Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 22 Dia tunangan saya!


__ADS_3

Sontak saja Ayuna dan Dewa menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka berdua terbelalak ketika melihat sosok Pak Lukman berada di depan mereka.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Pak Lukman kembali.


Seketika Ayuna tersadar dan dia berdiri dari pangkuan Dewa. Sedangkan Dewa, dia merasa biasa saja dengan wajah cueknya.


"A-anu Pak, itu... i-itu...," ucap Ayuna gugup.


"Dia tunangan saya Pak. Apa ada yang salah?" ucap Dewa dengan tenangnya.


Sontak saja Ayuna bertambah kaget mendengar penuturan Dewa tentang hubungan mereka.


Dewa beranjak dari kursi kebesarannya, kemudian dia duduk di tepi meja kerjanya, menarik tubuh Ayuna dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Ayuna untuk memeluknya dari belakang.


Ayuna yang diperlakukan seperti itu secara mendadak merasa kaget dan tegang, sehingga dia merasa seperti membatu, tidak bisa menggerakkan badannya.


Pak Lukman, dia merasa tidak enak dengan Dewa karena mengganggu waktu mereka berdua.


"Maaf Pak, saya tidak tau jika dia tunangan Bapak. Lain kali pintunya ditutup saja Pak biar tidak ada yang melihat," ucap Pak Lukman yang kemudian secepat kilat keluar dari ruangan Dewa dan menutup pintunya dengan pelan.


Beberapa detik setelah itu Ayuna sadar jika dia sekarang dalam posisi yang berbahaya. Berbahaya untuk kesehatan jantungnya dan berbahaya jika dilihat oleh orang lain.


Ayuna segera melepaskan dirinya dari pelukan Dewa.


"Kakak eh Bapak apa-apaan sih? Terus tadi ngapain ngomong begitu ke Pak Lukman? Kalau semuanya pada ngomongin kita gimana?" ucap Ayuna dengan cepatnya.


"Nafas Ay, tenang," tukas Dewa sambil terkekeh.


"Tenang gimana, itu kalau yang lainnya pada ngomongin kita gimana? Aduh... gimana ini?" ucap Ayuna sangat cemas dengan berjalan mondar mandir di depan Dewa.


Dewa mengatupkan bibirnya, menahan tawanya agar Ayuna tidak marah padanya.


"Tidak ada yang berani membicarakan kita Ay, tenang saja," ucap Dewa sambil mengutak-atik ponselnya sebentar, kemudian memasukkannya kembali ke dalam sakunya.

__ADS_1


"Au ah, aku mau balik ke kelas. Eh Bapak gak balik ke kelas?" tanya Ayuna dengan memicingkan matanya pada Dewa.


"Balik Ay, kamu kan udah nyusulin ke sini. Yuk kita barengan ke kelas," jawab Dewa sambil menata buku-bukunya.


"Ih ogah, malah nanti banyak yang ngomongin lagi. Udah ah aku balik ke kelas sekarang. Bye Pak, hati-hati dalam perjalanan ke kelas. Semoga sampai di kelas dengan selamat," ucap Ayuna sebelum keluar dari ruangan Dewa.


Dewa terkekeh dan menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Ayuna. Sungguh dia sangat terhibur oleh gadis lucu dan menggemaskan itu, menurutnya.


Hari-hari Dewa sangat berwarna sejak kehadiran Ayuna dalam hidupnya. Biasanya dia hanya menjalani hidupnya dengan biasa saja, tidak ada yang spesial, hingga kadang membuatnya bosan. Kini dengan kehadiran Ayuna dalam hidupnya membuatnya sangat bersemangat untuk menanti hari esok.


Ayuna sudah lebih dulu masuk ke dalam kelasnya. Beberapa menit kemudian Dewa menyusul masuk kembali ke dalam kelas mereka.


Ada yang janggal dengan pandangan mereka semua pada Ayuna. Namun Ayuna tidak mengambil pusing itu semua. Dia sudah terbiasa ditatap dengan tatapan aneh ataupun dibicarakan hingga direndahkan oleh mereka.


Ternyata ada yang melihat Ayuna masuk ke dalam ruangan Dewa, menurut mereka dalam waktu beberapa menit itu Ayuna berada dalam ruangan Dewa hingga mereka masuk kembali ke dalam kelas.


