
Dewa menerobos masuk ke dalam untuk mengikuti Ayuna yang mengambil tasnya di kamar Devan dan diikuti oleh Devan.
"Ayuna, kamu benar punya hubungan sama Pak Dewa?" tanya Devan ketika sudah berada di dalam kamarnya.
"Kenapa kamu tanya tentang itu Dev?" tanya Ayuna dengan tersenyum kikuk.
"Ayuna, sebenarnya aku suka sama kamu. Dari dulu aku ingin mengatakannya padamu. Hanya saja aku takut kamu tidak mau menerimaku," ucap Devan dengan tatapan mengharap pada Ayuna.
Ayuna terbelalak, dia tidak mengira jika Devan mengikutinya untuk mengambil tas di kamarnya karena ingin mengatakan perasaannya pada Ayuna.
"Sebenarnya di cafe waktu itu sebelum aku kecelakaan, aku ingin menyatakan perasaanku padamu. Tapi sayangnya Pak Dewa datang dan membawamu pergi," ucap Devan kembali yang masih menatap penuh harap pada Ayuna.
Ayuna hanya diam, dia tidak menyangka semua itu akan keluar dari mulut Devan, sahabat terdekatnya di antara yang lain. Dia tidak bisa berkata apa-apa karena dia tidak mau menyakiti perasaan Devan dan juga karena dia memang tidak memiliki perasaan yang sama dengan yang Devan katakan padanya.
Dewa mengepalkan tangannya dengan erat ketika mendengar pernyataan yang diberikan oleh Devan pada calon istrinya. Sepertinya dia harus berusaha dengan keras untuk menjauhkan calon istrinya itu dengan sahabat-sahabat laki-lakinya.
"Ayuna, apa boleh aku tau bagaimana perasaanmu padaku?" tanya Devan dengan melangkah maju mendekati Ayuna.
Ayuna melangkah mundur, sayangnya tidak ada ruang untuknya bisa mundur. Di belakangnya ada meja belajar milik Devan tempatnya meletakkan tasnya tadi.
Dewa yang semenjak tadi menahan dirinya, kini dia harus masuk karena melihat calon istrinya itu sepertinya sedang ketakutan.
Grep!
Tangan Ayuna diraih oleh Dewa. Ayuna terperanjat kaget melihat ada tangan yang terlihat tidak asing memegang erat tangannya.
Dewa menatap Devan dengan tatapan permusuhan begitu pula dengan Devan yang menatap Dewa dengan tatapan yang sama. Sepertinya mereka mengibarkan bendera perang melalui tatapan mata mereka.
Ayuna mengerti tatapan kemarahan Dewa, sayangnya dia tidak mengerti apa arti tatapan yang diberikan Devan pada Dewa.
Dengan segera Ayuna menarik tangan Dewa untuk pergi meninggalkan kamar Devan dengannya.
Tanpa berkata-kata ataupun pamit pada Devan, Ayuna segera membawa Dewa pergi dari rumah Devan. Bahkan Ayuna tidak mengatakan apapun pada Felix, Gavin dan Viktor ketika berpapasan dengan mereka di ruang tamu.
__ADS_1
"Kak, kita makan dulu yuk. Aku lapar...," ucap Ayuna manja sambil menampakkan puppy eyes nya pada Dewa.
Dewa hanya melirik sekilas saja, dengan sekuat tenaga dia menahan senyumnya agar Ayuna tidak tahu jika dia terpengaruh oleh rayuannya.
"Kak Dewa kok diem aja sih? Gak mau ngomong sama aku ya? Oke kalau gitu aku juga gak mau ngomong sama Kak Dewa," ucap Ayuna yang mendadak kesal pada Dewa.
Dewa membelalakkan matanya, dia tidak mengira jika Ayuna bisa mengancamnya. Selama ini hanya dia yang bisa mengendalikan Ayuna, tapi sekarang dia yang dikendalikan oleh calon istrinya itu.
"Mau makan di mana?" tanya Dewa sambil tersenyum ketika melihat Ayuna sekilas.
Dewa hanya bisa melihatnya sekilas karena fokusnya masih pada jalanan di hadapannya. Dia sedikit melirik ke arah calon istrinya itu untuk melihat reaksinya.
