
Selamat membaca :)
***
Xun Die segera menebas secara horizontal ke arah wajah Tian Yan, namun Tian Yan memundurkan kepalanya.
"Kena kau!"
Setelah Tian Yan menghindarkan kepalanya ke belakang, dan ingin mengembalikan posisinya, siku Xun Die sudah mengarah langsung ke pipinya.
Pah~!
Wajah Tian Yan benar-benar terkena serangannya, membuat Tian Yan menjadi tertegun sejenak, lalu tersenyum.
"Hanya itu saja?" Tangan Tian Yan bergerak dan langsung mencekik Xun Die yang baru saja tersenyum penuh kemenangan.
"Aghhh ...!!"
Plankk...!!
Pedang di tangannya terjatuh, kedua tangannya berusaha mencoba untuk membuka cekikan di lehernya, namun tetap saja tidak bisa.
"Silahkan sakiti tangan, kaki, bahkan pakaianku ... tapi jangan wajahku!" Tian Yan berkata dengan wajah gelap.
"Cukup, lepaskan dia!" Qing Jia tiba-tiba muncul di sampingnya dan memegang tangannya.
Tian Yan mendengus dingin dan melonggarkan cengkramannya, wajahnya yang gelap juga menjadi ceria kembali, "Hahaha, aku hanya bercanda!"
Bercanda ...?? Xun Die kesusahan memegang lehernya yang tertinggal bekas cengkraman.
"Sick, aku akan membalasnya lain kali!" Xun Die mengambil pedangnya yang terjatuh ke tanah, dan berdiri tegap.
"Baiklah-Baiklah, hentikan basa-basi ini. Ayo kita pergi!" Qing Jia sudah tidak sabar lagi, segera membungkus keduanya dengan Zhen Qi nya dan terbang menjauh dengan cepat.
°°°
Setengah hari kemudian.
Tian Yan, Xun Die, serta Qing Jia mendarat turun di depan pintu masuk sebuah kerajaan.
"Daripada di sebut kerajaan, ini adalah Tanah Suci Wang Mao!" ungkap Qing Jia sambil berjalan masuk ke dalam kota, diikuti oleh Tian Yan serta Xun Die.
Melihat ke kiri dan kanan, tempat ini cukup ramai dan hampir 70% orang-orang di sini membawa tombak di punggung mereka.
__ADS_1
"Sesuai rumor, Tanah Suci Wang Mao memang tempat ahli tombak berada!" gumam Tian Yan.
Ketiganya pun terus berjalan pergi hingga akhirnya tiba di depan gerbang utama ke dalam sebuah istana.
"Siapa kalian?!" teriak sang penjaga sambil menyilangkan tombak untuk menghalangi jalan masuk.
"Siapa aku? apakah begini cara Wang Jun menyambut tamu?!" Qing Jia menatap mereka dengan dingin.
Baru kemudian para penjaga itu melihat pakaian yang dikenakan oleh Qing Jia berwarna merah tua dengan corak awan putih di sisinya.
"A-Apakah anda master Tanah Suci Sheng Yan?!" tanya salah satu penjaga.
"Rupanya matamu tidak buta!"
Para penjaga langsung ketakutan mendengar itu, dan mempersilahkan ketiganya untuk masuk.
Di dalam istana, di ruang tamu istana.
Kursi-kursi di sediakan dalam bentu U, dengan kursi utama yang diduduki oleh Master Tanah Suci Wang Mao.
Sementara di sisi kiri dan kanan di duduki oleh para master tanah suci lainnya, juga ada beberapa Nascent Soul tahap 9 yang lainnya.
Tap Tap Tap!
Suara langkah kaki dari luar menarik perhatian semua orang ke arah pintu masuk.
Semua orang berpikir serupa sambil melihat ke arah pintu masuk. Hingga akhirnya masuk seorang wanita cantik setinggi 1,76 meter. Tubuhnya langsing dan berisi, gaun yang dikenakannya berwarna merah seperti warna manik matanya yang dingin itu.
"Astaga ..." Beberapa murid yang ada di belakang para Nascent Soul tahap 9 hanya bisa terpukau melihat keindahan yang datang ini.
Sementara itu, Xun Die dan Tian Yan juga mengikutinya dari belakang. Sebenarnya Xun Die tidak kalah cantik dengan Qing Jia, namun cadarnya menghalangi sehingga orang-orang tidak bisa melihat wajahnya secara langsung.
