Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 15 Tantangan


__ADS_3

Sepulangnya Dewa dari rumah Ayuna. Dia pulang ke rumahnya dengan rasa puas dan bersiul menggambarkan perasaan senangnya saat ini.


Ayuna melihat kesal dari balik jendela kamarnya yang terletak di lantai atas, Dewa pulang ke rumahnya dengan senyum yang tidak henti-hentinya dia tampilkan.


Awas kamu Dewa! Tunggu pembalasanku! Ayuna berkata dalam hatinya dengan menggenggam erat tirai jendelanya untuk melampiaskan kekesalannya.


Malam itu juga Ayuna menyusun rencana untuk membalas Dewa. Dia menyiapkan beberapa rencana dari A hingga Z. Semua sudah dia pikirkan secara matang.


Sedangkan Dewa pada saat itu juga dia menghubungi kedua orang tuanya dan mengatakan jika dia betah berada di rumahnya.


Keesokan harinya, Dewa sudah sangat rapi menggunakan baju favoritnya. Sungguh terlihat sangat tampan dan menawan sekali dia saat ini.


"Perfect!" ucap Dewa ketika melihat penampilannya saat ini di depan cermin sambil tersenyum manis.


Dewa segera menjemput Ayuna dengan memarkirkan mobilnya di depan rumah Ayuna.


Dengan perasaan senangnya, Dewa keluar dari mobilnya dan segera masuk ke dalam rumah Ayuna untuk bisa segera bertemu dengannya.


Dewa memang menjemput Ayuna lebih dahulu dari jam janjian Ayuna dengan Devan agar Devan kalah cepat darinya.


"Eh Dewa udah datang, mau jemput Ayuna ya?" tanya Bu Andini yang sedang menyirami bunga-bunganya.


"Iya Tante. Ayuna nya sudah siap?" tanya Dewa kembali pada Bu Andini setelah mencium punggung tangannya.


"Sebentar ya, Tante panggilkan Ayuna dulu," jawab Bu Andini seraya menaruh selang air dan mematikan kran saluran airnya.


Dewa melihat-lihat tanaman bunga yang dirawat oleh Bu Andini. Dia salut pada Bu Andini yang bisa membuat tamannya sangat indah dengan bunga yang berwarna-warni dan bisa memikat hati orang yang melihatnya.


"Ayo berangkat!"


Suara Ayuna membuat Dewa mengalihkan perhatiannya dari bunga-bunga tersebut pada sosok si pemilik suara yang berada di dekatnya.


Mata Dewa melotot sempurna ketika melihat Ayuna dengan penampilannya yang sungguh tidak bisa dikatakannya.


Ayuna memakai celana kolor berwarna ungu dengan kaos oblong berwarna putih dan sandal jepit serta rambutnya yang diikat ke atas ala korea.


"Ay, apa kamu belum siap?" tanya Dewa yang masih menatap penampilan Ayuna dari atas hingga bawah.


"Sudah dong... Yuk kita berangkat. Mau nonton kan kita?" tanya Ayuna pada Dewa dengan melebarkan senyumnya memperlihatkan deretan giginya.


"Ay, kamu beneran mau berangkat dengan penampilan seperti ini?" tanya Dewa kembali pada Ayuna.


Ayuna mengangguk dengan cepat dan menampilkan kembali senyum lebarnya. Kemudian dia bergaya dan berkata,

__ADS_1


"Keren kan?"


Dewa menatap Ayuna dengan tatapan tidak percaya. Dia merasa mendapatkan boomerang dari rencananya sendiri.


"Ay ganti yuk, nanti aku belikan baju deh terserah kamu mau berapapun."


Dewa berusaha membujuk Ayuna, dia tidak ingin kencan yang sudah dia rencanakan menjadi gagal oleh tingkah konyol Ayuna.


"Aku gak mau ganti. Kalau kamu mau pergi denganku, harusnya kamu mau menerima aku meskipun pakai bikini sekalipun," ceplos Ayuna tanpa berpikir.


"Kalau pakai bikini sih aku perbolehkan Ay, asal pakainya di kamar kita aja ya, nanti kalau kita sudah menikah," ucap Dewa sambil mengedipkan sebelah matanya pada Ayuna.


Mendengar hal itu, Ayuna tersadar jika dialah sendiri yang memancing kejahilan Dewa. Dia merutuki kebodohannya sendiri dalam hati.


Bodoh... bodoh... bodoh... Yuna kamu bodoh sekali! Sekarang kamu harus bisa melanjutkan rencanamu. Ayo Ayuna kamu bisa!


"Sekarang kamu ikut aku!" ucap Ayuna sambil menarik tangan Dewa menuju ke rumah Dewa.


Dewa hanya tersenyum dan melihat tangan Ayuna yang menggandengnya dengan perasaan senang.


