.......


Claudi tak bergerak Nisa yang berada  didalam mobil menutup mulutnya agar tak menjerit dengan satu tangannya ia gunakan untuk menutupi mata Ryuu yang sedang duduk dihadapanya menghadap langsung kearah dimana sang Papa menghabisi ketiga orang vampire dalam sekejap.


Setelah melihat Claudi selesai dengan urusanya Nisa keluar dari mobil untuk menyaksikan apa yang sudah terjadi dihadapanya yang kini telah menghilang sepenuhnya.


"Claudi" panggilnya.


Claudi membalik tubuhnya melihat kearah Nisa yang berdiri disamping pintu mobil bersama Ryuu digendonganya.


"Semua sudah selesai jangan Khawatir" kata Claudi berjalan menghampiri Nisa berada.


"Masuklah kembali kita pulang" lanjut Claudi mengiring sang istri masuk kembali kemobilnya.


Setelah Masuk Claudi juga kembali masuk di jok pengemudi dan setelahnya segera meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanan pulang mereka.


"Apa kamu merasa takut?" Tanya Claudi ditengah perjalanan mereka.


"Eh..." Nisa menghadap kearah Claudi tak mengerti.


"Dulu di kehidupanku sebelumnya semua orang takut padaku saat setelah mereka mengetahui diriku yang sebenarnya, mereka ingin mengusirku bahkan ada yang ingin memusnakan diriku, itu adalah tindakan yang mereka lakukan atas dorongan ketakutan mereka, meraka tak ingin teracam olehku, aku mengerti itu..... jadi apa kamu juga merasa seperti itu?"


Mendengar apa yang dikatakan Claudi suaminya itu Nisa diam sesaat setelahnya dia mengelengkan kepalahnya sebagai jawaban.


"Aku tak takut padamu jika memang aku merasakan hal itu makan akan sejak awal aku akan menghidarimu saat mengetahui dirimu yang sebenarnya.... bagiku kamu adalah pria yang begitu baik yang tak akan perna mencoba menyakitiku... aku juga sangat bahagia saat kamu ada disisiku jadi untuk apa aku takut padamu.... aku sangat mencintaimu Claudi" ungkap Nisa.

__ADS_1


Claudi tersenyum puas dan lega mendengar apa yang dikatakan oleh Nisa untuknya dirinya masih fokus mengedalikan kemudi tapi sebelah tanganya terlepas dari kemudi yang dikendalikanya untuk mengenggap erat tangan pasangan yang akan menemaninya sepanjang hidupnya.


"Terimakasih bagiku kau adalah segalanya... kau tahu kini aku semakin merasa yakin jika kau adalah rumahku Nisa rempatku untuk pulang, tempatku untuk bertedu dan berlindung dari segala macam hal yamg kurasakan kau selalu ada untukku, menerimahku, menemaniku, tempatku membuat kebangan dan membagi kenangan kamu adalah segalanya"


.


.


.


.


.


.


.


"Ancel" ujar Nisa saat melihat teman lamanya yang bediri tak jauh darinya memberikan  seyuman kearahnya.


"Jadi kamu benar-benar memjadi Bos disini?" Tanya Ancel dia baru tahu kabar itu dihari sebelumnya.


Saat dirinya berniat berkunjung dan mengubungi Nisa dia diberitahu Nisa agar dirinya datang kerestonya saja karna di waktu-waktu yang dikatakan oleh Ancel memang saat itu Nisa pasti berada diresto.


"Hmm... Claudi yang mengiginkan aku untuk mengelola Resto ini" jelas Nisa, mendengar  hal itu Ancel hanya bisa tersenyum kecut.


Dirinya sebenarnya belum benar-benar relah melepaskan wanita yang menjadi cinta pertamanya sekaligus sahabat baiknya itu pada pria lain.


"Begitu. Lain kali aku akan datang bersama teman-temanku apa boleh" ujar Ancel agar suasana hatinya tak buruk.


"Oh.. iya bagaimana kuliamu?" tanya Nisa.


"Semua baik" jawab Ancel.


"Sudah kuduga pasti berjalan baik atau mungkin bisa dibilang sangat baik karna itu dirimu" Nisa tersenyum tulus saat mengatakanya.


"Ya... kamu selalu berlebihan" kata Ancel sambil meminum jus jeruk dihadapanya tak menyadari jika saat ini telinganya memarah karna mendengar pujian dari wanita yang disukainya tapi sayang Nisa wanita yang disukainya itu juga tak menyadarinya.


