Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 6 Hukuman


__ADS_3

Ayuna berjalan gontai keluar dari ruangan dosen barunya itu. Dewa, pemuda tampan yang dia temui secara tidak sengaja di mini market semalam kini berkata omong kosong di depannya.


Ayuna merasa dipermainkan olehnya. Dan sialnya lagi Ayuna merasa tidak baik-baik saja. Entah apa yang dia rasakan, namun rasanya aneh menurutnya.


Yang benar saja, katanya dia sudah memiliki pacar, bahkan mereka akan menikah. Apa maksudnya tadi dia berkata seperti itu padaku? Apa dia mempermainkan aku? Apa dia kira aku gampangan? Dasar playboy. Awas aja kalau ketemu lagi, aku bakalan menghindar darinya.


Ayuna mencaci maki Dewa dalam hatinya seiring langkah kakinya yang berjalan dari kantor Dewa menuju kelasnya kembali.


Tiba-tiba Ayuna teringat akan ponselnya ketika dia mencari ponselnya di saku celananya.


"Sial! Pasti HP ku masih ada sama dia. Gimana ini?"


Ayuna berjalan mondar-mandir di lorong kelas. Kakinya hendak melangkah ke kantor Dewa kembali, namun dia urungkan karena rasa kesalnya pada Dewa masih ada. Dan kakinya berhenti ketika akan masuk kelasnya.


Bagaimanapun aku harus mengambil HP ku. Aku gak bisa hidup tanpa dia. Bodoh amat sama Dewa-Dewaan itu. Aku harus mengambil nyawaku kembali. Harus. Ayo Ayuna kamu bisa. Kamu pasti bisa.


Ayuna berkata dalam hatinya untuk meyakinkan dirinya sambil mengepalkan tangannya untuk memberi semangat pada dirinya sendiri.


Tok... tok... tok...


Ayuna mengetuk pintu ruangan Dewa. Dia memberanikan dirinya untuk kembali masuk ke dalam kandang singa.


"Masuk!"


Dewa berteriak mempersilahkan Ayuna masuk ke dalam ruangannya.


Ceklek!


"Pak, maaf saya mau ambil HP saya," ucap Ayuna yang masih berada di tengah pintu tanpa masuk ke dalam ruangan tersebut.


Dewa yang sedang membaca kini mengalihkan perhatiannya ke arah pintu setelah mendengar suara gadis yang selalu ingin dia temui.


Dewa mengernyitkan dahinya melihat gadis itu berdiri di tengah pintu dan tidak masuk ke dalam ruangannya.


"Kenapa kamu berdiri di situ? Kenapa kamu tidak masuk?"


"Tidak usah Pak, cuma sebentar aja," jawabnya gugup.


Dewa memandang Ayuna yang tidak memandang dirinya. Ayuna masih saja menundukkan kepalanya sama seperti tadi ketika masih berada di dalam ruangannya.


"Kamu pulang dua jam lagi bukan? Kalau begitu nanti saja ketika kamu pulang datang kembali ke sini untuk mengambil HP mu."


Ucap Dewa yang kemudian kepalanya kembali menunduk membaca lembaran-lembaran yang ada di mejanya.

__ADS_1


Seketika kepala Ayuna mendongak mendengar jawaban dari Dewa.


"Tapi Pak sekarang juga bi-"


"Silahkan tutup kembali pintunya!" ucap Dewa dengan tegas tanpa melihat ke arah Ayuna.


Rasanya ingin sekali Ayuna berlari ke arah Dewa dan mencabik-cabik mulutnya yang sudah mengobrak-abrik hatinya serta mengambil paksa ponsel miliknya yang entah disembunyikan di mana oleh Dewa.


Ayuna masih saja berdiri di depan pintu dengan diam layaknya patung selamat datang. Hingga dia sadar jika sekarang merupakan mata kuliah dosen yang anti sekali dengan keterlambatan.


Brak!


Ayuna menutup pintu ruangan Dewa tanpa mengukur tenaganya sehingga membuat pintu tersebut tertutup dengan keras dan menghasilkan bunyi yang mengagetkan orang di sekitarnya.


Bukannya marah mendengar suara pintu yang ditutup dengan sangat keras oleh Ayuna, Dewa malah terkekeh dibuatnya.


Entahlah, sepertinya Dewa memang sudah memiliki mainan baru dalam hidupnya. Dia tidak bisa membiarkan Ayuna tenang tanpa gangguan darinya.


