
"Kamu akan menempati apartemen ini" ujar Haiden. saat ini pria pirang itu sedang membawa Nao keapartemen yang telah disiapkan
"Aku mengerti terimakasih kalian sudah mau menerimaku untuk berada di antara kalian" ujar Nao dengan semua ketulusan yang bisa dia ungkapkan.
"Kau bisa masuk dan berkeling sendirikan aku harus pergi sekarang ke Rumah sakit" ujar Haiden lagi.
"Ya tentu saja, kamu bisa pergi, maaf sudah merepotkanmu didalam kesibukanmu"
"Hm" Haiden segera kemobilnya yang terparkir memasuki mobilnya dan memerintakan supirnya untuk segera mengatarkanya ke Rumah sakit tempat dia bekerja.
.
.
.
.
.
.
Disaat Claudi dan pengikutnya kedatangan orang baru di tengah-tengah kelompok mereka bebeda dengan Nisa yang dibuat kewalahan kengan Chat-chat dari teman-temannya.
Nisa tak tahu bagaimana nomer telponnya yang baru bisa tersebar padahal dia sama sekali tak perna memberikan Nomer telponya pada siapun.
Yang tahu nomer telponnyapun bisa dihitung dengan jari karna memang tak ingin nomernya terseber.
Dan harusnya nomernya itu hanya Kakaknya Kent, pamanya Gerry, lalu Reni dan Bu Sella lalu Claudi juga Ancel dan beberapa tetangga yang memang dekat dengannya itu saja yang mengetahui nomernya.
Tapi kini semua teman-temanya dulu yang dikenalnya telah mengetahui nomernya dan mereka terus saja kirim pesan padanya dan mereka mengatakan hal-hal aneh-aneh di pesan yang mereka kirimkan.
"Apa lagi ini sebenarnya apa sih mau mereka?" Gumamnya melihat semua pesan yang dikirimkan padanya.
"Hem... ini siapa?" Ujar Nisa penuh tanda tanya saat mendapat pesan baru dari nomer yang tak dikenalnya lagi.
Nisapun membuka pesan itu dan baru mengetahui siapa yang mengirim pesan itu.
//"Ini aku Evi.....
Apa kau ada dirumah?
Jika iya apa kamu punya waktu?
Ada yang ingin kukatakan padamu bisakah kita bertemu?
Jika kau seteju aku akan menunggumu di kafe Xx jam 15 : 00"//
__ADS_1
Isi pesan itu Nisa nampak berpikir untuk memutuskan datang atau tidak diundangan Evi sahabat yang sudah mencoba mempermalukannya sebelumnya.
Hari berikutnya
Nisa benar-benar pergi kekafe yang dibuat janjian dengan Evi wanita satu anak itu memang tak tahu apa tujuan dari Evi tapi biar bagaimanapun Evi adalah sahabatnya dulu saat mereka masih akrap setidaknya itulah yang di ingatnya jadi dia ingin tahu apa yang ingin Evi mau katakan padanya.
Dia mencoba sebaik mungkin untuk tak berburuk sangka pada Evi.
Saat memasuki kafe Evi sudah ada disana mengangkat tanganya untuk melampai pada Nisa menujukan dirinya pada seseorang yang ditunggunya.
Nisa segera berjalan mendekat pada wanita yang duduk sendirian itu.
"Maaf karna datang terlembat apa kamu sudah menunggu lama" ujar Nisa begitu sampai ditempat Evi.
"Tidak aku juga baru saja datang duduklah" ujar Evi masih dalam posisinya duduk tenang dihadapan Nisa.
Nisa yang sedang mengendong Ryuu mendudukan dirinya dihadapan wanita itu mengambil posisi yang senyaman mungkin dengan cara memangku Ryuu menghadap kedepan agar lebih mudah dan nyaman saat duduk.
Nisa sedikit merasa canggung sebenarnya mengingat kejadian sebelumnya juga jadi keadaan ini membuatnya merasa canggung.
Tak tahu dengan Evi sepertinya wanita itu terlihat biasa saja seperti tak perna terjadi sesuatu yang harus dipikirkan olehnya.
"Apa kamu mau memesan sesuatu?" Evi dengan tenang memberikan daftar menu pada Nisa.
Nisa menerima daftar menu itu dan hanya memesan minuman saja terlihat Evi juga memesan minuman saja karna dihadapan wanita itu juga hanya terdapat Minuman.
"Hm.. kau benar" tanggap Nisa.
"Kalau selerti ini benar-benar menginggatkan kita saay SMA buka.... apa kamu masih ingat waktu itu sunggu menyenangkan" Evi masih mencoba berbasa-basi.
"Hm... itu benar... tapi kamu bilang ingin mengatakan sesuatu apa itu?" Tanya Nisa setelah mendengar semua basa-basi dari Evi.
"Hmm... sebenarnya aku mau meminta maaf padamu" kata Evi masih terlihat tenang.
"......"
"Permisi ini minuman pesanan anda" seorang pelayan membawakan minuman pesanan Nisa membuat percakapan mereka terhenti sejenak.