"Aku tak berlebihan kau selalu jadi yang terbaik sejak kita sekolah dulu jadi jangan merandakan dirimu sendiri Ancel"


"Disekolah berbedah dengan diuniversitas kau juga tahu itukan"


"Ya, memangsih tapi kalau kau aku yakin pasti akan selalu melakukan yang terbaik yang bisa membuat semua orang bangga juga iri"


"Kau bercanda, yang membuat iri itu dirimu kau tak tahu seberapa orang-orang yang mengenalmu begitu iri padamu"  ujar Ancel mengatakan yang sebenarnya meski dia sebenarnya tak mau mengakui fakta itu tapi semua sudah ada dihadapanya. dia sudah tak bisa menjangkau wanita dihadapanya itu lagi yang kini telah menjadi milik seseorang yang begitu berpengaruh dinegara mereka.


"Kenapa jadi aku?" Tanya Nisa tak mengerti.


"Lalu siapa lagi"


"Jangan bercanda aku bahkan tak bisa melanjutkan dan menyelesaikan studyku bagaimana itu mungkin"

__ADS_1


"Kau benar-benar tak sadar atau pura-pura tak menyadarinya lagi pula jika hanya study kau bisa memulainya kapapun kamu ingin melajukanya sekali lagi bukan"


"Hm... memang benar sih tapi aku tak yakin... entahlah"


"Kenapa? Bukankah beberapa waktu lalu kamu bilang Kak Kent menawarimu untuk kembali melanjutkan studymu dan kamu bilang masih memikirkannya... lalu sekarang kenapa kamu bilang begitu?" Tanya Ancel tak mengerti apa yang dipikirkan Nisa.


"Oh... benar juga aku perna mengatakan itu ya? Hi... hi.." ujar Nisa dengan kikikan tawa diakhir kalimatnya.


"Aiss.... kau selalu saja bercanda" gerutu Ancel meski begitu pria itu sama sekali tak marah justru ikutan tersenyum melihat Nisa yang tertawa di hadapanya.


"Lalu bagaimana apa kau tak mau melanjutkanya dan mengambil tawaran itu?" Tanya Ancel lagi.


"Entahlah saat ini aku hanya ingin fokus untuk membesarkan Ryuu dengan baik saja" jawab Nisa.


"Meski kau saat ini mengelola resto juga?"


"Ha... ha... ini hanya kegiatan yang kulakukan saat waktu luang saja karna yang utama bagiku tetap membesarkan Ryuu dengan baik dan merawat Suamiku juga"


"Begitu tapi apa boleh kau seenaknya begitu dengan usaha milikmu?"


"Mau bagaimana lagi Claudi juga sudah setuju kok dengan keputusanku ini"


"Hm"


"Oh... ya ngomong-ngomong Ancel apa kau tak punya seorang kekasih?" Tanya Nisa yang membuat Ancel harus merasakan tersedak oleh minuman yang dimumnya.


Uhuk.... uhuk.... uhuk.....


"Oh. astaga Ancel hati-hati kalau minum apa kau tak apa" kata Nisa berdiri membantu menepuk belakan pungung Ancel agar tersedaknya cepat redah.


"Ini" Nisa menyerakan Tisu pada Ancel dan diterima dengan baik oleh yang bersangkutan.


"Terimakasih" ujar Ancel memyeka mulutnya setelah selesai mereda tersedaknya.


"Jadi bagaimana?" Tanya Nisa lagi.


"Apa?"


"Kekasih kau tak perna berjalan dengan wanita selama yang aku tahu apa kau tak punya? kalau punya kenalkan padaku"


"Tak ada" jawab Ancel singkat.


"Benarkah... ini aneh padahal lau tampan kenapa tak ada wanita yang mau mendekatimu?"


"Apa?"


"Atau mungkin itu terjadi karna kau terlalu cuek akan sekitarmu karna itu kamu tak menyadari jika ada wanita yang menyukaimu"


"Hah... terserahlah karna saat ini aku sedang tak ingin menhalin hubungan seperti itu dulu aku ingin fokus untuk segera menyelesaikan studyku dulu"


"Hm..."

__ADS_1


Dan begitulah merekapun terus melanjutkan perbincangan mereka hingga Ancel berpamitan untuk pergi.


Tbc


__ADS_2