Waktu yang cukup lama bagi mereka untuk berada dalam ruangan Dewa dan wajah Dewa pun berbeda dengan pada saat pertama kali dia masuk tadi sebelum berpamitan sakit.


Bukan hanya itu saja, mereka sering melihat Ayuna dan Dewa berangkat serta pulang bersama-sama. Hanya saja mereka tidak mau membesar-besarkannya karena takut jika Dewa akan membuat perhitungan dengan mereka melalui nilai mereka.


Devan, dia memendam rasa keingintahuannya pada Ayuna. Dia berencana sepulang nanti akan menanyakan hal itu pada Ayuna.


Hanya beberapa menit saja Dewa masuk ke dalam kelas itu dan dia segera keluar karena jam kelasnya sudah selesai.


"Ayuna, ayo kita pulang sekarang. Jam berikutnya ditunda besok."


Devan berdiri di dekat meja Ayuna mengajaknya untuk pulang bersama.


"Oh, oke. Tapi yang lainnya bagaimana? Apa mereka masih ada kelas?" tanya Ayuna sambil merapikan buku-bukunya ke dalam tasnya.


"Mereka pulang sendiri nanti. Ayo kita pulang sekarang, kita tunggu mereka di tempat biasanya," ucap Devan sambil menarik tangan Ayuna agar segera bangkit dari duduknya.


Ketika Ayuna akan bangkit dari duduknya, dia menerima pesan dari Dewa jika dia harus pulang bersama dengan Dewa dan dia sudah menunggu diparkiran mobilnya.

__ADS_1


Ayuna bingung, dia sekarang harus memutuskan untuk pulang dengan siapa. Namun dia sangat ingin pulang dengan sahabat-sahabatnya karena akhir-akhir ini dia selalu bersama dengan Dewa.


Waktu mereka untuk pulang bersama selalu diganggu oleh Dewa. Ayuna merasa seperti dipaksa oleh Dewa untuk selalu pulang bersamanya.


Kenapa aku harus pulang bersamanya? Aku juga ingin pulang bersama dengan sahabat-sahabatku. Ah masa bodoh dah, aku pulang bareng mereka aja, Ayuna berkata dalam hatinya.


"Yuk Dev kita pulang," ucap Ayuna sambil beranjak dari kursinya.


"Pesan dari siapa, kok kayaknya kamu mikir gitu tadi," tanya Devan sambil berjalan beriringan bersama Ayuna.


"Ah itu tadi? Mama nyuruh pulang cepat," jawab Ayuna yang merasa bersalah karena berbohong pada Devan.


"Oh gitu... gak jadi ke cafe dong?" tanya Devan kecewa.


"Emmm... gapapa kita ke cafe aja sekalian nunggu yang lain. Cuma jangan lama-lama aja," jawab Ayuna sambil tersenyum kikuk.


Devan pun tersenyum dan mereka berjalan beriringan menuju parkiran.


Melihat Ayuna bersama dengan Devan, Dewa menjadi kesal kembali. Dia menghubungi ponsel Ayuna namun Ayuna hanya melihatnya saja tanpa menjawab panggilan telepon Dewa.


Panggilan telepon Dewa diacuhkan oleh Ayuna dan itu membuat Dewa bertambah kesal. Dia menatap nyalang Devan yang sedang bercanda dengan merangkul pundak Ayuna ketika berjalan menuju parkiran.


Tangan Dewa mengepal. Nafasnya tidak beraturan, dadanya naik turun menggambarkan emosinya.


Setelah mobil Devan melaju, Dewa pun melajukan mobilnya mengikuti mobil Devan hingga mobil tersebut berhenti di cafe tempat Ayuna dan teman-temannya itu bertemu.


Dilihatnya Ayuna dan Devan dari dalam mobilnya yang berada di parkiran cafe tersebut. Niat hati hanya ingin melihat apa saja yang mereka kerjakan, namun semakin lama Dewa semakin sakit hatinya melihat mereka berdua.


Dia merasa hatinya bergemuruh panas dan sakit. Dengan segera dia turun dari mobilnya dan masuk ke dalam cafe tersebut.


Tiba-tiba saja Dewa duduk di depan Ayuna dan menatap wajah Ayuna yang kaget melihatnya. Dan Devan, tentu saja dia kaget melihat Dewa ada di depannya saat ini.


"Ay...," ucap Dewa sambil tersenyum manis pada Ayuna.

__ADS_1


__ADS_2