
Ayuna sudah menetapkan pilihannya, dia tidak ingin kalah dari Dewa. Tantangan dari Dewa pun dia ambil, toh Dewa tidak mungkin berani berpenampilan sepertinya saat ini. Tampilan cuek ala rumahan yang sengaja dia suguhkan agar Dewa membatalkan acaranya.
Kini Dewa dan Ayuna sudah berada di tengah-tengah banyaknya pengunjung yang sedang membeli tiket bioskop.
Semua mata memandang mereka berdua, sepasang manusia yang berlawan jenis dengan memakai style yang sama namun berbeda dengan yang lainnya.
Sial, padahal kan aku niatnya hanya ingin menakut-nakuti dia aja. Kenapa dia jadi beneran berani gini sih? Kalau gini jadinya, aku yang bakalan kalah. Ck, bodohnya kamu Yuna..., batin Ayuna sambil melihat sekelilingnya.
"Pak eh Kak, orang-orang pada ngelihatin kita," ucap Ayuna dengan lirih di sebelah telinga Dewa.
"Bukannya kemarin kamu bilang ingin viral mangkanya kamu pakai baju kayak gini?" tanya Dewa yang berbisik di telinga Ayuna.
Ayuna memicingkan matanya, kemudian dia berkata,
"Ck, tau dari mana?"
Dewa terkekeh melihat reaksi Ayuna saat ini. Dia sendiri yang merencanakan hal ini, tapi dia juga yang merasa risih dipandang oleh semua orang yang berada di tempat itu.
Ada yang memandang takjub pada mereka karena hanya dengan memakai pakaian seperti itu saja mereka tetap keren, cantik dan tampan.
Ada juga yang berpikiran bahwa mereka memang berkonsep pakaian seperti itu. Dan ada juga yang berpikiran jika mereka tidak memiliki baju.
Namun ada yang lebih parah lagi, ada yang berpikiran bahwa mereka pergi dari rumah tanpa ijin dari orang tua mereka, oleh sebab itu mereka masih memakai pakaian rumahan.
Sebenarnya semua itu salah. Mereka berdua hanya korban dari rencana mereka masing-masing. Dan kini mereka harus menjalani itu semua dengan ikhlas, karena tidak ada yang memaksa mereka untuk melakukannya.
"Ayo Ay giliran kita. Kamu saja yang menentukan tempat duduknya dan film yang kita tonton," ucap Dewa sambil menggandeng Ayuna yang lagi-lagi sedang mengedarkan matanya keliling tempat itu.
"Eh tunggu sebentar, Devan belum datang," ucap Ayuna yang kini mereka berdua sudah berada di depan loket pembelian tiket.
Dewa menoleh dan menatap Ayuna dengan rasa tidak percaya. Dia tidak menyangka jika masih ada Devan di antara mereka.
"Devan? Ngapain dia ada di sini?" tanya Dewa dengan kesal.
"Kan dia yang ngajak aku kemarin nonton," jawab Ayuna dengan senyum kaku.
__ADS_1
"Udah cepat sekarang kamu pilih filmnya," ucap Dewa sambil mengarahkan kepala Ayuna menghadap petugas tiket.
"Yang itu deh, film romantis," ucap Ayuna sambil menunjuk salah satu gambar film yang dia pilih.
"Duduknya yang ini sama ini mbak," ucap Dewa sambil menunjuk kursi yang dia maksud.
"Loh kok cuma dua? Devan gimana?" tanya Ayuna dengan wajah polosnya.
"Dia aja belum datang, ngapain dibelikan tiketnya. Biar dia beli sendiri nanti," jawab Dewa sambil mengeluarkan selembar uang seratus ribuan diberikan pada petugas tiket.
Dan kebetulan sekali cinema tempat film yang mereka tonton sudah dibuka. Dan mereka berdua dipersilahkan untuk segera masuk ke dalam tanpa menunggu lagi.
"Kak, gak diluar gak di dalam, semua pada lihatin kita. Apa Kak Dewa gak malu?" tanya Ayuna lirih di samping telinga Dewa.
"Ngapain malu?" ucap Dewa dengan entengnya.
"Nih," tukas Ayuna dengan menunjuk Dewa dari atas sampai bawah.
Dewa terkekeh, kemudian dia menunjuk balik Ayuna dari atas sampai bawah.
"Kalau aku sih gak masalah, pakai baju apa aja tetap keren," ucap Dewa dengan jumawa.