"Oh.. iya terimakasih" balas Nisa.
"Jika membutuhkan sesuatu panggil saja saya kembali atau pelayan yang lainnya" ujar pelayan itu ramah.
"Baiklah"
"Kalau begitu saya permisi"
"Iya"
__ADS_1
Setelah pelayan itu pergi dari tempat mereka segera saja mereka menyambung percakapan mereka yang sempat tertunda sebelumya tapi kini yang mulai bicara terlebih dulu adalah Evi untuk melajutkan apa yang ingin di katakanya pada Nisa.
"Aku mau meminta maaf untuk kejadian sebelumnya... harusnya aku tak melakukan itu... kamu adalah temanku harusnya aku percaya padamu maaf sudah perna ragu akan dirimu... sekarang aku sudah memikirkan semuanya harusnya aku tak perna lakukan hal itu aku sunggu menyesal Nisa.... harusnya aku tak boleh terpengaru oleh omongan orang lain dan lebih mempercayaimu..... karna kamu adalah sahabatku..... sunggu aku sangat menyesala atas tindakanku itu.... aku tak bisa mengulang waktu sekali lagi karna itu aku hanya bisa meminta maaf padamu" ujar Evi wanita itu mengatakan semua penyesalanya itu sambil tertunduk dalam.
Nisa tak bisa melihat ekspresi diwajah Evi karna wanita itu yang sedang menunduk.
Dihatinya entah kenapa merasakan keraguan untuk memaafkan dan percaya dengan apa yang dikatakan teman lamanya itu tapi melihatnya seperti itu dia berpikir jika tak mungki untuk tak memaafkan atau memberi kesempatan pada Evi setelah melihat wanita itu meminta maaf dihadapanya seperti itu.
"Kamu tak perlu seperti itu kamu tenang saja aku sudah memaafkamu kok lagian kita dulu adalah temankan" ujar Nisa sambil memainkan jemari kecil Ryuu.
"Apa artinya kau memaafkanku? Apa artinya kita juga bisa berteman kembali seperti dulu?" Tanya Evi kini sudah kembali mengakat kepalanya dan bertanya dengan wajah penuh keantusiasan.
"Teman! bukankah aku tak perna memutuskan pertemanan kita?" Ujar Nisa begitu menusuk Evi meski sebenarnya Nisa sama sekali tak bermaksud untuk melakukan itu yaitu menyakiti perasaan orang lain dengan apa yang dikatamanya.
"Kamu benar memang akulah yang bodoh karna terpengaruh akan semua gosip itu dan karna tak ingin terseret akan masalahmu aku sendiri yang sudah memutuskan persahabatan kita.... harusnya aku tak melakukan itu... aku memang bodoh sekali" kata Evi sambil tersenyum pahit.
"Semua sudah berlalu jangan dipikirkan lagi"
"Kau benar kita tak perlu memikirkan yang sudah berlalu karna yang harus kita pikirkan sekarang adalah yang akan dagang" kata Evi dan diakhir tersenyum cerahnya.
"Hmm" tanggap Nisa.
"Oh ya.. anakmu itu namanya Ryuu kan?" tanya Evi mengalikan percakapan yang sebelumnya terasa begitu menekan wanita itu memandang Ryuu yang berada di pangkuan Mamanya sedang menghadap padanya.
"Ya"
"Dia benar-benar mirip Papanya ternyata aku baru menyadarinya sekarang" Evi masih memandang Ryuu yang sedang memaikan jari Mamanya dengan lekat.
"......"
"Oh...iya aku hapir lupa tunggu" Evi terlihat sedang mengambil tasnya dan mencari sesuatu didalam tasnya setelah mendapatkan apa yang di carinya dan segera wanita itu menyerakanya pada Nisa.
"Apa ini?" Tanya Nisa setelah melihat sesaat dan menerima apa yang diberikan oleh Evi.
"Itu undangan ulang tahunku kau harus datang ya.... kamu adalah teman baikku aku ingin kamu datang di hari bahagiaku itu dan aku mau menujukan pada swmua orang jika hubungan kita sudah kembali membaik saat ini" Ujar Evi penuh harap.
"Baiklah aku akan datang"
"Benarkah Syukurlah aku senang sekali.... kamu bisa datang bersama Papanya Ryuu dan Ryuu juga nanti pasti akan sangat menyenangkan" Evi semakin terlihat antusias
"Papanya Ryuu!?" Ujar Nisa penuh tanda tanya karna Evi mengataka soal Papanya Ryuu.
"Kenapa apa tidak bisa? Oh.. iya aku melihat Artikelnya Papanya Ryuu adalah CEO dari perusahaan C_N Crop kan? Pasti dia sangat sibuk mana mau dia tadang keacara remeh macam ulang tahun ya ha.. ha.. ha... ya udah kamu saja dan Ryuu yang datang bagiku kedatangamu saja sudah cukup dan itu sudah membuat aku begitu senang kok"
"Baiklah"
Tbc
__ADS_1