Deity System : Cultivation

Deity System : Cultivation
Chapter 149 : Ayunan Pedang


__ADS_3

**Swoosh**!!



Melihat anak panah berapi-api yang sedang menuju dirinya ini, membuat Leluhur IV sedikit bergidik ngeri, hanya karena kekuatan yang terkandung di dalamnya benar-benar sangat menakutkan.



"Jangan remehkan Leluhur ini!" Leluhur IV merentangkan kedua tangannya ke depan dan menciptakan sebuah pelindung emas satu sisi yang menutupi bagian depannya, ini pelindung yang sangat terbaik bagi dirinya.



Akan tetapi ...



Dia melihat keanehan, karena setelah Bing Hua selesai meluncur datar ke belakang dan ditangkap oleh Jiao Yue, bukannya tenang di tempat, tapi Jiao Yue justru membawanya pergi dengan cepat untuk menarik diri.



Kabur?



Leluhur IV mengernyitkan keningnya, meskipun begitu dia tidak memiliki banyak waktu untuk berpikir, hanya karena serangan panah kini sudah menyusul.



Ledakan!



"Hah?!" Dia menoleh ke belakang, suara barusan bukan berasal dari tabrakan anak panah di hadapannya, melainkan ada sesuatu yang meledak di belakangnya.



Booooooom...!!



Serangan pedang dan tombak raksasa milik Tian Yan dengan Deng Guang saling bertemu satu sama lain, pada awalnya kedua serangan seperti saling tarik menarik atau dorong mendorong satu sama lain, tapi akhirnya terjadi ketidakseimbangan dan keduanya meledak!



Dampak dari ledakan barusan sangat besar, bahkan seluruh hutan kabut seperti diratakan hingga rata dengan tanah, juga benda apapun dalam jarak 100 mil diluluhlantakan.



\*\*\*



"Uhuk! Uhuk!"



Wajah Jiao Yue menjadi pucat, dia berdiri dengan gagah berani di udara, di depan Sekte Naga Giok sambil memasang pertahanan raksasa yang menahan dampak ledakan barusan.



Begitu juga Bing Hua yang kini membantu melindungi para Origin King Lapisan 2 dan Origin King Lapisan 1 yang ikut bertarung dengan sekuat tenaga, tapi perjuangannya lebih mudah karena dibantu oleh Zhang Ye yang kekuatannya sendiri setara dengan 30% kekuatan seorang Origin King Lapisan 3.



Adapun Jiao Yang, dia dan Leluhur II terpaksa menghentikan gerakan mereka beberapa detik sebelum kedua serangan mematikan itu saling bertemu untuk melindungi diri masing-masing, namun itu sedikit mengerikan karena bahkan pelindung mereka sudah redup hanya dalam beberapa detik terkena dampak serangan.



Entah bagaimana nasib Tian Yan dan Deng Guang yang langsung hanya berjarak puluhan meter dari ledakan barusan.



"Itu mereka!" Leluhur II membocorkan suaranya, dan semua tatapan ikut terfokus ke arah yang dimaksud, maka dilihatlah dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana kondisi Tian Yan dan Deng Guang saat ini.

__ADS_1



Sangat parah!



Pakaian Tian Yan tersobek-sobek, luka-luka irisan juga muncul di kulit semulus gioknya itu, meninggalkan kekuatan Prinsip Tombak yang tampaknya masih bersarang di dalam, begitu juga Deng Guang yang memiliki nasib tidak jauh berbeda.



"Kau kuat!" Deng Guang mau tidak mau mengakui hal ini. Hal ini bukan berarti dia menyerah, tapi dia justru senang karena bisa melawan lawan yang kuat.



"Tian Yan, ayo!" Deng Guang memasang kuda-kuda bertombak, lalu Domain Tombak dilapisi cahaya pun keluar dari tubuhnya dan menyelimuti benda apapun dalam jarak 50 meter.



"Baiklah, ayo bertarung sampai ada yang mati di antara kita!" ujar Tian Yan, juga mengeluarkan Domain Pedang yang dilapisi dengan elemen Cahaya dan ...



"Elemen Api: Pedang Api!"



Wush!



Kekuatan Elemen Api yang membara menyelimuti seluruh tubuh pedang, panasnya berada di atas 1.000 derajat celcius, akan tetapi panas seperti itu hanyalah hak biasa bagi seorang Deng Guang.