"Kalau mau main pelorot-pelorotan nanti aja Ay di kamar," bisik Dewa di telinga Ayuna sehingga membuat bulu kuduk Ayuna meremang.
Tiba-tiba tangan Ayuna berada di bibir Dewa. Dia membekap mulut Dewa agar tidak berbicara lagi karena sudah bisa dipastikan bahwa semakin banyak Dewa membuka mulutnya semakin kesal Ayuna dibuatnya.
Dan akhirnya film pun diputar, sehingga tangan Ayuna dilepasnya dari bibir Dewa. Dan mereka menonton film tersebut dengan tenang. Berbeda dengan Ayuna yang benar-benar menikmati jalan cerita film tersebut, Dewa malah asyik melihat ekspresi wajah Ayuna yang membuatnya sangat gemas dan tidak ingin memalingkan pandangannya dari wajah gadis yang duduk di sampingnya itu.
Devan berjalan lemas ketika menjemput Ayuna di rumahnya dan Mama Ayuna mengatakan padanya jika Ayuna sudah pergi dengan Dewa.
Betapa kecewanya Devan yang sangat menantikan hari ini, saat-saat dirinya bisa menonton hanya berdua bersama gadis yang diam-diam dia sukai dan gadis itu adalah sahabatnya sendiri sejak SMA.
"Dewa... Dewa... Dewa... Kenapa kamu selalu mengganggu saat-saat aku bersama dengan Ayuna?" ucap Devan kesal dengan memukul-mukul setir mobilnya.
Sedangkan di dalam cinema, tiba-tiba Dewa lidahnya tergigit ketika memakan popcorn yang dimakannya bersama dengan Ayuna.
__ADS_1
"Auuuw...."
Dewa merintih kesakitan dan itu berhasil memalingkan wajah Ayuna dari film yang diputar berganti memperhatikan Dewa.
"Kenapa?" tanya Ayuna dengan berbisik.
"Lidahku tergigit, sakit. Pasti ada yang ngomongin," ucap Dewa sedikit cadel.
"Mangkanya jangan jahat-jahat kalau ngajar, banyak yang gak suka tuh mangkanya banyak yang ngomongin. Eh masih mending loh kalau diomongin, coba kalau di sumpahin, gimana hayo?" ucap Ayuna yang berbisik di telinga Dewa.
"Disumpahin nikah sama kamu aja aku pasti terima," Dewa balas berbisik di telinga Ayuna.
Reflek tangan Ayuna memukul lengan Dewa dengan kerasnya sehingga menimbulkan bunyi dan membuat banyak pasang mata melihat ke arah mereka.
"Ay, kamu kalau mau menunjukkan kasih sayang kamu jangan di sini dong, malu kan dilihatin banyak orang," bisik Dewa di telinga Ayuna sambil terkekeh.
Ayuna tidak meladeni ucapan Dewa, dia menatap lurus ke arah layar bioskop karena malu dengan tingkahnya sendiri.
Dewa merasa puas melihat tingkah Ayuna hari ini meskipun dia harus menahan malu memakai pakaian yang diharuskan Ayuna untuk memakainya.
Ayuna merasa malu ketika keluar dari cinema setelah film yang dia tonton selesai diputar. Dia berjalan dibelakang Dewa dengan bersembunyi di balik punggungnya agar bisa tertutupi oleh Dewa.
"Ngapain sih Ay?" tanya Dewa dengan menoleh pada Ayuna yang berada di belakangnya.
"Malu, tutupin," jawab Ayuna dengan bersembunyi di belakang Dewa.
"Ngapain sih malu?" tanya Dewa kembali pada Ayuna.
"Tuh lihat, semuanya pada lihatin kita," jawab Ayuna lirih dan masih berjalan sambil bersembunyi di belakang punggung lebar Dewa.
"Wajar aja kali, kita kan keren," ucap Dewa dengan entengnya.
"Keren... keren... gundulmu," ucap Ayuna lirih.
"Keren Ay, lihat deh penampilan kita udah kayak couple beneran," ucap Dewa kembali.
__ADS_1
"Couple gesrek!" sahut Ayuna dengan kesalnya.
Dewa menaham tawanya mendengar semua jawaban dari mulut Ayuna. Dia yakin jika Ayuna sekarang pasti sangat menggemaskan jika dia sedang kesal seperti sekarang ini. Sayangnya dia tidak bisa melihat wajahnya itu karena punggung Dewa yang lebar itu merupakan tempat ternyaman bagi Ayuna saat ini.