
Kebahagiaan Dewa sangatlah terlihat. Dia tidak memperbolehkan Ayuna untuk bergerak terlalu sering dan dia juga tidak memperbolehkan Ayuna hilang dari pandangannya.
Karena terlalu senangnya, dia membawa Ayuna untuk pulang ke rumah baru mereka. Dan Dewa lupa membagi kabar bahagia tersebut kepada orang tua mereka.
"Sayang, jangan terlalu banyak gerak, nanti kecapekan," seru Dewa sambil berlari menghampiri Ayuna ketika melihat Ayuna turun dari ranjang.
"Aku mau ke kamar mandi sebentar," ucap Ayuna pada Dewa yang sudah berada di hadapannya.
Grep!
Tubuh Ayuna melayang. Dia kini tidak lagi menginjak lantai.
Ayuna hanya bisa menghela nafasnya ketika Dewa menggendongnya masuk ke dalam kamar mandi. Bahkan dia menunggu Ayuna di dalam kamar mandi tersebut hingga Ayuna selesai menggunakan kamar mandi dan dia menggendongnya kembali menuju ranjang.
"Sayang, aku ini sedang hamil, bukan sakit parah. Gak usah terlalu lebay gini deh," ucap Ayuna dengan mengerucutkan bibirnya.
Dewa tersenyum dan mencium sekilas bibir istrinya itu. Kemudian dia berkata,
"Siapa yang bilang istri tercintaku ini sakit. Istriku yang paling cantik ini sedang mengandung buah cinta kita."
"Lalu, kenapa aku dilarang ini itu? Aku masih kuat, aku masih bisa berjalan ke mana pun sendiri," ujar Ayuna masih dengan wajah kesalnya.
"Aku gak mau kamu kecapekan. Dan aku gak mau kehilangan kamu lagi. Jadi, kamu harus ikut ke mana pun aku pergi," tutur Dewa sambil tersenyum lebar pada istrinya.
Mata Ayuna terbelalak. Dia tidak bisa membayangkan jika dia harus mengikuti semua kegiatan suaminya.
Dulu dia memang senang sekali ketika suaminya itu mengajaknya ke mana pun dia pergi. Ketika di kantor dia bisa sedikit-sedikit belajar bisnis dari suaminya, dan ketika dia lelah, dia bisa beristirahat di dalam ruangan yang dipersiapkan khusus oleh Dewa untuknya.
Namun, semakin lama dia semakin bosan. Dewa semakin sibuk sehingga kehadiran Ayuna di dalam kantornya kadang diacuhkan olehnya. Seorang Ayuna, istri tercinta Dewa bisa dikalahkan oleh lembaran-lembaran kertas yang sedang dibaca oleh Dewa.
Itulah yang membuat Ayuna kesal dan tidak mau lagi jika Dewa mengajaknya untuk menemaninya bekerja di kantor.
__ADS_1
Berbeda lagi ceritanya jika Dewa mengajaknya bekerja di luar kantor atau ketika Dewa sedang melakukan kunjungan ke restoran-restoran atau cafe-cafenya, Ayuna sangat antusias mengikutinya. Terlebih lagi jika kunjungan itu ke tempat baru atau kota lain yang bertujuan untuk melihat lokasi yang akan mereka jadikan proyek mereka selanjutnya, pasti Ayuna dengan senang hati ikut tanpa harus diminta oleh Dewa.
"Sayang, mending aku di rumah aja ya sama mama seperti biasanya," ucap Ayuna merajuk dengan tatapan memohon.
Tiba-tiba Dewa terhenyak, dia teringat sesuatu.
"Mama?! Sayang, aku lupa kita belum memberi tahu pada Mama tentang kehamilan kamu," ucap Dewa dengan memegang tangan istrinya yang sudah dia dudukkan di sofa.
"Eh iya, aku juga lupa. Kita beritahu mereka sekarang atau besok aja?" tanya Ayuna sambil memegang ponselnya bersiap untuk menghubungi mamanya.
"Emmm… bagaimana kalau besok saja, sekalian kita adakan makan malam bersama di taman, seperti keinginanmu selama ini," tutur Dewa dengan menyelipkan rambut Ayuna di belakang telinganya.
Seketika mata Ayuna berbinar. Selama ini dia memang sangat ingin mengadakan acara makan malam bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya di sebuah taman yang luas dan indah. Kini keinginannya itu bisa terwujud berkat suaminya yang selalu mewujudkan semua yang diinginkannya.