"Buka!" perintah Ayuna pada Dewa dengan menggerakkan dagunya ke arah pintu rumah Dewa.


Dewa mengikuti arah yang ditunjukkan oleh dagu Ayuna. Seketika dia tersadar jika kini dia telah berada di teras rumahnya, tepatnya di depan pintu rumahnya.


"Mau apa kita ke rumahku?" tanya Dewa dengan mengernyitkan dahinya.


Setelah ini kamu pasti akan menyesal telah menabuh genderang perang denganku Dewa sialan! batin Ayuna.


Dewa yang sangat penasaran dengan maksud Ayuna yang membawanya masuk ke rumahnya sendiri, memutuskan untuk mengikuti perintah Ayuna. Dia membuka pintu rumahnya.


"Tunggu sebentar, kamu gak akan macam-macam padaku di rumahku sendiri kan?" tanya Dewa dengan mencekal tangan Ayuna sehingga langkah Ayuna ikut terhenti.


"Stres! Gak akan lah," ucap Ayuna sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar apa yang diucapkan oleh Dewa.


"Ngapa-ngapain juga gapapa kok Ay," ucap Dewa kemudian.


Ayuna bergidik ngeri dan melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam rumah Dewa.


"Kamar kamu di mana?" tanya Ayuna sambil menoleh ke belakang di mana Dewa masih berjalan mengikutinya.


"Kamu mau ke kamarku Ay?" tanya Dewa dengan mata yang berbinar.


"Ayo buruan tunjuk yang mana," jawab Ayuna dengan kesal.

__ADS_1


Dewa tidak mau membuat Ayuna marah, oleh sebab itu dia berjalan lebih dahulu dan meraih tangan Ayuna untuk ikut dengannya menuju kamarnya.


"Sekarang kita mau ngapain?" tanya Dewa ketika mereka sudah berada di dalam kamarnya.


Mata Ayuna berkelana mencari apa yang dicarinya. Dan dia menemukannya, lemari pakaian besar yang menjadi titik pencariannya.


Di dekatinya lemari pakaian Dewa itu dan membukanya.


"Wow... amazing!" ucap Ayuna ketika melihat jajaran pakaian, kaos dan sebagainya tertata rapi sesuai dengan urutan warnanya.


Ckckck... berbeda sekali dengan isi lemariku, batin Ayuna sambil tangannya memilih apa yang dia cari.


"Ay, kamu lagi ngapain?" tanya Dewa heran melihat Ayuna yang seperti sedang memilih pakaian untuknya.


"Diam, aku sedang fokus," tukas Ayuna yang masih memilih-milih kaos untuk Dewa.


Sial, gak ada yang jelek banget sih. Kok bisa bagus semua? Kalau begini aku harus pilih yang mana? Ayuna kembali membatin.


"Ini, pakailah ini," ucap Ayuna sambil memberikan sebuah kaos berwarna kuning dengan celana boxer bermotif pantai.


Dewa mengernyitkan dahinya, dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Ayuna dengan memberikan kaos dan celana boxer itu padanya.


"Ini cepat pakai!" perintah Ayuna pada Dewa dengan meletakkan kaos dan boxer tersebut di tangan Dewa.


"Ini aku pakai Ay? Terus kita gak jadi nonton dong," ucap Dewa yang menampakkan wajah bingungnya.


"Justru kita akan berangkat jika kamu mau memakai ini untuk berangkat ke sana," jawab Ayuna sambil menaik turunkan alisnya.


Terlihat jelas wajah kaget Dewa ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Ayuna. Kemudian dia berkata,


"Becanda kamu Ay?"


"Kalau kamu tidak mau memakainya, kita batal nontonnya. Gimana?" ucap Ayuna kembali dengan senyum lebarnya.


Aku yakin kamu tidak akan mau memakai itu keluar rumah, apalagi di tempat umum yang sangat rami pengunjungnya. Kena kamu Dewa. Siapa suruh melawan Ayuna. Hahaha... Ayuna berkata dalam hatinya.


"Kamu yakin aku memakai ini dan kamu memakai itu untuk nonton ke bioskop?" tanya Dewa kembali memastikan pendengarannya sambil memperlihatkan kaos dan boxer yang ada di tangannya serta menunjuk pakaian Ayuna yang sedang dipakainya.


Ayuna pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berkata,


"Bagaimana, apa kamu berani?"


Dewa diam, dia berpikir sejenak, kemudian dia memutuskan apa yang akan dia lakukan.

__ADS_1


"Apa kamu mau menjadi pacarku jika aku memakai ini untuk nonton ke bioskop?" tanya Dewa sambil menunjuk kaos dan boxer ditangannya.


Ayuna tertegun mendengar pertanyaan dari Dewa, dia berpikir jika kini dia sedang dalam tantangan dan harus memilih satu diantara dua pilihan, menang atau kalah.


__ADS_2