
Setelah berkata seperti itu, Tian Yan pun segera bergegas pergi dari sana meninggalkan mereka dalam kesedihan dan rasa sedih yang membekas dalam hati masing-masing wanita.
*Tes ...*
Air mata menetes keluar mengaliri wajahnya— Wanita berpenampilan 27 tahun itu menangis dengan tersedu-sedu.
“Dia akan kembali, kan?” Bai Qing Ye ambruk ke bawah sambil mengusap air matanya yang sangat jarang dikeluarkan kecuali untuk orang yang sangat spesial di hatinya.
Melihat kondisi Bai Qing Ye yang seperti ini membuat Bing Hua menjadi tidak tega dan mencoba untuk menenangkannya dahulu dengan membawanya kembali ke kamarnya.
Saat mereka telah pergi, alih-alih mengikutinya, Jiao Yue justru menatap serius ke arah kepergian Tian Yan. “Jadilah seorang Dewa, Tuanku.”
Tap Tap!
“Kau akhirnya datang.” Qing Jia menyambut Tian Yan di puncak gunung dengan ekspresi normal seperti biasanya.
“Senior ...” Tian Yan sedikit membungkuk dan memberi salam sebagai balasan.
“Tian Yan, tidak perlu melakukan itu, lagi pula ranah kita sama.”
“Aku tidak berani.” Tian Yan tersenyum ramah dan menghampirinya, ia berkata untuk menggoda rasa penasaran Qing Jia. “Setidaknya aku harus sekuat Celestial Saint untuk mengatakan itu.”
“Hmm, kau mengetahuinya ...” Qing Jia tidak begitu terkejut lagi. Lagi pula sampai saat ini dia juga masih curiga bahwa Tian Yan adalah seorang reinkarnator seperti dirinya.
“Apa kau tidak mengajak Elf itu? Aku sudah melihatnya dan dia memang sangat berbakat ... mungkin setara denganku ...” lirih Qing Jia, sangat jarang seorang kultivator kuat mengakui orang-orang lemah di ranah itu sebagai kesetaraan mereka.
“Senior ingin aku mengajak Yue?” Tian Yan sedikit menyipit, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu tempat macam apa Alam Suci itu, tapi aku yakin dengan kekuatanku tidak akan cukup untuk melindunginya, bahkan sangat sulit untuk melindungi diriku sendiri.”
__ADS_1
Tian Yan sudah mempertimbangkan semuanya dengan baik-baik setelah melihat kekuatan Celestial Saint milik Qing Jia yang sepertinya masih kekuatan kelas bawah di Alam Suci, tapi bahkan dia tidak berkutik ketika menghadapinya, lantas bagaimana cara melindungi Jiao Yue dari orang-orang kuat semacam itu?
“Hah ... terserah kau saja, lagi pula dia ikut atau tidak, itu terserah padamu,” ucap Qing Jia menyudahi pembicaraan. “Ayo kita pergi ke Gerbang Suci!” imbuhnya.
“Enn!”
***
Melewati sungai dan pegunungan, serta melewati beberapa tempat yang disebut Hutan Kematian— Tian Yan bersama dengan Qing Jia akhirnya sampai juga di sebuah lembah, yang mana di ujung lembah itu terdapat sebuah Lorong Hampa berwarna emas dalam rupa gerbang raksasa setinggi puluhan kaki yang dari dalamnya mengeluarkan aura penuh kesucian seperti di dunia lain.
"Gerbang Suci!" Tian Yan berseru lirih. Tapi dia segera lebih terkejut lagi karena melihat bahwa di belakang Gerbang Suci terdapat sebuah pedang raksasa yang menutupi segala pemandangan di belakang gerbang tersebut.
Swot!
Tian Yan mendongak dan memandang ke atas. Pada visinya, dari tanah hingga ke awan-awan lapisan pertama, hanya ada sepasang kaki raksasa yang terlihat— itu bukan patung apapun, melainkan itu adalah ...
"Huhhh ..." Badai angin menerpa tubuh keduanya. Jika ini adalah manusia biasa, Tian Yan khawatir akan segera terhempas sejauh jutaan mil dari tempat ini.
Sangat tinggi sampai-sampai Tian Yan merasa dirinya sendiri seperti semut yang bisa dibunuh dengan mudah.