"Mauuuu… aku sangat ingin sekali mengadakan acara seperti itu bersama keluarga kita dan sahabat-sahabatku," sahut Ayuna dengan sangat antusias.
"Sahabat?" tanya Dewa dengan ragu.
"Iya. Bolehkan? Mereka kan sahabat-sahabatku yang menolong aku kemarin pada saat aku tersesat di jalan," jawab Ayuna sambil tersenyum dan mengusap perutnya yang masih rata.
"Kan tadi sudah aku bilang. Kemarin waktu aku pergi dari restoran, aku gak tau jalan ke arah mana, untung aja mereka pas lewat, jadi aku diantarkan oleh mereka ke Villa itu," tutur Ayuna sambil meletakkan kepalanya di pangkuan suaminya.
"Oh jadi mereka yang membawamu ke Villa itu?" tanya Dewa dengan mengutuk sahabat-sahabat Ayuna dalam hatinya.
"Aku yang memintanya, bukan mereka yang merencanakannya. Mereka hanya membantuku saja. Apa kamu marah sama mereka?" tanya Ayuna yang merasa suaminya menuduh sahabat-sahabatnya.
Dewa memberikan senyumnya yang terpaksa pada istrinya agar istrinya itu tidak mengetahui jika dia memang mencurigai sahabat-sahabatnya itu. Kemudian dia berkata,
"Enggak Sayang. Kata siapa aku marah pada mereka. Mereka kan sahabat-sahabat kamu dari dulu," tutur Dewa yang berniat untuk meyakinkan Ayuna karena dia takut Ayuna marah dan pergi meninggalkannya lagi.
"Beneran?" tanya Ayuna dengan tatapan penuh kecurigaan.
__ADS_1
Dewa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
" Beneran Sayang. Mana pernah sih suamimu ini bohong sama kamu," ucap Dewa sambil mengusap perut istrinya penuh dengan kasih sayang.
"Ya udah kalau gitu kita undang mereka sekalian besok bersama Mama Papa kita," sahut Ayuna dengan mata yang berbinar.
Dewa kembali terhenyak, dia tersenyum paksa menanggapi perkataan istrinya. Sebenarnya dia enggan mengundang keempat sahabat Ayuna yang berjenis laki-laki. Hanya saja Dewa tidak ingin membuat istrinya bersedih dan marah padanya. Dan dia juga sudah berjanji pada Devan tidak akan menjauhkan mereka lagi dengan Ayuna.
Sepertinya aku terjebak sendiri dengan perkataanku. Tapi… ya sudahlah. Anggap saja menyenangkan istri. Dan untuk sementara ini aku harus bisa mengendalikan cemburuku pada mereka, Dewa berkata dalam hatinya.
"Lalu, kapan kita memberitahukan pada mereka untuk datang ke rumah ini?" tanya Ayuna dengan antusias.
"Besok saja ya Sayang. Papa kan datang hari ini, jadi pasti besok mereka bisa datang di acara kita," jawab Dewa sambil mengusap rambut Ayuna dengan penuh kasih sayang.
"Oh… oke. Tapi… yang mengurus semuanya siapa Sayang? Apa kita saja yang menyiapkan semuanya dan berbelanja?" tanya Ayuna dengan antusias dan mata yang berbinar.
"Enggak. Gak boleh. Kamu harus banyak-banyak istirahat. Ingat kata dokter dan jangan lupa minum vitaminnya," tutur Dewa dengan tegas.
Ayuna mencebik kesal. Dia ingin sekali menyiapkan sendiri acara spesial yang diadakannya di hari bahagianya.
Melihat istrinya yang terlihat sedang kesal padanya, Dewa segera memberitahukannya sesuatu.
"Sayang, sini deh aku bisikkan sesuatu," ucap Dewa sambil mendekatkan wajahnya pada telinga Ayuna.
"Apa?" tanya Ayuna yang sedang kesal tapi ingin mengetahui apa yang akan diberitahukan oleh Dewa padanya.
Dewa tersenyum sangat manis padanya dan lebih mendekatkan lagi bibirnya pada telinga Ayuna.
Cup!
Bibir Dewa mendarat pada pipi Ayuna. Ternyata Dewa mengelabui istrinya itu. Dia hanya berpura-pura akan berbisik di telinga Ayuna, tapi bibirnya berbelok dari telinga menuju pipi mulus milik Ayuna.
__ADS_1
Mata Ayuna terbelalak. Dengan refleknya dia memukul lengan suaminya itu yang selalu membuatnya menjadi korban kejahilannya.
"Dewaaaaaa…!!!"