Qing Jia dan lainnya berhenti tepat di tengah-tengah, lalu berkata tanpa mengurangi wibawanya sedikitpun, "Aku Qing Jia. Master dari Tanah Suci Sheng Yan!"
Orang-orang nampak sudah menantikan jawaban ini, namun tetap saja mereka masih terkejut.
Karena wanita ini adalah master baru dan kultivasinya adalah Nascent Soul tahap 9. Lalu bagaimana dengan master sebelumnya? mati? itu tidak mungkin, pikir mereka.
Dengan kata lain, Tanah Suci Sheng Yan sekarang memiliki lebih dari satu Nascent Soul tahap 9!
Ketika semua orang sedang terdiam, Tian Yan tiba-tiba melangkahkan kakinya ke depan dan memperkenalkan dirinya dengan percaya diri, "Aku adalah Tian Yan—!"
Sebelum dia bisa lanjut lebih jauh lagi, tangan Xun Die sudah menariknya dan memarahinya dengan kesal. "Apa kau tidak bisa melihat situasi!?" Xun Die menggoyang-goyangkan badan Tian Yan sambil memarahinya dengan suara pelan.
__ADS_1
Tian Yan hanya mengorek telinganya, "Memangnya kenapa?"
"Guhh ..." Xun Die semakin kesal dan memiliki keinginan untuk bertarung kembali dengan Tian Yan.
"Ehem!"
Tiba-tiba seorang lelaki paruh baya berseragam emas dan berambut coklat terbatuk satu kali untuk menenangkan suasana.
"Jadi kau adalah Qing Jia. Aku adalah Wang Jun, Master Tanah Suci Wang Mao!" ungkap lelaki paruh baya berseragam emas tersebut. "Silahkan duduk!" imbuhnya.
Qing Jia mengangguk dan pergi duduk di sebuah kursi kosong di sebelah kanan.
Mengikutinya adalah Tian Yan dan Xun Die yang berdiri tepat di belakang Qing Jia.
"Karena semuanya susah berkumpul di sini, maka ayo kita berbincang-bincang dahulu!" ucap Wang Jun, lalu menjentikkan jarinya dan seketika datang para penari wanita yang menari di tengah-tengah mereka semua.
"Woah ...!!" Tian Yan terlihat tertarik, seumur hidupnya ini pertama kalinya dia melihat kelompok penari yang profesional seperti ini.
Melihat tingkah Tian Yan yang seperti ini, membuat Xun Die mencibir dan menarik telinganya mendekat ke bibirnya.
"Kau akan merusak wibawa saudari Qing, bersikaplah profesional!"
"Shap!" Tian Yan langsung mengembalikan sikap acuh tak acuhnya, namun matanya tetap tertuju kepada para penari.
"Hah ..." Xun Die hanya bisa menghela nafas, 'Semua pria sama saja, mereka hanya berpikir menggunakan benda mereka.'
°°°
Perbincang-bincangan terus berlanjut, hingga akhirnya sedikit lagi tiba di penghujung.
"Jadi, jika aku menang, masing-masing dari kalian akan memberikanku 10.000 koin emas?" Qing Jia melontarkan pertanyaan yang menurut mereka yang lain itu cukup percaya diri.
"Tentu, kita semua sudah sepakat! Jika ada yang melanggar perjanjian, itu sama saja menjadi musuhku juga!" ungkap Wang Jun.
Melihat Wang Jun yang dari tadi seperti terus membelanya, Qing Jia sedikit jijik dalam hatinya, 'Pria busuk ini tidak mungkin menyukaiku, kan?' batin Qing Jia.
"Qing Jia, apa kau yakin bisa memenanginya?" seorang lelaki paruh baya bertanya dari jauh.
Melihat seragam dengan simbol matahari, Qing Jia akhirnya menebaknya, "Kau adalah Tai Kong, master dari tanah suci Taiyang?"
"Matamu bagus!" Tai Kong tersenyum tipis.
"Hmm. Aku pasti menang, kedua orang ini sangat kuat, apa kau mau bertaruh secara individu denganku?" tanya Qing Jia, "Tapi lupakan itu, kau sepertinya penakut...?"
__ADS_1
Wajah Tai Kong membeku sejenak, lalu dia tertawa, "Hahaha, sudah lama raja ini tidak ditantang seperti ini, baiklah!"
« Bersambung! »