Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 59 Kecemburuan Dewa


__ADS_3

Hari ini kehidupan Ayuna yang baru sebagai seorang istri dan sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir kembali dimulai.


Mereka hanya menginap satu hari saja di villa tersebut karena kesibukan mereka yang memang belum bisa mereka tinggalkan untuk saat ini.


"Sayang, pokoknya nanti kalau makan siang langsung ke ruangan aku ya. Dan jangan pulang terlebih dahulu, harus menunggu aku."


Kata-kata Dewa itu selalu terngiang di indera pendengaran Ayuna.


"Bagaimana aku bisa melupakannya, dia mengucapkannya setiap berapa menit sekali. Hufffttt... dasar suami bucinku," ucap Ayuna lirih seiring langkah kakinya masuk ke dalam ruang kelasnya.


Semua mata memandangnya. Bahkan suara kasak-kusuk mereka hinggap di telinga Ayuna. Seiring angin yang berhembus dia mendengar ucapan lirih mereka. Dan kembali lagi pada Ayuna yang dulu, dia tidak akan mempedulikan apa yang mereka bicarakan tentangnya.


Aaahh... aku jadi merindukan mereka semua. Felix, Gavin, Viktor, Devan, ke mana kalian semua? Ayuna berkata dalam hatinya sambil matanya mencari sosok keempat sahabatnya itu.


Tiba-tiba bibir Ayuna melengkung ke atas melihat keempat sahabatnya berjalan masuk ke dalam kelasnya.


"Hai cewek cantik," sapa Viktor yang baru saja datang mendekati Ayuna.


"Gimana, enak gak?" tanya Viktor sambil duduk di sebelah Ayuna.


Sontak saja Gavin menoyor kepala Viktor. Sedangkan Felix dan Devan tertawa melihat Viktor yang berkali-kali menjadi sasaran Gavin.


"Jangan di dengar Yuna omongan si piktor ini," tutur Gavin pada Ayuna.


"Kalian ngomongin apaan sih?" tanya Ayuna dengan menampakkan wajah bingungnya.


"Ngomongin-"


Mulut Viktor dibekap oleh Felix sehingga dia tidak bisa meneruskan ucapannya. Dan hal itu membuat semua mata yang tadinya memang memperhatikan Ayuna, kini mereka semakin tertarik memperhatikan dan mendengarkan apa yang Ayuna dan keempat sahabatnya itu bicarakan.


"Udah nikah sama Pak Dewa yang perfect, masih aja pecicilan sama cowok lain. Emang dasarnya cewek murahan ya gitu itu."


Terdengar selentingan suara lirih orang yang membicarakan tentang Ayuna.


"Kurang apa sih Pak Dewa? Sayangnya dia kurang beruntung mendapatkan istri seperti dia."

__ADS_1


"Pak Dewa belum tau aja kelakuannya seperti apa. Coba kalau dia udah tau, kita tinggal tunggu aja bagaimana kelangsungan rumah tangga mereka."


"Palingan juga dia langsung diceraikan."


"Berarti kita tunggu aja dudanya Pak Dewa."


"Biarpun duda, kalau Pak Dewa mah tetap mempesona."


Bahkan suara kekehan mereka terdengar jelas di indera pendengaran Ayuna dan keempat sahabatnya itu.


Devan melihat wajah mereka yang membicarakan Ayuna satu persatu. Dia menghafalkan wajah mereka seolah menandainya.


Seperti biasa, Devan menutup telinga Ayuna dan wajahnya mendekat padanya.


"Gak usah didengarkan," bisik Devan di telinga Ayuna.


Ayuna tersenyum, ternyata Devan masih saja tetap mempedulikannya dan melindunginya. Meskipun perasaannya pada Ayuna tidak tersampaikan.


Bukannya Ayuna tidak mempedulikan perasaan Devan, hanya saja dia mencoba bersikap biasa saja agar Devan juga bersikap biasa saja padanya.


"Ehemmm!"


Suara deheman itu membuat semu mata di ruangan tersebut beralih menatapnya. Dewa, kini sudah berada di dalam kelas mereka. Dan dia melihat Devan yang menutup telinga Ayuna dengan kedua tangannya. Serta Viktor yang duduk merapat di samping Ayuna.


Sontak saja semua yang ada dalam ruangan tersebut duduk di tempat mereka masing-masing. Sedangkan Felix, Gavin dan Viktor segera keluar dari ruangan tersebut menuju kelas mereka.


Devan santai saja, dia tidak masalah meskipun nantinya Dewa meminta penjelasan darinya. Dia berjalan menuju tempatnya biasanya dengan santai.


Seketika ruangan tersebut menjadi hening. Dan Ayuna pun tetap seperti biasanya. Dasarnya Ayuna yang super cuek, dia tidak mengerti jika Dewa sedang memperhatikannya dan kesal padanya.


Dewa menghela nafasnya ketika Ayuna tersenyum padanya. Dia mengerti jika istrinya itu sama sekali tidak peka dengan rasa cemburunya pada keempat sahabatnya itu.


Awas kamu Ay. Lihat saja nanti malam akan ku pastikan kamu meminta ampun padaku, Dewa berkata dalam hatinya dengan senyuman tipis menghiasi bibirnya.


Sebelum Dewa keluar dari kelas setelah jamnya berakhir, dia menyempatkan untuk mengirim pesan pada Ayuna. Dia mengingatkan istrinya itu agar datang ke ruangannya untuk makan siang bersama dirinya.

__ADS_1


Dewa berjalan keluar melewati Ayuna dengan mengedipkan sebelah matanya pada istri cantiknya itu. Sontak saja Ayuna mendadak jadi salah tingkah.


Sungguh luar biasa pesona Dewa hingga membuat dirinya yang sudah sah menjadi istrinya pun tetap terpesona padanya.


Untung saja yang dikedipin aku. Coba saja jika yang dikedipin tadi mereka, pasti mereka mengira jika si Dewa itu menyukai mereka, Ayuna berkata dengan kesal dalam hatinya.


Tiap dia merasa kesal pada Dewa, selalu saja dia memanggil Dewa dengan panggilan 'si Dewa'.


Diambilnya ponselnya dari tasnya. Perlahan senyumnya mengembang melihat layar ponselnya yang menampakkan pesan mesra dari Dewa, suaminya.


Dasar suami bucinku, sialnya aku sangat menyukai kebucinannya, Ayuna berkata dalam hatinya sambil terkekeh lirih.


Hal itu membuat Reina heran. Dia berusaha mengintip layar ponsel Ayuna. Sayangnya Ayuna cepat tanggap dengan memasukkan ponselnya ke dalam tasnya, sehingga Reina tidak bisa melihat apa yang ada dalam ponsel Ayuna.


"Kamu kenapa Yuna?" tanya Reina menyelidik.


"Gapapa kok, biasa aja," jawab Ayuna sambil tersenyum pada Reina.


"Eh gimana kemarin sama malam pertamanya? Pak Dewa gagah gak?" tanya Reina dengan terang-terangan, hanya saja bersuara lirih dan hanya bisa didengar oleh dirinya dan Ayuna.


Mata Ayuna terbelalak mendengar pertanyaan dari temannya itu. Pertanyaan itu belum pernah dia dapatkan dari siapapun, bahkan keempat sahabatnya tidak mempertanyakan tentang itu padanya.


"Mmm... Reina maaf ya, sepertinya aku harus ke toilet sekarang. Aku udah gak tahan nih," ucap Ayuna sambil meraih tasnya dan berlari kecil keluar dari ruangan kelasnya.


Reina menatap nanar punggung Ayuna yang meninggalkannya dengan pertanyaannya yang belum dijawab oleh Ayuna.


Padahal tinggal jawab aja. Kenapa sih dia gak jawab dulu, setelah itu dia ke toilet? Kenapa dia lebih mendahulukan toilet daripada menjawab pertanyaanku? Padahal kan aku sangat ingin tahu bagaimana Pak Dewa melakukannya, Reina berkata dalam hatinya dengan menampakkan wajah kekecewaannya.


Semua itu tidak luput dari pandangan Devan. Dia merasa jika Ayuna menghindari Reina. Karena Devan tahu betul gerak gerik Ayuna.


Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Reina sehingga membuat Ayuna melarikan diri seperti itu? Devan bertanya dalam hatinya sambil menatap ke arah Reina yang berwajah kecewa setelah Ayuna meninggalkannya.


Ayuna menghela nafas lega ketika dia sudah berada jauh dari ruang kelasnya. Dia menoleh ke belakang untuk melihat kehadiran Reina. Dan ternyata Reina tidak mengikutinya.


"Yes selamat!" seru Ayuna sambil menggerakkan genggaman tangannya dari atas ke bawah.

__ADS_1


__ADS_2