Dua jam sudah berlalu, Dewa menunggu Ayuna di dalam ruangannya. Sebenarnya dia sudah bisa pulang sejak tadi, namun dia ingin pulang bersama dengan gadis imut yang bisa membuat dirinya selalu tertawa jika berada di dekatnya.


"Yuna, mau ke mana kok buru-buru amat," Devan yang sekelas bersamanya berlari menyusul Ayuna.


"Mau ke ruangan dosen baru tadi," jawab Ayuna tanpa menoleh pada Devan yang berada di sebelahnya mensejajari langkahnya.


"Mau nerima hukuman. Ya udah ya, aku ke sana dulu. Kalian berempat pulang aja duluan," ucap Ayuna sebelum berlari kecil menuju ruangan Dewa.


Devan menghentikan langkahnya tepat di depan kelas Felix yang secara kebetulan Felix baru saja keluar dari kelasnya.


"Kenapa Dev?" tanya Felix sambil mengikuti arah pandang Devan.


"Gapapa. Mana Viktor sama Gavin?" tanya Devan untuk mengalihkan pertanyaan Felix padanya.


"Kita tunggu di kantin aja deh. Eh Yuna mana?" tanya Felix sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Ayuna di sekitar mereka.


"Dia ada perlu, kita disuruh pulang duluan katanya," jawab Devan dengan malas.


"Oh oke, yuk ke kantin," ucap Felix sambil merangkul pundak Devan dan berjalan beriringan bersama menuju kantin.


Di tempat lain, Ayuna sedang bimbang antara mengetuk pintu ruangan yang ada di depannya atau menunggunya di depan pintu tersebut.


Dilihatnya jam yang melingkar di tangan kirinya.


Udah jam segini lagi, masa' iya aku harus nunggu di sini? Ketuk aja kali ya? Kalau orangnya marah gimana? Eh tunggu dulu, dia kan yang nyuruh aku datang ke sini, ngapain dia marah?

__ADS_1


Ayuna berkata dalam hatinya seiring dengan pemikirannya sendiri.


"Bodoh amat ah," ucap Ayuna seraya tangannya mengarah pada pintu yang ada di hadapannya.


Tok... tok... tok..


Ayuna kembali mengetuk pintunya berulang kali karena tidak ada suara yang menyahut dari dalam sana.


Ceklek!


Mata Ayuna mengerjap-ngerjap ketika tangannya masih berada di daun pintu dan Dewa sudah membuka pintunya.


Seketika Ayuna tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya karena malu pada Dewa yang sudah ada di depannya.


"Yuk pulang," ucap Dewa sambil menutup pintunya.


"Hah?! HP saya Pak?" tanya Ayuna pada Dewa dengan memperlihatkan wajah bingungnya.


"Nanti kalau sudah di dalam mobil," jawab Dewa sambil berjalan.


"Kenapa gak di sini aja Pak?" tanya Ayuna tanpa beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.


Dewa menghentikan langkahnya, kemudian dia menoleh ke belakang di mana Ayuna sekarang berada.


"HP kamu ada di mobil saya," jawab Dewa.


Kemudian Dewa kembali berjalan sehingga Ayuna berjalan cepat untuk mengikutinya.


"Ayo cepat, lelet banget sih," ucap Dewa sambil menghentikan langkahnya kemudian menarik Ayuna agar berada di sampingnya.


"Eh itu kan Ayuna, sama siapa tuh? Kok cowok itu narik-narik tangan Ayuna sih? Apa dia cowoknya?"


Gavin yang kebetulan melihat ke arah parkiran mobil mengetahui Ayuna dan Dewa sedang berjalan bersama.


"Mana? Eh iya tuh, masa' kita gak dikasih tau Ayuna kalau dia udah punya cowok?" ucap Viktor yang juga sedang melihat Ayuna bersama dengan Dewa sekarang ini.


"Jadi itu Dev urusan penting yang katamu tadi?" kini Felix bertanya pada Devan.


"Bukan. Dia dosen pengganti Pak Hamid. Dan dia memberi Ayuna hukuman karena sepertinya tadi Ayuna tidur di kelas," jawab Devan sambil melihat tanpa berkedip ke arah Ayuna dan Dewa.


"Hukuman? Wah gawat nih. Kalau begitu kita harus menolong Ayuna," ucap Gavin sambil beranjak berjalan ke arah parkiran.


Felix, Viktor dan Devan pun mengikuti Gavin yang berjalan mendekati Ayuna dan Dewa.

__ADS_1


"Ayuna!"


__ADS_2