
Ayuna dan Dewa menoleh ke arah di mana mereka mendengar nama Ayuna disebut.
Mata Ayuna terbelalak mendapati keempat sahabatnya berjalan cepat ke arahnya.
"Yuna, mau ke mana? Ayo kita antar pulang," ucap Gavin ketika sudah ada di depan Ayuna dan Dewa.
"Siapa mereka?" tanya Dewa pada Ayuna.
"Mereka sahabat-sahabat saya Pak," jawab Ayuna dengan tersenyum kaku.
Dewa melihat Felix, Gavin, Viktor dan Devan bergantian. Kemudian dia tersenyum tipis.
"Ayuna pulang dengan saya," ucapnya sambil membuka kunci mobilnya.
Dibukanya pintu mobil dan ditariknya tangan Ayuna agar masuk ke dalam mobilnya. Kemudian dia berjalan memutar untuk masuk ke dalam pintu mobil untuk pengemudi.
"Dev, itu Ayuna kok dipaksa gitu sih? Kok kita diem aja?" tanya Viktor pada Devan.
"Dia dosen, kita gak bisa lawan dia," jawab Gavin kemudian.
"Tapi Ayuna gimana?" tanya Felix yang juga ikut bingung.
"Apa kita ikuti aja mobilnya?" Devan meminta pendapat sahabat-sahabatnya.
"Oke, ayo kita ikuti mereka," ucap Gavin dan diangguki oleh teman-temannya.
Di dalam mobil Ayuna memasang muka kesalnya pada Dewa.
"Bisa balikin HP saya gak Pak?" tanya Ayuna dengan kesalnya.
"Kalau di luar kampus panggilnya biasa saja. Jangan panggil Pak. Serasa tua aku kamu panggil Pak," ucap Dewa pada Ayuna sambil memakai sabuk pengamannya.
"Ya udah, mana HP ku?" tanya Ayuna sambil mengulurkan tangannya meminta ponselnya pada Dewa.
"Nanti setelah sampai di rumah," jawab Dewa sambil tersenyum tipis melihat wajah Ayuna yang kesal padanya.
"Dari tadi nanti-nanti mulu. Atau jangan-jangan HP aku gak ada sama kamu ya?" tanya Ayuna penuh curiga pada Dewa.
"Pakai sabuk pengaman kamu. Dan pegangan yang erat karena saya akan ngebut."
Dewa berkata untuk menakut-nakuti Ayuna dan tampak jelas wajah ketakutan Ayuna sambil tangannya mencari pegangan ke semua benda yang ada di sekitarnya.
Dewa sangat menikmati saat-saat bersama Ayuna. Kini dia kembali terhibur dengan tingkah konyol Ayuna yang menurut Dewa sangat menggemaskan.
Dewa menahan senyumnya dan berusaha memperlihatkan wajah seriusnya agar Ayuna tetap seperti itu, tangannya memegang apapun di sekitarnya dengan memperlihatkan wajah tegangnya.
Felix, Gavin, Viktor dan Devan yang berada dalam satu mobil di belakang mobil Dewa tidak melihat kejanggalan apapun. Namun mereka tetap mengikuti mobil Dewa karena mereka khawatir pada Ayuna yang merupakan sahabat cewek mereka satu-satunya.
__ADS_1
"Aku lapar, apa kamu mau makan dulu?" tanya Dewa pada Ayuna.
"Aku gak lapar," jawab Ayuna dengan cepatnya.
Krucuuuuuk...
Bunyi perut Ayuna membuat Dewa tertawa. Kini tawa Dewa sudah tidak bisa ditahannya. Sedangkan Ayuna merasa sangat malu, dia merutuki kebodohannya dalam hatinya.
Bodoh... bodoh...bodoh... Kenapa bisa sampai bunyi gitu sih perutku? Gak bisa diajak kompromi banget sih. Alamak... malu sekali aku, Ayuna berkata dalam hatinya.
Ingin rasanya Ayuna menangis karena malu saat ini. Namun dia tidak bisa, karena di sampingnya saat ini sedang ada laki-laki yang sangat mengesalkan bagi dirinya seharian ini.
"Gimana, masih gak lapar?" tanya Dewa yang terdengar seperti meledek bagi Ayuna.
"Gak!" jawab Ayuna dengan cepat.
"Oke, kalau begitu kamu masak buat saya ya," ucap Dewa sambil tersenyum.
"Eh ngapain masak buat anda? Enak aja, saya kan bukan pembantu anda," tukas Ayuna dengan sewotnya.
"Kan kamu gak mau diajak mampir makan sekarang. Ya udah kamu masak aja buat kita makan di rumah," jawab Dewa dengan entengnya.