Kedua Domain yang dikeluarkan oleh kedua pemuda itu saling tumpang tindih satu sama lain, menciptakan ilusi hidup di surga dan neraka, membuat seluruh dunia sepeda hanya terfokus kepada keduanya saja.




Ini dimulai, awal dari pertarungan antara seorang pendekar pedang dan pendekar tombak terbaik di Benua Huxing.



"Hyahhhh ..."



Ting! Ting! Ting! Ting!



Suara benturan logam kembali berbunyi, kali ini lebih keras dari sebelumnya, dan percikan api menyebar ke mana-mana.



Setiap ayunan pedang adalah Dao, setiap ayunan tombak adalah Dao. Keduanya benar-benar menggunakan gerakan yang terlihat lembut dan halus, sangat sedikit gerakan sia-sia yang ditampilkan! semuanya benar-benar hanya bertujuan untuk langsung menyerang titik fatal pihak lain.



Kepala ... tombak Deng Guang sering kali mengincar area itu sampai ke leher.



Lengan ... Pedang Naga Emas di tangan Tian Yan secara terus menerus menebas menyamping hanya untuk mengincar baik lengan kiri maupun lengan kanan Deng Guang, sebab tanpa lengan, maka Deng Guang hanya sampah yang siap dieksekusi.



Dentang!



Deng Guang menahan tebasan horizontal Tian Yan dengan tenang menggunakan tongkat tombaknya.

__ADS_1



"Hehe!" Tian Yan tertawa jahat, dan langsung menyentak keningnya ke depan untuk membentur ke arah kepala Deng Guang.



"Arghhhhh!!" Deng Guang sedikit terpukul mundur ke belakang.



Tian Yan menarik kembali keningnya yang kini sudah berdarah. "Terima ini!"



Sringggggg!



"Arghhhhhh!!" Pedang Naga Emas Tian Yan berhasil menebas lengan kanan Deng Guang secara rapi, membuatnya menjadi seorang pendekar cacat.



"BERANINYA KAU MELAKUKAN HAL KEJAM INI!" Suara yang ditekan dengan dalam terdengar jelas di telinga Tian Yan.



Itu adalah Leluhur II, yang sebelumnya bertarung dengan Jiao Yang. Kini dia hanya bisa terpaksa menarik diri dan terbang kembali bersama Leluhur IV yang sepertinya sedang terluka karena terkena dampak ledakan beberapa saat yang lalu.



"Brengsek! Berani kabur!" Jiao Yang langsung terbang dengan kecepatan kilat ke arah kedua Leluhur Sekte Cahaya Harapan, akan tetapi itu masih lambat.



Pada akhirnya Jiao Yang hanya bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri kedua Leluhur Sekte Cahaya Harapan melepaskan kekuatan mereka untuk membombardir Tian Yan, sebelum akhirnya mereka mengambil Deng Guang dan kabur dari tempat.



"Sial!" Jiao Yang terus melaju dengan cepat, dan akhirnya berhenti di tempat Tian Yan berada.



"Bocah!" Jiao Yang mendarat ke bawah dan berhenti ke depan Tian Yan yang saat ini terluka parah, akan tetapi ada senyum puas di wajahnya.



"Hei, kenapa kau senang?" Jiao Yang memukul punggungnya dengan pelan untuk memastikan bahwa Tian Yan benar-benar baik-baik saja, tapi siapa yang sangka itu akan langsung membuat Tian Yan kehilangan keseimbangan, bahkan hampir jatuh.



"Ayah!" Suara dingin bergema di telinga Jiao Yang, membuat punggungnya menjadi dingin dan buru-buru berbalik untuk melihat Jiao Yue yang sudah mendarat di belakangnya. "Yue—"



"Tuan, apa kau tidak apa-apa?"



'Aku ... diabaikan?' Jiao Yang seketika merasa ingin menangis di dalam hatinya. Semenjak putrinya bersama dengan Tian Yan, dirinya seperti sudah di nomor dua kan, padahal dahulu hubungan mereka sebagai ayah dan anak sangat dekat.



'Arghhhh, Dewa. Kembalikan putriku yang imut dan lucu itu ...' Jiao Yang terus menangis dalam hatinya.



Tak lama kemudian orang-orang yang lain juga mulai berdatangan satu per satu maupun kelompok hanya untuk mengetahui kondisi Tian Yan saat ini.



Setelah mereka memastikan kondisi Tian Yan benar-benar sudah baik-baik saja, maka mereka pun membawa Tian Yan kembali ke Sekte Naga Giok.


\[**Bersambung**!\]

__ADS_1


__ADS_2