
Dengan senyum lebarnya Dewa memasuki ruang kelas Ayuna. Hampir semua yang ada di kelas tersebut membicarakan Ayuna dengan dosen pengganti mereka yang tampan itu, Dewa Arion.
Namun kesibukan mereka untuk membicarakan Dewa dan Ayuna sirna karena tiba-tiba saja Dewa memberikan kuis yang tidak diduga oleh semuanya. Mereka saling menggerutu dan ketakutan jika mendapatkan nilai terendah.
Seketika suasana dalam kelas sangat hening. Mereka sibuk dengan kertas mereka masing-masing.
"Lima menit lagi."
Suara tegas itu membuat mereka semakin tergesa-gesa. Beberapa dari mereka tidak yakin dengan jawaban mereka sendiri.
"Nilai di bawah rata-rata akan dapat hukuman dari saya," ucap Dewa sambil berlalu membawa kertas-kertas jawaban tes milik mereka semua yang ada di dalam kelas tersebut.
Semuanya mengeluh ketika mendengar kata hukuman. Tak terkecuali Ayuna yang juga sangat anti dengan hukuman.
"Gimana tadi, bisa gak?" tanya Devan yang sudah duduk di sebelah Ayuna dengan merangkul pundak Ayuna.
"Mmm... gimana ya?" Ayuna menjawab pertanyaan Devan sambil berpikir dan tersenyum lebar sesudah mengatakannya.
Tiba-tiba suara ponsel Ayuna berbunyi dan itu berhasil mengagetkan Devan yang sedang memandang Ayuna dengan lekatnya.
Dahi Ayuna mengernyit melihat nomor asing pada layar ponselnya. Lama tidak diangkatnya telepon tersebut karena merasa tidak mengenalnya.
"Siapa?" tanya Devan yang sejak tadi memperhatikan wajah Ayuna.
Ayuna pun menggelengkan kepalanya karena dia memang tidak mengerti siapa yang telah menghubunginya.
Selang beberapa detik ponsel Ayuna pun kembali berdering.
"Siapa sih ini?" ucap Ayuna dengan kesal.
"Siapa?" tanya Devan kembali.
"Tau ah, nomor yang sama," jawabnya kemudian.
"Sini aku yang angkat," ucap Devan sambil meraih ponsel Ayuna.
Ayuna tidak terima, dia kembali mengambil ponselnya dari tangan Devan.
"Biar aku aja yang nerima," sahut Ayuna.
Ditekannya tombol berwarna hijau pada ponselnya. Dan diarahkannya ponsel itu ke telinganya.
__ADS_1
"Halo," ucap Ayuna mengawali percakapannya.
Cepat ke ruangan saya sekarang juga! terdengar suara yang tidak asing dari seberang sana.
"Ba-baik Pak," ucap Ayuna terbata-bata karena kaget mendengar suara Dewa dari ponselnya.
Tanpa menunggu ucapan Dewa selanjutnya, Ayuna segera mematikan sambungan teleponnya dan berdiri dari tempat duduknya saat ini.
"Siapa Yun?" tanya Devan yang ikut panik dan berdiri mengikuti Ayuna.
"Pak Dewa. Gawat, sepertinya aku akan dihukum," jawab Ayuna dengan ekspresi wajah meweknya.
"Loh kok bisa? Kenapa?" tanya Devan kembali.
"Gak tau, pasti nilaiku jelek. Udah ah, aku mau ke sana dulu, takut hukumannya tambah berat kalau telat. Bye Devan...."
Ayuna berlari menuju ruangan Dewa dengan berharap-harap cemas. Dia berharap agar dipanggil bukan karena hukuman dan dia cemas karena takut jika dia dipanggil memang benar-benar akan dihukum.
Semoga aja aku bebas dari hukuman. Ya Allah... lindungilah hambamu ini, Ayuna berkata dalam hatinya sebelum masuk ke ruangan Dewa.
Ceklek!
Pintu ruangan Dewa terbuka sebelum Ayuna mengetuk pintunya. Mata Ayuna berkedip-kedip ketika melihat Dewa yang tersenyum melihatnya dengan tangan yang masih berada di handle pintu.
"Masuk!" Dewa memerintahkan Ayuna agar masuk ke dalam ruangannya.
Dewa masuk kembali ke ruangannya dan diikuti oleh Ayuna yang mengekorinya di belakangnya layaknya anak ayam yang mengikuti induknya.