"Hah ..." Qing Jia sedikit berkeringat, rasanya nafasnya sendiri sangat sesak ketika berada lama-lama di bawah sosok tak terkalahkan yang dikabarkan sebagai makhluk primordial di dunia ini.
"Senior, apa yang terjadi denganmu?" Tian Yan mendekatinya dan memegang pundaknya.
"Tidak apa ..." Qing Jia menjawab dengan lirih. 'Kenapa anak ini tidak apa-apa?' Qing Jia justru merasa terkejut dalam hatinya meski sedang kesusahan dalam menghadapi tekanan Malaikat Penjaga Gerbang Suci.
"Sudahlah, ayo kita pergi!" ucap Qing Jia dengan sedikit tidak sabaran.
__ADS_1
"Ehh, Enn ..." Tian Yan mengangguk dan melepaskannya, lalu keduanya pun terbang pergi ke arah Gerbang Suci yang mana semakin dekat semakin kuat tekanan yang dihasilkan, tapi ada fakta yang terus mengejutkan isi hati Qing Jia. "Nak, apa kau tidak apa-apa?" Qing Jia menoleh ke arah Tian Yan sambil memasang pelindung untuk menghindari badai yang dihasilkan dari nafas Malaikat Penjaga.
"Senior, apa maksudmu? Bukankah ini hanya badai?" jawab Tian Yan sambil terus maju tanpa perlu khawatir dengan badai menakutkan ini sebagai ia memiliki Tubuh Suci.
"Hah ... sudahlah." Qing Jia merasa seperti orang bodoh jika bertanya terlalu banyak.
"Ayo!" Qing Jia mendarat turun tepat di depan Gerbang Suci dan bergegas masuk ke dalamnya, akan tetapi setelah ia berhasil masuk, Tian Yan justru tidak menyusulnya, alih-alih ia mendongak ke atas untuk menatap wajah pihak lain. "Kau ... kau hidup, bukan?"
Tak ada jawaban, tapi Tian Yan tahu dia mendengarnya.
"Hei ..." Tian Yan menghela nafas dan berbicara dengan nada bertanya, "Apa maksud perkataanmu terakhir kali?"
Tetap saja tidak ada jawaban sehingga membuat Tian Yan mendengus lembut dan bergegas terbang tinggi ke udara untuk memandang wajah pihak lain dari hadapannya.
"Buka matamu!" Tian Yan berkata seolah dia seorang dewa yang bisa memerintahkan siapapun. 'Sial, apa yang aku lakukan?!' Tian Yan berseru ingin menangis dalam hatinya. Apa yang dia lakukan saat ini benar-benar murni efek Mata Dewa yang membuatnya bertingkah sedikit angkuh.
Sreeettttt ...
Merespon pertanyaan Tian Yan, mata makhluk raksasa itu mulai terbuka secara perlahan dan kedua sayapnya bersinar cahaya kemuliaan yang sangat suci.
"Manusia ... terpilih." Hanya dua kata itu yang ia ucapkan sebelum akhirnya memejamkan matanya kembali dan muncul sebuah benih cahaya dari dalam kening Malaikat itu yang bergegas masuk ke dalam tubuh Tian Yan, lalu menghilang begitu saja tanpa Tian Yan tahu apa itu.
Kringgg ...
Setelah cahaya itu berhasil masuk ke dalam kepala Tian Yan, maka muncullah sebuah simbol di dahinya yang tertutup oleh poninya, yang bertuliskan "劍" yang berarti pedang dalam bahasa China.
"Sial, apa ini?" Tian Yan bergumam pelan ketika mengetahui adanya tanda aneh berwarna hitam yang tercetak di keningnya. "Ughh, aku harus segera menghapusnya!" Meski sebenarnya normal-normal saja memiliki tato, tapi bagi Tian Yan itu sangat mengganggu bagi orang sepertinya yang sangat menjaga kebersihan tubuhnya. "Ah, sudahlah, lupakan dahulu!" Tian Yan bergumam rendah dalam hatinya dan bergegas mendarat ke tanah untuk menyusul Qing Jia.
__ADS_1
*
Yooo, besok spesial chapter "Valentine's Day" dulu, ya? Soalnya saya lagi mikirin kerangka cerita Alam Suci agar tidak amburadul ceritanya :)