"Kita? Kok ada yang janggal ya dengan kata kita," Ayuna berkata sambil berpikir dan itu membuat Dewa terkekeh melihat wajah lucu yang menggemaskan bagi Dewa.
"Jadi gimana? Kita mampir makan sekarang atau kamu masak untuk kita berdua makan?" tanya Dewa kembali mengulangi pertanyaannya tadi.
Ayuna menanyakan apa yang ada dipikirannya saat ini.
"Jangan pakai bahasa formal kalau tidak di dalam kelas," ucap Dewa.
"Oke, lalu kenapa aku harus masak buat kamu? Bukankah ada pembantu dan orang tua kamu di rumah?" tanya Ayuna kembali.
"Aku tinggal sendiri. Dan kamu juga tinggal sendiri kan?" Dewa bertanya balik pada Ayuna.
"Kamu salah, aku tinggal bersama kedua orang tuaku dan aku juga memiliki pembantu yang mengurusku ketika kedua orang tuaku tidak ada di rumah seperti sekarang ini."
Ayuna menjawab sambil melepaskan pegangannya. Kini dia tahu jika dia sedari tadi dikerjain oleh Dewa.
"Pas sekali bukan, kita sama-sama sedang sendiri. Kenapa kita tidak makan bersama saja?" ucap Dewa sambil terkekeh.
"Kenapa kamu tidak makan bersama calon istri kamu saja?" tanya Ayuna dengan dengan kesalnya.
"Kan kamu calon istri aku," jawab Dewa dengan entengnya.
Deg!
Tiba-tiba jantung Ayuna kembali berdegup dengan kencangnya. Lagi-lagi jantung Ayuna diobrak-abrik oleh Dewa dengan kata-katanya.
__ADS_1
"Jangan main-main seperti itu. Aku gak mau calon istrimu salah sangka nanti jika mendengar kamu mengatakan itu pada sembarang orang," ucap Ayuna untuk menutupi kegugupannya.
"Sembarang orang? Kamu kira kamu itu sembarang orang? Kamu itu bagian dari hidupku."
Jawaban dari Dewa ini kembali membuat jantung Ayuna tak karuan. Seperti apapun Ayuna menyembunyikannya, sepertinya bisa terlihat jelas pada wajahnya sekarang ini.
Tanpa Ayuna sadari, dia merasa senang mendengar Dewa mengatakan bahwa dirinya menjadi bagian dari hidup Dewa. Dan tanpa dia sadari, kini dia sudah masuk dalam rencana yang dibuat oleh Dewa.
"Ma-maksudmu?" tanya Ayuna dengan gugup tanpa sadar.
"Kamu kan tetangga depan rumahku dan kamu mahasiswi ku, bukankah itu termasuk bagian dari hidupku?"
Dewa menjelaskannya sambil terkekeh. Dan dia melirik Ayuna yang kini mengerucutkan bibirnya karena benar-benar kesal pada Dewa.
"Gimana? Kita mampir makan atau kamu masak buat kita berdua?" tanya Dewa kembali pada Ayuna.
"Langsung pulang aja. Mood makan aku hilang seketika," jawab Ayuna yang membuat Dewa bertambah senang karena seolah mendapat jawaban dari apa yang ingin dia tanyakan.
"Kamu marah?" tanya Dewa.
"Enggak!" jawab Ayuna dengan kesal.
"Kamu kesal?" tanya Dewa kembali.
"Enggak!" jawab Ayuna kembali yang bertambah kesal pada Dewa.
"Kamu cemburu?" tanya Dewa kembali.
"Apa, cemburu? Mimpi!" ucap Ayuna sambil tertawa paksa.
"Oh oke, kalau gitu kita pulang saja," ucap Dewa kemudian.
Mobil Dewa diberhentikan di depan rumah Ayuna. Karena kesalnya, Ayuna segera turun dari mobil Dewa tanpa meminta ponselnya dari Dewa.
Felix, Gavin, Viktor dan Devan yang berada di dalam mobil tidak jauh dari rumah Ayuna merasa puas karena pikiran buruk mereka tentang dosen baru itu tidak terbukti.
"Yuk cabut cari makan. Lapar.....," ucap Viktor pada ketiga sahabatnya itu.
"Oke, yuk cabut," jawab Gavin.
"Eh Dav, apa mungin dosen itu suka sama Ayuna ya?" tanya Felix pada Devan.
"Tadi sih dia bilang sudah memiliki pasangan dan mereka akan segera menikah." jawab Devan kemudian.
"Lalu, kenapa dia mengantar Ayuna sampai rumahnya?" tanya Viktor pada semuanya dan semuanya pun mengangkat bahunya serta menggelengkan kepalanya tanda mereka tidak tahu.
Di dalam kamarnya, Ayuna sedang memegang dadanya sambil berkata,
__ADS_1
"Amankan jantungku!"