Dewa berhenti karena dia merasa sedang diikuti oleh seseorang. Dan...
Bruk!
Kepala Ayuna tertabrak punggung Dewa karena dia berjalan dengan kepala menunduk, tidak berani melihat Dewa.
"Kamu pengen sekali sih dekat-dekat aku terus. Gak bisa jauh ya dari aku?" Dewa menggoda Ayuna dengan menaik turunkan alisnya.
Ayuna yang melihat tingkah Dewa sekarang ini merasa kaget dan heran. Dia tidak pernah melihat Dewa bertingkah seperti itu meskipun mereka baru bertemu beberapa hari.
Kok ada ya dosen model kayak gini? ucap Ayuna dalam hati.
"Ay, kenapa?" tanya Dewa sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Ayuna.
__ADS_1
"Kenapa di sini sama di kelas beda banget? Kenapa di kelas sangat kaku?" celetuk Ayuna tanpa sadar jika dia mengatakannya.
Seketika Dewa tertawa, dan hal itu membuat Ayuna tersadar bahwa dia telah mengatakan apa yang seharusnya dia katakan dalam hatinya seperti sebelum-sebelumnya.
Reflek tangan Ayuna menutup mulutnya sendiri. Dia bertambah malu pada Dewa saat ini. Dua kali ini dia sudah mempermalukan dirinya di hadapan Dewa. Dan dia sangat merutuki kebodohan dan kecerobohannya di saat berada di dekat Dewa.
"Kalau aku seperti ini di depan kelas, pasti mereka tidak akan menghargaiku sebagai dosen mereka. Hanya jika bersama denganmu saja aku bisa sesantai ini Ay," ucap Dewa sambil tersenyum memandang wajah cantik Ayuna.
Ayuna yang ditatap secara intens seperti itu membuat dirinya salah tingkah. Dan ucapan Dewa tadi membuat wajah Ayuna merona karena malu.
Hei Ayuna, sejak kapan kamu bisa malu karena dia?
Lagi-lagi Ayuna berkata dalam hatinya. Dia merasa ada yang aneh dengan apa yang dirasakannya.
"Mmm... Pak maaf, ada apa ya Bapak memanggil saya kemari?" tanya Ayuna untuk mengalihkan rasa gugupnya.
"Kalau gak ada orang ngomongnya biasa aja Ay, kayak kita di rumah. Kalau ada orang lain, barulah kita bicara formal," ucap Dewa yang masih menatap Ayuna dengan memasang senyum manisnya.
"Lalu, ada apa saya dipanggil ke sini Pak?" tanya Ayuna yang masih memakai bahasa formal pada Dewa.
"Ck, kamu nih Ay. Sudah dibilang jangan pakai bahasa formal, masih saja gak mau nurut. Ya sudah kalau gitu kamu saya hukum."
Dewa mengatakannya sambil duduk manis pada kursi kebanggaannya.
"Hah, dihukum? Hanya karena saya bicara formal Pak?"
Bukannya menanyakan hukumannya dan meminta maaf pada Dewa, Ayuna malah tidak terima dengan keputusan Dewa untuk menghukumnya.
"Bukan. Kamu dihukum karena sebab lain," jawab Dewa dengan tegas.
"Karena apa Pak? Bapak gak bisa dong main hukum gitu aja," Ayuna kembali tidak terima.
Dewa menghela nafasnya dan kembali menatap wajah Ayuna. Kemudian dia berkata,
"Kamu saya panggil ke sini karena nilai kamu sangat tidak memuaskan. Jadi sesuai dengan kesepakatan, kamu harus dihukum."
Wajah kaget Ayuna terlihat ketika mendengar bahwa nilainya memang benar-benar jelek dan dia main tuduh dosen sebenarnya.
"Tadinya saya tidak akan menghukum kamu jika sudah berada di sini. Tapi sayangnya kamu membantah saya. Kamu memakai bahasa formal ketika hanya berdua bersama dengan saya. Jadi, keputusan saya kembali bulat. Kamu saya hukum," ucap Dewa kembali dengan sangat tegas.
"Maaf Pak, lalu saya harus dihukum apa?" tanya Ayuna dengan sangat gugup dan ketakutan.
__ADS_1
"Nyanyi Let it go seperti tadi pagi sambil menari!"