Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 19 Obat tidur


__ADS_3

"Aku pacar kamu."


Perkataan Dewa itu terngiang-ngiang di telinga Ayuna sehingga dia susah sekali memejamkan matanya.


Huufffttt...


Ayuna menghela nafasnya berkali-kali ketika matanya tidak bisa terpejam.


"Apa benar sekarang aku pacar seorang Dewa Arion? Dosen yang sangat tampan, tapi sayangnya killer. Apa kata Felix, Gavin, Viktor dan Devan? Ah gak mungkin kan dia akan menyebarkan di kampus? Gak mungkin lah, dia kan orangnya disiplin. Berarti bisa aja tadi hanya bercanda saja. Hanya hari ini saja dia mengaku menjadi pacar. Besok.... lain lagi ceritanya," Ayuna bermonolog sambil terkekeh dalam kamarnya.


Kemudian dia mencoba untuk memejamkan matanya kembali. Namun tetap saja sudah bermenit-menit hingga berjam-jam matanya tidak mau terpejam. Bahkan senyuman manis Dewa lah yang selalu terbayang di matanya ketika dia memejamkan matanya.


Badan Ayuna menghadap ke kiri, setelah beberapa menit dia menghadap ke kanan, setelah beberapa menit lagi dia terlentang, begitulah seterusnya hingga dia lelah dengan dirinya sendiri yang tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Kemudian dia duduk dengan bersandar di kepala ranjangnya. Setelah itu dia mulai menghitung domba. Hingga hitungan domba ke sembilan ratus sembilan puluh sembilan, dia tak juga bisa memejamkan matanya.


Akhirnya Ayuna kini beralih menghitung angka dan sialnya setelah angka ke seribu pun dia tidak bisa tertidur.


"Aku kenapa sih? Kenapa aku gak bisa tidur?" tanya Ayuna kesal pada dirinya sendiri.


Tring!


Suara notifikasi pesan pada ponsel Ayuna mengalihkan perhatiannya. Diambilnya ponselnya itu dari nakas di sebelah ranjangnya. Kemudian dia buka pesan tersebut.


Betapa terkejutnya dia karena mendapatkan kiriman foto dirinya bersama dengan Dewa pada saat di restoran tadi.


Foto itu dikirim oleh Dewa pada malam hari di atas jam dua belas malam dengan tujuan agar pada saat Ayuna bangun, dia mendapatkan kejutan kiriman foto tersebut dari Dewa.


Namun harapan Dewa tidak sesuai. Nyatanya kini Ayuna tidak bisa tidur dan foto tersebut sudah dilihatnya.


Ayuna melihat satu persatu foto tersebut. Tanpa sadar bibirnya melengkung ke atas melihat foto dirinya bersama Dewa layaknya pasangan kekasih yang sangat mesra.


Dan tanpa sadar lama-kelamaan mata Ayuna terpejam. Seolah terhipnotis, ternyata foto itu menjadi obat tidur bagi Ayuna. Hingga dia terbawa oleh mimpi.


Ayuna bermimpi dia sedang makan malam romantis bersama dengan Dewa di tepi sebuah pantai dengan banyak lilin yang mengelilingi mereka dan suara ombak yang berdebur menambah keromantisan dinner mereka.


Masih dengan mata terpejam, Ayuna tersenyum menikmati mimpinya. Mulut bisa mengatakan tidak, namun nyatanya dalam mimpinya pun Ayuna bahagia bisa bersama dengan Dewa.

__ADS_1


Suara alarm membuyarkan mimpi indah Ayuna. Dengan mata yang masih mengantuk Ayuna terpaksa bangun dari tidurnya.


"Cepet banget sih paginya," ucap Ayuna sambil menguap dan menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.


Tiba-tiba Ayuna tersenyum lebar sambil memejamkan matanya. Dia mengingat mimpi indahnya yang sangat romantis bersama dengan Dewa.


Jalan-jalan di tepi pantai dengan berpegangan tangan dan berkejar-kejaran layaknya ombak yang mereka lihat. Serta dinner romantis yang sangat membuat hatinya berbunga-bunga.


Tiba-tiba Ayuna tersadar dan membuka matanya. Kemudian dia berkata,


"Wait, tunggu, kenapa aku bermimpi bersama dengan dia? Kenapa aku sebahagia ini? Ada apa ini?"


Ayuna memegang dadanya, dia ingin tahu apa yang sebenarnya dia rasakan.


Tok... tok... tok...


"Yuna... Ayuna... banguuuuuun...."


Bu Andini, Mama Ayuna berteriak sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Ayuna.


"Bentar Ma, Yuna mau mandi dulu," seru Ayuna dari dalam kamarnya.


"Iya, suruh aja nunggu," seru Ayuna sambil merapikan ranjangnya.


Setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Ketika dia membuka bajunya, dia baru teringat akan ucapan Mamanya jika ada Dewa sedang menunggunya di bawah.


"Dewa? Dewa yang itu? Apa benar dia menungguku?" Ayuna bermonolog sambil menghentikan kegiatannya melepas bajunya.


"Ah sebodoh amat, biar aja dia nunggu. Aku mau mandi dulu. Bye Dewa...," ucap Ayuna sambil meneruskan ritual mandinya.


Kurang lebih setengah jam Ayuna turun dari kamarnya. Dia merasa masih mengantuk meskipun sudah mandi dan berendam sebentar.


"Hoaamm...."


Ayuna menguap tanpa sadar setelah turun dari anak tangga terakhir. Dia tidak sadar jika di ruang makan, tidak jauh dari tempatnya berdiri sudah ada Mama dan Papa Ayuna, serta Dewa menatap ke arahnya.


Sontak saja Ayuna membalikkan badannya karena kaget melihat Dewa yang sedang menatap ke arahnya dan tentunya Dewa melihat tingkahnya yang memalukan sebagai seorang perempuan.

__ADS_1


"Kenapa dia ada di situ? Aaah, ternyata yang dikatakan Mama tadi benar. Jatuh sudah harga diriku. Ayuna, bersiaplah untuk malu," Ayuna bermonolog lirih.


"Ayuna.... ayo kita sarapan dulu. Dewa sudah menunggumu dari tadi. Ayo cepat sini," seru Pak Andika, Papa Ayuna.


Ayuna menghela nafasnya sebelum dia membalikkan kembali badannya. Setelah itu dia berjalan dengan perasaan malu yang ditutupinya dari Dewa.


Dewa menyambut kedatangan Ayuna ke meja makan itu dengan senyum manisnya. Kemudian dia menyapa Ayuna,


"Pagi Ay. Tidurmu nyenyak kan?"


Ayuna duduk di kursinya yang berada di samping Dewa.


"Nyenyak... nyenyak. Lihat nih, mataku jadi kayak mata panda gara-gara gak bisa tidur," ucap Ayuna dengan sedikit kesal.


"Yuna, gak boleh ngomong gitu sama calon suami," seru Pak Andika mengingatkan Ayuna.


"Calon suami?" celetuk Ayuna menirukan apa yang dia dengar.


"Kalian kan udah pacaran, dan sebentar lagi kalian tunangan, habis itu nikah deh. Senangnya Mama akan segera punya cucu," ucap Bu Andini dengan mata yang berbinar.


Ayuna melongo mendengar apa yang diucapkan Mamanya. Dia tidak menduga jika hanya karena dia kalah dalam tantangan kemarin bisa mengakibatkan dia menjadi calon istri seorang Dewa Arion.


"Makan Ay, kita akan telat nanti jika kamu tidak segera sarapan," tukas Dewa sambil memberikan piring miliknya yang sudah berisi roti selai buatannya.


Bu Andini dan Pak Andika sangat senang melihat Dewa yang sangat perhatian pada putrinya, Ayuna.


Jujur saja Ayuna sangat merasa bahagia diperlakukan seperti itu oleh Dewa. Namun dia merasa malu dan kikuk diperlakukan seperti itu ketika berada di depan kedua orang tuanya.


Ayuna memakan sarapannya dengan diam. dia tidak berkomentar apapun ketika Papanya, Mamanya dan Dewa saling berbincang.


Dia benar-benar sedang menata hatinya dan mempertanyakan dalam hatinya tentang perasaannya dan tentang apa yang dirasanya saat ini.


Setelah mereka selesai sarapan, Ayuna benar-benar berangkat bersama Dewa. Dia tidak bisa mengelak lagi seperti sebelumnya karena kini Dewa mendapat dukungan dari Pak Andika dan Bu Andini, yang merupakan kedua orang tua Ayuna.


"Kok kamu diem aja sih Ay?" tanya Dewa pada Ayuna ketika mobil sudah melaju di jalanan menuju arah kampus mereka.


"Itu... kemarin...," ucap Ayuna ragu.

__ADS_1


"Kemarin kenapa?" tanya Dewa sambil menoleh pada Ayuna yang duduk di sampingnya.


"Awaaaasss...," seru Ayuna sambil menunjuk ke arah depan.


__ADS_2