"Tadinya mau makan yang pedas-pedas, tapi sekarang pengen makan orang," jawab Ayuna sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Sontak saja Dewa menelan ludahnya, dia melirik Ayuna yang juga menatapnya dengan tatapan tajam dan kedua tangannya yang terlipat di depan dadanya.
"Makan yang pedas-pedas, berarti makan bakso aja gimana? Sepertinya ada warung bakso yang ramai di sekitar sini," tukas Dewa dengan pandangan masih fokus pada jalanan.
Ayuna masih saja diam menatap tajam Dewa yang sedang mengemudikan mobilnya. Dewa pun merasakan aura kekesalan dari Ayuna.
Akhirnya mobil Dewa berbelok pada sebuah warung bakso yang lumayan besar dengan pembeli yang cukup ramai.
"Yuk Ay kita makan bakso di sini," ucap Dewa sambil melepas sabuk pengamannya.
Ayuna masih saja diam tidak mengikuti apa yang dilakukan oleh Dewa. Melihat hal itu Dewa mengerti jika calon istrinya itu sedang merajuk.
Dewa mendekatkan tubuhnya pada tubuh Ayuna. Seperti biasanya, Ayuna menegang meskipun sudah terbiasa. Senyuman yang diberikan oleh Dewa masih saja berhasil membuatnya terpanah. Hingga Dewa berhasil membuka sabuk pengamannya pun Ayuna masih saja diam terpanah.
"Nafas Ay," bisik Dewa di telinga Ayuna.
Hufffttt...
Ayuna menghela nafasnya. Ternyata dia benar-benar lupa bernafas seperti biasanya.
__ADS_1
"Ayo kita turun, kita makan bakso dulu ya," ucap Dewa yang wajahnya masih berada di hadapan wajah Ayuna.
"A-aku udah gak minat. Aku maunya makan orang," ucap Ayuna kesal menutupi kegugupannya yang masih sangat jelas terlihat.
Dewa tersenyum, tanpa menunggu lama, Dewa mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada bibir Ayuna. Hanya sekilas saja dan hanya menempel saja.
Mata Ayuna terbelalak ketika merasakan bibirnya dan bibir Dewa saling menempel. Bahkan hembusan nafas Dewa yang menerpa wajahnya hanya sebentar saja membuat Ayuna merinding.
"Udah kan? Itu tadi udah makan orang. Tapi hanya sedikit, kalau ingin yang lebih nanti aja kalau kita udah menikah," tukas Dewa sambil mengusap bibir Ayuna dan tersenyum padanya.
Ayuna, dia masih syok karena tidak menyangka akan mendapatkan ciuman dari Dewa meskipun hanya sekedar menempelkan bibirnya saja.
"Ciuman pertamaku... bibirku ternoda...," ucap Ayuna lirih sambil menatap tajam Dewa dengan ekspresi sedikit mewek.
Dewa terkekeh melihat ekspresi Ayuna yang seperti itu hanya karena bibir mereka saling menempel.
"Kamu mencuri ciuman pertamaku!" ucap Ayuna ketus sambil menatap Dewa tajam.
Seketika Dewa menghentikan tawanya, dia tidak menyangka jika calon istrinya itu bisa marah hanya dengan hal seperti itu.
"Maafkan aku Ay, aku tidak bisa menahannya. Aku khilaf. Maafkan aku. Lagi pula kita kan akan menikah, jadi wajar saja jika ciuman pertamamu bersamaku," ucap Dewa dengan suara lembut dan menatap penuh perhatian pada Ayuna.
Ayuna yang pada dasarnya tidak tegaan, dia menormalkan kembali wajahnya. Dia tidak tega melihat Dewa yang mengiba padanya.
"Ehemm... ayo makan, aku sudah lapar dari tadi," ucap Ayuna sambil merapikan rambutnya.
Dewa tersenyum puas karena usahanya untuk mengambil hati Ayuna kembali berhasil.
Di warung bakso itu mereka berdua memesan dua porsi bakso. Ayuna membubuhkan saos dan sambal yang sangat banyak, hingga membuat Dewa melongo melihatnya.
"Ay, kamu gak meracuni dirimu sendiri kan?" tanya Dewa pada Ayuna.
Bukannya menjawab, kini Ayuna menatap tajam Dewa karena mendengar Dewa mengatakan bahwa dirinya meracuni dirinya sendiri.
__ADS_1
"Ampun Ay...!" ucap Dewa sambil menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya.